
Arya sudah merasa lelah, lalu memilih menyudahi penetrasi nya, walaupun pengen dan pengen seolah tak ada kepuasan untuk itu. Sungguh kegiatan itu menjadi candu dan penyemangat dalam kesehariannya.
Arya menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri yang menatapnya dan senyuman yang merekah dari bibirnya. Sungguh hatinya bahagia telah mendapat kepuasan yang seutuhnya dari Arya.
Napas keduanya terdengar masih memburu. Wajah Fatma mendekat mencium pipi sang suami setelah Arya mengecup lama keningnya sebagai tanda ucapan terima kasih.
"Terima kasih juga sayang? aku bahagia sekali," bisik Fatma lantas memberi gigitan kecil di kuping Arya. Membuat Arya merasakan sensasi yang aneh.
Membuat Fatma tersenyum melihat reaksi Arya, dengan nakalnya Fatma semakin melancarkan aksinya kali ini.
Sentuhan Fatma bergerak ke area tengkuk dan titik sensitif Arya di bagian dadanya.
"Akh ..." kemudian membuka matanya dan melirik ke arah sang istri menatap dengan mesra, merangkul bahu Fatma yang terbuka, membuat Fatma mendongak.
"Mau pulang atau mau menginap di sini hem?" tanya Arya dengan lirih.
"Mau sih menginap di sini, tapi Rania pasti nyari kita." Balas Fatma sembari menempelkan pipinya di dada bidang sang suami.
"Hem ... terus gimana?" lirihnya lagi seraya mengeratkan pelukannya, mata terpejam merasakan rasa kantuk sehabis bercinta barusan.
"Sekarang, kita mandi lalu pulang. Tapi ... kita makan dulu ya?" ucap Fatma sembari bangun, menjepit selimut di bawah ketiak.
Lalu turun menapaki lantai, namun tangannya Arya tarik sehingga Fatma terjerembab dan bibirnya menyentuh bibir Arya.
"Eumm ..." tangan Arya malah memegang kepala Fatma agar tidak segera beranjak.
Setelah sesaat menikmati pertemuannya benda lembab itu, Fatma beranjak menekan dada Arya. "Kapan aku bisa mandi, kalau kaya gini terus?"
Fatma pun segera meraih bajunya yang berada di sebelah. Arya merangkul tubuh sang istri. Hingga menghambat pergerakan Fatma yang hendak mengenakan pakaiannya.
"Lepas dong ... aku mau mandi. Oya apa mau kamu duluan? nanti keburu malam." Fatma mencoba melepaskan pelukan suaminya.
"Em ... iya, tapi masih kangen. Berasa pengen lagi." Suara Arya Pelan penuh hasrat.
"Aku mau mandi," ucap Fatma seraya melirik.
"Nggak mau! pengen satu kali lagi." Bisik nya Arya.
Namun Fatma menggeleng pelan. "Yu, mandi dulu!" Fatma beranjak.
"Sekali lagi ya?" pinta Arya sambil mesem-mesem sendiri.
Fatma melanjutkan langkahnya memasuki kamar mandinya. Berjalan membawa langkah kaki yang gemulai, lalu menghilang di balik pintu itu.
Arya menatap dengan sedikit kecewa yang yang inginnya mau mengulang sekali lagi malah si tolak oleh sang istri.
Lanjut, Arya mengibaskan selimutnya mengambil celana pendeknya dari atas tempat tidur. Buru-buru masuk menyusul sang istri dengan alasan pengen kencing yang tidak bisa di tahan lagi.
Fatma menoleh ke arah pintu, dimana sang suami bergegas masuk ke toilet.
"Kenapa? aku belum selesai deh." Fatma bergumam.
Arya cuma menoleh sekilas. Tanpa membalas omongan dari Fatma. Lalu mendekati, berjalan dari toilet ke arah bathub.
Tangannya menyimbah kan air ke tubuh Fatma yang bengong. Melihat dirinya, bibirnya mesem-mesem melihat yang menggantung tapi bukan ayunan dan bergerak terbang tapi bukan burung.
Arya duduk bibir bathub sambil memainkan air yang ada di bathub tersebut.
Setelah keduanya membersihkan diri. Langsung berdandan dan bersiap pulang ke mension, namun sebelum pulang. Mereka memilih mampir dulu ke restoran untuk makan malam, perut sudah pada keroncongan.
