Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Tas Dior


__ADS_3

"Siapa tuh sayang, yang datang?" tanya Fatma sambil menoleh pada sang suami yang duduk bersandar begitu santai.


"Entah, nanti juga masuk!" balas Arya menoleh ke arah jendela namun tidak terlihat siapa?


Fatma beranjak dari duduknya. tenggorokan terasa sangat haus sekali.


"Mau kemana?" tanya Arya heran. Melihat sang istri yang beranjak dari duduknya.


"Mau ngambil air sejuk dan manis. Haus nih." Fatma mengusap leher bagian depannya.


"Biar, Aa saja yang ambil. Sayang tunggu di situ!" Arya yang kini beranjak dan pergi ke dapur untuk mengambil air juse.


"Te-tetapi, Aa ... aku bisa ambil sendiri lho dan aku yang akan membuatnya sendiri." Kata Fatma pada Arya yang mulai melangkah.


Namun Arya memberi isyarat pada Fatma supaya diam saja di tempat. Dia sendiri masuk ke dapur.


"Ya Tuhan ... bukannya enak di giniin, malah bosan aku. Huuh." Fatma membuang napas dari mulutnya. "Kalau tiap hari kaya gini capek hati aku. Gak bisa ngapa-ngapain."


Fatma bermonolog sendiri. Dan BI Ina menghampiri. "Kenapa, Bu?"


"Ha! ini gak boleh ini itu. Bosan kan, bibi tau kalau aku sudah terbiasa melakukan apa-apa sendiri. Tidak terlalu tergantung dengan orang lain." Jawab Fatma.


"He he he ... bukannya enak ya Bu? ada yang perhatiin." BI Ina malah mendukung.


"Nggak juga. Tidak harus semua juga Bi, oya siapa yang datang tuh Bi?" manik Fatma tertuju pada pintu yang di baliknya ada yang memijit bell.


"Baik, Bu?" Bi Ina segera mendekati pintu ingin tahu siapa yang datang tersebut.


Plak plak plak ....


Suara derap langkah bi Ina yang menghampiri pintu lantas membukanya.


Blak


Pintu utama terbuka, dan tampak seorang pria muda yang berdiri membawa dua buah paper bag yang satunya bermerk Dior.


"Assalamu'alaikum ... apa semua orang rumah sedang ada Bi?" sapa Sultan dengan ramahnya.


"Wa'alaikum salam. Ada, silakan masuk?" balas Bi Ina tidak kalah ramahnya.


Sultan membawa langkahnya memasuki ruangan tersebut. Dan mendapati Fatma yang sedang duduk santai di sofa panjang.


"Hi-hi, hi ... apa kabar nih yang baru pulang bulan madu? eh salah. Pulang tugas." Sultan nyengir lalu menutup mulutnya.


"Hi ... juga. Baik, gimana sebaliknya nih calonnya Dewi nih?" tanya balik dari Fatma sambil mengulurkan tangannya.


"Aku, baik juga Kak. Kalau gak baik gak mungkin datang ke sini, so pasti diam di tempat peraduan ku yang sepi." Kata Sultan sambil menyambut tangan Fatma.


"Jangan lama-lama salaman nya. Di larang keras salaman lama-lama." Celetuk Arya yang baru datang membawa segelas air juse.


Kepala Sultan menoleh dan tersenyum mengarahkan pandangan pada yang Arya bawa. "Wah ... tahu saja aku lagi haus bro?"


"Eeh. Enak saja, ini punya istri ku," ucap Arya sambil menjauhkan minuman itu dari tangan Sultan yang siap menyambar.


"Yah ... kirain buat aku! sudah datang jauh-jauh nih." sultan Mendudukkan dirinya di tempat yang bersebrangan.


"Ini sayang. Minumnya!" Arya memberikan gelas tersebut pada Fatma yang ikut tersenyum pada Sultan yang mau menyambar minumnya.


"Buat sendiri. Oya, Bi. Tolong buatkan minum buat tamu agung ini." Arya menoleh ke arah Bi Ina yang berdiri tidak jauh dari mereka, menunggu perintah dari sang majikan.


