
Semua yang ada di sana panik dan khawatir, Dewi masih pingsan, umi gugup dan terus menangis juga. Sementara waktu terus berputar mendekati acara ijab dan kabul.
Dalam keadaan begini Abah masih memikirkan gimana dengan acara hari ini? yang tinggal harus di batalkan atau di gantikan? dengan pengantin lain asalkan pernikahan tetap berjalan, malu dengan para undangan dan juga pihak dari KUA.
Apalagi dengan pengorbanan yang materi dan tenaga yang sudah berlangsung demi terjadinya acara ini. Syukuran rumah sudah terjadi hari kemarin dan acara terakhir adalah hari pernikahan Dewi yang dengan sang kekasih, Ari.
Orang-orang berkumpul untuk menemani Dewi termasuk Fatma dan dan Sofi. Sementara Abah, umi Santi, Bu Wati dan pak Wijaya. Arya dan Sultan berkumpul untuk berunding. Di ruang tengah.
"Abah rasa pernikahan ini tidak mungkin di batalkan, mendingan kita cari penggantinya saja. Yang penting acara ini tetap berlangsung dan tidak sia-sia dengan apa yang sudah dipersiapkan," ujar Abah dengan nada serius.
"Tapi, Bah ... gak mungkin kita menuntut Dewi tetap menikah dan dengan siapa juga. Ini sangat tidak mungkin, Bah." protes umi dengan sangat lirih.
"Kita memang gak bisa menuntut Dewi, Umi ... dan Abah minta Aa yang menggantikannya. Lagian sangat ke betulan sekali Neng Fatma ada di sini. Seperti yang pernah kita rencanakan, pak Wijaya dan Bu Wati. Waktu itu, bagaimana kalau di hari ini kita nikahkan saja mereka berdua?" Abah mengedarkan pandangan pada Bu Wati dan pak Wijaya yang mengangguk setuju.
Degh!
Hati Arya mendadak tidak karuan, berdebar tidak menentu. Namun penasaran akan rencana orang tuanya tersebut.
Sultan yang mengamati obrolan mereka cuma senyum-senyum mendengarkannya.
"Saya pribadi sangat setuju dengan keputusan ini, kebetulan Fatma sudah melalui 3 bulan masa Iddah. Jadi sah-saj aja bila dia menikah hari ini juga," ungkap pak Wijaya.
Bu Wati mengangguk setuju. "Benar! fatma sudah melewati masa iddahnya. Maka, boleh saja dia menikah di hari ini. Fatma berhak mencari kebahagiaannya dengan suami barunya."
Arya hanya menunduk dalam. Ada rasa bahagia sebab dirinya dan Fatma akan secepatnya halal. Namun di sisi lain Arya belum ada persiapan ,seperti surat-surat untuk memenuhi persyaratan menikah.
Begitupun Fatma mana ada persiapan untuk menikah, Arya baru mau melamar setelah acaranya Dewi ini selesai. Namun bila dengan cara ini yang terbaik, Arya cuma bisa pasrah.
Namun tidak tahu dengan Fatma sendiri. Mau atau sebaliknya? maklum pernikahan mendadak.
"Tapi, Abah. Umi, AA belum membuat surat-surat persiapan menikah, gak mungkin menggunakan data Dewi dan Ari." Akhirnya Arya mengeluarkan suara dari mulutnya.
"Ooh, tidak atuh. Data Aa dan Fatma nanti saja nyusul, sekarang secara agama saja dulu. Dan surat-surat menyusul belakangan." Abah menatap ke arah Arya.
"Iya benar, data kalian biar nanti menyusul saja," timpal pak Wijaya. "Bu. jemput Fatma nya." perintah pak Wijaya pada sang istri.
__ADS_1
Bu Wati pun beranjak mau menjemput Fatma yang berada di kamar Dewi. Langkah Bu Wati kian cepat menyelinap dan berbisik pada Fatma yang sedang memangku Rania.
"Fatma, yu ikut ibu dulu sebentar?"
"Ada apa, Bu?" tanya Fatma heran.
"Ikut saja!" tangan Bu Wati menarik tangan Fatma.
Keduanya kembali menyelinap keluar kamar. Sofi dan Mia menatap heran ke arah Fatma dan Bu Wati.
