
Setibanya di kamar hotel. Arya dan Rania langsung membereskan yang mereka beli. Dan Rania memisahkan makanan kesukaannya.
"Oma, pilih saja yang Oma suka. lihat nah ... Rania belanja buanyak nih." Kata Rania yang ditujukan pada Bu Wati.
"Waw ... banyak sekali. Rania mau makan semua ya?" Bu Wati Melihat makanan yang begitu banyak.
"Nggak, tapi kan ada kesukaan, mama. Papa juga." Anak itu menoleh ke arah Arya.
Arya tersenyum melihat Rania yang berceloteh. Mengenai belanjaannya.
"Jadi bukan makanan buat Rania seorang. Tetapi untuk semuanya, Oma." Tambah Rania.
"Iya, Rania kan anak pinter. Tidak memikirkan diri sendiri ya?" Bu Wati mengangguk sambil mengambil biskuit dan memakannya.
"Ah ... Rania mau main sama boneka sambil makan ini." Rania mengambil beberapa bungkus makanan. Di bawanya ke balkon dan juga membawa boneka kesayangannya.
"Anak itu pintar, semua yang di sebutkan mamanya tadi itu dia hapal sang langsung ambil saja. Tanpa menanyakan sekalipun sama Aa. Bu, Yah!" ucap Arya pada kedua mertuanya.
"Oya, hem ... anak itu ya! semakin cerdas." Pak Wijaya merasa bangga.
Bu Wati menikmati cemilannya sambil bersiap-siap. Karena sebentar lagi akan berangkat kembali.
Pak Wijaya menoleh ke arah jam tangan yang ada di tangannya. "Kita berangkat saja sekarang? biar leluasa."
"Yu, Aa. Ibu dan ayah pergi dulu ya? titip Fatma dan Rania juga calon baby Fatma ya?" harap Bu Wati.
"Iya, Bu. Insya Allah, aku akan menjaga mereka semampu ku. Ibu dan Ayah jangan khawatir," ucap Arya sambil merubah posisi duduknya.
"Ayah percaya pada, Aa. Dan itu membuat kami tenang bila meninggalkan Fatma dan Rania." Kata pak Wijaya menghela napas lega.
"Iya, kita percaya sama, Aa. kalau Aa akan menjaga mereka." Timpal Bu Wati kembali.
Arya hanya tersenyum ke arah keduanya. Lantas mencium tangan Bu Wati dan pak Wijaya bergantian.
Kemudian memanggil Rania agar bersalaman dulu dengan Oma dan opa nya. "Sayang, Rania? Oma dan opa mau pergi nih. Salam dulu."
Rania menoleh, kemudian menghampiri. setengah berlari lantas memeluk Omanya. "Oma, cepat kembali ya?"
"Iya, sayang! doakan saja ya? semoga kita cepat bertemu kembali ya? Oma akan merindukan mu." Bu Wati membalas pelukan Rania.
"Rania juga, rindu Oma. Opa." Gumamnya lagi.
Kini pak Wijaya yang memeluk Rania. "Maafkan Opa? yang kemarin itu cuma gurau."
"Iya. Opa," ucap Rania sambil mengangguk.
Setelah itu, Arya dan Rania mengantar pak Wijaya dan Bu Wati sampai ke lobby saja. Kemudian Arya dan si gadis kecil kembali ke kamar hotel.
__ADS_1
"Pah. Rania mau berenang!" rengek Rania memeluk bahu Arya yang sedang duduk mengahadapi laptopnya.
"Boleh, tapi bajunya kaos aja ya?" Arya menoleh ke Rania.
"Iya, boleh-boleh. Ayo?" Rania menarik tangan Arya.
"Sebentar dong, Nak ... Papa mau tutup laptopnya. Sebentar!"
Arya menutup laptop, lalu berdiri merapikan kaos nya. Lalu menuntun Rania untuk ke kolam renang.
"Wah ... besar dan gak terlalu banyak orang." Mulut Rania menganga melihat kolam renangnya yang luas.
Dan kebetulan suasana tidak terlalu ramai. "Yu kita cari yang gak terlalu dalam."
Rania Arya ajak berjalan mengitari pinggiran kolam. Berbaur dengan yang lain.
Setelah mendapatkan tempat yang tepat. Rania pun turun bermain air.
"Jangan jauh-jauh ya? Papa tunggu di sini!" Arya memilih tempat duduk yang tidak jauh dari Rania.
Matanya terus memperhatikan kalau gerak geriknya yang berada di kolam renang.
Tidak sedikitpun gerak nya Rania luput dari pandangan Arya, ia khawatir kalau Rania kenapa-napa. Sebagai papa yang baik, Arya akan berusaha keras untuk menjaga putri sambungnya itu.
"Sayang awas. Jangan jauh-jauh, balik lagi sini?" pinta Arya ketika melihat Rania agak jauh sedikit saja langsung beraksi.
"Iya," Rania langsung kembali ke tepi dan mendekati sang papa yang kin berjongkok di bibir kolam.
