
Arya membawa Rania pulang. Dan di jalan bertemu dengan Zayn yang dari toilet.
"Anak manis Maya kemana nih?" tanya Zayn menatap ke arah Rania dan Zayn bergantian.
"Mau pulang, capek." Rania membalas tatapan Zayn.
"Em ... gitu, hati-hati ya anak manis?" kata Zayn sambil mengusap kepala Rania.
"Kami pulang dulu ya?" Arya mengangguk pada Zayn
"Oke, hati-hati bro! titip ponakan ku ya?" ucap Zayn sambil mengangkat tangannya.
"Iya. Yo!" Arya melanjutkan langkahnya keluar dari restoran tersebut.
Sesat tatapan Zayn tertuju pada kepergian Arya dan Rania. "Huuh ... sepertinya pria yang baik, tampak tulus menyayangi anak sambungnya dan mencintai sepupu ku Fatma."
Zayn menghela napas panjang. "Sayang sekali, ketika kau bermasalah. Gue tidak berada di dekat mu, untunglah mantan mu itu kini sudah mendekam di penjara." Ucapnya dengan nada geram.
Arya dan Rania sudah berada di atas moge milik Arya. Yang melaju dengan cepat melewati banyak kendaraan lainnya. Membelah jalanan dan berpacu dengan kuda-kuda besi lainnya.
"Papa, Rania ngantuk ih ..." keluh Rania.
"Iya, sayang ... sebentar lagi juga sampai kok, sabar ya?"
"Kapan sih sampainya? Rania ngantuk pengen bobo." Rania terus merengek ngantuk.
"Oya-iya, sabar ... sebentar lagi juga tiba." Arya membelokan motonya lalu melaju lebih cepat lagi.
Siang begitu terik. Tanpa adanya mendung sedikitpun, bikin suasana panas membakar jiwa. Akhirnya motor Arya memasuki gedung apartemen dan memasukan motor tersebut ke parkiran.
Rania tampak ngantuk berat sehingga tubuhnya terkulai ke tangan Arya sedari tadi. Arya turun dan langsung menggendong tubuh Rania yang mulai tertidur.
Saat keluar dari lift. Kedua netra mata Arya mendapati sosok wanita yang selama ini ia kenal.
Renata, ya. Renata berada di dekat unit Arya tengah berdiri dan langsung menemukan Arya yang sedang memangku Rania.
"Anak siapa itu?" tanya Renata menatap lekat ke arah Arya yang berjalan menggendong seorang anak. Renata heran dan jantung pun berdebar.
__ADS_1
"Anak ku," balas Arya. "Sedang apa di sini?"
"Aa, aku ke sini sebab mau meminta maaf sama kamu." Lirihnya Renata.
"Sebaiknya kau pulang saja. Gak enak kalau pasangan kita melihatnya, takut timbul fitnah." Jelas Arya yang berdiri beberapa langkah dari Renata.
"Aa, aku menyesal sudah menduakan kan mu, aku sangat menyesal." Sesak Renata sambil menunduk.
"Sudahlah. lupakan semuanya, gak enak kalau kamu ketahuan oleh suami mu. Dan aku ketahuan istri ku! Pulang lah!"
Renata mendongak. "Istri mu? ma-maksud mu? Gak-gak mungkin!" Renata menggeleng kasar. Tidak mungkin Arya sudah menikah dengan cepat juga.
"Oya, aku sudah menikah di hari yang sudah kita rencanakan dulu. Aku menikah dengan seorang wanita." Arya memunggungi Renata dengan Rania masih tertidur dalam gendongan.
"Apa? kau menikah di hari yang sama?" Renata tertegun tidak percaya. "Kau bahkan tidak datang ke acara ku!"
"Iya, aku di Bandung dan menikah juga. Jadi pergilah, aku gak mau istri ku tahu kita bertemu di sini. Lupakan semuanya," ungkap Arya melirik sekilas.
"Nggak, itu gak mungkin! gak mungkin kamu menjadi kah di hari yang sama? aku tahu kamu sangat mencintai ku. Jadi gak mungkin kamu menikah dengan wanita lain secepat ini." Kepala Renata terus menggeleng kasar dan matanya berkaca-kaca. lalu buliran air matanya mengalir.
"Aku gak percaya! nggak mungkin, itu pasti bohong." Suara Renata bergetar. Menahan tangis.