"Baik, Den. Oya, ini pesanan ku!?" Arya menunjuk ke arah paper bag yang di meja.

__ADS_1


"Iya lah, aku baik kan?" Sultan menaik turunkan alisnya.


"Om Tatan! kapan datang? Rania kangen deh." Rania berlari dari tangga menyeruak memeluk Sultan.


"Nona manis, yang cantik. Om Tatan juga kangen nih." Keduanya berpelukan.


Dewi pun duduk di sofa lainnya dengan wajah yang ramah pada Sultan sebagai calon tunangannya.


Sementara Arya membuka paper bag yang berisi kotak segi empat dengan ukuran lumayan besar.


Fatma menatap garam gerik sang suami yang sedang membual kotak tersebut dan ternyata isinya cake ultah dengan wangi durian yang begitu harum. "Waw. Baunya khas durian."


"Selamat ulang tahun sayang?" Arya Menoleh pada sang istri yang menatap kue cake tersebut.


Lalu Fatma menggerakkan manik matanya kepada Arya. "Ha? masih tiga hari lagi yang


... kecepatan!" ucapnya dengan senyuman yang merekah.


"Hah Mama ultah sekarang? wa ...w, kuenya kesukaan Mama." Manik mata mata dan mulut Rania sama-sama membulat mengarah pada kue tersebut.


"Tidak, apa sayang ... daripada nanti aku lupa atau sedang tugas, kan lebih biak sekarang ketika kita berkumpul. Dan ini hadiahnya buat sayang. Soga suka!" Arya memberikan paper bag Dior.


"Apa ini yang?" Fatma mengambil dan perlahan membukanya dengan rasa penasaran.


"Nanti dulu, tebak. Itu isinya apa coba?" tanya Arya sambil menarik kotak itu tersebut.


"Apaan ya? sepatu atau jam tangan? atau tas, mungkin?" Fatma menatap barang yang masih di dalam kotak tersebut. Lalu kembali mengarahkan tangan untuk membukanya lagi.


"Ayo, hadiahnya apa yo? Rania juga ikut penasaran nih." Anak itu jadi mendekati mamanya.


Fatma membuka kotak yang berada di pangkuannya itu. "Wa ... h, tas Dior. Makasih?" ucap Fatma setelah mengetahui isinya.


"Aku suka sayang." Fatma meneteskan air mata haru, suaminya ini begitu perhatian dan sayang terhadap dirinya dan putri kecilnya itu.


Pelukan Arya begitu erat memeluk sang istri yang mulai terisak, tangannya dengan lembut mengusap punggungnya.


"Wa ... w. Mama, bagus sekali. Aunty bagus ya, om Tatan. Rania mau ah yang kaya gitu!"


"Iya, nanti kalau sudah besar. Sekarang kan Rania masih kecil. gak ada tas sekolah merk itu sayang," ungkap Dewi.


"Oo! gitu ya aunty?" tanya Rania yang langsung mendapat anggukan dari Dewi.


Tangan Arya memegang kedua bahu Fatma agar berjarak dengannya. "Kok nangis sih sayang ku?"


Fatma mengulas senyum tipisnya. "Aku terharu yang ..." Fatma kembali memeluk Arya.


Setelah puas, dengan tangis haru Fatma karena mendapat hadiah dari sang suami. Dan acara peluk-pelukan pun berakhir. Berlanjut dengan ucapan selamat dari Sultan dan Dewi.


Rania juga tidak luput mengucapkan selamat pada mamanya yang bentar lagi ulang tahun.


Setelah berbincang yang penuh canda dan tawa. Mereka pun makan siang bersama, walau Fatma sesekali rasa mual menyerang.


...---...


Keesokan harinya Dewi sudah bersiap-siap untuk pulang ke Bandung. Karena bentar lagi akan mengadakan acara lamaran.


Sementara Arya sedang bertugas, kebetulan bersama-sama Sultan.


"Aunty, apa aunty akan kembali ke sini kan aunty?" Rania mendongak pada Dewi yang menatap haru anak itu.


