
"Ya, sama-sama." Arya berdiri lalu menggeser kursinya. Membawa dua paper bag.
Di ikuti Renata meraih tas nya. Berjalan mengikuti langkah Arya yang lebih dulu beberapa langkah di depan.
"Semoga jadi langganan kami!" pelayan menunduk hormat.
Arya menoleh ke arah wanita itu sambil membalas anggukannya. Renata meraih tangan Arya di genggamnya. Sambil berjalan berdampingan.
Manik mata Arya memandangi tangan Renata yang menggenggam pergelangannya dengan erat. "Pandai nya kamu bersandiwara di depanku, berpura-pura setia dan menjunjung hubungan kita. Namun dibelakang ku, kau khianati aku." Batin Arya sambil menelan saliva nya yang ditelan sakit, dibuang terasa sulit.
Perlahan Arya melepaskan tangannya dari genggaman Renata dan berpura-pura mengambil ponsel. Renata melepas tanpa curiga.
Setelah berada di atas sepeda motornya, Arya mengenakan helm, lantas melajukan nya dengan kecepatan sedang, Yang hanyalah suara mesin dari setiap kendaraan yang hilir mudik di jalanan tersebut.
Langit begitu hitam pekat, gelap gulita, jangankan bulan. Bintang pun tak satupun terlihat menghiasi malam itu. Seakan tahu betapa sedih nya hati Arya saat ini. Tangan Renata pegangan erat ke pinggang Arya.
Setibanya di depan rumah Renata, Arya menghentikan motornya. Renata bergegas turun. "Makasih ya sayang." Renata berdiri di dekatnya sambil memberikan senyuman yang paling menawan.
Arya turun dan mengambil satu Papar bag. Berjalan memasuki teras. "Assalamu'alaikum ..."
"Wa'alaikum salam." Gumamnya Renata setelah itu sang bundanya, bu Tita muncul dari balik pintu.
__ADS_1
"Bunda, aku mengantar Renata pulang dengan selamat serta tak kurang suatu apapun. Sekarang ... aku pamit pulang, maaf bila terlalu lama dan maaf juga bila selama ini telah lalai menjaganya?" ujar Arya mengucap suatu kata-kat yang kedengarannya terasa aneh.
"Lho, kok bicara gitu sayang?" Renata terheran-heran.
"Ooh. Terima kasih kamu sudah menjaga Renata, jangan bilang seperti itu ah. Manusia itu kan tempat salah dan dosa, kan?" tutur Bu Tita seraya mengulas senyumnya, lalu melihat Renata yang ikut tersenyum pada Arya.
Arya dengan terpaksa memberi senyuman palsunya. "Ini buat Bunda. Oya aku pamit dulu!" ucap Arya kembali pamit dan memberikan paper bag pada bu Tita.
"Em ... makasih ya? ya sudah. Hati-hati ya jangan ngebut lho." Pesan Bu Tita pada Arya.
Lantas Arya mencium tangan Bu Tita lalu bergegas melebarkan langkah menuju motor miliknya , tidak lupa mengenakan helm dan kembali menoleh. "Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikum salam ..." jawab keduanya serempak. Menatap kepergian Arya bersama sepedanya.
Arya berdiri bersandar pada sisi jok motor dengan tangan melipat di dada wajahnya mendongak menatap langit yang terlihat setitik cahaya dari kejauhan menghiasi hitam pekatnya warna langit saat ini. Menjadi satu-satu penerang di malam tanpa bulan yang biasanya bersinar terang.
Setitik sinar itu menjadi penerang di kegelapan. Menjadi kawan buat hati yang sepi dalam kesedihan. Masih lekat diingatan ketika melihat adanya tanda merah di leher Renata waktu itu. Terus dengan kejadian tadi yang diyakini ada kaitannya, batin Arya kian menangis.
"Apa salah ku? sehingga kamu bermain dibelakang ku menodai cinta yang kuberi, Kamu khianati kepercayaan ku selama ini. Apa salah ku apa? kau runtuh kan semua bangunan harapan kita. Kau hancurkan bangunan cinta yang lama kita coba dirikan, kamu tega Renata. Tega!"