"Aku minta pergilah? lupakan semuanya. Aku sudah beristri. Jangan berpikiran yang macam-macam lagi. Pergi?"
Lagi-lagi Renata menggeleng. "Kamu jahat! aku gak percaya sama kamu." Renata menutup mulutnya, dia menangis sambil pergi dari tempat tersebut.
Orang-orang yang berlalu lalang melihat Renata menangis. Dan Arya tidak banyak lihat kanan-kiri. Melainkan segara masuk untuk membaringkan Rania dia kamarnya.
Kini Arya berdiri di balkon sedang melamun. Mengingat kejadian barusan, memandangi langit yang tadinya sangat terik, berubah menjadi kelabu dan mendung.
Dari jauh terdengar suara derap langkah kaki seseorang mendekat ke arah kamar Arya. Arya membalikan tubuhnya melihat ke arah sumber suara.
Tampak Fatma tengah berjalan dengan gontai memasuki kamar. Menyimpan tas di atas meja, Arya segera menghampiri.
"Sudah pulang sayang?" tanya Arya sambil membawa beberapa gantung pakaian lantas di simpan di lemari.
"Sudah, Rania begitu nyenyak Bobonya." Fatma menoleh ke arah Arya.
__ADS_1
"Hem, dari motor mula merengek ngantuk, sayang." Tangan Arya merangkul pinggang belakang Fatma.
"Oya, capek kali." Fatma mendongak menatap intens ke arah wajah Arya yang menarik tubuhnya hingga menempel ke tubuh Arya bagian depan.
"Iya, capek kah?" membalas tatapan Fatma.
Fatma mengangguk pelan. "Kenapa?"
"Kangen." mengeratkan pelukannya. Mendekatkan wajahnya ke wajah Fatma yang mendongak itu.
"Kang--" kalimat yang Fatma keluarkan terpotong dengan mulut Arya yang membungkam mulutnya.
Arya yang saat ini sedikit mengingat sosok Renata, tak mau hanyut dan kebetulan ada sang istri sebagai penawarnya. Ia menghujani wajah Fatma dengan kecupan kecil.
Arya menyeret tubuh Fatma ke tempat tidur dan ia baringkan di atas tempat tidur tersebut. Lantas ia kungkung mengunci agar Fatma tidak terbangun.
Dag-dig-dug, jantung Fatma berdegup sangat kencang melebihi dari normal. Bergemuruh tidak menentu, netra nya menatap sendu sang suami yang tampak ingin menyalurkan hasratnya.
Namun kini Fatma tidak lagi was-was sebab pms nya sudah beres kok. Dan memang Fatma sudah berniat akan memberikan haknya malam ini pada Arya.
Arya kembali mencumbu wajah Fatma menghujaninya dengan kecupan kecil dari mulai pipi, kening dan berakhir di bibir. Ia kecup dengan sangat lembut. Arya l**at dengan sangat mesra, M******p penuh gelora dan hasrat yang menggebu-gebu memenuhi jiwa.
Fatma memejamkan kedua manik matanya. Merasakan betapa lembutnya setiap sentuhan yang Arya berikan, **ma*an pun tak terelakan dari tangan Arya di balon alami miliknya.
Bibir Arya bergerak turun ke area leher dan turun lagi ke bawah mendekati balon-balon indah yang kenyal dan tampak indah setelah Arya buka penutupnya. Membuat Arya semakin tertantang untuk menikmatinya.
Kedua mata Fatma terus terpejam. Tangannya mencengkram rambut Arya yang sesekali dibelainya. "Ahk ...." suara lembut lolos dari bibir, setelah sadar gegas menggigit bibir bawahnya.
Seketika Fatma ingat pada pintu kamar yang ia lupa entah di kunci? entah tidak. Gegas melonjak bangun menoleh ke arah pintu, membuat Arya terkejut.
"Sayang, pintu gak di kunci!" gumamnya Fatma. Menunjuk dengan dagunya.
Kepala Arya mengikuti yang Fatma tunjukan. Sejenak ia tatap tanpa ekspresi lalu melihat ke arah Fatma yang menutupi dadanya dengan kedua tangan sembari menunduk. Arya tersenyum! kemudian dengan cepat turun menuju pintu dan menguncinya ....
****
Jangan lupa dukungannya🙏
__ADS_1