
Saat ini Fatma meminta ijin pada Arya untuk tidur di kamarnya Rania. Dan Arya pun mengijinkan dengan syarat! kalau suatu saat dia membutuhkan belaian harus segera mengindahkan.
Fatma pun setuju dengan syarat itu. Namun Fatma curiga serta memicingkan sebelah matanya. "Tetapi tidak di kamar Rania kan? kalau ada maunya?"
"Ha ha ha ... nggak, aku jemput kamu untuk balik ke kamar kita! masa di sana?" Arya tertawa lebar.
"Ya. Sudah! aku pergi dulu." Cuph! mengecup pipi Arya terlebih dahulu.
"Satu lagi?" Arya menunjuk pipi yang sebelah.
"Muach!" kecupan mesra mendarat di pipi sebelahnya.
"Satu lagi?" Arya lagi-lagi Arya menunjuk anggota tubuh yang lain.
"Iih, apa lagi sih?" Fatma menatap manja.
"Ayo?" Arya lagi-lagi menempelkan telunjuk di bibirnya yang belum dapat kecupan dari sang istri.
Fatma pun dengan malas mendekat dan mengecup singkat bibir sang suami.
"Gitu dong, kan mau pisah bobo jadi harus kasih bekal dulu." Arya menyeringai puas.
Fatma mencibirkan bibirnya lalu berjalan menjauhi Arya, namun geph! tangan Arya menangkap pinggang Fatma dibawanya ke dalam pelukan, rasanya berat bila harus tidur terpisah.
"Kenapa sih? aku tuh mau tidur di kamar Rania, bukan mau ke mana-mana lho." Fatma menatap heran.
"Iya, tahu. Tapi gak rela aja gitu, Aa ikut aja ah bobo di sana?" ucap Arya seraya memainkan alis matanya.
"Nggak-nggak, ah nanti malah ngapa-ngapain lagi. Bahaya kalau nanti." Fatma menggeleng.
"Ya, udah. Aa. Di sini saja, nanti kalau, Aa. kangen, Aa. jemput ke sana." Arya berucap lirih lalu mengecup kening Fatma dengan mesra.
Setelah itu barulah Fatma berjalan menuju pintu, meninggalkan Arya sendiri di kamarnya.
Langkah Fatma terus menuju kamar Rania dan di sana ada Dewi yang nemenin.
"Kakak, mau tidur di sini?" tanya Dewi setelah melihat Fatma memasuki kamar tersebut.
Langkah Fatma terhenti di tepi tempat tidur Rania dan menoleh ke arah Dewi. "Iya, sudah bangun lagi belum?" lantas melirik ke arah Rania.
"Em ... belum, kalau gitu. Dewi mau--"
"Jangan-jangan, Wi! Dewi tetap di sini saja, takutnya Kak Fatma bolak balik gitu." Fatma naik dan berbaring di dekat Rania.
__ADS_1
Dewi mengangguk lalu berbaring dan menarik selimut di sebelah Rania.
Waktu terus berputar dan rasanya begitu lambat. Begitupun yang di rasakan oleh Arya yang merasakan waktu begitu lambat sekali.
Baru pukul 22.00 dan dia belum bisa terpejam padahal besok pagi dia ada tugas, pukul delapan pagi harus sudah berangkat ke lokasi.
"Ck, susah amat buat terpejam!" gumam Arya sambil meraih laptopnya.
Namun pikirannya tidak bisa fokus pada laptop tersebut. Ia tutup kembali dan disimpan di atas nakas.
Turun dan membuat gerakan olahraga. "Huuh ... Huuh ..." Arya membuang napas yang teratur dalam melakukan push up.
Sampai keringat pun bercucuran. Lalu kembali naik ke atas tempat tidur, berbaring telentang menatap langit-langit.
Tik-tik-tik, tik-tik-tik. Suara detik jam dinding.
Netra mata Arya bergerak beralih pada jam tersebut yang terus berputar. Kemudian Arya mendudukkan bokongnya lalu bersandar di bahu tempat tidur.
Memejamkan mata lalu kembali membuka matanya. Menatap daun pintu kamar yang tertutup. Tempat tidur ini berasa sepi tanpa adanya sang istri, Fatma .
Heningh!
