
Setelah Rania menghilang di balik pintu, barulah Fatma beranjak dari duduknya. Membawa langkah menuju pintu lalu menutupnya dengan rapat, berdiri dan bersandar ke daun pintu melihat sang suami yang tengah memandangi dan bibirnya tertawa lebar.
"Sini sayang?" panggil Arya sambil melambaikan tangan lalu menepuk-nepuk kasur di sampingnya.
Namun Fatma menggeleng sembari tersenyum menggoda. Membuat Arya bangun dengan cepat mengibaskan selimut turun menapakkan kaki ke lantai. Berjalan menghampiri Fatma dengan keadaan polos.
"Aaaaa ..." pekik Fatma langsung menutup kedua netra nya dengan sepuluh jari yang tidak rapat, sehingga masih bisa mengintip, melihat yang bergelantungan. Bergoyang terbawa jalan si pemiliknya.
Sebuah senjata tempur yang panjang dan bergerak sendiri. Membuat ngilu dan ngeri yang melihat, Namun tak berhenti untuk menyaksikannya.
Tiba-tiba tangan kekar itu memboyong tubuh Fatma. Dibawanya ke atas tempat tidur. Tangan Fatma refleks melingkar di pundak Arya dan menatap wajahnya dengan bibir Fatma yang mengembang.
Perlahan tubuh Fatma di dudukan di atas tempat tidur tersebut dan meraih apapun yang menjadi penghalang pandangan, dan tak menyisakan satupun.
Napas Arya kembali memburu terdengar tak beraturan. Dan segera membawa Fatma ke dalam selimut, Fatma cama bisa pasrah kendati dia pun sudah terbakar dan menginginkan itu saat ini.
Cumbuan demi cumbuan membuat suara-suara aneh lolos dari bibir keduanya sehingga memenuhi ruang tersebut untung saja di dalam sana memasang kedap udara. Suara dari dalam tidak terlalu terdengar keluar.
De-sah-an dan rintihan kecil keluar dari bibir Fatma. Lengu-han nikmat pun tak ayal lolos dari mulut Arya. Mendesis lembut di telinga.
"Sayang ... buat aku bahagia! buat aku melayang ke alam nirwana." Bibir Fatma meracau sambil memejamkan matanya yang terlalu merasakan sesuatu yang membuat tubuhnya bergetar hebat.
"Iya sayang, aku akan membuatmu selalu bahagia dan selalu akan menjadi milik ku. Selamanya." Balas Arya sambil melenguh panjang. "Argh ...."
Brugh!
Beriringan dengan tumbangnya tubuh yang bermandikan keringat tersebut. Terkulai lelah di atas tubuh Fatma yang memeluk tubuh Arya.
"Makasih sayang?" suara Arya bergetar dengan napas masih belum terkontrol.
"Sama-sama. Sayang! aku sangat bahagia," balas Fatma yang masih betah melingkarkan tangan di pundak Arya.
"Syukurlah kalau sayang bahagia, aku pun sangat bahagia juga." Tangannya membelai rambut Fatma dengan mesra, lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah puas tembak menembak di hutan yang terawat baik.
"Saat ini aku sangat bahagia." Bibir Fatma gak berhenti mengembang membentuk senyuman.
__ADS_1
Sementara mereka saling bertatapan dengan penuh kasih sayang. Tangan Arya menggenggam Engan Fatma lalu diciumnya berkali-kali. Cuph! cuph!.
Setelah itu. Keduanya bangun berebutan selimut untuk membalut tubuhnya masing-masing, karena gak ada yang mau mengalah. Akhirnya tarik menarik pun terjadi.
Dan pada akhirnya, Arya membuang selimut ke lantai sehingga keduanya terlihat polos. Sontak tangan Fatma menutupi bagian atas dan area sensitifnya dengan dengan paha yang iya angkat sedikit.
Arya memandangi dengan intens dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Dengan bibir tersenyum merekah.
"Sayang. Cepetan sana mandi?" titah Fatma dengan posisi yang sama.
"Ha ha ha ... gak mau. Mau lihat istriku seperti ini." Goda Arya sambil menyilang kan tangan di dada.
"Ih ... sana? aku geli lihat Aa seperti itu ..." pekik Fatma tak kuasa melihat pedang panjang yang dengan bebas terekspos begitu saja.
