Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Semangat nya.


__ADS_3

"Tunggu? masa aku mau di tinggal sih? aku kan mau hanymoon juga, eh salah! mau berlibur juga. Main tinggal saja." Rupanya Sultan yang menghentikan perjalanan Arya dan Fatma.


Sultan memasukan tasnya ke bagasi dan lalu memasuki mobil Arya lantas duduk di depan bersama supir.


"Dasar ... kamu Sultan. He? itu motor mau dibiarkan di jalan? main masuk mobil saja. Pindahin ke garasi? lu pikir kita pergi satu jam! satu Minggu bahkan mungkin, lebih." Arya melihat motor besar Sultan yang berwarna biru itu terparkir di luar gerbang.


"Ha ha ha ... lupa gue, saking semangatnya." Buru-buru turun kembali memindahkan motornya ke dalam garasi mobil Fatma.


"Iih, Om Tatan pelupa, sudah tua ya? hi hi hi ... sudah pikun. Om Tatan susah pikun." Rania terkikik.


Semua menoleh ke arah Rania lalu ikut tersenyum.


"Iya, nih Om Tatan pelupa, nanti kalau sudah di laut. Kita tinggal saja di sana ya? biar di makan sama hewan laut," ucap Arya sambil menunjukan senyumnya.


"Aish ... jangan dong, Papa. Kasian om Tatan nya." Protes Rania sambil menoleh ke arah Sultan yang berjalan mendekati mobil.


"Iya, Papa jahat ya?" timpal Fatma.


"He'em, Aa. Bagaimanapun itu calon suami Dewi, jahat amat?" Dewi pun berkomentar.


Arya cuma mengukir senyumnya tanpa membalas perkataan dari ketiga orang tersebut.


Sultan sudah masuk kembali dan duduk di tempat semula. "Jalan?"


"Jalan ke mana?" tanya Arya dari belakang.


"Jalan lah, ke bandara." Sultan menoleh ke arah Arya.


"Nggak jadi," sahut Arya sembari membayang pandangannya ke luar jendela.


"Nggak nanti, tapi sekarang! Ayo jalan, Pak?" pinta Sultan pada pak Harlan.


Supir pun segera bersiap pegang kemudi, dan melajukannya dengan kecepatan sedang menuju bandara. Di belakang diikuti oleh mobil yang ditumpangi Zayn dan Susi yang mau ikut hanymoon.


"Aku harap. Sepulang dari sini kita langsung dapat momongan ya?" gumamnya Susi pelan. Pandangannya lepas ke depan.


"Makanya jangan susah kalau aku ajak bikin anak, ini di ajak enak gak mau. Gimana caranya mau anak?" seru Zayn yang menyandarkan pundaknya ke jok mobil.


"Tapi, biarpun aku ogah. Tetap aja kau gas terus, gak pernah kamu membiarkan atau mengerti aku!" ucap Susi sambil memanyunkan bibirnya ke depan.


"Ya iyalah, ngapain? yang ini lebih penting daripada alasan mu itu." Kata Zayn seraya menunjuk sesuatu yang tersembunyi di balik celana jins nya.


"Egois, dasar Zaylangkung." Tambah Susi.


"Biarin yang penting enak! wew. Dasar Markonah." Zayn gak mau kalah.


Susi mengulangkan kepalan tangannya di udara. Dengan delikkan mata ke arah sang suami.


Supir, hanya tersenyum mendengar pertengkaran kecil Zayn dan Susi. Matanya tetap fokus ke depan mengikuti mobil Fatma yang semakin lama kian cepat.


Tangan Zayn bergerak memegang tangan Susi, mengelusnya dengan lembut.


Netra nya Susi bergerak menoleh ke arah Zayn dan melihat tangan yang berada di tangannya. Lalu melihat ke arah wajah Zayn. "Apaan pegang-pegang?"


"Aish, jadi istri gitu amat? jutek, dingin." Ketus Zayn sembari menyingkirkan tangannya.


"Iya, kenapa emang? kalau dingin, jutek! kenapa mau?" Susi makin jutek.


"He'eh." Dengus Zayn dengan tatapan datar.


Mobil terus meluncur mengikuti mobil yang di depan. Selang beberapa lama, mobil yang di depan berhenti di area bandara.


"Tiket kamu mana Tan?" tanya Arya sembari turun dari mobil menuntun Rania.


"Ada dong, siap." Balas sultan sembari berjalan mau mengambil barang-barang dari bagasi.


Fatma menyoren tas kecilnya, dengan manik mata melihat ke dalam. "Yu, Dewi?" melirik ke arah Dewi yang mematung dekat pintu mobil.


"Aduh, belum apa-apa sudah bikin senam jantung ini mah." Dewi memegang dadanya.


"Kenapa?" tanya Fatma heran.