"Kenapa?" tanya Arya sembari menyetir. Melihat Fatma yang senyum-senyum melihat layar ponselnya.
"Hem ... ini, Rania beberapa kali memanggil dan mengirim chat. Menanyakan di mana? kapan pulang? katanya." Jawab Fatma sembari tersenyum ke arah Arya.
Arya pun menunjukan senyum nya. "Itu pasti sayang. Anak itu pasti mencari mamanya, yu turun? kita sudah sampai."
Setelah sampai di depan sebuah restoran. Mobil menepi dan Arya pun turun lantas menjemput sang istri yang menatap ke arah restoran mahal tersebut.
"Yu?" Arya menyodorkan tangan kanannya lantas Fatma sambut Punuh rasa suka cita.
"Mau makan di sini?" gumam Fatma matanya bergerak melihat ke arah Arya dan gedung tersebut bergantian.
"Bukan, kita mau tidur di sini! ha ha ha ..." Arya malah tergelak.
"Ih, dasar." Fatma mesem dan menggeleng.
Arya menuntun Fatma memasuki gedung tersebut melintasi orang-orang yang berlalu-lalang.
Keduanya duduk di salah satu meja yang agak sepi. "Mau pesan apa sayang?"
"Kamu mau pesan apa?" Fatma malah balik bertanya.
"Em ... aku mau bistik daging. Sayang mau salad ayam?" tanya Arya menoleh ke arah Fatma setelah melihat menu.
"Mau, boleh. Minumnya jus melon." Tambah Fatma.
"Saya pesan bistik daging satu, salad ayam satu, minumannya ... jus melon dua, terus makanan penutupnya juga. Dissert." Pinta Arya kepada pelayan restoran.
"Baik, Tuan. Mohon menunggu?" pelayan pun berlalu meninggalkan Arya dan Fatma.
__ADS_1
"Hi ... Kau ada di sini juga?" sapa Zayn yang baru datang di tempat tersebut.
Arya dan Fatma serempak menoleh ke arah Zayn dan istrinya yang masih berdiri.
"Eh, kau Zayn? apa kabar?" Fatma berdiri dan Arya menyalami Zayn dan Susi.
"Baik," balas Susi dengan senyuman yang ramah terhadap Fatma.
"Gimana kabar sebaliknya? lama ya kita tidak bertemu. Kak Fatma tambah cantik saja, tidak seperti aku yang masih seperti ini saja!" ucap Susi dengan menatap penampilan Fatma lalu melihat ke arah dirinya.
"Ya ampun ... kamu juga cantik sangat, masih muda lagi. Apalagi kamu ini masih segar belum turun mesin." Fatma tersenyum, kemudian melirik ke arah Zayn yang berbincang dengan Arya.
"Justru Kak, pengen cepat punya anak. Tapi kok susah ya?" sambung Susi kembali dengan raut wajah nya yang berubah sedih.
"Jangan sedih. Mungkin belum waktunya,'' lirih Fatma mengusap punggung nya Susi.
"Oya, kalian mau makan juga kan? silakan duduk? gabung sama kita saja!" Arya menyilakan Zayn beserta istri duduk bergabung dengannya.
"Terima kasih?" Zayn duduk di hadapan Arya dan Fatma.
"Em ... program gak Sus?" tanya Fatma dengan pandangan yang tertuju ke arah Susi.
Susi melirik ke arah suaminya. "Apa program?"
"Program kehamilan Markonah ... hadeh ... masa program pendidikan kan tadi yang dibicarakan adalah momongan." Zayn menggeleng.
Arya dan Fatma mesem-mesem merasa lucu mendengar ucapan dari Zayn.
"Kan aku gak tahu, program apa! seharusnya Kak Fatma bilang itu program kehamilan. Kan aku gak bertanya." Susi mengerucutkan bibirnya.
"Iya, program kehamilan." Fatma mengangguk.
"Nggak. Tapi kata dokter sehat kok?" sahut Susi.
"Siapa yang sehat? kamu atau zayn?" selidik Fatma.
"Kedua-duanya, Kak--"
"Kamu sih kalau saya ajak bikin suka ogah-ogahan." Timpal Zayn memotong perkataan Susi.
Susi melotot. "Dasar Zaylangkung. Ngomongnya gak di saring." Susi menunjuk Zayn yang memesan makan malamnya.
