Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Berbagi


__ADS_3

Semua kaget sontak melihat sumber suara. Ternyata seorang asisten yang terjatuh dan Arya langsung berlari menghampiri.


"Kenapa Mbak?" tanya Arya sembari membantu berdiri mbak tersebut.


"Maaf, Tuan. Kepala saya pusing." Jawabnya.


"Oh, ya sudah ayo ikut saya?" Arya memapah mbak itu ke ruang kesehatan.


"Wi! suruh BI Ina telepon dokter?" titah Arya menoleh ke arah Dewi yang bengong.


"Ayo sayang turun? Rania kan harus sarapan kalau mau ikut Papa da mama!" ucap Dewi menuntun Rania.


"Iya, Aunty." Rania mengangguk.


"Tu-Tuan, saya tidak apa-apa cuma pusing saja." Kata mbak itu. Merasa sungkan diperlakukan oleh sang majikan.


"Nggak pa-pa, saya antar. Dan tunggu dokternya sebentar." Arya terus memapah menelusuri jalan menuju ruang kesehatan.


Fatma setelah mengambil tas dan ponselnya berniat kembali dan menuruni anak tangga. Namun kepala terasa pusing dan sedikit terasa mual. "Oo ..." tapi cuman mual saja.


Fatma mendudukkan dirinya di sofa. "Kenapa ya? perasaan tidak ada riwayat lambung kok." Pikirnya Fatma sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya. Kemudian kembali berdiri mendekati pintu.


Mengayunkan langkahnya dengan teratur menuju lantai dasar. Tetapi suaminya tidak ada di bawah, manik matanya Fatma mengitari setiap sudut dan bag nya masih ada di tempat.


Kemudian langkah Fatma menuju ruang makan yang ada Rania dan Dewi.


"Papa, mana?" tanya Fatma merasa heran.


"Aa, sedang bantu mbak ke ruang kesehatan pusing katanya." Jawab Dewi menunjuk ke lantai atas.


Netra nya Fatma mengarah pada yang Dewi tunjuk. "Oya?"


"Iya, Mam. Tadi mbak terjatuh terus papa bantu deh." Tambah Rania di sela-sela makannya.


"Oke." Fatma mau menyusul Arya ke atas. Namun cuma sampai ke anak tangga saja. Sebab Arya sudah duluan turun dengan santainya.


"Gimana keadaan mbak? Mbak yang mana?" selidik Fatma mengingat asisten di rumah ini banyak.


"Cuma pusing-pusing doang. Itu mbak Mina, kalau gak salah sih." Kata Arya sambil mendekati bag nya dan menjinjing dibawanya ke mobil.


"Oh, mbak Mina." Fatma mengikuti langkah suaminya.


"Mama? tungguin, Rania ikut?" pekik Rania sambil menghabiskan makannya.

__ADS_1


Fatma yang baru beberapa langkah berhenti dan memutar tubuhnya. "Iya sayang, Mama tungguin kok."


"Ini minum obat dulu?" Dewi memberikan obat pada Rania yang langsung membuka mulutnya itu untuk meminum obat.


Setelah itu Rania turun menghampiri sang bunda. Meta h tangannya menyusul Arya yang sudah berada di mobil.


Arya Menoleh pada istri dan anaknya. "Sudah makannya sayang?"


"Sudah dong. Oya Pah Rania kangen deh sama teman Rania yang di apartemen Papa itu lho," ucap Rania sambil masuk ke dalam mobil.


"Oya? nanti kalau Papa gak ada di rumah kita ke sana ya? Jalan Pak?" pinta Arya pada pak Harlan.


"Siap Den." Pak Harlan mengangguk sambil memutar kemudi melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


"Pak, nanti dari bandara kita ke rumah pak Dudin sebentar ya? terus kita belanja dulu ka swalayan buat buah tangan." Fatma mengarahkan kalimatnya pada sang supir.


"Baik, Bu." Lagi-lagi Paka Harlan mengangguk.


"Mam, kenapa sih kalau mau datang ke tempat orang harus bawa buah tangan?" anak itu mendongak ke arah sang bunda.


Fatma menghela napas sebelum menjawab pertanyaan dari Rania. "Rania senang gak? bila kedatangan orang terus memberi sesuatu atau hadiah pada Rania seneng gak?"


"Em ... seneng dong. Apalagi sesuatu yang Rania mau atau Rania gak punya, seneng ... benget." Jawab anak itu.