Huuh ... Arya mengusap wajahnya dengan kasar lalu menyapu suasana sekitar. Tengok kanan dan kiri ternyata dia berada di kawasan parkiran Rumah Sakit tempat Fatma berada, padahal tadi ia berniat pulang menenangkan diri di apartemennya, namun entah kenapa malah terdampar di tempat ini. Namun mau pulang juga juga tanggung bila harus putar haluan dan akhirnya memarkirkan sepeda motornya di tempat yang lebih nyaman. Kemudian berjalan melalui koridor yang lumayan panjang itu membawa sebuah paper bag yang berisi pancake durian kesukaannya.
__ADS_1
Sebelum ke kamar Fatma, Arya mampir dulu ke mushola untuk menunaikan salat isya terlebih dahulu. Dalam doa, Arya meminta diberi ketenangan dan di lapang kan hati atas semua luka yang Renata beri. Dia yakin bahwa Allah lebih mengetahui yang terbaik untuk semua umatnya, yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah dan Allah akan memberikan yang kita butuhkan! bukan yang kita inginkan.
Setelah puas berkeluh kesah pada sang maha penciptanya. Arya kembali melanjutkan jalannya menuju ke ruangan Fatma di rawat. Kini hatinya sudah merasa lebih baik tidak serapuh tadi. Ia berusaha untuk iklhas walau tidak dapat dipungkiri kalau itu sulit.
Di depan kamar inap Fatma ada dua orang yang berjaga, karena sudah mengenal Arya mereka pun menyilakan Arya masuk. Perlahan tangan Arya mendorong handle pintu dan mendapati Fatma sudah tertidur lelap. Ia melirik jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 22. malam.
Dengan perlahan pula dia menutup pintu lalu menghampiri Fatma yang tampak nyenyak, wajahnya lebih terlihat segar dan aura kecantikannya terpancar meskipun dalam keadaan tidur dan tanpa make up sedikitpun. "Masya Allah tabarakallah," kalimat itu tanpa sadar terucapkan sebagai rasa kagumnya pada sosok wanita yang berada dihadapannya.
"Assalamu'alaikum ...."
Walau salam dari Arya tak dijawab oleh Fatma, namun sudah pasti dijawab oleh malaikat yang ada disekitar.
Arya menarik napas panjang, tuk melepas semua rasa sesak di dadanya. Langkah Arya berbalik ke sebuah sofa panjang dan merebahkan diri di sana menatap langit-langit dengan pikiran yang melayang-layang, teringat kata-kata itu.
"Jangan sampai kamu menjaga jodohnya orang." Kata-kata itu terus terngiang ditelinga Arya.
"Ternyata itu sangat menyakitkan!" gumamnya Arya sambil berusaha memejamkan kedua matanya yang tak sedikitpun dihinggapi rasa kantuk. Walupun beberapa kali mulutnya menguap hingga berhias air mata.
Malam terus beranjak. Suasana semakin dingin dan hawa dingin menyelimuti tubuh Arya yang hanya berselimutkan jaket saja. Namun lebih dingin lagi perasaan yang sedang merasakan patah hati.
Angin yang terkadang tak pernah terlihat bentuknya itu, namun setiap mahluk pasti merasakan adanya. Menyentuh lembut di kulit menerpa dedaunan, kain yang bergelantungan. Begitupun sapaan angin begitu terasa di kulit Arya saat ini yang tak juga mampu terpejam.
__ADS_1
Sesekali melihat ranjang pasien, yang di atas terlihat nyenyak tanpa beban walaupun mungkin yang sesungguhnya banyak pula beban yang harus ia pikul. Ia terbangun dan duduk menumpukan kedua sikunya di atas lutut. Menatap kosong ke depan lalu netra matanya bergerak ke arah paper bag yang tadi dia bawa di meja.
Tangannya Arya mengulur mengambil paper bag tersebut, kemudian dibuka dipandangi isinya lantas mengingatkannya pada kejadian di restoran tersebut ....