Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Melayang


__ADS_3

"Bikin aku yang geregetan ah," tangan Sultan. Sedikit mengacak rambutnya.


"Kenapa? kau kesurupan?" Arya menepuk bahu Sultan.


"Iye, bukan kesurupan lagi gue. Kemasukan jin yang jatuh cinta nih." Sultan sekenanya.


"Takut." Kata Arya. Lalu melihat ke arah Fatma, namun sebelumnya menetralkan perasaannya yang begitu gugup itu. "Ibu, menyuruh ku, menjemput mu. Sebab ... pak Harlan ada urusan dan supir yang lain sedang kurang sehat."


"Em, iya. Makasih ya? maaf sudah merepotkan mu." Balas Fatma dengan senyuman manisnya.


"Ooh, mana ada merepotkan! jangankan lagi ada waktu senggang. Sedang terbang pun bisa aja pulang haluan demi menjemput Ibu Negara mah, apa sih yang tidak? buat tambatan hati apapun dapat ditempuh." Celetuk Sultan tanpa ragu-ragu.


Siku Arya bergerak ke belakang menyodok dada Sultan. "Ngomong apaan sih, ada-ada saja. Jangan di dengerin dia," ucap Arya kembali terlihat gugup.


"Eh, bro. Kenapa malu-malu gitu? biasa aja kali. Lagian apa salahnya sih mengungkapkan isi hati?" tambah Sultan pada Arya.


"Yo-yo pulang yu?" mendorong bahu Sultan. Agar berbalik ke belakang untuk pulang.


Fatma tersenyum lucu saja, sambil menuntun Rania yang asik ngemil. Mereka berjalan, membawa langkahnya menuju parkiran mobil.


Namun tiba-tiba Fatma terpeleset dan mengakibatkan tubuhnya terjatuh. "Au!"


Arya yang berada sebelah Rania dengan cepat menangkap dan menyangga tubuh Fatma yang hampir terjatuh tersebut.


"Hati-hati Kak?" ucap Arya tangannya seakan memeluk dari belakang dan membantu Fatma berdiri.


Namun Fatma meringis dan sulit berdiri. "Kaki ku sakit."

__ADS_1


"Mama? kenapa Mama. Kenapa?" Rania bengong menatap sang bunda.


Sultan heran. "Kenapa Kak?"


Arya berjongkok, dua bodyguard Fatma pun panik melihat majikannya dan hendak membantu Fatma berdiri. Namun Fatma menggeleng sambil meringis.


"Mana yang sakit?" tanya Arya sambil menatap cemas.


"Kaki kanan ku terkilir, Sakit!" desis Fatma dengan ekspresi wajah yang kesakitan.


"Yang mana?" Sultan hendak menyentuh kaki Fatma yang katanya merasa sakit tapi dengan cepat kilat tangan Arya menepuknya.


Sultan mengibaskan tangannya yang Arya tepuk barusan, dengan spontan terasa kesemutan. "Aduh ... kenapa sih bro? aku mau bantu lho."


Tatapan Arya penuh ekspresi tidak suka yang langsung Sultan mengerti dan bergeser membawa Rania dan blazer Fatma.


"Sakit." desis Fatma lagi semakin kesakitan.


Walau ragu, namun Arya beranikan diri menyentuh kaki Fatma yang katanya sakit, benar saja terasa panas di tangan Arya. Dengan pelan Arya mengurutnya.


"Au! sakit ..." Fatma terus mendesis sehingga berderai air mata menahan sakitnya.


"Mama? Mama?" Rania terus memanggil mamanya.


Wajah Fatma mendongak menahan sakit. Sebuah insiden kecil namun menyakitkan, membuat Arya tidak tega.


"Tahan, rileks." Arya terus mengurut pelan. Menggunakan freshcare milik Fatma.

__ADS_1


Kemudian tangan Arya bergerak mengarah pada kaki Fatma yang satu dan membuka sepatunya satu lagi. Ia titipkan ke Adi dengan kopernya. Dengan tanpa ijin tubuh Fatma Arya gendong ala bridal style.


Fatma kaget tubuhnya melayang dan dengan refleks mengalungkan kedua tangannya di leher Arya. Wajahnya menghadap ke arah Arya yang tengah membawanya, tatapannya yang nanar terus menatap wajah pria itu tidak henti.


Sementara Arya tidak berani menatap wajah Fatma yang begitu dekat dengannya sedikitpun. Dadanya terus bergemuruh tak karuan dan hanya bisa berteman dengan napas yang terus berhembus dari hidungnya. Rasa gugup dan cemas menghantui hatinya. Takut Fatma lukanya berat walau cuma terkilir sih.


Yang lain mengikuti dari belakang. Sultan cuma tersenyum sambil menuntun Rania, setibanya di dekat mobil, bodyguard Fatma dengan cepat membukakan pintu buat Arya dan majikannya itu. Arya membawa Fatma duduk bersebelahan nya, Sultan dengan Rania di belakang dan dua bodyguard di depan sekaligus membawa mobil.


"Ke rumah sakit ya?" Arya menatap Fatma yang di sebelahnya.


"Pulang saja, biar dokter yang datang ke rumah." Suara Fatma bergetar.


"Mam, tidak apa-apa kan?" suara Rania dari belakang.


Fatma mendongak, bersandar ke bahu jok. "Mama cuma keseleo sayang ... jangan khawatir."


Mobil langsung melaju menuju Mension Fatma membelah jalanan yang dalam suasana malam.


Netra mata Fatma bergerak. melihat tangan Arya yang entah sadar atau tidak memegang tangannya.


Dengan spontan Arya melepaskan tangannya Fatma, dia tampak malu dan membuang wajahnya keluar jendela seraya bergumam. "Sorry?"


Fatma hanya terdiam dan menarik tangannya yang baru lepas dari genggaman Arya. Menggigit bibir bawahnya dan menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan, semenjak tadi ketika Arya menggendong tubuhnya.


Begitupun Arya hatinya kembali gugup berdekatan dengan Fatma. Walau ada rasa bahagia bisa berdekatan namun ada rasa canggung juga yang menyelimuti hati Arya saat ini. Getaran itu mulai tumbuh di dalam hatinya namun ada rasa hormat yang tak kalah besarnya ....


****

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen nya. vote nya juga agar author tambah semangat lagi🙏


__ADS_2