Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Ingin setia


__ADS_3

Plak!


Telapak tangan Sultan menepuk pundak Arya dari belakang. "Woi! Melani, ups Melani! salah ngomong gue, melamun saja, mikirin apa sih?"


Arya kaget bukan main dengan tepukan di pundaknya dan sontak menoleh. "Ha? ada apa?"


"Ha? ada apa? basi. Dari tadi aku ngomong sendiri," ketus Sultan sambil mengalihkan pandangan ke arah lain dan melihat seorang wanita cantik yang body nya ehh! parasnya elok, tinggi semampai. Langsung deh tuh mulut bersiul.


"Dasar. Tak bisa lihat wanita cantik," gumam Arya setelah melihat Sultan menggoda wanita cantik di depannya.


Setelah dekat dengan sepeda motornya Arya mengenakan helm di susul oleh Sultan yang kebetulan membawa helm miliknya.


"Siap belum?" tanya Arya selepas duduk di jok motornya.


"Siap, Jalan. Antar aku dulu ya pulang." Sultan minta diantar pulang lebih dulu.


"Oke," gumamnya Arya sambil menjalankan sepedanya melesat meninggalkan area Rumah Sakit besar tersebut.


Sepanjang perjalanan Sultan berbicara yang kadang tak terdengar oleh Arya dengan suara mesin yang menghiasi dan angin yang terasa besar menerpa.


Setibanya di kediaman Sultan. Sultan turun dan membuka helm miliknya. "Mau mampir dulu gak?"


"Nggak, mau langsung pulang dan bersih-bersih," sahut Arya sambil menggeleng.


"Sudah tidak sabar ya pengen ketemu ibu negara yang lebih matang itu, dan bila kamu dapati dia + kamu dapat paketan." Celetuk Sultan sambil menunjukan senyum tipisnya.


Arya mengentikan keningnya. "Maksud?"


"Iya, dapat ibu juga anak jadinya satu peket gitu," balas Sultan membawa langkahnya.


"Kau gila? aku punya tunangan! ada-ada saja." Gumamnya Arya, kepalanya menggeleng dan bibir tertarik sedikit.


Langkah Sultan yang menuju teras rumahnya terhenti sesaat dan menoleh ke belakang. Menatap ke arah Arya yang bersiap menyalakan motornya. "Bukankah ... jodoh itu Allah yang ngatur?"


"Ha ha ha ... sejak kapan kau jadi religi bro?" tanya Arya mesem.


"Sejak kulihat kedekatan mu dengannya bro," sambung Sultan, lalu melanjutkan langkahnya.


"Ha! ada-ada saja." Lagi-lagi Arya menggeleng lalu melajukan roda duanya dengan kecepatan tinggi ke jalan menuju apartemennya.


Hari sudah memasuki ashar dan cuaca begitu terik, menyengat pada tubuh yang berada di muka bumi ini. Begitupun Arya tubuhnya dibasahi dengan keringat yang bercucuran. Setibanya di unit mewah kawasan elit itu, Arya segera membersihkan unit yang berapa hari ini ia tinggalkan. Mengumpulkan semua pakaian kotor lantas dimasukan ke mesin cuci.


Lanjut masuk kamar mandi, mengisi bahthub dan aroma terapi kegemarannya. Terus masuk dan berendam merilekskan tubuh yang terasa lelah dan gerah.


Sekitar 20 menit Arya selesai membersihkan dirinya. Dengan masih menggunakan handuk menggantung semua cuciannya, Seusai semuanya beres barulah mengurus kembali dirinya. Tidak ketinggalan ashar nya dilaksanakan.


Waktu sudah menunjukan pukul 17.00 Arya bersiap untuk pergi ke rumah Renata tunangannya, Renata.


Langkah Arya kian pasti meninggalkan kembali unit apartemennya. Demi memenuhi janji untuk menemui sang kekasih hati yaitu Renata.


Sekitar 30 menit berpacu dengan waktu di jalanan. Akhirnya sampai juga di pekarangan kediaman Renata yang tampak sepi karena memang yang tinggal saja cuma berempat itupun dengan asisten rumah tangga.


Kini Arya berdiri di teras tepat di depan pintu. Kepalanya tengok kanan-kiri tapi tak seorang pun tang terlihat.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Assalamu'alaikum ...."


