
"Jangan samakan, Bu ... wanita hamil itu beda-beda."
Itu yang terdengar dari ujung telepon, Kemudian Arya kembali berbicara.
^^^Arya: "Umi. Sudah dulu ya? Aa besok mau tugas. Mohon doa nya."^^^
^^^Umi Santi: "Oh, iya. Umi akan selalu mendoakan yang terbaik untuk, Aa. Sekeluarga."^^^
^^^Arya: "Terima kasih? Umi, ya sudah, Assalamu'alikum?"^^^
^^^Umi Santi: "Wa'alaikum salam."^^^
Sambungan telepon pun ditutup. Arya membawa langkahnya ke kamar mandi sesaat.
Kemudian sekembalinya dari kamar mandi. Arya berbaring menatap langit-langit. Lantas memejamkan mata yang sudah teras sepet.
Jarum waktu terus berputar. Membawa suasana yang semakin larut dan dingin, tubuh Arya meringkuk berbalut selimut merah. Tak ada yang bisa dipeluk selain guling-guling yang menemani.
Pagi itu, matahari sudah mulai bersinar. Menghangatkan semua mahluk yang ada di muka bumi ini.
Arya sudah bersiap dengan segala persiapannya dan sekarang mau sarapan terlebih dahulu. Sembari pamitan pada orang rumah.
...---...
"Sayang bangun? sudah jam berapa nih?" suara pelan Doni membangunkan Renata yang masih tampak lelap.
Renata bergerak dan menggeliat. "Hem ...."
"Bangun sayang, aku sudah bawakan sarapan nih?" Cuph! mengecup pipi Renata.
Mata Renata memicing ke arah meja kecil. "Baik banget ... tau aja aku lagi malas turun."
Renata memeluk leher Doni erat. Wajah mereka begitu dekat satu sama lain dan saling menatap mesra.
Blak!
"Ren, pinjemin celana dong? ak--" suara Indah terjeda dengan pandangan ke arah Doni dan Renata yang sedang bercumbu.
Doni menoleh kesal. "Tidak sopan banget ya? main masuk aja ke kamar orang! tidak tau privasi orang ha?"
Kini Doni mulai menumpahkan rasa kekesalannya pada Indah, yang dia rasa kehadirannya sangat mengganggu.
"Maaf, saya pikir ka-kamu sudah pergi kerja." Indah menunjuk ke arah belakang.
"Ada saya dan gak ada. Sebaiknya kau punya kesopanan, ketuk dulu sebelum masuk. Ini bukan kamar anak gadis! tetapi perempuan yang sudah menikah." Amarah Doni semakin meluap-luap.
"Kenapa kamu marah-marah? saya ada perlu sama Renata bukan sama kamu." Elak Indah.
"Jelas, saya terganggu dengan kehadiran mu." Tegas Doni.
Renata hanya diam menyimak perbincangan Indah dan suaminya, Doni. Memang Renata pun ingin bicara sama Indah supaya tidak terlalu anu di rumahnya.
"Ren, aku pinjem celana dong?" ulang Indah.
"Sayang, jangan diam terus, bilang sama sahabat mu ini. Kalau tidak seharusnya dia terus nempel sama kamu yang sudah bersuami. Saya risih." Doni menoleh pada sang istri.
Renata bangun sambil merapikan lingerie nya yang kusut. Dadanya menyembul hampir terlihat semua.
__ADS_1
Indah menatap intens ke arah Renata yang baru bangun tidur dan di tambah banyak tanda merah di dada atas Renata. Membuat hatinya berasa panas, sakit.
"Sebentar aku ambilkan." Renata turun lalu berjalan mendekati lemari untuk mengambil celana yang Indah pinta.
Doni menatap tidak suka pada Indah, sementara Indah menatap penuh napsu melihat ke arah tubuh Doni, melihat intens dari dada sampai bawah perut yang tampak jelas ada yang menonjol. Bikin Indah menelan saliva nya dan tatapannya terkunci di bagian sana.
"Oh, aku pernah merasakannya dan sesungguhnya aku ingin merasakan lagi, kapan hasrat ini akan kesampaian?" Gumamnya Indah dalam hati.
Doni yang mengalihkan pandangan ke lain arah, tidak ngeh bila Indah melihat sesuatu dengan nafsu.
Setelah mengambil celana, Renata jelas berbalik dan mendapati Indah mematung dengan tatapan tertuju pada diri Doni, suami nya.
Hati Renata terbakar. Celana yang di tangan ia lempar ke dada Indah. "Nih, silakan pergi?"
Indah kaget. Menerima perlakuan Renata yang termasuk kasar. "Ren, kau mengusir ku?" menatap tajam.
"Iya, keluar. Pintu masih terbuka tuh." Ketus Renata yang mendekati sang suami. Merapatkan tubuhnya merangkul pinggang Doni, seakan ingin menunjukan ini milik ku.
Indah menatap tajam ke arah Renata. "Lihat saja, aku akan mendapatkan Doni kembali." Batinnya sembari melengos pergi.
Doni dan Renata saling tatap lalu keduanya tersenyum. Walaupun dalam hati masing-masing menahan kekesalan.
"Ya sudah, sarapan dulu yu? aku bawa dari tadi lho, keburu dingin nanti." Doni menuntun tangan sang istri dan menyuruhnya duduk di tepi tempat tidur.
