
Semua menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari belakang, termasuk Arya.
Rupanya di sana Fatma sedang berjongkok mau memungut pecahan gelas yang barusan ia bawa dari meja makan.
Arya setengah melompat menghampiri Fatma yang berjongkok itu. ''Kenapa Kak?''
"Kenapa sayang?" Bu Wati terdengar khawatir.
"Gelas ku jatuh Bu, gak sengaja." Balas Fatma dengan tetap fokus memungut serpihan itu. Walau sudah di larang dan akan dikerjakan oleh Ina.
"Au!" desis Fatma setelah telunjuknya kena pecahan dan langsung mengeluarkan darah.
Arya yang juga berjongkok dan membantu mengumpulkan pecahan tersebut, langsung panik dan meraih tangan Fatma dengan cepat ia mengulum jari Fatma yang terluka itu dengan mulutnya. Kemudian ia bawa ke dekat wastafel.
"Plester hansaplast mana? tolong Bu." Pinta Arya pada asisten rumah tangga. "Hati-hati dong Kak!"
Sungguh perlakuan yang tak terduga oleh Fatma dan juga keluarganya, Fatma tak berhenti melihat Arya yang tampak panik dan cemas dengan luka di jarinya.
Sebuah perlakuan yang teramat perhatian dan menghangatkan. Lalu Arya menoleh ke arah Fatma yang terus menatapnya. Sehingga Fatma tampak gugup kemudian memalingkan wajahnya. "Kakak gak ke napa-napa kan?"
"Ti-tidak. Sudah," gumam Fatma seraya menarik tangannya dari genggaman Arya.
"Aduh ... hati-hati dong sayang. BI, bereskan semuanya. Jangan sampai ada yang tersisa ya? bahaya." Titah Bu Wati pada Ina dan Mia. Setelah perhatiannya tertuju pada Fatma.
"Aku gak pa-pa Bu. Cuma luka kecil kok," lirih Fatma pada sang bunda.
__ADS_1
"Mama?"
"Rania, jangan ke sini sayang. Biar mama nanti yang ke sana!" pinta Arya pada Rania.
Fatma semakin dibuat kagum dengan perhatian Arya pada dirinya dan Rania. Kemudian Fatma berjalan menghampiri Rania yang terlihat cemas dan melihat luka sang bunda.
"Makanya, Rania jangan suka main benda yang berbahaya ya? nanti luka seperti Mama." Tangan Fatma mengelus pipi gembul putrinya.
"Apa perlu ke dokter Fatma? sepertinya supir pribadi mu sudah datang," ungkap pak Wijaya.
"Nggak usah Yah, aku baik-baik saja kok!" tolak Fatma.
"Iya, sayang. Ke dokter ya? Ibu antar kamu," sambung bu Wati.
"Ibu ... ini cuma luka kecil, Jagan cemas gitu ah." Fatma kekeh. "Oya, makasih ya? sudah sigap perhatian seperti itu!" Fatma mengalihkan pandangan netra matanya pada Arya yang membatu.
Lagi-lagi Fatma menggeleng. "Tidak." Seraya mengangkat tangannya yang luka itu meyakinkan tidak separah yang mereka bayangkan.
Setelah itu, Arya kembali pamitan Dangan degup jantung yang masih belum netral sesekali melihat ke arah Fatma. Hatinya menjadi cemas.
Fatma dan Bu Wati mengantar Arya sampai depan pintu. Rania yang nempel pada Arya sangat sulit untuk membiarkan Arya pulang. Harus penuh dengan bujukan dulu baru mau lepas dari Arya.
Saat ini Arya sudah melarikan diri dengan sepeda motornya, setelah menghilang barulah Fatma masuk mengikuti langkah sang bunda. Yang sebelumnya menutup pintu terlebih dahulu.
"Nak Arya sangat perhatian sekali, apa kalian sudah lama saling kenal?" selidik Bu Wati pada Fatma yang tadinya mau langsung ke kamar.
__ADS_1
"Mia, ajak Rania ke kamar ya? sudah malam." Fatma melirik ke arah Mia. Sang pengasuh Rania.
Setelah Rania dan Mia Taka ada di sana, Fatma mendudukkan diri di sofa sebrang orang tua nya.
"Kalian sudah kenal lama ya?" tanya sang ayah. Terlihat penasaran akan kedekatan Arya dengan putrinya semata wayangnya.
Kemudian Fatma menceritakan yang sebenarnya dari awal, beberapa tahun lalu. Kalau Arya adalah seorang pemuda yang ia bantu kuliahnya, sampai bisa meraih cita-citanya seperti sekarang ini yang berprofesi sebagai pilot.
Kedua orang tua Fatma mengangguk mengerti. Namun mereka tak habis pikir kok gak pernah dikenalin? padahal walau mereka tinggal di luar Negeri tapi setidaknya setahun sekali mereka pulang ke Indonesia.
"Kenapa gak kamu kenalkan sama Ayah Fatma?" kata pak Wijaya.
"Belum sempat, Yah."
"Anaknya baik kok, Ibu suka dia. Sopan dan penyayang." Timpal Bu Wati yang mengagumi sosok Arya.
Sesudah berbincang tentang Arya berakhir. Semuanya bubar ke tempat peraduannya masing-masing, saat ini Fatma sudah berada di dalam kamarnya lalu segera membersihkan dirinya yang berasa lengket dan bau dengan keringat.
Sekitar 20 menit berendam. Fatma keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kimono. Namun manik matanya menemukan seseorang, yaitu Aldian sudah berada di atas tempat tidur. Berbaring miring dengan tangan menumpu kepala.
"Selamat malam sayang?" sapaannya membuat Fatma merasa jijik.
"Keluarlah. Aku mau istirahat." Pinta Fatma.
"Hah! emangnya aku tidak boleh berada di kamar istri ku?" lalu bangkit dan mendekati sehingga Fatma menghindar ....
__ADS_1
****
Semoga reader ku semua menyukai setiap karya ku. Oya, jangan lupa setelah membaca tinggalkan jejak ya? makasih🙏