Arya melirik kursi yang ada di sana dan duduk menunggu penghuni rumah keluar.


Derap langkah terdengar begitu nyaring dari dalam mendekati pintu, kemudian pintu terbuka seiring suara yang membalas salam.


"Wa'alaikum salam, eh ... Nak Arya. yuk masuk?" bundanya Renata. menyambut dengan sangat ramah.


"Apa kabar Bunda?" Arya berdiri dan meraih tangan bunda Tita.


"Baik, yuk masuk! Renata nya pasti masih di kamar, tunggu ya? Bunda panggil dulu." Bu Tita ngeloyor pergi menaiki anak tangga untuk menuju kamar Renata.

__ADS_1


Arya menatap langkah bu Tita yang naik ke atas, lalu menggerakkan manik matanya ke sofa lantas menempelkan bokongnya, duduk manis menanti sang tunangan turun.


Dari atas tangga turunlah seorang gadis cantik, bertubuh ideal, mengenakan dress selutut tanpa lengan yang berwarna peach, sesuai dengan warna kulit yang dia miliki. Dari jauh pun sudah menunjukan senyumnya yang menawan.


Mata Arya tak lepas dari tunangannya itu dan ikut tersenyum simpul. "Hi?"


"Kenapa sih, lihatnya gitu amat? terpesona ya? lama tak jumpa berasa ketemu pertama kali." Renata berdiri di depan Arya.


"Hem, apa kabarnya?" tanya Arya sedikit mendongak dengan posisinya yang masih terduduk.


"Seperti yang kamu lihat. Em ... kangen!" duduk dan merangkul bahu Arya. Rasa rindu yang tersimpan akhirnya tercurahkan juga. "Aku senang banget bisa melepas rindu."


"Aku juga merindukan mu," balas Arya, tangannya mengusap punggung tangan Renata penuh kasih.


Renata terus menempelkan pipinya di bahu Arya. Tampak sekali kalau dia merindukan Arya. "Sayang, katanya kangen. Kok gak cium aku gitu? dingin amat."


Mendengar perkataan Renata, bikin Arya terkejut. "Ha? sejak kapan kamu berani bilang gitu sayang?" lengan Arya mengukur mengusap rambut Renata yang panjang.


"Iih, bukan masalah sejak kapan. Apa ke katanya rindu?" ucap Renata sambil mengerucutkan bibirnya. Tangannya tak lepas menggenggam tangan Arya.


"Ini, sudah berdekatan gini. dempet malah. Apa masih tidak cukup gitu?" ungkap Arya dengan nada biasa saja.


Ekspresi wajah Renata kesal, lalu bergerak cepat menarik wajah Arya lantas mencium pipinya kanan dan kiri. "Gini kalau kangen. Susah amat sih, gak romantis."


Arya terkesiap dan gugup lantas mengusap pipinya yang basah. "Malu sayang, nanti Bunda lihat. Aku yang malu."


"Biarin, cuma pipi kok. Lagian kita ini sudah tunangan juga."


"Iya ... tapi bukan berarti kita bebas lho, tetap saja harus ada batasan." Suara Arya pelan dengan netra nya bergerak-gerak melihat sekitar.


"Ya Ampun ... gitu aja ngasih ceramah. Biasanya juga kadang-kadang gitu kan cium pipi? bukan cium yang lain juga." Ketus Renata sedikit cemberut.


"Yang romantis itu ... gak melulu sentuhan bagian kulit lho, bisa dengan pandangan, perhatian. Perlakuan, kan bisa!" sambung Arya.


"Iya-iya. Gimana? mau di sini saja atau mau jalan atau--"


"Jalan, makan malam!" memotong kalimat dari Renata.


"Serius lah. Masa bohongan? pamit dulu sama bunda." Balas Arya yang akhirnya menyuruh bilang sama bundanya Renata kalau mereka mau pergi.


Renata beranjak dari tempatnya, namun baru dua tiga langkah bundanya datang menghampiri mereka berdua.


Melihat meja yang kosong , yang ada cuma hiasan bunga saja. "Lho, gak di suguhi minum Rena? calon suami kok dianggurin?"