"Iya, aunty akan kembali kok." Gadis berkerudung itu memeluk Rania dengan erat, tidak terasa air matanya pun menetes.

__ADS_1


Sudah beberapa bulan ini dia menemani Rania setiap hari. Dan hampir setiap waktu juga.


Begitupun Rania membalas pelukan Dewi dengan penuh perasaan. Dia nampak sedih mau berpisah dengan Dewi.


"Sayang ... aunty pasti ke sini lagi kok, setelah tunangan. aunty akan kembali ke sini," ucap Fatma yang baru datang dari kantor.


"Kak?" Dewi menoleh pada Fatma yang Mendudukkan dirinya di sofa.


"Sudah siap, Wi? Oya, makan siang dulu yu?" ajak Fatma sambil kembali berdiri.


"Sudah siap, iya. Oya, Rania kan nanti juga ikut ke Bandung sama mama dan papa, jadi kita akan bertemu lagi." Dewi antusias.


"Iya, bener. Nanti kita akan susul aunty ke Bandung," tambah Fatma membenarkan perkataan dari Dewi.


"Beneran Mam?" tanya Rania ingin meyakinkan hatinya.


"Bener dong sayang, masa bohong sih!" Fatma mengusap kepala Rania.


Sebelum pulang ke Bandung. Dewi, Fatma ajak makan dulu dengan Rania.


"Oya, nanti kak Fatma yang akan belanjakan semua keperluan kamu untuk lamaran nanti. Tunggu saja nanti kirimannya." Kata Fatma di sela-sela makannya.


"Oh, iya. Kak, makasih sebelumnya juga." Jawab Dewi meras gak enak.


"Oya, Bi Ina. Tolong ambilkan kotak paper bag yang ada di atas laci kalau tidak salah sih, tapi kalau gak ada berarti di dalamnya laci tersebut. Fatma melirik ke arah Bi Ina yang berdiri tidak jauh dari sana.


Kepala asisten tersebut langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Mama, papa kapan pulang nya?" tanya Rania menatap sang bunda sambil mengunyah dengan mulut penuh.


"Em ... mungkin nanti malam, papa pulang, sayang." Fatma berucap lirih.


"Jadi, aunty ke Bandung sama siapa dong? apa sama om Tatan?" selidik Rania kembali.


"Em ... aunty, kan sama pak supir di anterin sampai ke sana. Lagian om Tatan sedang tugas bareng papa." tambah Fatma sambil mengambil lauk dari piringnya.


Dewi pun tersenyum pada Rania yang bawel dan dalam beberapa hari ini akan berpisah.


Derap langkah Bi Ina semakin cepat menuruni anak tangga. "Ini bukan, Bu?" sembari menyimpan kotak kecil di hadapannya Fatma.


"Oh, iya bener Bi. Makasih ya?" Fatma mengambil lantas membukanya.


"Apa itu Mama?" tanya Rania penasaran, menatap intens ke arah kotak tersebut.


"Ini, perhiasan buat aunty sebagai hadiah ... karena sudah menjaga Rania." Tambah Fatma, kemudian dia menyodorkan kotak tersebut pada Dewi.


Dewi bengong. Melihat isi kotak tersebut yang memang sudah terbuka oleh Fatma. "Kak, apa tidak salah memberikan itu pada Dewi?" gadis yang berkerudung Nevi itu berasa tidak percaya dengan yang dia lihat saat ini untuk nya.


Satu set perhiasan yang indah dan itu bukan perhiasan palsu melainkan emas asli yang 24 karat.


Fatma mengangguk. "Iya. Untuk mu, Wi! semoga kamu suka dan mau terima itu."


"Aduh, Kak! apa tidak terlalu banyak? perhiasan itu satu set, Kak. Rasanya Dewi gak pantas untuk menerimanya." Dewi merasa tidak enak hati. Mana jaga Rania nya juga belum lama ini.


Fatma menggeleng dan menyuruh Dewi untuk menerima itu tanpa ragu ....


.


.


Tidak bosan aku ucapkan terima kasih pada reader ku semua yang terus setia dengan karya-karya ku 🙏

__ADS_1


__ADS_2