
Sepulangnya dari Mension Fatma. Arya langsung beristirahat bersiluet tebal yang selalu menemaninya setiap saat ia berbaring di sana. Guling dan bantal yang selalu menemani menjadi saksi dikala jiwa lelakinya merasa sepi. Sambil terpejam otaknya berputar alasan apa yang harus ia berikan pada Abah dan uminya untuk memutuskan pertunangan yang tidak lama lagi juga digelar pernikahan.
Namun makin ke sini hatinya kian ragu dengan perselingkuhan Renata dengan Doni. Kedua belah pihak keluarga pastinya akan merasa kecewa dengan gagalnya pernikahan ini, namun semua harus berlapang dada mungkin ini bukan jodoh.
Lebih baik gagal sekarang sebelum pernikahan, daripada gagal dalam berumah tangganya kelak apalagi kalau sudah mempunyai buah hati yang tentunya akan menjadi korban perceraian. Dengan banyak pertimbangan kini hati Arya sudah mantap dalam mengambil keputusannya. Yaitu mundur!
Malam yang semakin larut, waktu yang terus berputar Mambawa Arya pada sebuah pagi yang menunggunya untuk mengawali aktifitas, Selesai salat subuh membuka semua gorden dan bersih-bersih di unit itu. Mencuci semua pakaian dan lainnya, sambil menunggu mobil rental pesanannya datang.
Arya sudah memantapkan hati untuk pergi ke Bandung. Menjemput orang tua nya untuk bertemu dengan keluarga Renata secepatnya. Kini Arya sudah siap untuk pergi dan mobil katanya sudah ada di area parkiran.
"Bismillah ..." gumam Arya ketika melintasi pintu unitnya. Berjalan membawa langkahnya yang kian pasti mendekati dan memijit tombol pintu lift.
Arya masuk, di sana ada beberapa orang penghuni apartemen juga sehingga mereka saling tegur sapa. Tidak lama lift berhenti di lantai tujuan Arya dan terdengar aura pintu lift terbuka, ting!
Arya lebih dulu keluar, sedikit berlari ke area parkiran dimana tukang rental menunggunya untuk menyerahkan kunci. Setelah bertemu dan mengantongi kuncinya Arya segera membawa mobil tersebut menuju Bandung. Tempatnya dilahirkan.
Sepanjang perjalanan, Arya tetap fokus menyetir dengan sesekali menyanyikan sholawat. Hasbi Robbi jallallahu mavi qolbi gorullah Nuur Muhammad sholalllah laillaha illallah.
Setelah beberapa waktu di perjalanan, kurang lebih sekitar tiga jam. Akhirnya Arya tiba di pekarangan rumah orang tua nya yang belum lama ini direnovasi.
Arya di sambut oleh Bu Santi yang merupakan Uminya Arya yang tampak sangat bahagia bertemu dengan putra sulungnya ini.
"Assalamu'alaikum, Umi? sehat?" Arya meraih tangan sang bunda lalu dicium penuh hormat. Setelah itu barulah memeluknya.
"Wa'alaikum salam, AA sudah sampai, Umi kangen atuh sama AA. Makin cakep putra Umi." Membalas pelukan sang putra lalu mereka masuk ke dalam rumah yang dominan memakai cat kuning dan hijau itu.
"Abah mana?" tanya Arya sambil mengedarkan pandangannya ke semua sudut rumah yang baru ia lihat sekarang.
"Abah, sedang ada perlu dulu ke rumah pak ustadz." Jawab sang bunda.
Arya membawa langkahnya ke kamar nya dulu yang sudah banyak berubah, lebih luas dan lebih bagus. "Kamar ini siapa yang pakai, Umi?" melirik uminya.
__ADS_1
"Ya, nggak ada yang pakai atuh A ... ini kamar AA. Buat kalau datang ke sini apalagi kalau bawa istri." Tutur bu Santi sembari menepuk-nepuk bantalnya.
Lemari yang besar juga berisi pakaian Arya dari jaman dulu. "Umi, ini pakaian kenapa masih ada? kalau ada yang mau ya kasihkan aja, atau buang saja. Buat apa disimpan juga. Gak bakalan ke pakai lagi lihat saja badan AA sekarang," ujar Arya lalu menutup kembali pintu lemari tersebut.
Uminya cuma tersenyum pada Arya.