Suasana begitu sepi. Yang terdengar hanyalah suara denting jarum di dinding.
Arya menurunkan kakinya menapaki lantai dan berjalan tanpa tujuan keluar dari kamar tersebut.
Arya berdiri, melamun di sana dengan pandangan kosong ke depan. Lagi-lagi mengangkat tangan dengan niat mengetuk kembali.
Namun belum juga punggung jari Arya sampai di daun pintu. Pintu tersebut terbuka dan keluarlah Fatma yang langsung terkesiap dengan adanya Arya di depan pintu.
"Aa, ngapain di sini?" tanya Fatma sambil melangkah keluar lantas menutup pintunya.
"Eh, Aa it-itu." Arya gelagapan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
Fatma mengernyitkan keningnya melihat sang suami berada di sana. Menatap intens lalu mengedarkan pandangannya ke lain arah, kembali lagi melihat ke arah Arya.
"Sayang juga, mau ke mana? bukannya bobo sama rania?" selidik Arya sembari menunjuk ke dalam.
"Em, aku mau ke kamar kita. Kenapa?"
"Ya udah, kita ke sana!" Arya menarik tangan Fatma yang mesem-mesem melihat ke arah Arya.
"Kenapa mesem aja? apa ada yang lucu?" tanya Arya sambil terus mengayunkan langkahnya menuju kamarnya yang baru saja ia tinggalkan.
__ADS_1
"Nggak, gak ada yang lucu kok." Fatma menggeleng pelan.
"Oya, Rania bobo sama siapa sekarang?" Arya melirik sang istri.
"Oh, ada Dewi kok." Fatma singkat lalu tangannya bergelayut mesra di tangan bagian atas Arya.
Cklek.
Handle pintu Arya dorong ke dalam, setelah menguncinya Arya langsung menggendong tubuh Fatma ala bridal style dibawanya ke atas tempat tidur.
Fatma hanya menatap wajah tampan suaminya yang tampak menginginkan sesuatu itu. Bibir Fatma terus tersenyum.
"Kenapa belum bobo?" suara Fatma pelan.
"Belum ngantuk gimana? gak bisa tidur. Kamar rasanya sepi banget tanpa permaisuri, Aa ini." Arya menyeringai penuh arti.
"Hem ... ceritanya kangen nih?" goda Fatma sembari mesem.
"Banget. Kangen banget sayang," suara Arya semakin berat seolah menahan sesuatu.
Fatma berusaha beranjak dari kungkungan Arya. "Aku mau ke toilet dulu ya? kan tadi aku niatnya mau ke toilet. Makanya keluar dari kamar Rania."
Arya menggelengkan kepalanya. "Nggak-nggak itu bohong. Sayang bohong."
Arya mendorong bahu Fatma sampai terlentang lagi di bawahnya.
"Beneran, A ... gak bohong," ungkap Fatma dengan bibir tetap memperlihatkan sebuah senyuman yang indah.
"Bohong ah, Aa gak percaya! sayang paling mau ngerjain, Aa. Saja kan? tahu Aku." Arya kekeh dan memulai traveling di tempat-tempat yang menjadi favoritnya.
"Beneran!" suara Fatma nyaris tak terdengar. Tertutup oleh sebuah benda yang menutup mulutnya.
"Suttttt ... jangan bicara lagi, Aa gak mau dengar apapun!" bisik Arya sembari menempelkan jari telunjuknya di bibir Fatma yang lembut.
Fatma hanya memandangi dan pasrah dengan perjalanan Arya yang siap meluncur dengan pendakian yang tampak sudah siap tersebut.
Arya menikmati perjalanannya, dalam menjelajah perbukitan dan perhutanan yang dalam namun dangkal tanpa satupun binatang buas yang selalu bikin orang diselimuti oleh rasa was-was.
Yang jadi tempat tujuan yaitu tiada lain dan tiada bukan, adalah gua indah yang selalu bikin jantungnya beradu adrenalin.
Senam jantung. Seakan mau melompat dari suatu ketinggian. Namun setelah itu akan merasa lega dan puas, puas lahir maupun batin. Kepala yang terasa berat pun akan mendadak terasa ringan ....
.
__ADS_1
.
Terima kasih pada reader ku semua yang sampai episd ini masih setia🙏