Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Bekal


__ADS_3

"Ayo dong, Pah ... pulang! Rania capek pengen pulang?" rengek Rania sambil menarik tangan Arya.


"Iya, sayang ... sabar. Ini juga mau pulang, kan?" Arya menaikan Rania ke atas motornya dan duduk di depan.


"Sayang, Rania? apa kabar? kangen deh sama Rania." tiba-tiba seorang perempuan menghampiri dan mengusap pipi Rania.


Rania tampak menatap kurang suka. "Papa cepetan? Rania mau pulang."


"Iya, sayang. Sabar?" gumam Arya. Ia merasa heran dengan wanita ini, Sebab ia belum tahu wanita ini siapa?


"Sebentar sayang? kok buru-buru sih? gimana kalau kita jalan-jalan dulu dan ... membeli eskrim?" tawar Suci.


Rania menggeleng. "Nggak mau."


"Oya, kenalkan. Saya Suci. Istri Aldian, papanya Rania." Suci memperkenalkan diri.


"Oh, saya Arya. Suaminya Fatma," balas Arya tanpa ragu.


Suci tercengang mendengarnya. Tidak menyangka kalau pria ini adalah suami Fatma. "Calon atau sudah menikah?" Mengerutkan keningnya.


"Sudah. Kami sudah menikah." Arya mengangguk.


"Secepat itu?" Semakin menautkan alisnya.


"Iya, lebih cepat itu lebih baik. Lagian Fatma sudah lepas masa Iddah. Jadi apa salahnya jika kami menikah secepatnya?" ucap Arya menatap tajam ke arah Suci.


"Em ... em, gak salah sih? baguslah, kalau sudah ada pengganti dari Aldian!" Menaikan kedua bahunya.


"Oya, ada perlu apa ya? atau ... cuma kebetulan atau gimana?" selidik Arya.


"Papa, ayu. Pulang! Rania capek." Rania terus merengek.


"Sabar sayang, sebentar lagi." Arya mengusap kepala Rania.


Sejenak, Suci melihat Rania yang merengek manja. Kemudian melirik ke arah Arya. "Saya sengaja ingin bertemu Rania, secara anak ini anak dari suami ku, so apa salahnya bila ku menjumpainya?"


"Oo! gitu? baguslah bila anda perduli sama anak ini." Timpal Arya sembari mengangguk.


"Yu sayang, jalan yu membeli eskrim?" ajak Suci pada Rania.


"Nggak mau. Papa kita pulang sekarang? Rania pengen pulang. Hik hik hik," anak itu menangis.


"Iya sayang iya. Kita pulang sekarang! maaf, saya duluan?" Arya gegas melajukan motornya.


"Rania gak mau ketemu sama aunty itu. Rania takut, gak mau ketemu."


"Kenapa? gak jahat kok. Tampak baik kok. Oya, kendati demikian Rania gak boleh ketus ya sama orang, apalagi dia orang tua. Istri papa Aldian, papanya Rania. Oke anak pinter?" ujar Arya lembut.


"Oke, Papa." Rania mengangguk.


Hari yang semakin menjelang terik, menambah Arya semakin mengencangkan laju motornya. Menuju perjalanan pulang ke apartemennya.


Setibanya di apartemen, Rania langsung masuk ke dalam kamar. Sementara Arya mempersiapkan semua barang yang ia perlukan di saat penerbangan nanti.


"Huuh ..." Arya membuang napasnya melalui mulut. Memandangi bag yang sudah tertata rapi.


Kemudian menyiapkan buat menu makan siang. Namun ketika sedang berjongkok depan lemari pendingin, suara Fatma mengagetkan.


"Aa, ngapain di situ? mau masak ya? nggak usah. Aku sudah bawakan nih." Fatma menunjukan yang ia tenteng.


Arya berdiri dan menatap yang Fatma bawa. "Hem, tadinya aku mau masak sayang. Oya, kan bisa ucap salam dulu gitu? pas datang." Menatap lekat sang isteri.


"Iya, Assalamu'alaikum ... sayang?" ucap Fatma seraya menunjukan senyumnya, dan berlagak genit.


"Wa'alaikum salam. Persis, orang yang sedang bucin, iiy ... geli." Canda Arya seraya bergidik.


Plak!


Tangan Fatma menepuk bahu Arya. "Gitu amat sih sama istrinya? tega."


"He he he ... tega itu sayuran, kebetulan ada di kulkas."