"Ha ha ha ... makanya Susi kalau di ajak harus mau! jadinya gak mau berbuah deh," ungkap Arya sambil tertawa.
"Tuh dengerin, kata Abang Arya." Zayn menoleh ke arah sang istri.
Susi mendelikkan matanya pada Zayn dengan sangat sempurna. Bibirnya komat-kamit entah bergumam apa!
"Kak, waktu dulu lama gak sih nunggu momongan yang pertama?" tanya Susi menatap lekat ke arah Fatma.
"Dulu, cuma beberapa bulan saja. Langsung jadi." Akunya Fatma sembari menarik piringnya.
"Ooh, gitu ya? aku lama ih, sudah tidak sabar ingin punya momongan." Gumamnya Susi, tangannya mengusap perutnya yang rata itu.
"Sabar saja, nanti juga akan dapat bila sudah waktunya." Fatma menguatkan Susi.
"Iya, Kak. Sabar kok aku juga," lirih Susi yang kini mulai makan, setelah pesanannya datang.
"Nanti sepulang dari sini, kita bikin ya?" Zayn memainkan matanya pada Susi.
Susi terbatuk-batuk. Ohok, ohok-ohok. Zayn segera memberikan minumnya.
"Kau itu bisa gak pelan-pelan maknanya ha?" Zayn menggeleng.
"Kau yang bikin aku terbatuk-batuk, dasar mulutnya asal nyablak saja." gerutu Susi.
"Lho, emangnya aku bicara apa? cuma bilang! bikin, kan bisa bikin itu bikin apa gitu? kue atau apa kan bisa. Pikiran kau saja yang ngeres. Dasar Markonah." Lagi-lagi Zayn menggeleng sambil memasukan sendok ke mulutnya.
Arya dan Fatma hanya saling pandang dengan senyuman yang selalu merekah.
Selesai makan, Arya dan Fatma beranjak duluan dan pamit pulang. Kasihan Rania sudah bolak-balik nelpon dari nomor asisten rumah.
"Saya pulang lebih dulu, kasihan Rania di rumah." Fatma meraih tas nya.
"Selamat menikmati makan malamnya!" sambung Arya yang juga beranjak.
"Ya ... saya ditinggal, Oya besok berangkat jam berapa ngantor?" Tanya Zayn kepada Fatma.
"Pagi-pagi lah." Fatma dengan cepat.
"Eh, maksud saya ke luar Kota nya?" ralat Zayn.
"Besok ngantor dulu, kita bicarakan di sana. Sekarang say terburu-buru." Fatma segera meninggalkan tempat tersebut.
"Yu, kami duluan. Oya, yang rajin ya? tanam benihnya? biar cepat berbuah." Canda Arya sambil pergi.
"Ha? benih apaan?" Susi tidak mengerti dengan maksud Arya.
"Benih kita, Markonah ... ck." Kata Zayn di sela-sela makannya.
__ADS_1
"Oo!" Susi singkat.
Arya menuntun tangan Fatma dengan mesra, berjalan mendekati mobil.
"Emang mereka sudah lama menikahnya?" selidik Arya melirik ke arah sang istri.
"Mungkin setahun, entahlah." Fatma menggeleng. Dia juga kurang tahu yang jelasnya.
"Em ... gitu ya?" Arya membukakan pintu untuk Fatma.
Lalu Arya mengitari mobil untuk menuju tujuannya yaitu belakang kemudi.
Selang beberapa puluh menit kemudian mereka tiba di halaman mension, di sambut oleh Dewi.
Suasana Mension tampak sepi, lampu-lampu pun sudah sebagian mati. Dan penghuninya sudah sebagian terlelap.
"Kak, Fatma. Rania tadi ngamuk, menunggu Mama dan papa nya pulang." Kata Dewi berdiri di depan pintu.
"Oya, sekarang mana Rania nya?" tanya Fatma.
"Sekarang, baru saja bobo!" sahut Dewi sembari mengunci pintu utama.
"Ooh, ya udah. Kak Fatma ke sana dulu ya?" Fatma langsung menaiki anak tangga menuju lantai atas hendak melihat sang putri kecilnya yang sudah tidur.
"Dewi, kau tidur saja, sudah malam!" titah Arya pada sang adik, Dewi.
"Oh, iya Kak!" Dewi mengangguk, lalu pergi membawa langkahnya ke kamar atas.