Namun Arya tak mengindahkan perkataan dari sang istri. Sambil tertawa tetap aja gak mau beranjak. dengan cepat Fatma meraih bantal dan menutupi tubuhnya.
Arya yang menyunggingkan bibirnya beranjak turun dengan cepat menarik bantal yang Fatma peluk, lalu menggendongnya ala bridal styl, membuat tubuh Fatma melayang dan sontak tangan Fatma melingkar di leher sang suami.
Fatma dibawanya ke kamar mandi. Kedua insan tersebut yang sama-sama polos bergerak untuk membersihkan diri.
Sekitar dua puluh menit mereka membersihkan diri. Lalu meraih handuk, setelah membersihkan diri di bawah shower.
Arya dan Fatma segera berpakaian rapi dan mengerjakan Dzuhur berdua. Sebelum keluar untuk makan siang.
Ketika masih salat pun Rania sudah terdengar memanggil, namun sebab pintu sudah Fatma buka. Rania bisa membukanya begitu saja.
Blak!
Rania mendorong pintu kamar sang bunda. Tampak mama dan papanya sedang membaca doa, Rania dengan perlahan menghampiri. Lalu bersimpuh di dekat sang bunda, ikut menengadahkan tangan. Dan ikut meng Aamiin kan doa sang papa.
Selesai membaca doa, Arya menoleh ke belakang. Fatma langsung mencium punggung tangan Arya penuh hormat. Begitupun Arya mencium kening sang istri. Lalu Arya mengarahkan pandangan pada Rania yang bersimpuh di samping sang bunda.
"Anak manis ikut baca doa juga?" ucap Arya dengan senyuman di bibir.
"Iya, Papa. Rania ikut membaca doa."
__ADS_1
"Anak pintar ..." sambung Fatma dan Arya berbarengan. Dan mencium pipi Rania bergantian.
"Kami sayang sama Rania," ungkap Fatma juga Arya. Memeluk Rania berbarengan.
Keluarga kecil ini tampak bahagia sekali, saling menyayangi satu sama lain. Meskipun Rania dan Arya tidak ada hubungan darah sekalipun.
"Mama, Papa. Aku tunggu makan siang kok gak ada sih?" tanya Rania sambil mendongak.
"Em ... kami baru selesai mandi sayang." Jawab Fatma.
"Iya, anak manis. Kami baru selesai bersih-bersih, sekarang baru mau makan." Arya berdiri dan membuka sarungnya.
Begitupun Fatma membuka mukenanya lanjut melipatnya. Disimpan di atas nakas.
"Ooh ... Rania belum mandi!" anak itu menatap lekat.
"Nggak pa-pa, Rania nanti sore aja mandinya kalau mau berangkat." Kata Arya. Dan Fatma mengangguk.
Kemudian mereka bertiga berjalan menuju ruang makan. Rania menggunakan kedua tangan nya memegang tangan sang bunda dan papanya.
Semakin menampakan keluarga kecil nan sangat bahagia. Setibanya di meja makan yang banyak dengan hidangan makan siang. Rania Arya dudukan di tengah-tengah Arya dan Fatma duduk.
Fatma langsung mengambilkan piring buat suami dan anaknya. Mengisi dengan nasi dan lauk pauknya. Dan juga sayurnya. Setelah itu Fatma barulah mengambil buat dirinya sendiri.
Setalah membaca doa mau makan. Ketiganya langsung menyantap makan siang dengan sangat lahap. Apalagi Arya dan Fatma yang baru saja menguras tenaganya sehingga banyak kehilangan nutrisi.
"Mam, Mama habis keramas ya? itu rambutnya basah!" tanya Rania, mata beningnya memperhatikan rambut Fatma yang basah. Terus mengalihkan pandangan ke arah Arya yang juga tampak segar.
Fatma dan Arya saling melempar pandangan, melihat reaksi Rania yang sangat kemal (kepo maksimal)
"Sayang ... iya nih, rambut Mama habis perawatan, lepek nih!" elak Fatma sembari mencium ujung rambutnya ....
****
Hi-hi? mana dukungannya nih. Jangan lupa ya agar aku tambah semangat.
__ADS_1