"Itu toge, Aa ... ngarang deh. Nggak lucu ah. Mana rania?" tanya Fatma.


"Ada di tempat peraduannya. capek kali. Dari tadi merengek Mulu capek minta pulang. Oya tadi kami bertemu Suci, katanya dia sengaja ingin bertemu Rania."


"Terus?" tanya Fatma sambil menyimpan tas di meja makan lalu mendudukkan dirinya di kursi.


"Rania meradang. Kesel begitu, katanya gak mau! dia mengajak Rania jalan namun Rania kekeh gak mau." Arya menaikan kedua bahunya.


"Ooh, Oya. Besok aku mau menjenguk Aldian ada yang ingin aku katakan sama dia. Boleh?" netra nya Fatma menatap ke arah Arya yang berada di sampingnya.


"Em, boleh. Kenapa tidak sih sayang? boleh kok." Arya mengangguk. Kemudian beranjak menuju ke kamarnya.


Fatma menyiapkan buat makan siang di meja. Lalu menemui Rania di kamar, ternyata tengah tertidur sangat lelap.


Fatma dekati, menatap lekat serta mengusap kepala Rania yang berkeringat. "Sayang, maafkan Mama yang membawa kamu di posisi ini?" gumamnya Fatma dengan nada sedih.


Kemudian kembali meninggalkan Rania, setelah mencium pipinya beberapa kali.

__ADS_1


Setibanya di kamar Arya, netra nya menemukan Arya yang sedang menunaikan Dzuhur. Fatma langsung memasuki kamar mandi, sebentar lagi ia harus ke ballroom untuk mengadakan rapat.


Setelah siap, Fatma kembali pergi menuju ballroom apartemen tersebut.


"Aku pergi dulu ya? titip Rania." Cuph! Fatma mencium pipi Arya.


"Iya, semoga lancar? Oya, aku pergi nanti sekitar pukul empat."


"Aku keburu pulang, nanti aku antar." Tambah Fatma seraya mengalungkan tangan di pundak Arya.


"Mau ngasih bekal gak?" tanya Arya sembari mengedipkan mata genitnya.


"Apaan? bekal? kan udah tadi. bekal Mulu. Nggak ada bekal-bekal, aku hukum." Bisik Fatma.


"Maksudnya? masa sudah ada tamu lagi?" tanya Arya sembari mengernyitkan keningnya.


"Nggak, kan tadi sudah. Aku harus pergi sekarang!" cuph! mengecup singkat bibir Arya.


"Ya udah. Aku juga mau makan, tuh Rania teriak-teriak." Arya tersenyum, mengusap pipi Fatma lembut dengan jari-jarinya.


"Oke, Assalamu'alaikum ..." Fatma melepas rangkulan pada tubuh Arya.


Fatma berjalan dengan Arya keluar kamar, di ruang tengah tampak Rania sedang bermain.


"Mam, Papa? lapar--" ucapan Rania tergantung ketika melihat sang bunda dan papanya menghampiri.


"Sayang, Mama mau meeting dulu ya? nanti selesai, langsung pulang ke sini kok." Fatma mencium pipi, kening Rania penuh kasih.


"Iya, Mam. Jadikan nanti antar papa ke bandara?" tanya Rania menatap sang bunda.


"Iya, jadi dong. Rania sudah mandi ya? wangi ih." Fatma mencium bau wangi Rania.


"Sudah dong ... dah wangi ..." sahut anak itu.


"Pinter ya anak Mama, Mama pergi dulu ya? jangan nakal." Fatma beranjak dan di antar Arya sampai pintu.


Cuph! Arya mencium kening Fatma. Kemudian Fatma mencium punggung tangan Arya.


"Cie ... cie ... Mama sama Papa!" suara Rania yang tiba-tiba berada di antara mereka berdua sembari menutup mukanya dengan sepuluh jari yang terbuka.


Fatma dan Arya terkejut menoleh anak itu, bibir keduanya mesem-mesem.


"Yu, masuk sama Papa. Kita makan siang." Arya langsung memangku Rania di ajaknya masuk ke dalam.


Fatma hanya tersenyum simpul lalu mengayunkan langkah kakinya. Mendekati lift.


"Waaw ... kapan masaknya nih? ayam betutu. Pasti mama yang belikan." Rania menatap ke arah ayam betutu dan ayam bakar.


"Suka, suka banget."