"Bagaimana tidak senam jantung, Kak. Ini kali pertama aku mau naik pesawat." Jawabnya sambil melangkahkan kakinya mengikuti Arya dan Sultan yang sudah memasuki pintu kaca besar tersebut.


"Ha ha ha ... belum juga naik, Wi." tambah Fatma sembari berjalan.


"Tenang, Dewi. Calon suami mu ini pramugara nih," Sultan melirik ke arah hadir berkerudung merah itu.


Yang di balas dengan senyuman manis dari Dewi.


Setelah beberapa lama cek-in, mengumpulkan data-data. Mereka pun duduk di ruang tunggu untuk penerbangan domistik.


"Huuh... aduh, jantung ku. Semakin berdegup kencang gini ya Allah ..." gimana mamanya Dewi seraya memegangi dadanya.


"Kamu baru kali pertama ya? aku juga dulu gitu, waktu pertama kali. Tetapi kalau sudah satu dua kali. menjadi biasa kok." Susi menoleh ke arah Dewi yang sedikit pucat wajahnya.


"I-Iya, Kak. Baru pertama kali nih," Dewi mengangguk.


"Nanti juga terbiasa kok," tambah Fatma.


"Aunty Dewi, pegangan aja sama om Tatan." Celetuk Rania.


Membuat Arya menoleh ke arah Dewi. "Membaca doa. Minta keselamatan."


Dewi menghela napas panjang lalu ia hembuskan kasar. "Iya, Aa."


Kemudian mereka berjalan menuju terminal tiga yang melayani penerbangan domistik dan internasional. Bersiap memasuki pesawat yang tidak lama lagi akan take-off.


"Hore ... Rania naik pesawat." Rania sangat girang dan bertepuk tangan. Berdiri, mendongak melihat pintu pesawat.


"Rania berani gak?" tanya Fatma.

__ADS_1


"Iya, berani gak? jangan-jangan gak berani." Tambah Arya sembari mengusap pucuk kepala Rania.


"Berani dong ...masa nggak? Rania gitu!" balas Rania dengan sangat percaya diri.


"Kaki terasa bergetar. Dan susah untuk di langkahkan, itu yang aku rasakan ketika pertama kali mau naik pesawat.


"Aslinya, Kak. Beneran, itu yang aku rasakan juga saat ini. Kak Susi," tutur Dewi. Tangannya memegangi boneka milik Rania, suaranya pun bergetar.


"Sini sama aku, Wi." Susi pegangan dengan Dewi yang tampak ketakutan. Dadanya terus berdebar tak menentu di saat menaiki tangga pesawat bersama yang lainnya.


Fatma yang di belakang Dewi hanya tersenyum dan melihat Dewi dan Susi sambil memegangi tangan Rania dengan Arya.


Zayn dan sultan berjalan paling belakang sambil mengobrol.


Mereka duduk di kursinya masing-masing. Dewi yang duduk tidak jauh dari Susi tampak pucat. Keringat dingin pun keluar dari telapak tangan dan pelipisnya.


"Aunty, tidak apa-apa?" tanya Fatma menoleh ke arah Dewi yang tampak pucat itu.


"Ti-tidak, Kak." Dewi menggeleng. Dengan hati yang terus berdebar. Di sebelah kiri kursi Zayn dan Sultan.


"Yakin tidak apa-apa?" selidik Arya menoleh ke belakang, melihat sang adik.


"Nggak, Aa. Biasa aja," Dewi lagi-lagi menggeleng.


Fatma memberikan sebotol air mineral pada Dewi agar Dewi lebih tenang. "Ini, diminum dulu!"


Dewi mengambil air mineral tersebut. Lalu ia teguk tidak lupa membaca doa yang dia bisa.


"Kak, sudah terbang belum?" tanya Dewi pelan kepada Susi.


"Em ... sudah. Melayang tuh, lihat ke jendela?" balas Susi.


Perlahan Dewi melihat ke arah jendela terlihat langit senja yang indah. Melihat ketinggian, di bawah terlihat sangat kecil.


"Wah ... langitnya indah sekali." Dewi terkagum-kagum melihat ke arah jendela.


"Iya indah banget." Susi pun melihat ke arah yang Dewi lihat.


"Mam, langitnya merah. Bagus ya Mam?" gumam Rania sambil melihat ke arah jendela.


"Iya sayang, Rania suka?" tanya Fatma.


"Suka dong," Rania mengangguk degan tatapan yang anteng ke langit merah yang dilintasi.


Sampai akhirnya Rania tertidur di pangkuan Fatma. Sementara Arya sibuk dengan tabletnya.


"Kak, Susi. Aku pengen pipis gimana nih?" Dewi memegang perutnya yang terasa berat.


"Ya pipis aja!" Susi melirik.


