Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Jaga jarak


__ADS_3

"Sayang?" panggil Fatma.


"Hem," gumamnya Arya seraya menempelkan pipinya ke bantal.


"Mau tahu? kenapa tadi air minum kamu aku buang?"


"Kenapa?" tanya Arya tanpa menoleh.


"Lain kali jangan meminum atau memakan sesuatu dari tangan Mia." Jelas Fatma.


"Belum pernah tuh!" sahutnya.


"Iya, lain kali, sekarang kan otomatis sering bertemu. Jadi harus hati-hati dan jaga jarak." Lanjut Fatma.


"Kenapa? cemburu kah?" menoleh.


"Nggak, bukan. Cuma gak mau saja kamu terlalu dekat, em ... yang jelas, aku tadi melihat dia memasukan sesuatu pada minuman mu."


Arya membalikan posisi badannya menjadi terlentang dan langsung mendapat pelukan dari sang istri. "Jangan suka suudzon sayang, pamali."


"Aku tahu, tapi begitu kenyataannya." Bela Fatma sembari sedikit mendongak.


"Kalau cemburu! cemburu aja. Jangan gitu ah." Goda Arya, tangannya membelai rambut Fatma.


"Aish ... bukan soal cemburu! ini kenyataan yang aku lihat dengan mata kepala ku sendiri." Plak tangan Fatma menepuk sesuatu yang berada di balik kurung.


Membuat Arya mendesis. Sontak menangkupkan tangannya. "Au! ... sakit! ...."


Benda miliknya Arya terasa sangat ngilu. Ekspresi wajahnya berubah kesakitan.


Melihat itu, Fatma panik. Gugup. "Ma-maaf Aa. Aku tidak sengaja," ucap Fatma merasa kasihan dan merasa bersalah.


Sebenarnya Fatma mau menepuk perutnya, namun malah kena benda nya yang bangun. Bendanya Arya hidup kena tepuk, ngilu nya bukan main sampai mata kedua manik matanya pun berkaca-kaca kaca.


"Maaf sayang, maaf? gak sengaja!" Fatma merasa sangat bersalah.


Arya mengangkat tangannya. "Nggak pa-pa sayang, gak pa-pa?" Arya memiringkan tubuhnya meringkuk menahan sakit.


Tangan Fatma seketika memeluk tubuh Arya dari belakang, tak terasa air matanya mengalir di pipi ke sudut pipi. Ia benar-benar merasa bersalah dibuatnya.


Hening!

__ADS_1


Arya merasakan ngilu di bagian intinya. Namun lama-lama rasa ngilu nya berangsur berkurang dan kemudian tubuhnya bergerak kembali beralih posisi mau menghadap ke arah Fatma yang memeluknya dari belakang.


Arya memiringkan tubuhnya dan menatap wajah cantiknya Fatma yang tampak ada bekas air mengalir dari sudut matanya.


"Kenapa? kok nangis siapa yang memarahi mu?" tanya arya terdengar sangat lembut dan tangan Arya bergerak menyentuh pipi Fatma lantas mengelusnya.


"I'm sorry I caused you pain by accident?" ucapnya sambil berwajah murung.


Arya menunjukkan senyumnya. "Aku baik-baik saja sayang, jangan khawatir."


Tangan Arya menarik kepala Fatma lalu di memberikan kecupan mesra di keningnya.


Fatma merasa tenang menerima kecupan dari sang suami dan ucapannya yang membuatnya merasa nyaman.


"Pokonya kamu harus dengerin aku? tidak boleh--"


"Sett ... jangan di teruskan lagi. Aku tahu batasan, sayang jangan khawatir. Oya kita ke balai desa dulu yu?" Arya bangun dari tidurannya.


"Mau ngapain?" selisih Fatma sambil bangun juga dan merapikan rambutnya yang panjang bergelombang. Lalu diikat nya di atas membentuk buntut kuda.


"Mau tidur di sana!" sahut Arya sembari menunjukan giginya yang putih. Lalu tangannya menjepit hidung Fatma. "Kita harus mengurus pelengkapan data untuk buku nikah kita."


"Oh, iya. Lupa," Fatma tersipu malu. Lalu mengambilkan jaketnya Arya.


"Mau motor boleh, mobil juga ada! jangan suka ngomong gitu ah, aku sedih dengernya." Fatma mengalungkan kedua tangan nya di pundak Arya. Menempelkan pipinya di dada Arya.