Keduanya tidak menunggu waktu lagi, langsung saja membaca doa dan menyantap hidangan yang ada di meja. Dengan sangat lahap.


"Pa, Rania boleh kan bermain sama anak apartemen ini?" tanya Rania di sela-sela makannya.


"Hem, boleh sayang. Siapa namanya tuh? Papa lupa." Arya mengangguk.


"Cici, Papa ..."


"Ooh, iya Cici. Boleh, main saja. Tapi jangan suka berantakan ya mainnya. Kasihan mama. Pokonya habis bermain beresin lagi."


"Iya, Papa. Di sini kan gak ada asisten rumah tangga ya? kalau di mension banyak, jadi boleh ya main berantakan kalau di mension?" Tanya anak itu polos.


"Ups. Jangan dong ... di mana pun harus jaga kebersihan kerapihan. Anak Papa harus bertanggung jawab." Arya menatap ke arah Rania yang tengah mengabiskan makannya.


"Baik, Papa. Rania akan dengar kata Papa." Rania mengangguk.


"Anak pinter." Arya mengacak rambut Rania.


Sekitar pukul 15 wib. Fatma sudah pulang ke apartemen. Rania sedang bermain dengan satu temannya yang bernama Cici.


Fatma langsung ke kamarnya dan Arya sepertinya ada di kamar mandi ketara suara air yang mengalir. "Aa. Aku pengen masuk ya? berat nih pengen pipis." Seraya mengetuk daun pintu.


"Masuk aja?" sahut Arya dari dalam.


Fatma gegas membuka pintu lalu masuk. Buru-buru masuk toilet perutnya terasa berat menahan pengen pipis.


"Hah ... lega akhirnya." Gumam Fatma, merapikan pakaiannya. Melirik ke arah Arya yang menatap diri sambil berendam di bathub.


Kemudian Fatma duduk di tepi tempat tidur. Memainkan air busa. "Cepetan. Nanti telat lho."


"Nggak pa-pa. Paling menghabiskan waktu bersama istriku ini." Balas Arya memegang tangan Fatma di remasnya.


"Nggak mau ah. Bosan, ketemu terus." Fatma mencibirkan bibirnya.


"Masa? bohong ah. Paling merindu nanti," goda Arya.


"Nggak. Ngapain? kerja?kerja saja. Nanti juga balik lagi." Elak Fatma sok cuek nan dingin.


"Iya deh, iya. Terserah." Arya merubah posisinya duduk di tepi bathub juga samping Fatma.

__ADS_1


Fatma berdiri dengan niat keluar dari kamar mandi. Namun tangan Arya menangkap tangan Fatma, mencegahnya pergi.


Arya berdiri dan menggenggam tangan sang istri. "Seandainya ada apa-apa menimpa ku. Ikhlaskan ya?" suaranya lirih.


Netra mata Fatma bergerak menatap sang suami, nada bicaranya bikin haru. "Bicara apa sih? aku gak suka dengarnya." Fatma menggeleng.


Manik matanya berkaca-kaca, hatinya mendadak mencelos. Sedih, baru saja menikah. Masa mau ditinggal lagi? Fatma memeluk tubuh Arya. "Ja-jangan bicara gitu? aku-aku gak mau mendengarnya. Kamu harus kembali untuk ku dan Rania."


Arya terdiam sambil membalas pelukan sang istri dengan sangat erat. Mencium pucuk kepalanya penuh kasih. "I love you!" bisik nya.


Fatma mematung, tubuh seolah kaku dibuatnya. Mendengar kata itu yang keluar dari mulut Arya. Kemudian Fatma menenggelamkan wajahnya di tempat ternyaman yaitu dada Arya yang bidang.


"Pokoknya kamu harus kembali!" ucap Fatma kembali.


"Iya sayang, doa kan aku siapa kembali dengan selamat." Terus membelai rambut Fatma mesra.


Hening!


Sejenak mereka memilih terdiam, sibuk dengan ekspetasi masing-masing, dengan posisi yang sama yaitu saling peluk, seakan berat untuk melepas kepergian pasangannya.


Tidak lama dari itu, Aray bergegas membersihkan diri dan Fatma keluar kamar. Menyiapkan pakaian formal Arya yang memang sudah tergantung dekat lemari besar yang ada di kamar mereka.