"Kami mau makan malam di luar, Bun. Ijin ya?" Renata penuh harap mendapat ijin dari sang bunda.


Yang tentunya langsung diberi ijin sama bundanya Renata kalau perginya dengan Arya. Sebab dia percaya kalau Arya bisa menjaga Renata dengan baik.


Keduanya bergegas pergi menunggangi motor besar Arya yang terparkir di depan teras. Namun sebelumnya Renata mengambil blazer tuk menyempurnakan dress-nya. Selepas Renata duduk dengan nyaman di belakang Arya, barulah Arya melajukan motornya dengan cepat.


"Tidak apa-apa kan jalan dengan menggunakan motor? gak seperti dengan yang lain menggunakan mobil," tanya Arya yang suaranya bercampur dengan suara mesin dan nyaris tak terdengar.


"Oh, gak pa-pa, kamu kaya baru jalan aja sama aku," balas Renata dengan mengeratkan pegangan ke pinggang Arya.


"Syukurlah. Kalau begitu," senyum di bibir Arya mengembang berasa menambah indahnya di senja ini, sunset nampak merah di atas cakrawala.


Motor itu melesat melewati jalanan yang tampak sepi, suasana teduh apalagi di pinggiran jalan itu ada banyak pepohonan yang hijau dan rimbun. Berhias langit yang berwarna oranye pertanda matahari akan terbenam meninggalkan siang hari bergantian malam menyambut datangnya bulan bila kah sudi menerangi sang malam.


Di tengah perjalanan. Motor Arya berhenti di depan sebuah mesjid yang berada di pinggir jalan tersebut. Suara adzan bergema mengalun begitu indah dari toa mesjid yang suaranya dapat terdengar jauh ke sekitaran. "Kita salat dulu ya?"


Respon Renata cuma mengangguk mengikuti kemana langkah Arya berjalan. Keduanya memasuki mesjid dan mencari tempat dan meminjam mukena di sana, mereka berjamaah bersama dengan yang lainnya. Salat pun terasa begitu husyuk dan nikmat.


Selepas salat bersama. Menengadahkan kedua telapak tangan untuk berdoa meminta segala kebaikan dalam hidup. Sekilas membayang wajah Fatma menari di ruang mata serasa jelas dan nyata. Namun itu cuma bayangan saja.


"Astagfirullah ..." gumam Arya dalam hati wajahnya menunduk dalam ke bawah. Lalu mengusapnya deng lembut, ia menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan. Yang di belakangnya siapa? yang terbayang juga siapa!


Lagi-lagi Arya menundukkan wajahnya. "Ya Allah, maafkan aku! aku berdosa telah mengingat wanita lain selain tunangan ku, yang sebentar lagi mengikat janji membuka lembaran baru membangun biduk rumah tangga yang bahagia," tanpa sadar keluar cairan bening dari sudut matanya. "Jangan biarkan aku menduakan hatiku dari orang yang aku sayangi selama ini."


Arya berusaha menyembunyikan air matanya dari siapa pun. Kemudian menoleh ke arah Renata yang berada dibelakangnya.


"Yu, jalan!" ajak Arya dengan suara lirih.

__ADS_1


Renata mengangguk dan membuka mukenanya lalu ia simpan ke tempat semula. Keduanya berjalan beriringan menuju motor yang terparkir di depan mesjid.


"Bang. Ini istrinya?" tanya pria yang bergaya santri tersebut pada Arya.


"Em, tunangan saya! Kamu duluan dan tunggu di motor."Arya melihat orang tersebut dan Renata bergantian.


Renata mengangguk dan melanjutkan langkahnya mendekati sepeda motor Arya.


Setelah Renata jauh, orang tersebut berkata. "Jangan terlalu dekat kalau itu baru tunangan! sebab bisa aja anda menjaga jodohnya orang."


Sontak Arya melihat orang itu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Maksudnya apa Mas?"


Kedai tangan orang itu memegang kedua bahu Arya seraya berkata. "Kau akan tau maksudnya nanti." Tersenyum manis sedikit menepuk bahu Arya lantas pergi.


Arya tertegun dengan sekedip mata orang itu tak terlihat lagi, hilang dari pandangan. Mungkin orang itu hanya sekedar menyapa atau entahlah.