Kini Fatma punya tempat ternyaman, yaitu dada sang suami. Menyembunyikan wajahnya di sana. Arya membalas pelukan sang istri dengan sangat erat. Mencium pucuk kepala Fatma dengan sangat mesra.


Sesaat kemudian Arya memudarkan pelukannya. Menjauh dan berkata. "Berangkat yu? mana Rania nya?"


"Rania di kamar Dewi. Aku jemput dulu." Fatma membawa langkahnya keluar dan menuju kamar Dewi


Arya meraih kunci motornya. Kemudian berlalu dan tidak lupa menutup pintunya. Namun ia langsung kembali untuk mengambil tas dan ponsel Fatma yang ketika ia hidupkan ada beberapa kontak yang masuk atas nama Zayn.


Arya tertegun dalam hati bertanya-tanya. "Siapa dia?" pikir Arya sedikit menggelengkan kepalanya.


Arya masukan ponsel tersebut ke tasnya lalu ia jinjing keluar dari dalam kamarnya.


"Sayang, mau gak jalan-jalannya? Papa sama Mama mau jalan sekalian ada urusan," tanya Fatma sambil mengusap kepala Rania yang sedang bermain di kamar Dewi bersama Mia juga.


Rania mendongak. "Iya ikut, Mam."

__ADS_1


Kini sorot mata Fatma tertuju pada Mia yang balik menatap dengan tanpa ekspresi. "Aunty di sini saja temenin Dewi biar ada kawannya. Saya mau pergi dulu."


"Biak Nyonya." Mia mengangguk pelan. Ada rasa kesal dalam hatinya.


"Aunty Mia tidak di ajak, Mam?" Rania bertanya.


"Nggak, sayang. Papa perginya bawa motor. Nggak muat kan?" balas Fatma seraya menggeleng.


"Oo! gitu, hore! kita jalan, hore! kita jalan." Celoteh anak itu.


"Wi, Kakak mau pergi dulu ya, mau nitip apa? nanti kak Fatma belikan dengan Mia juga."


"Gak usah, Kak. Aku tidak mau apa-apa." Jawabnya sembari menarik napas beratnya.


"Atau, Dewi jalan-jalan saja sama Mia. Pinjem mobil dan pak Harlan." Arya sembari melirik sang istri meminta persetujuannya.


"Iya, boleh. Itu ide bagus dari pada Dewi mengurung di kamar terus dan sekalian ajak umi juga. Bawa saja mobilnya." Fatma setuju.


"Ya, Wi. Jalannya? mencari hiburan," bujuk arya seraya mengusap punggung Dewi. Kalau mengurung terus, nanti jadinya gak baik untuk hidupmu. Bila perlu ikut Aa ke Jakarta besok.


Dewi bengong lalu menoleh ke arah Fatma yang memberi anggukan tanda setuju bila Dewi ikut ke Jakarta. "Akan Dewi pikirkan, Aa."


Turus gimana sekarang! mau gak jalan-jalannya? Nanti Aa nyusul setelah menyelesaikan urusan Aa!"


"Iya, mending ikut yu? gak baik murung terus di kamar. Gak salah kan kalau kita mencari suasana baru kamu tidak boleh terpuruk dengan kesedihan mu." Mia ikut bicara yang di tujukan pada Dewi.


Pada akhirnya Dewi setuju untuk jalan-jalan. Bersama umi, Mia dan bu Wati pergi dengan mobil Fatma yang di kemudian pak Harlan.


Arya dan Fatma berangkat duluan membawa Rania dengan tujuan ke balai desa terlebih dahulu. Dengan niat membuat perlengkapan untuk buku nikah mereka berdua.


"Jauh gak sayang?" tanyanya Fatma pada Arya di tengah perjalanan dan seiring suara angin yang berhembus menyapa kulit mereka.


"Apanya?" Arya balik tanya.


"Itu balai desa nya?" jelas Fatma.


"Ooh, dekat bentar lagi sampai." Arya tetap fokus ke depan jangan sampai menyenggol kendaraan orang. Atau sebaliknya.


Fatma tidak lagi mengeluarkan suaranya selain suara Rania yang bernyanyi dan suara mesin motor Arya yang terdengar ditelinga.


Setibanya di tempat yang di tuju, Arya bergegas turun sembari menuntun pergelangan Fatma. Dan Fatma menuntun Rania ....

__ADS_1


****


Jangan lupa like, komen dan hadiahnya agar aku tambah semangat ya reader ku semua🙏


__ADS_2