Sore ini Arya, Fatma dan Rania bersiap mengantar Arya pergi ke bandara. Dengan mobil Fatma. Biasanya kalau mau kerja bareng, Sultan suka menjemput atau pergi bareng. Tapi kali ini nggak, mungkin Sultan merasa sungkan sebab Arya kini sudah beristri.


Mobil yang dikemudikan oleh pak Harlan melaju dengan sangat cepat. Menuju salah satu bandara yang ada di kota ini.


Fatma menoleh ke arah Arya yang tampak gagah, berwibawa dengan penampilannya yang rapi dan mengenakan seragam pilot.


"Jangan gitu juga lihatnya, malu nih?" gumam Arya, melirik dengan ekor matanya. Bibirnya mesem-mesem.


"Siapa yang lihat-lihat? GR amat." Elak Fatma sembari mengalihkan pandangan keluar jendela.


"Indah banget ya? suasana senja? Papa kalau dekat bulan silau gak?" suara Rania menoleh ke arah Arya.


"Em, kurang tahu sayang. Papa belum pernah ke bulan, cuma lewat saja," sahut Arya sambil meremas jemari Fatma.


"Pah, Papa. Lain kali ajak Rania naik pesawat ya? jalan-jalan, tapi sama Papa dan Papa yang bawa nya?"


"Iya, sayang ... nanti kita jalan-jalan bertiga naik pesawat jet. Punya Mama," sambung Arya.


"Hore, benarkan Pah. Kita naik pesawat jet milik Mama. Dan Papa yang membawanya. Asyik!" Anak itu bertepuk tangan riang.


"Mau kemana jalan-jalan nya sayang?" tanya Fatma sembari mengusap kepala Rania.


"Ke Bali, ke Lombok. Boleh?" Rania balik tanya.


"Boleh dong. Kemana saja yang Rania suka," sahut Fatma membeli pipi Rania.


"Makasih Mama?" Rania menyimpan mencium pipi Fatma.


"Iya sayang, nanti ya kalau Mama tidak terlalu sibuk. Papa juga ada waktu luang, barulah kita jalan-jalan ke sana. Oke." bujuk Fatma.


"Oke, Mama. ye ye ye ... senangnya hati ku? mau jalan-jalan sama mama, papa. hore!"


Lagi -lagi Rania bersorak bahagia. Membuat yang ada di dalam mobil itu ramai dengan suara Rania.


Arya dan Fatma saling pandang dengan mengulas senyuman manis mereka.


"Nona kecil, bapak di ajak gak ke pesawatnya?" pada akhirnya pak Harlan mengeluarkan suara nya juga.


"Em ... boleh, boleh ikut kok." Rania mengangguk pelan dengan mata keluar jendela dan memandangi langit senja yang memerah itu.


Tangan Arya yang betah memegang tangan Fatma. Seakan tak ingin lepas barang sebentar pun.


Tidak selang lama. Mobil memasuki area bandara, berhenti di pinggir. Arya mengeluarkan. bag dan kopernya dari bagasi mobil.


"Aku pergi dulu ya? kalian tunggu aku pulang." Arya memeluk Fatma tuk terakhir kalinya.


"Cepat pulang ya?" bisik Fatma, tepat di depan telinganya.


"Oya sayang. Jaga diri baik-baik ya?" balas pada Fatma.


Ciuman kecil mendarat di pipi kanan dan kiri Fatma. Kemudian melepas rangkulannya pada sang istri, Fatma.


Arya berjongkok memeluk tubuh mungil Rania. "Hati-hati di rumah dan jangan nakal Ya? harus menurut sama Mama.Oke."


"Oke, Papa? cepat pulang juga ya? Rania kangen Papa." anak itu mengeratkan pelukannya.


"Iya sayang, doakan Papa biar cepat pulang ya?"


Setelah itu. Arya berdiri. Berjalan dengan teratur, membawa bag dan menarik kopernya.


Netra mata Fatma dan Rania menatap kepergian Arya yang bertemu Sultan dan Sofi.


Pak Harlan menatapi Fatma dan dan putrinya bergantian. "Mau pulang sekarang atau--"


"Pulang sekarang Pak." Balas Fatma. Kemudian meraih tangan Rania. Setelah puas memandangi sosok Arya yang hilang dari pandangannya ....


****

__ADS_1


Ayo mana yang suka dengan Arya dan Fatma ini jangan lupa kasih dukungan, dengan cara tonton iklannya ya?🙏🙏


__ADS_2