"Begitupun orang lain sayang. Mereka juga pasti bahagia kalau kita memberikan sesuatu padanya. Apalagi sesuatu itu sangat bermanfaat." Tambah Arya sambil mengusap pucuk kepala Rania.


"Betul sekali, Rania pinter!" seru Fatma dengan nada bangga.


"Terus kita ini berkecukupan gak sih Mam?" tanya anak itu lagi.


"Alhamdulillah kita berkecukupan sayang, makanya kita harus rajin berbagi dengan yang membutuhkan--"


"Tunggu Mam, Pak supir berhenti dulu?" pinta Rania sambil menaikan kepalanya ke arah jendela.


Supir pun menepikan mobilnya. Arya dan Fatma heran namun tidak banyak bertanya, mereka akan membiarkan apa yang akan dilakukan oleh Rania saat ini setelah mobil berhenti.


"Mam, Pah?" Rania mengolah ke arah papa dan mamanya bergantian. "Rania boleh meminta sesuatu gak?"


"Apa sayang?" tanya Arya menatap heran.


"Mau minta apa?" Fatma melihat wajah Rania, penasaran dengan apa yang akan di lakukan sementara manik mata Rania mengawasi ke arah anak-anak yang mengamen.


"Rania ... minta uang buat ngasih anak-anak itu, kasihan deh. Sebesar itu sudah mencari uang sendiri ya?" dengan nada haru.

__ADS_1


Fatma dan Arya langsung mengeluarkan uang dari dompetnya masing-masing dan diberikan pada Rania.


"Ini, Papa kasih. Rania berikan sama mereka ya?" Arya memberikan beberapa lembar uang warna biru.


"Iya, ini bagikan ya sama Rania?" Fatma juga memberikan yang berwarna merah.


Kemudian menyuruh pak supir untuk menemani Rania turun. Rania sangat senang dan bergegas turun.


Arya, Fatma tersenyum melihatnya. Tangan Arya merangkul bahu sang istri. "Sudah seharusnya kita mendidik dia untuk banyak berbuat kebaikan di luar. Agar dia tahu bahwa tidak semua orang hidupnya beruntung."


Fatma mengangguk. "Iya. Kita harus banyak mengajaknya jalan ke luar dan memperkenalkan kehidupan sekitar."


"Iya, apa salahnya memberi pendidikan di luar." Lanjut Arya.


"Pah, Mam. Sudah, mereka sangat bahagia Mam." Rania sangat antusias dan wajahnya menggambarkan sebuah kebahagian.


"Bagus, pinter deh anak Mama." Dengan bangganya Fatma mencium pipi Rania kanan dan kiri.


"Iya, nih pinter banget nih anak Papa." Lagi-lagi tangannya mengusap pucuk kepala Rania penuh kasih sayang.


"Oo ..." Fatma merasa mual dan buru-buru meneguk air mineral yang dibawanya dari rumah.


"Kenapa sayang sakit?" tanya Arya seraya mengulas pipi Fatma dengan lembut dan tampak cemas.


"Nggak, aku gak ke napa-napa, bau polusi aja kali." Fatma menggeleng.


"Yakin, gak kenapa-napa?" tanya Arya ingin memastikan kalau sang istri baik-baik saja.


"Iya, gak kenapa-napa." Fatma meyakinkan.


Rania cuma melihat antara papa dan mamanya bergantian, sambil ngemil.


Selang beberapa puluh menit kemudian, mobil memasuki area bandara. Mereka pun turun, Arya langsung pamitan pada sang istri.


"Aa pergi dulu ya? baik-baik di rumah. Jaga Rania juga, kalau ada apa-apa kabari aku." Arya memeluk erat tubuh Fatma, sejenak menumpahkan rasa rindu yang akan tersimpan untuk beberapa waktu.


"Hati-hati ya? cepat kembali? aku akan merindukan mu." Suara Fatma pelan dan bergetar seakan berat untuk berpisah yang mungkin hanya untuk paling lama 24 jam saja.


"Iya sayang, Aa. Akan cepat kembali tunggu ya? dan doakan yang terbaik." Balas Arya.


Pelukan keduanya semakin erat. Dan Rania hanya melongo melihat papa dan mamanya pelukan, seakan berat menghadapi perpisahan ini ....


.

__ADS_1


.


Salam kebal bagi para reader ku yang baru mengikuti🙏


__ADS_2