"Itu, di depan WC, Wi. Ke sana aja." Fatma menunjuk ke arah depan.


Arya menoleh. "Tunggu sampai aku interuksi kan barulah buka belt nya."


Keduanya mengangguk lalu baru membuka belt tersebut setelah Arya menyuruhnya.


"Nggak pa-pa jalan nih?" tanya Dewi.


"Iya, nggak pa-pa, yang lain juga jalan." Susi melihat pramugari dan pramugara yang tengah melayani penumpang.


Dewi berdiri. Dia merasa takut untuk berjalan lalu pegangan pada tangan Susi. Lututnya berasa lemas.


Arya kembali menoleh ke arah sang adik yang maklum baru naik pesawat.


Keduanya berjalan menuju bilik kecil pesawat yaitu toilet. Setibanya di depan bilik tersebut.


"Berdua ya masuknya! takut." Dewi masih memegangi tangan Susi yang langsung mendapat anggukan dari Susi.


"Nggak bisa atuh, sempit." Bisik Susi.


"Ooh, ya udah Dewi duluan ya?" Dewi melepaskan tangan dari Susi lalu membuka pintu dengan perlahan, netra mata Dewi menatap ke dalam bilik yang sempit itu.


Sebelum masuk, pramugari cantik memberi panduan pada Dewi yang tampak kebingungan. Mana sudah kebelet harus dikasih panduan dulu.


Dewi mengangguk mengerti lalu masuk ke bilik tersebut. Sebelum menyentuh apapun ia mengambil tisu sebagai alas agar tidak bersentuhan langsung dengan benda-benda yang ada di sana.


"Hah ... lega." Dewi membersihkan bekasnya kemudian dia keluar setelah mencuci tangan dan mengeringkannya.


Setelah Dewi keluar. Susi masuk sambil memegangi perutnya yang terasa berat. Tidak lama kemudian keluar lagi dengan mengusap perutnya.


Lalu kembali ke tempat semula.


Terdengar suara pramugari yang memberi panduan keselamatan dan beberapa saat kemudian memberitahukan kalau pesawat sebentar lagi akan landing.


"Ya Allah ... akhirnya akan landing juga. Usiaku masih sampai di sini." Gumam Dewi.


Susi pun mengangguk. Lalu bersiap-siap untuk nanti turun.


Zayn yang dekat dekat duduknya dengan Sultan hanya tiduran tidak banyak cerita.


"Gimana nih? Rania bobo." Gumamnya Fatma sambil melirik ke arah sang suami.


"Iya, nanti Aa yang bawa." Balas Arya lalu kembali serius dengan tabletnya.


Terdengar dari pengeras suara yang memberitahukan kalau pesawat tengah landing dan bersiap-siap para penumpang turun.


Tidak lama kemudian pintu terbuka dan ada mobil yang membawakan tangga untuk jalan para isi pesawat.


Arya mengambil Rania yang sebelumnya merapikan tas Selempang nya.


Fatma mengambil tas nya dari kabin. Lalu berdiri dengan netra nya melihat ke arah Susi dan Dewi.

__ADS_1


"Zaylangkung? ambilin?" Susi melihat ke arah Zayn yang hampir berjalan meninggalkan.


"Apa sih?" Zayn menoleh dan menunggu orang lewat dulu.


"Ambilkan tas ku!" Susi menunjuk kabin. "Sudah tahu punya istri pendek."


"Ck, iya. Sebentar? tunggu orang-orang lewat duluan."


Fatma mendekat dan mengambilkan barang Susi dari kabin. "Sudah, yu jalan?"


"Makasih, Kak?" Susi dan Dewi merayap mengikuti Fatma yang duluan.


"Dasar, suami tidak berguna!" Susi menoleh ke arah Zayn dengan mencibir.


"Dasar, istri kurang ajar." Gerutu Zayn.


"Gue merasa lucu, biasanya kita yang mengendalikan. Kini kita yang jadi penumpang," ucap Sultan sembari mesem-mesem.


"Iya, gantian." Kata Arya sambil menggendong Rania yang tertidur nyenyak.


Kemudian mereka langsung naik travel menuju hotel yang sudah direkomendasikan dari awal.


Arya menyewa 4 kamar yang berdekatan, untuk dirinya dan yang lain. Dewi bersama Rania, Zayn dan istri. Sultan sendiri dan Arya tentunya dengan Fatma.


"Lah, nasib gue ... berlibur tanpa pasangan, ada juga belum halal. Ah gue nyewa dulu kali ya?" canda Sultan setelah menerima kunci kamarnya.


"Makanya--"


"Makan apa?" tanya Sultan memotong omongan Zayn.


"Makan apa?" Zayn menirukan pertanyaan sultan. "Makanya ngapain ikut?"


"Suka-suka gue lah, emang minta bayari situ?" Sultan sambil jalan.


