Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Terpesona


__ADS_3

Doni memudarkan rangkulannya. "Baiklah, dengan satu syarat. Kau tidak boleh menolak ku ketika aku inginkan mu, sebab aku akan merindukan mu bila sehari saja tidak memandang wajah mu."


Renata berdiri dan menjauh, sungguh hatinya dipenuhi rasa cemas dan was-was. "Pergilah sudah malam, nanti orang berpikir yang tidak-tidak." Pinta Renata sedikit mendorong bahu Doni yang jaraknya cuma dua langkah dari dirinya.


Namun Doni bukannya pergi malah semakin mendekat memegangi tangan Renata, diciumnya dengan mesra. "Aku belum puas bersama mu cinta. Aku ingin menghabiskan waktu bersama mu. Ijinkan aku di sini sebentar lagi.


Hening!


Tubuh doni semakin rapat pada tubuh wanita yang mengenakan baju tidur warna merah cerah dengan tali kecil yang menggantung di tubuhnya, dari bahan satin yang halus seakan mengikuti bentuk tubuhnya yang indah. Keduanya saling bersitatap dan tangan Doni yang satu memegang pinggang, tangan satu lagi jarinya mengusap bibir Renata lembut, lagi-lagi dia meraup bibir Renata dengan rakusnya. M******* penuh gairah, m****** bergantian atas dan bawah.


Renata terus berusaha lepas, Doni menyeret tubuh Renata ke dinding dan menguncinya di sana, tangan Doni beralih memegangi tengkuk Renata agar gadis ini tak dapat bergerak apalagi melawan.


Tangan Renata terus memukul dada Doni dengan harapan doni menjauh, sejenak Doni melepaskan mulutnya yang membungkam bibir Renata. Dengan mudahnya Doni menangkap kedua tangan itu lalu Doni kunci di atas kepalanya Renata, membuat mata Renata melotot dengan sempurna.


Doni melanjutkan aksinya yang tertunda, lalu turun ke leher mau membuat tanda kepemilikan di sana. Namun sebelum itu naik lagi mengecup pipi, kening dan bibir Renata. Lanjut bergerak maju ke telinga menghembuskan napasnya sehingga menyapu semua permukaannya. Membuat Renata semakin terhanyut, Dan dengan leluasa tangan Doni menjamah buah segar milik Renata yang tampak menggoda yang berhias baju tidur dari satin beranda.


Perlahan Doni melepaskan tangan Renata dan bergerak menyeretnya ke tempat tidur yang besar itu. Tanpa melepaskan apa yang mereka lakukan.


Semakin lama semakin larut dengan apa yang Doni berikan sentuhan demi sentuhan hampir mematikan seluruh urat saraf kesadaran Renata bahwa yang mereka lakukan itu salah dan tidak seharusnya dia lakukan apalagi dia tunangan orang. Gimana kalau seandainya Arya tau? betapa akan hancur, terluka dan apa mungkin masih bisa menerima dirinya yang mungkin dalam hitungan menit tidak suci lagi!


Mata Doni begitu terpesona melihat pemandangan yang indah, pahatan yang begitu sempurna, yang sering ia jamah dari luar, sekarang nyata tanpa sehelai benang pun yang menutupnya. Dengan tidak sabar Doni melepas pakaian miliknya yang tinggal segitiga yang masih melekat di tubuhnya itu.


Tatapan mata Renata begitu sayu, sendu kelabu memandangi ke lain arah dan ketika melihat sesuatu yang menyeruak besar, keluar dari sarangnya spontan Renata menjerit.


"Au!" namun langsung menutup mulut dengan kedua telapak tangannya sendiri.


Doni panik dengan refleks ikut membungkam mulut Renata sambil berkata. "Kenapa harus teriak? kalau orang rumah dengar gimana sayang?" pekik Doni tertahan.

__ADS_1


Renata bangun dengan cepat menarik selimutnya. "Aku mohon? jangan lanjutkan. Ini sebuah hubungan terlarang, tidak boleh terjadi." Kedua tangan Renata disatukan depan dada sebagai permohonan.


Doni yang sudah siap tentu tak ingin ini sia-sia. "Cinta, aku sangat menyayangi mu, mencintai mu--"


''Kalau kamu mencintai ku? tidak akan kamu nyakitin aku." Renata memotong rayuan dari Doni.


