Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Harus sadar


__ADS_3

"Tapi, Om. Kita kan mau makan eskrim bersama?" kedua netra mata bening Rania menatap lekat.


"Makannya sama Oma saja ya? Om janji akan selalu mengantar Rania sekolah. Dengan catatan! Om nya gak tugas, oke?"


"Iya, makannya sama Oma ya? mungkin om nya capek dan harus beristirahat untuk menyiapkan diri buat bekerja," sambung Bu Wati melirik gadis kecil itu.


"Oke, Om. Hati-hati ya Om," Rania memeluk sangat erat tubuh arya. Seakan melepaskan rindu yang lama tidak bertemu.


Arya pun membalas pelukan Rania penuh kasih sayang. Cuph!Arya mencium pucuk kepala Rania dengan lembut. "Om, pulang dulu ya?"


Kemudian setelah itu Arya berdiri dan meraih tangan Bu Wati di ciumnya. "Aku pamit dulu, Bu. Assalamu'alaikum?"


''Wa'alaikum salam ..." Menatap kepergian Arya.


Arya berjalan mendekati motornya dan mengambil helm yang menggantung. Siang ini ia akan beristirahat di apartemen sebelum nanti sore ia ada penerbangan.


"Yu, sayang masuk. Nanti sore aunty Mia akan datang." Ajak Bu Wati pada Rania, kemudian mereka melangkah maju memasuki rumah mewah tersebut.

__ADS_1


Anak itu lari-lari di dalam rumah sambil bernyanyi riang, meminta eskrim nya pada asisten rumah yang tadi membawanya masuk.


...****...


"Kamu pikir semua akan mudah begitu saja? kita sudah melakukannya suka sama suka--"


"Suka sama suka melakukannya, bukan dengan cinta! dan kamu harus sadar. Bukan aku orang yang satu-satunya yang menikmati tubuh mu." Doni memotong perkataan Indah yang terus mengungkit kalau mereka pernah melakukan hubungan intim.


Indah terdiam dan menatap Doni dengan tatapan tanpa ekspresi. Dalam hati ia mengakui kalau omongan Doni itu benar, dia sering melakukannya bukan cuma dengan Doni saja tapi juga dengan laki-laki lain. Di bayar maupun atas keinginan saja.


Dan gratis. Asal sama-sama puas, itu sudah biasa bagi Indah. Namun ada satu tujuan yang tersimpan, yaitu mengincar harta Doni dan Indah mulai suka sama Doni lebih dari sekedar teman. perasaan itu tumbuh setelah terjadinya hubungan itu entah karena napsu dan ingin mengulang kembali, entah memang suka.


Tidak menyangka kalau Indah mempunyai rasa cinta sama dirinya. "Itu tidak mungkin, kamu itu cuma teman bagiku selamanya."


"Gue gak menyangka kalau gue akan merasakan ini sama kamu, aku kira kamu itu cuman main-main saja dengan Renata yang memang tunangan Arya waktu itu. Kok sekarang kalian malah mau menikah? aku shock mendengarnya." Indah menggeser posisi duduknya menghimpit Doni yang duduk di sisi sofa.


"Kamu tahu kan? gue cinta sama Renata dan itu tidak main-main. Apalagi setelah Renata Arya putuskan, sebuah keberuntungan buat gue. Gue sangat bahagia sebab gue bisa memiliki Renata seutuhnya," ungkap Doni dengan senyum yang mengembang dari bibirnya.

__ADS_1


"Terus gue gimana? perasaan gue gimana?" tanya Indah dengan nada sedih.


"Ha? itu masalah mu, kamu bukan siapa-siapa gue! kamu itu dari dulu sampai detik ini sama aja, cuma teman biasa buat gue. Tidak lebih jadi jangan mengacaukan pernikahan ku dengan Renata, lagian kamu juga sahabat dekat Renata."


"Hem, gue tidak perduli dia sahabat ataupun musuh gue! yang gue inginkan adalah gue dapatkan yang gue mau, dan gue mau kamu," ucap Indah dengan jelas membuat Doni terkesiap.


Doni tidak menduga kalau ternyata Indah punya pemikiran yang picik terhadap calon istrinya. Padahal Doni tahu sendiri kalau Renata begitu baik terhadap Indah. Namun Rupanya Indah malah kebalikannya tidak sebaik Renata, Doni menggeleng.


Indah berdiri berjalan maju mendekati Doni yang berdiri dekat dekat dinding. Tangannya memeluk tubuh Doni dari belakang menempelkan wajahnya di punggung Doni yang langsung menghindar.


"Cukup! pulang lah. Aku tak ingin melihat kamu lagi di sini. Sebentar lagi gue jadi suami Renata dan hubungan kita murni temenan, tidak lebih. kau juga harus ingat, kalau Renata sangat baik padamu. Jadi ... hargailah dia," jelas Doni.


Indah tersenyum sinis. "Hem, gue juga butuh bahagia--"


"Yang kau butuh itu kepuasan, bukan kebahagiaan. Aku tahu itu, wanita sepertimu cuma ingin kepuasan sesaat!" Doni memotong perkataan Indah yang menatap tajam ke arah dirinya.


"Baguslah kalau begitu, bukankah dirimu juga tak ubahnya seperti diriku? mencari kepuasan sesaat?" Indah mengusap dada Doni dengan nakal.

__ADS_1


Namun Doni segera menangkap tangan Indah yang menelusuri dada ke bawah bagian tubuhnya. "Ya, tapi itu dulu! sekarang aku sudah bertekad kalau aku akan menjadi laki-laki yang baik, suami yang baik buat Renata."


"Omong kosong!" timpal Indah dengan nada tidak percaya ....


__ADS_2