Kemudian Arya membawa langkahnya menyusul Renata yang tampak gelisah menunggunya. Arya segera memakai helmnya dan menunggu Renata naik dan duduk dengan nyaman.


Kuda besi milik Arya melesat kembali menuju sebuah restoran yang akan mereka gunakan untuk dinner.


Setibanya di restoran siap saji Arya menuntun tangan Renata masuk dan memilih tempat yang dekat jendela agar lebih nyaman. Arya memesan beberapa menu makan malam yang enak-enak.


"Kamu nampak cantik sekali." Puji Arya, Renata tersenyum simpul.


Pelayan resto datang membawa nampan berisi wadah besar yang ditutup, disimpan tepat depan Renata dan Arya memberi kode agar Renata membuka tutupnya.


Renata menatap Arya dengan senyuman yang menawan di bibirnya. Dengan rasa yang penasaran tangannya perlahan membuka tutup itu dan ternyata isinya bunga mawar berwarna merah tanda cinta.


Mulut Renata terbuka, dan senyumnya semakin merekah. "Ini buat aku sayang?"


Arya menaik-turunkan alisnya sambil mengulas senyuman simpul nya. "Apa itu romantis?"


"Banget, makasih ya?" bibir Renata tak berhenti tertarik dan menunjukan senyumnya. Hatinya begitu berbunga-bunga, seindah bunga yang berada di genggamannya. Sangat bahagia dengan perlakuan Arya.


Makan malam pun datang dan siap santap, keduanya tak buang waktu tuk menyantapnya. "Gimana enak?"


"Enak." Renata memberi suapan yang istimewa pada sang kekasih. "Aa, buka mulutnya!"


Arya segera menyambutnya. Dan mengunyah makanan yang Renata berikan. "Terima kasih!"


Arya ingin setia pada satu wanita yang selama ini ia sayangi dan menemaninya lama. Renata, wanita yang kini berada di hadapannya adalah harapan dan masa depan dalam hidupnya. Rasa yang ada terpupuk sejak lama tak ingin hilang begitu saja. Tatapan Arya tertuju pada Renata yang sedang asyik menghabiskan makannya.


Kemudian Arya memasukan sendok ke mulutnya, mengabiskan makanan di piring. Dengan perasaan sayang yang ia usahakan hanya untuk satu wanita saja. Namun entah kenapa wajah itu kembali kembali menghantui, mengisi sedikit ruang mata yang tak sanggup ia mengusirnya.


Sebuah nama yang mulai terukir indah di dinding hati. Mata Arya terpejam sejenak, ingin membuang semuanya. Renata yang melihat sikap Arya menjadi cemas.


"Kamu kenapa?" Renata menatap dengan tatapan sangat lekat.


Arya menggeleng, padahal hatinya sedang tidak baik. "Tuh makanan penutupnya sudah datang," melihat pelayan yang menyajikan makanan penutup.


"Em ... pancake, aku suka banget ..." ucapnya Renata. terlihat bahagia.


"Oke, aku ke toilet sebentar ya?" Arya beranjak dan menggeser kursinya.


Renata mengangguk. "Jangan lama-lama ya sayang?"


"Hem," Arya menyeret langkahnya menuju toilet dan entah apa yang dia rasakan saat ini semuanya terasa samar-samar.


Renata menikmati pancake nya dengan nikmat. Sesekali mencium bunga mawar yang ia simpan di sisi meja.


"Sayang?" suara itu mengagetkan Renata sehingga tersentak dan terbatuk-batuk.


Doni, ya Doni dengan tiba-tiba muncul di tempat itu membuat Renata sangat terkesiap tak menyangka. Doni menyodorkan minuman pada Renata yang terbatuk-batuk terus.


"Nga-ngapain ada di sini?" mata Renata celingukan gelisah takut Arya datang.


"Nggak perlu cemas begitu sayang ... toh kita saling kenal." Balas Doni sambil duduk di kursinya Arya begitu santai.


"Kenapa ada di sini?" ulang Renata kembali.


"Aku sengaja datang. Sebab aku sangat merindukan mu, ternyata kamu sangat cantik dinner malam ini dengan Arya. Jadi iri aku." Doni menunjukan rasa cemburunya ....

__ADS_1


__ADS_2