Arya menoleh ke belakang. "Berisik, napa sih? heran deh gue."


"Bodo ah, masa gue harus ngelonin guling?" sahut Sultan dengan nada candanya.


Arya kembali berkata. "Tenang, aja. Nanti ada mbak Kunti nyamperin, ha ha ha ...."


Sultan jalannya lebih cepat dan menyusul langkah Arya. "Iih, jangan dong ... kok kamu ngomong sembarangan bro? gimana kalau kejadian?"


"Ha ha ha mampus lho, tidur sama Kunti sekalian undang saja lah untuk selama di sini temani dia." Kata Zayn lagi.


"Sialan, daripada sama Kunti, mendingan pinjem istri lu aja lah." Lanjut Sultan sembari melirik ke arah Susi. "Dari pada bertengkar Mulu sama suaminya."


"Ah gila lho, dia istri gue. Biar begitu ya tetap istri gue," protes Zayn.


Semua yang mendengarkan hanya senyum-senyum.


"Tapi, kan lu ajak bertengkar Mulu." Kata Sultan lagi.


"Bukan gue, tetapi dia! seandainya lu jadi suaminya, belum tentu kuat deh," sambung Zayn.


"Ah masa?" Sultan tidak percaya.


"Sudah-sudah. Malam nih!" Arya masuk kamar Dewi untuk menidurkan Rania.


Dewi pun masuk dengan menarik kopernya. Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang mewah tersebut. "Adem, enak suasananya nyaman."


"Wi, titip Rania ya? kalau. Mungkin kalian mau mandi dulu, setelah itu kita makan malam." Fatma yang berdiri dekat pintu. "kalau bisa bangunin Rania dulu, belum makan dia."


"Iya, Kak. Nanti Dewi bangunin," Dewi berucap sambil mengangguk dan meletakkan koper di pinggir.


"Wi, kalau ada apa-apa panggil saja Abang mu ini!" Sultan menepuk dadanya sendiri.


"Kau masuk kamar mu sana? mau ikut makan malam gak?" netra nya Arya melirik ke arah Sultan yang mengajak Dewi bicara sambil celingukan ke dalam kamar tersebut.


"Iya, iya. Gak boleh lihat orang seneng, heran gue." Sultan menjauh dari kamar Dewi, lalu memasuki kamarnya.


"Ini kamar kita, ayo masuk?" ajak Zayn dan menyuruh Susi masuk duluan.


Susi masuk dan menghidupkan saklar yang menjadikan di raungan itu terang benderang. "Bagus juga ya kamarnya?" lalu mendekati tempat tidur yang besar bertilam putih bersih berhias taburan bunga mawar.


"Baguslah kalau kau suka!" Zayn menutup pintu lalu menyimpan koper di dekat sofa.


"Suka." Susi menjatuhkan tubuhnya ke kasur yang empuk tersebut. Setelah sebelumnya melempar tas guci nya entah kemana.


Zayn menggerutu ketika melihat Susi melempar tas nya. "Kau pikir itu apa? dilempar sembarangan bukannya ada ponsel dan dompet juga kartu ATM nya. Sembarangan aja."


Susi bangkit dengan cepat. "He he he ... lupa!" turun mengambil dan menyimpannya di atas nakas. Lanjut menjatuhkan lagi tubuhnya yang mungil ke tempat semula yang empuk itu.


"Mandi dulu, setelah itu kita makan bersama." Zayn membuka sepatunya lalu semua pakaian yang melekat di tubuhnya.


"Duluan saja." Gumamnya Susi sambil guling-guling. Namun sekilas melihat suaminya telanjang bulat bersiap ke kamar mandi. Sontak Susi terbangun.


"Kau sudah gila ya?" Susi menatap pisang yang menggantung begitu saja.


Zayn bukannya buru-buru masuk kamar mandi, malah mendekat membuat Susi membuang muka tak kuasa melihatnya. Mana besar, hidup lagi.


"Ah ... sudah sana? mandi." Susi menunjuk ke arah kamar mandi.


Zayn menyeringai dan kian mendekat. Mendorong tubuh Susi hingga terlentang dan menguncinya.


Susi terkesiap, takut Zayn mengajaknya saat ini juga. Dia belum siap dan belum mandi, panik. Dengan refleks mengangkat dengkulnya mengenai pisang Zayn yang langsung memekik. Sakit dan ngilu.


Mundur beberapa langkah sambil memegangi barangnya. Matanya sampai berkaca-kaca, sakit dan ngilu. Membuat Susi terkejut dan merasa bersalah sehingga meminta maaf berkali-kali ....


****


Yu? reader ku semua fav kembali "Gadis Satu Milyar ku" agar ramai kembali. Setelah aku perbarui lagi.

__ADS_1


__ADS_2