
Arya berjalan sambil memasukan dompet ke dalam sakunya. Ketika melihat sekitar orang-orang sudah berjalan keluar,, begitupun Rania yang di tuntun oleh Mia anak jalannya tidak teratur kalau tidak di pegang. Apalagi untuk menyebrang jalan sangat berbahaya untuknya.
Kaki Arya terus berjalan untuk menyusul mereka yang sudah duluan ke depan. Seketika kedua netra mata Arya mendapati Rania lepas dari genggaman dan Mia asik memainkan ponselnya.
Manik mata Arya melihat sekitar. Oma dan opanya sudah nyebrang duluan sementara Sultan dan Sofi berada di belakang Mia tepatnya di depan Arya. Langkah Arya makin cepat hingga ingin mendahului Sultan dan Sofi. Khawatir jika anak itu nyebrang sendiri.
Dari arah samping ada sebuah mobil melesat dan benar saja kalau Rania langkahnya sudah berada di badan jalan. Arya dibuat spot jantung melihatnya, sementara Mia masih anteng dengan ponselnya.
Dengan segenap tenaganya Arya berlari dan menangkap tubuh Rania dan membawanya ke pinggir jalan seiring suara seseorang menjerit histeris.
"Rania ...."
Jerit Fatma dari dalam mobilnya. Kebetulan ia melihat pas kejadian tersebut, jantungnya hampir saja copot. Panik, gugup dan gegas Fatma turun dan menghampiri Rania yang ada di pelukan Arya.
Rania amat shock dengan kejadian barusan. Tak bergeming, Dada anak itu naik turun kemudian menangis tersedu.
Arya memeluknya erat dan mengusap punggungnya lembut. Sampai akhirnya dipeluk oleh ibunya, Fatma.
"Kamu, gak kenapa-napa kan sayang?" tanya Fatma dengan wajah begitu cemas.
"Mam, Rania takut." Gumam Rania sambil menangis dan menyembunyikan wajahnya di dada sang bunda.
"Tenang sayang, sekarang sama Mama," Fatma memeluk erat tubuh Rania dan diciumnya.
Sultan, Sofi berlari menghampiri Arya yang berdiri membatu. Bu Wati dan pak Wijaya panik dengan suara Fatma yang tadi menjerit.
"Sayang, Rania gak pa-pa kan?" tanya Bu Wati menghampiri Rania dengan nada khawatir.
Fatma menoleh ke arah Mia yang masih mematung di tempat semula. Mungkin dia shock, gugup. Panik menjadi satu dan merasa bersalah. Gara-gara kelalaiannya Rania hampir saja celaka.
Mia shock sekaligus ketakutan, sebab ini atas kelalaiannya. Takut akan kena marah sang majikan nya yang kini menatap tajam. Namun Mia tetap memberanikan diri menghampiri sang majikan.
''Maaf Nyonya muda. Saya sudah lalai dan membuat Rania hampir celaka!" Mia menunduk dalam mengakui kesalahannya. "Saya tidak sengaja, Nyonya. Maaf."
Fatma yang masih berjongkok memeluk Rania menatap lekat. "Saya harap, lain kali jangan lalai lagi. Rania masih anak-anak yang belum mengerti dan pikiran yang matang." Suara Fatma bergetar. Ingin marah namun percuma, lagian Rania juga selamat.
"Sekali lagi saya minta maaf Nyonya." Mia tetap merasa bersalah.
"Jangan lalai dong Mia, di saat yang tidak tepat main handphone. Gimana kalau saja Rania tidak terselamatkan? kamu bisa tanggung jawab apa?" tegur Bu Wati menatap kesal, sungguh dia tak biasa membayangkan kalau terjadi sesuatu yang tidak diharapkan pada Rania.
__ADS_1
"Maaf, Nyonya besar. Saya tidak sengaja." Jawab Mia.
"Saya tidak bisa membayangkan kalau terjadi sesuatu pada cucu saya. Tentu akan kami tuntut kamu." Pak Wijaya menjadi emosi.
"Sudah, Yah. Bu, bukankah manusia tidak luput dengan kesalahan?" Fatma melirik ke arah kedua orang tuanya bergantian.
Arya menatap kagum dengan apa yang Fatma ucapkan. Yang berlapang dada toh Rania sudah selamat.
"Nak Arya, makasih ya? kami sungguh tidak bisa membayangkan bila--"
"Sudah, Bu. Semoga ini tidak terjadi lagi, dan yang penting sekarang ini Rania baik?baik saja." Balas Arya pada Bu Wati.