Dewi terdengar menangis histeris memanggil nama Ari, sang kekasih yang katanya sudah tiada.
"Sabar Dewi, mungkin ini sudah takdir." Kata bibi mengusap kepala Dewi.
Kemudian Dewi pingsan kembali. Mungkin dia terlalu shock dan belum bisa menerima kenyataan pahit ini.
Fatma merasa heran ketika mendapati dua keluarga berkumpul sementara Dewi di sana sedang shock.
"Ada apa nih?" bertanya dalam hati sambil duduk.
"Begini, ayah dan keluarga Aa sudah sepakat, kalau hari ini kalian berdua akan menikah--"
Degh!
"Menikah?" Fatma sangat terkesiap mendengarnya. Manik mata indahnya bergerak melihat ke arah Arya yang berada tepat di depannya.
Kebetulan Arya pun melihat ke arah Fatma menatap dengar lekat, bibirnya sedikit mengulas senyuman yang indah.
"Pasti kamu juga akan bilang, kalau belum ada persiapan data untuk perlengkapan menikah bukan? nanti saja kalau kalau sudah sah persiapkan semua datanya. Sekarang yang penting halal dan waktu pernikahan yang seharusnya Dewi terisi dengan pernikahan kalian berdua," sambung pak Wijaya.
"Sudah, sekarang persiapkan diri kalian. Waktu tinggal 1 jam lagi," ucap Abah sembari melihat jam di tangannya.
Kedua netra mata Arya dan Fatma saling bertukar pandangan, saling tatap dengan lekat berbicara lewat mata dan tanpa bibir yang berkata.
"Woi! cepetan bersiap-siap. Waktu nih waktu, MUA sudah menunggu. Nanti keburu penghulu dan undangan datang." Sultan menepuk bahu Arya.
__ADS_1
Suara Sultan mengalihkan pandangan Arya dan Fatma yang begitu anteng saling menyelami perasaan masing-masing.
Manik mata polos Rania melihat ke arah Sultan dan Arya. "Mama sama Papa mau apa sih?"
"Papa dan mama mau menikah sayang, senang gak? nanti Kelian bisa bobo bersama," ucap Sultan dibarengi dengan nyeleneh.
"Jadi, nanti papa dan mama bisa bobo bareng? sama Rania juga, asyik ..." Anak itu langsung bersorak.
Fatma dan Arya beranjak untuk bersiap-siap, di dandani di kamar Arya saja. Ditemani Bu Wati, sementara umi menemui Dewi terlebih dahulu.
"Bu, Umi mau temui Dewi dulu." Pamit umi ke Bu Wati.
"Iya, dia lebih membutuhkan umi.
Umi, berjalan ke kamar Dewi yang masih ditunggui oleh banyak orang. Semua orang berada di sana termasuk orang yang sibuk di dapur, yang sempat shock dan kebingungan pun sudah diberi instruksi agar melanjutkan aktifitasnya yang tadi sempat tertunda.
Abah yang tegar memberi informasi kalau pernikahan akan tetap berlangsung. Meskipun bukan Dewi.
"Siapa?" tanya seseorang.
"Aa, yang mau menikah. Mohon doanya saja semoga kali ini lancar dan Dewi diberi kesabaran yang lebih." Kata Abah sembari menghela napas panjang.
Kemudian Abah pergi kembali meninggalkan orang-orang yang ada di sana.
Di kamar, Dewi yang sudah sadar kembali terus menangis tersedu dan terus memanggil nama Ari.
"Sabar Dewi. Mungkin ini sudah takdir dan Ari bukanlah jodoh mu, semoga satu saat nanti kamu akan mendapatkan jodoh yang lebih baik," tutur Bu Wati dengan sangat lirih.
Tangannya Bu Wati mengusap punggung Dewi yang sesekali terisak. "Jodoh, rejeki. Maut Allah yang mengatur. Kita cuma bisa berencana dan Allah juga yang menentukan." Tambah umi kembali.
"Umi, kenapa aku harus begini? kenapa dia meninggalkan ku disaat kami mau menikah. Kenapa Allah mengambil dia dari aku! Umi." Rajuk Dewi.
Umi memeluk putrinya yang terus menangis pilu. Tangisnya tersedu dan penuh kecewa ....
****
__ADS_1
Like komen dan vote nya jangan lupa ya ditunggu🙏