Kemudian mereka sarapan dan Doni dengan penuh perhatian melayani sang istri, memanjakannya dengan penuh kasih.
Di kamar tamu, Indah jalan mondar mandir. Otaknya berputar memikirkan sesuatu, untuk mencapai tujuan.
Lalu Indah bergegas pergi. Meninggalkan kamarnya dengan tas kecil di tangan entah mau kemana? yang jelas dia pergi untuk kembali.
"Bukan urusan mu ya? urus saja tuh dapur." Jawabnya sambil terus berjalan.
"Ya ampun ... dia pikir dia siapa di rumah ini, saudara bukan, majikan bukan. Cuma numpang sama teman dan malah suami temen juga mau dia embat. teman macam apa dia? Ih ... amit-amit." Gerutu bibi sambil mengangkat bahunya.
Bibi menggeleng, tidak habis pikir dengan sikapnya Indah. Wanita cuma menginap. Tapi tapi gayanya lebih dari majikan.
"Sayang, mau kemana?" tanya Doni ketika melihat istrinya beranjak.
"Mau turun ah, bosan di kamar Mulu. Ajak jalan kek?" sahut Renata sambil berjalan.
"Aduh-aduh beb ... kalau mau jalan ngomong dong. Mandi makanya." Seru Doni.
"Malas ah, malas mandi. Oo ..." Renata diserang mual lagi.
"Nah, nah-nah." Doni langsung meninggalkan tempat tidurnya, menghampiri sang istri.
"Nggak! nggak. Aku gak pa-pa." Renata memegang tangan.
Doni tampak cemas. Terus menggandeng pinggang sang istri dibawanya ke tempat tidur kembali.
"Aku mau ke bawah. Bosan di sini terus." Pinta Renata.
"Ya sudah, iya ke bawah, sekalian ku buatkan air hangat ya? atau aku bikinkan susu bumil." Doni menggandeng pinggang Renata turun ke lantai bawah.
Kebetulan hari ini Doni libur jadi bisa di rumah seharian. Menemani sang istri.
"Gendong?" rengek Renata manja.
__ADS_1
"Baiklah istri ku!" Doni langsung menggendong tubuh Renata ala bridal style. Berjalan menuruni anak tangga.
"Non Renata kenapa lagi?" tanya Bibi langsung meninggalkan pekerjaannya.
"Hi hi hi, nggak Bi ... cuma malas jalan saja." Renata terkikik dikira bibi dia kenapa-napa
"Oh, kirain Bibi. Non kenapa-napa, khawatir Non." Bibi akhirnya tersenyum.
"Indah kemana, Bi?" Renata menanyakan sahabatnya yang sedari pagi tadi tidak dia lihat lagi.
"Entah, Non. Tadi Bibi tanya juga bilangnya gini. Bukan urusan mu ya? urus saja tuh dapur, gitu Non!" bibi menirukan ucapan Indah tadi.
"Ha ha ha ... gitu ya Bi? emang siapa dia? tanya gitu juga dong." Renata tertawa renyah.
Doni yang sedang membuat susu bumil menoleh seraya menggeleng. "Bilang, BI. Sama dia. Kau di sini siapa? majikan juga bukan. Saya juga di sini numpang lho, Bi."
Renata melirik ke arah Doni. "Kamu kok ngomongnya gitu sih? jadi kamu mau aku pindah lagi gitu? oke!"
"Iya, aku maunya ya begitu. Tapi aku aku mau ya di recokin sama sahabat mu itu," ungkap Doni sambil berjalan membawa segelas susu bumil.
Renata hanya terdiam. Mendengar ucapan suaminya itu.
"Hi ... Renata? aku bawakan ini buat kamu. Biasanya orang ngidam itu sangat suka rujak buah yang asam-asam." Indah menyodorkan yang dia bawa.
"Oh, makasih?" Renata mengangguk.
Terus Indah mengambil air minuman jus untuk dirinya.
"Bi, bisa minta tolong? bikinkan saya kopi dong?" Doni melihat ke arah bibi.
"Oh, iya, Bibi bikinkan." Bibi segera membuatkan minuman yang Doni pinta.
Indah kembali ke ruang tengah duduk bersama dengan Renata dan Doni.
"Em ... aku mau ke toilet dulu sebentar!" Renata beranjak ke toilet dapur yang terdekat.
"Hati-hati sayang?" pesan Doni sambil melihat ke arah Renata yang membawa langkahnya.
"Iya, jangan khawatir." Renata terus memasuki toilet.
Heningh!
Doni memilih diam, dan Indah pun sama yang dia lakukan hanya meminum minumannya.
"Aku ada barang, mau coba gak?" ucap Indah setengah berbisik.
"Jangan macam-macam, Saya sudah move one dari lama. Jadi gak usah berbicara soal itu lagi sama saya." Jelas Doni sambil menoleh kanan dan kiri.
"Tapi kan emang kamu itu dulu pengedar dan pemakai bila ketauan. Kau itu pasti di tangkap--"
"Itu dulu. Bukan sekarang, dan bila itu terjadi, aku pasrah!" suara Doni pelan.
"Emang kau siap meninggalkan istri mu yang sedang hamil itu?" Indah mencibir dan tersenyum sinis seolah sedang menemukan jalan ....
.
.
__ADS_1