Foto-foto ketika masih SMA masih ada terpajang rapi. Sedang kuliah, masuk kerja, ada terpajang di dinding dan lemari.
Arya mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur dengan membuka topi kesayangannya yang ia simpan di meja kecil dekat tempat tidur yang dulu cuma cukup untuk sendiri kini besar dan cukup untuk berdua bahkan masih tersisa lagi.
Bibir Arya tertarik melengkung. Melihatnya tangan mengusap seprai yang motif pesawat terbang. Lalu berdiri mendekati pintu kamar mandi yang dulu sih gak ada yang namanya kamar mandi pribadi adanya umum. Satu kamar mandi untuk semua anggota keluarga. Kini berubah sudah di dalamnya terdapat bathub, shower. Toilet.
Arya menggelengkan kepalanya. Dengan senyuman yang mengembang dari bibirnya. Kemudian Arya mengayunkan kakinya ke ruangan lain dan ia perhatikan dengan seksama.
"Umi, kemana Dewi dan Deri?" melirik uminya yang sedang di dapur menyedihkan teh buat Arya.
"Deri, sekolah, A. Dewi kerja. Nanti pulang nya sore." Bu Santi menyuguhkan secangkir teh manis buat Arya.
"Lho, kok buru-buru?" Bu Santi bengong.
"Besok AA mau kerja, Umi dan Abah AA antar lagi ke sini lusanya lagi," sambung Arya sambil nyeruput teh manis buatan sang bunda.
"Assalamu'alaikum? Kasep ... sudah pulang?"
"Wa'alaikum salam, Abah sehat?" Arya memeluk sang ayah setelah mencium tangannya.
"Alhamdulillah ... A ..." tangan Bah Yadi mengusap pundak putra sulungnya.
Mereka pun berkumpul duduk sofa yang ada di ruang keluarga. Bah Yadi menatap langit-langit seraya berkata. "Ini uang yang AA kirimkan buat merenovasi rumah, ini hasilnya. AA suka tidak dengan rumahnya?"
Arya kembali mengedarkan pandangannya ke setiap sudut raung itu. "Bagus, Bah. Yang penting kita punya tempat tinggal yang layak aja dulu. Kalau pengen yang mewah mah nanti menabung lagi."
__ADS_1
"Tapi AA suka?" tanya Uminya menatap ke arah Arya.
"Suka Umi," balas Arya tersenyum tipis.
"Oya, maksud AA jemput kami buat ke Jakarta itu untuk apa?" selidik abah nya mulai serius.
Arya menelan saliva nya. Dan helaan napasnya terlihat berat. "Begini Bah, Umi. Maksud AA jemput kalian itu untuk menemui keluarga Renata!"
"Pernikahannya jadi bulan depannya, kan? sebelum Renata wisuda. Ibu bahagia sekali karena lebih cepat kan lebih baik, ya Abah?" ucap wanita yang berkerudung tersebut.
"Iya, atuh. Biar tenang dan leluasa mau sama-sama juga. Tidak akan kena fitnah," sambung Abah Yadi sembari mengangguk.
"Abah, Umi. AA mau batalkan pernikahan AA dengan Renata." Arya menunduk dalam.
"Apa? kumaha iyeteh?" Bu Santi tampak shock, kaget mendengar pernyataan dari Arya.
Bah Yadi mengerutkan keningnya yang semakin mengkerut saja itu. "Maksud AA, mau putuskan pertunangan. Batalkan rencana pernikahan?" yang langsung mendapat balasan dengan anggukan dari Arya.
"Iya, kenapa? AA kenapa? Umi jadi pusing, gak ngerti. Pernikahan sudah dekat. Pasti di sana sudah menyiapkan sebagian keperluan buat nikahan," lirih Bu Santi dengan ketidak mengerti nya.
"Umi, makanya dari itu, AA ingin secepatnya bicara dengan mereka."
"Sebentar-sebentar! apa mereka sudah tahu rencana AA yang mau memutuskan Renata?" tanya Abah nya.
"Belum, justru itu Abah ... AA ingin bicarakan dengan kalian ke sana."
Abah dan Umi beberapa kali beristigfar dan mengusap wajah mereka kasar ...
****
Jangan lupa like, komen dan vote nya kasih semangat akunya ya? reader ku🙏
__ADS_1