"Yu, masuk mobil sayang," ucap Fatma sambil memangku Rania dibawanya ke mobil. "Sekarang sama Mama ya?" cuph! mencium pipi Rania.
Sebelum berjalan, Fatma menoleh ke arah Arya. "A, makasih ya?"
"Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Arya membukakan pintu mobil untuk Fatma.
"Papa?" panggil Rania dari pundak Fatma. Sang bunda.
"Rania sama, mama ya? Nanti kita ketemu lagi." Tangan Arya mengusap pucuk kepala Rania lembut.
Sebenarnya jantung Arya masih tak menentu. Rasa spot jantung masih menghantui perasaan Arya saat ini.
"Arya benar-benar punya ikatan batin yang kuat dengan itu anak." Sofi berpendapat
"Hebat lah. Papa yang cekatan." Timpal Sultan.
Arya menggeleng. Lalu menaiki motornya dan sebelumnya mengenakan helem.
Yang lain yang kembali ke mobilnya, lalu bersiap pergi mengikuti motor Arya sebagai penunjuk jalan.
Dengan hati masih berdebar. Fatma menidurkan ramai di pengakuannya. Di belai dan diciumnya, masih untung Rania selamat dan tidak kurang suatu apapun. Kalau saja terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, tentunya ia tak bisa memaafkan Mia dengan alasan apapun.
Fatma menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskan nya dengan sangat panjang. Kemudian menyandarkan kepalanya ke belakang jok.
"Pak, hati-hati ya? jangan ngebut-ngebut," pinta Fatma sembari memejamkan matanya.
Mia yang duduk di depan bersama pak Harlan tampak kaku dam canggung. Gak enak hati pada sang majikan. Kedua netra nya memandangi ke arah Fatma dan Rania dari kaca spion.
__ADS_1
Arya yang di atas motor melaju dengan cepat. Di kejar oleh motor Sultan dan mobil Fatma yang juga melesat mengikutinya.
Sangat kebetulan cuaca pun mendukung, cuaca yang teduh matahari yang tampak malu?malu-malu. Awan yang kelabu berarak di langit yang cerah.
Selang beberapa lama, akhirnya motor Arya berhenti di pekarangan yang sangat sederhana sekali. Dan ada sebuah bangunan rumah yang sederhana dan masih terlihat baru.
Motor Sultan dan mobil Fatma. berhenti setelah motor Arya terparkir di depan, suasana rumah terlihat banyak orang di dalam dan hiasan pun terlihat di pasang.
Semuanya turun dan Rania di dalam gendongan pak Wijaya sebab sedang tidur.
"Ini, rumahnya bro?" tanya Sultan melirik ke arah Arya yang menurunkan bag nya.
"Iya, ini. Kenapa emang?" Arya tanya balik.
"Nggak. Sudah tampak ramai, emang acara apa sih?" tanya Sultan menyelidik.
"Kok ada pelaminan nya? pernikahan adiknya ya?" pak Wijaya melihat bagunan sekitar rumah yang berhias bunga-bunga dan pelaminan.
"Yu, masuk?" Arya sambil mengajak semuanya masuk. Dia berjalan melintasi pintu utama dan menoleh ke arah tamunya.
Abah dan umi. Menyeruak dari dari dalam rumah, menyambut kedatangan tamunya. Fatma dan keluarga.
"Assalamu'alaikum ..." suara semuanya ketika melintasi pintu utama
"Wa'alaikum salam ... ayo masuk-masuk? timpal Abah dan umi dengan senyuman yang mengembang.
"Aduh ... mimpi apa semalam sehingga bertemu tamu agung ke sini?" sambut Bu Umi Santi, seraya bersalaman dan Daan pelukan dengan para tamu.
"Ah bisa aja. Apa kabar, Abah dan
umi?" Kata pak Wijaya sambil bersalaman dengan orang rumah.
"Baik, Alhamdulillah ..." sahut Abah dengan senyuman yang merekah.
Umi dengan sangat ramah, lalu mengajak tamunya untuk masuk ke dalam rumah yang riuh dan sudah banyak kerabat juga yang bantu-bantu memasak dan dekor pula.
Kedua netra mata Fatma mengamati setiap sudut ruangan tersebut. Rumah yang sederhana, batinnya.
Arya mengambil Rania dari pangkuan pak Wijaya dan membawanya ke kamar untuk ditidurkan di sana ....
__ADS_1
****
Mohon maaf maaf karena hari ini aku sibuk di alam nyata sehingga nulisnya cuma satu bab saja🙏