Doni meringsut duduk mendekat. "Siapa yang menyakiti mu? kita akan sama menikmati indahnya bercinta, sayang. Bukan nyakiti!" elak Doni sembari kembali merangkul bahu Renata.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Re, Rena? ada apa?" suara bunda tita membuat panik yang berada di dalam kamar.


"I-iya, Bun." Renata gugup cepat-cepat menutup semua tubuhnya dengan selimut. Menoleh pada Doni yang yang masih mengenakan pakaiannya.


Wajahnya tampak memberi pertanyaan, itu pintu mau di buka apa enggak? Renata menggeleng.


"Kamu kenapa sayang? buka pintunya!" sambung Bu Tita.


"Renata gak ke napa-napa kok Bun, cu-cuma mimpi. Iya cuma mimpi. Bunda gak usah khawatir, aku baik-baik saja kok. cuma mimpi buruk." Pekik Renata dari balik selimut.


"Ooh. Yakin gak kenapa-napa?" lanjut Bundanya.


"Yakin, Bun ... aku gak kenapa-napa, Bunda tidur aja lagi dan aku baik-baik saja kok." Renata berusaha meyakinkan bundanya.

__ADS_1


Doni yang bersiap sembunyi akhirnya bernapas lega. Dan menatap ke arah Renata yang masih di balik selimut tebalnya.


Mendekati tempat tidur Renata dan duduk di tepiannya. Dengan hati kecewa, kepala pusing. Tangan Doni mengacak rambutnya kasar dan tampak frustasi.


Sementara Renata di dalam selimut merasa bersalah dan menyesal bercampur jadi satu. Sehingga dia mengeluarkan air mata.


Doni melirik ke arah Renata yang dibalut selimut, setelah memperjalas penglihatannya. Doni sadar kalau bahu Renata bergetar, tangan Doni mengulurkan tangannya menarik ujung selimut sampai kelihatan kepalanya, wajahnya basah dengan air mata yang tumpah ruah.


"Kenapa kau menangis? aku gak jadi meniduri mu, kenapa harus menangis?" tanya Doni lirih. Hatinya jadi terenyuh melihat Renata menangis.


Renata terus menangis dan terdengar pilu. Doni mendekat dengan tangan bertumpu pada bantal lalu membelai rambut Renata dengan lembut, sebenarnya Doni bisa aja memaksa Renata untuk melayaninya yang tidak kuat menahan gairah yang sudah naik ke ubun-ubun.


Hati Doni melunak, gak tega melihatnya. Sehingga dengan sekuat tenaga ia tahan hasratnya itu.


"Aku mohon, pulanglah dan jangan lagi me-melanjutkan hubungan ini, biarkan aku menjalani hu-hubungan ku secara sehat dengan Arya." Suara Renata terbata-bata. Tangisnya semakin tersedu.


"Aku akan pulang, tapi kamu gak boleh begini. Aku gak mau meninggalkan mu dalam keadaan menangis," balas Doni sambil terus membelai kepala Renata penuh kasih sayang. Napas nya masih memburu dan belum terkontrol.


Kemudian Doni mengambil pakaian Renata yang berserakan di lantai dan ada juga yang tergeletak di kursi. Sebelum dibawa ke Renata dengan iseng mencium pakaian bekas milik Renata yang wanginya bau khas. Bibir Doni tersenyum penuh arti.


Lalu membawanya pada Renata yang masih dengan posisi semula. "Pakailah, nanti kamu masuk angin."


Namun Renata tak bergeming. Masih saja dengan tangisnya yang tertahan. Doni menarik lagi ujung selimut Renata sampai terlihat bahunya dan Renata segera menutupinya kembali.


"Pakailah? sebelum aku benar-benar nafsu dan akhirnya benar-benar melakukannya padamu." Ancam Doni.


Mendengar perkataan seperti itu. Renata segera bangun dan mengambil pakaian dari tangan Doni lalu memakainya di balik selimut, Doni menarik napas panjang dan membuang rasa kecewa yang menyesakkan dada. Kepalanya panas, sakit menahan hasrat yang tidak tersalurkan ....

__ADS_1


__ADS_2