Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Mencari tebusan


__ADS_3

Arya terus mengikuti mereka, dengan cara mengendap-endap. Terus mengawasi orang-orang tersebut, khawatir dengan nasib anak itu.


"Anak ganteng, duduk sini ya? nanti orang tua mu menjemput mu ke sini, oke?" Kata seorang laki-laki yang wajahnya menyeramkan.


"Tidak mau, aku mau pulang? mama, mama?" anak itu menangis, namun segera salah satu dari mereka membungkam mulut anak itu.


"Diam kau? jangan berisik! saya bilang tunggu dan nanti orang tua mu datang." Bentak pria tadi.


"Terus gimana bos? kita minta tebusan sekarang atau jadikan anak ini mengamen di jalanan?" Tanya yang satu lagi.


"Telepon orang tua nya minta tebusan?" suruh orang yang dipanggil bos tersebut.


"Siap, Bos." Si pria satunya mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Tidak lama kemudian. "Bos, nomor orang tua nya mana?"


"Ha, bego ... minta sama anak itu nomornya?" suruh pria itu sambil melotot.


Anak itu semakin ketakutan dan terus menangis. "Aaaaa ... Mama, tolongin dede? aaaaaa ...?"


"He? berisik, sebutkan nomor orang tua mu?" pinta pria itu.


Namun anak itu selain menangis juga menggeleng. Tidak tahu soal nomor ponsel ibunya.


"Mama ... mau ke mama? mama jemput Dede?" anak itu terus menangis.


"Bos, mana dia tahu dia. Bos, anak sekecil ini, mustahil tahu nomor orang tua nya. Alamatnya aja belum tentu dia tahu, Bos ..." keluh pria itu.


"Ah ... goplok, pea dasar. Bego-bego, bego ... kok bisa seperti ini sih? terus bagaimana bisa mencari tebusan ha?" hardik Bos nya itu sambil memukul dinding.


Arya yang sedang mengintip terus mengawasi gerak gerik mereka. Anak laki-laki yang mereka tawan hanya di suruh duduk begitu saja.


Arya menunggu kedua orang itu lengah dan berharap anak itu menoleh ke arah Arya. Namun pintu lantas di kunci dari dalam.


Menjadikan Arya mengintai dari balik dinding, menelisik mencari jendela yang menghubungkan dengan ruangan tersebut.


Hingga akhirnya Arya menemukan sebuah jendela yang tidak dikunci. Arya berusaha masuk dan tentunya tetap berhati-hati.


Kini Arya sudah berada di dalam gedung tersebut. Lalu berjalan mengendap-endap mencari ruangan yang tadi, dan akhirnya terdengar anak itu menangis dan di bentak-bentak oleh pria jahat tersebut.

__ADS_1


Arya memutar otaknya. Gimana caranya? supaya bisa menyelamatkan anak itu tanpa mengundang bahaya.


Tangan Arya merogoh sakunya mengambil ponsel yang ia senyap kan suaranya, Arya mendapat ide cemerlang dan mudah-mudahan rencana ini bisa berhasil dengan baik.


Wiew-wiew....


Wiew-wiew ....


Wiew-wiew ....


Bunyi sirine polisi begitu dekat dengan tempat tersebut. Membuat kedua lelaki tersebut kalang kabut.


"Bos polisi, Bos? lari, lari-lari ..."


"Sialan ... dasar kau sial. Ayo kabur-kabur?" keduanya ngibrit berlarian keluar sampai-sampai beberapa kali tersandung, jatuh lalu bangun meneruskan kaburnya tanpa perduli pada anak yang mereka bawa tersebut.


"Polisi, Kabur ...."


Suara orang itu semakin menjauh. Arya tersenyum penuh kemenangan, seraya menggeleng. "Dasar penjahat KW alias tidak asli. Di gertak seperti itu saja sudah kalang kabut. Ha ha ha ...."


Sementara anak itu terus menangis memanggil mamanya, Arya langsung menghampiri dengan lembut dan memberikan senyuman.


Namun anak itu malah ketakutan dan berlari menjauhi Arya. Sambil semakin mengencangkan tangisnya.


"Anak ganteng. Om bukan penjahat. Justru Om mau mengantar anak ganteng pulang. Mau pulang, kan?" lagi-lagi Arya berucap lirih sambil berjongkok.