Setelah Dewi pergi, Arya pun membawa langkahnya ke lantai atas menyusul sang istri.
Fatma kini duduk di samping Rania yang meringkuk. Ia usap kepalanya dan mencium hangat keningnya. Rania yang terlelap tapi masih tersisa isak nya bekas nangis tadi.
"Sayang, kok nangis sih? kan Mama sama papa pasti pulang kok, Mama sayang Rania. Jangan rewel dan jangan manja ya? apalagi kalau mau punya adek. Rania harus lebih dewasa." Gumamnya Fatma, berkali-kali mendaratkan kecupan mesra di pipi Rania.
Tangannya terus mengusap kepala Rania dengan sangat lembut.
Terdengar derap langkah kaki menuju pintu kamar tersebut. Mata Fatma tertuju pada daun pintu. Lalu tampak Arya yang membuka pintu dan lalu berjalan mendekati sang istri.
"Masih bobo? hem ... sisa-sisa nangisnya masih tersisa." Arya mengecup kening anak itu.
"Besok pagi, Rania pasti ngomel-ngomel deh." Lirih Fatma yang kini memeluk anak itu.
"Nggak pa-pa kita dengar saja, kan salah kita yang bilangnya cuma sebentar. Tapi kenyataan lama." Arya mengakui kesalahannya.
Fatma terdiam, lalu bangun membenarkan selimut Rania. Turun dengan merapikan pakaiannya.
"Yang, yu? tidur, aku harus bangun pagi-pagi." Fatma mengayunkan langkahnya, di susul oleh Arya setelah mencium kening Rania.
Kini Arya dan fatma sudah bersiap untuk tidur. Namun Arya malah tiduran di pangkuan sang istri dengan nyamannya.
"Jadinya gimana?" tanya Fatma sembari membelai rambut Arya.
"Gimana apanya?" Arya bertanya balik dan menghadapkan wajahnya ke arah wajah sang istri.
"Besok, mau ikut atau tidak?" sambung Fatma.
"Em ... gimana besok aja, lihat situasi dan kondisi aja. Kalau Rania mau, ya ikut. Kalau nggak ya Aa gak ikut juga ya?" Arya bangun duduk di samping Fatma.
"Ooh, ya udah gak pa-pa!" Fatma menarik selimut dan menutupi tubuh sampai menutupi dadanya.
Begitupun Arya berbaring, memeluk sang istri dengan sangat erat. "Met bobo sayang!"
"Hem ... met bobo juga sayang ku,"
Tidak butuh waktu yang lama untuk terpejam, sebab kantuk pun langsung menghampiri keduanya.
Keesokan harinya benar saja. Pagi-pagi buta Rania sudah datang ke kamar Fatma yang baru saja selesai salat bareng dengan Arya.
"Papa, Mama? jahat banget, Rania gak di ajak perginya lama! Rania mau ikut tahu. Rania nangis lho, Papa jahat. Mama juga." Rania mendekati keduanya.
"Maaf sayang, papa ada urusan dulu, kan? sama Mama. Gak bisa ajak Rania." Arya memeluk anak itu.
"Tapi, kan katanya sebentar. Tapi lama, Papa bohong? Mama juga bohong." Tambah Rania.
"Iya, Papa dan mama minta maaf ya? mau kan maafin Papa dan mama?" lirih Arya.
Fatma yang duduk di sofa hanya memperhatikan putri dan sang suaminya.
"Nggak mau, pokoknya Rania mau ikut, gak mau ditinggal lagi." Rania kekeh, mata beningnya begitu lekat menatap ke arah Arya.
"Lho ... kok gitu sih? kalau ada yang meminta maaf itu harus di maafkan sayang." Arya mengelus pipi Rania dengan lembut.
"Habis Papa dan mama jahat sama Rania. Nggak ngajak-ngajak Rania pergi." Rania menggelembung kan kedua pipinya, tangan dilipat di depan.
"Em ... hari ini, mama mau ke luar kota mau ikut gak? sama Papa juga." Arya mengajak anak itu duduk di sebelah Fatma.
Rania menoleh ke arah sang mama. "Bener Mam?" yang langsung mendapat anggukan dari Fatma.
"Mau, tapi hari ini Rania ulangan." Raut wajahnya Rania menjadi sedih ....
__ADS_1
****
Terima kasih ya reader ku masih mengikuti Arya dan Fatma.🙏