Lama-lama anak itu luluh dan percaya sehingga perlahan kakinya melangkah mendekati Arya.


Tangan Arya mengarah mengusap kepalanya menyingkirkan rambutnya dari kening yang keluar keringat.


Wajahnya basah dengan air mata. Jemari Arya mengusap sudut matanya. "Namanya siapa hem?"


Hek-hek-hek, anak itu sesegukan. Menatap ke arah Arya dengan sangat intens. "Nama ku Dede, Denda Dersika." jawabnya pelan.


"Ooh. Dede! yu Ikut Om? kita harus cepat-cepat keluar dari sini. Takut orang yang tadi ke sini lagi." Arya menggendong anak itu agar bisa lebih cepat dari tempat tersebut.


Benar saja. Kedua orang tersebut kembali dengan napas yang tersengal-sengal. Berlarian memasuki kembali tempat tersebut.

__ADS_1


Arya buru-buru menghindar. "Jangan bersuara ya? nanti ketauan." Pinta Arya pada anak itu sembari menempelkan telunjuknya di bibir.


Si anak yang bernama Denda itu mengangguk dalam gendongan Arya.


Arya menyelinap ke bagian samping pintu. Setelah mereka masuk dan mencari anak tawanannya, Arya langsung keluar dengan cepat dan membawa anak itu jauh dari mereka. Namun setelah jauh, mereka mencium keberadaan Arya yang membawa kabur anak itu.


"Wei ... jangan kabur lu?" sambil mengejar Arya yang memang sudah jauh. Namun orang itu tidak segan mengarahkan senjata api nya ke Arya yang mencari jalan untuk bisa terhindar dari mereka berdua.


Setelah jauh, dari tempat tersebut dan mereka pun sepertinya tidak lagi mengejar, sebab merasa kalau Arya berlari ke tempat yang ramai dan itu jelas akan membahayakan mereka. Arya membawa anak itu ke kantor polisi. Agar mengantarnya ke orang tua anak itu bagaimanapun caranya.


"Apa Denda tahu alamat Denda di mana?" tanya Arya setelah berada di kantor polisi.


Anak itu menggeleng sambil makan dan minum yang Arya belikan.


"Nama mama tahu?" selidik pak polisi.


Lagi-lagi anak itu menggeleng sambil terus makan. Anak ini tampan, lucu dan berkulit putih.


"Nanti juga pasti orang tua yang merasa kehilangan melapor ke kantor polisi terdekat," ucap pak polisi sambil menatap anak itu. "Dan sekarang pun pihak kami akan mengumumkan keberadaan anak ini. Sebagai korban penculikan."


"Saya khawatir kalau anak ini kembali menjadi korban, Pak, atau diperjual belikan." Arya menatap ke arah beberapa polisi yang berada di sana.


"Anda tidak perlu khawatir anak ini akan aman di dalam pengawasan kami." Kata pak Kapolda.


Arya terdiam sejenak sambil memandangi anak itu yang sedang asyik makan.


"Kami sangat mengucapkan banyak-banyak berterima kasih atas bantuan anda? sekarang pihak kamu sedang mengerahkan anak buah kami untuk membekuk para penjahat penculik anak itu.


"Sama-sama, Pak. Saya tidak bisa lama-lama di sini, sebab ada keperluan yang sangat penting. Jadi saya harus segera undur diri," Arya melihat jam di tangannya lalu mereka berjabat tangan.


"Sekali lagi kami sangat berterima kasih atas bantuan anda?"


"Iya, Sama-sama." Kemudian Arya berlalu yang sebelumnya mencium anak itu dan benar-benar menitipkan kepada pihak kepolisian agar menjaga dan membawa kepada orang tua nya.


Arya langsung kembali ke tempat tadi dia dan Sultan juga kawannya lainnya yang mungkin menunggu. Tapi Arya lebih memilih langsung ke hotel saja daripada ke tempat tadi, mengingat waktu sudah lewat terlalu lama.


Setibanya di hotel, Sultan langsung membrondongi pertanyaan kepada Arya yang tampak lelah.

__ADS_1


Namun Arya cuma menjawab singkat. "Kantor polisi." Dan langsung masuk ke dalam kamar mandi ....


__ADS_2