"Papa, kok banyak aunty yang pandangi Papa sih?" gumam Rania sambil mengedarkan pandangannya ke sekitaran.
"Nggak tau sayang. Biar saja, gak kenal juga." Arya tersenyum pada Rania yang mulai naik.
"Pulang yu Pah? Rania dah capek nih. Haus juga." Gumam Rania.
"Ya ... gak bawa minum, ya sudah. Pulang yu?" Arya menuntun tangan Rania kembali diajaknya pulang.
Keduanya berjalan menuju kamar hotelnya Fatma, Rania yang basah kuyup terus berjalan sambil tak henti-hentinya berceloteh.
Apa saja jadi bahan cerita nya. Sampai-sampai Arya kewalahan untuk menyahut dan pada akhirnya Arya hanya mengangguk.
"Sekarang. Rania mandi yang bersih, bisa kan?" tanya Arya ada Rania yang kedinginan dan bibirnya bergetar.
"Bi-bi-bisa. Papa, Rania bisa sendiri kok," sahut Rania sambil berlari ke kamar mandi.
Fatma yang balik cepat, mampir dulu membeli buat makan siang bersama suami dan putrinya. Dia tahu kalau ayah dan ibunya sudah terbang kembali ke Belanda.
Jadi kini mereka tinggal bertiga saja di kamar hotel. "Oh. Sorry. I'm going to go buy some food for lunch at the restaurant in front?" ucap Fatma pada supir taksi yang Fatma tumpangi tersebut.
__ADS_1
Dan supir tersebut pun langsung merespon dengan anggukan. Kemudian taksi itu meluncur ke tempat yang menjadi tujuan Fatma.
Setibanya di depan sebuah restoran masakan indo cepat saji. Fatma langsung masing dan memesan makanan buat bertiga dan dengan cepat Fatma dilayani dengan ramah. Dalam beberapa menit pesanan Fatma pun sudah siap.
Sesudah membayar, Fatma bergegas membawa pesanan tersebut. Menuju taksinya ya dengan setia menunggu.
"Thank you. Sorry, you were made to wait," ucap Fatma sambil mengangguk. Lalu masuk ke dalam taksi tersebut.
"Oh, well, until then, ma 'am." Balasnya pria itu dan bersiap untuk melajukan taksi nya.
Setibanya di kamar hotel, Fatma mendapati Arya sedang duduk memunggungi pintu, menonton televisi. Dan Rania anteng main boneka.
Rania tampak segar, seperti baru selesai mandi. Ketara bedaknya masih menempel di pipi dan kening.
Fatma menutup pintu dengan sangat pelan. Dan berjalan mengendap-endap mendekati Arya, setelah berada tepat di belakangnya, tangan Fatma memeluk Arya dari belakang.
Namun Arya tidak kaget sama sekali sebab apa? dia sudah mencium bau parfum Fatma yang menyengat hidung. Jadi tentunya dia tidak kaget lagi ketika tiba-tiba ada yang memeluk dirinya dari belakang.
"Kok, gak kaget sih? ah ... gak asik nih, orang mau bikin kejutan juga. Malah biasa aja! kaget kek?" ucap Fatma dengan nada manja, lalu mengitari sofa untuk duduk di samping nya sang suami.
"Ha ha ha ... gimana mau kaget sayang? bau parfum mu sudah tercium dari masuk pula, ya ketahuan." Cuph! Arya langsung menyambutnya dengan kecupan hangat di kening.
"Iih, pengennya bikin kaget gitu, tapi nggak. Nggak seru ah." Fatma memeluk leher Arya dan memberi kecupan di pipi kanan dan kiri juga kening.
"Yang halus dong ngagetin nya. Ha ha ha ..." tangan Arya membalas pelukan sang istri sangat erat.
Rania menoleh ke arah mama yang sedang pelukan dengan papanya. "Mam, Rania barusan habis berenang lho."
Fatma melepas pelukannya seiring menoleh ke arah si gadis kecil menghampiri. "Berenang di mana sayang? di kolam renang? aman kan?"
"Aman kok, Rania sama Papa yang nemenin di atas. Rania baik-baik saja nih." Anak itu melihat tubuhnya yang baik-baik saja.
Fatma senyum simpul melihat tingkahnya Rania tersebut. "Mama bawakan buat makan siang ... kalian berdua pasti lapar kan?"
"Hore ... oya, Mam. Rania lapar padahal sudah banyak makan jajanan. Dari Rania ngemil terus kan Pah?" Rania menoleh ke arah Arya.
"Nggak, pa-pa. Yang penting Rania sehat-sehat kok," Arya mengangguk. Namun mendukung kalau Rania banyak makan juga.
"Kalau gitu kita makan yu?" Fatma mengambil makanan yang tadi ia simpan di belakang sofa.
"Em ... cuci tangan dulu sebelum makan. Atau menggunakan tisu basah ya?" Arya mengambil tisu basah yang sudah tersedia di meja.
Rania pun mengambil tisu basah lalu mengusap tangan dan mulutnya. "Waaaw ... masakan Indonesia, aku suka, aku suka!"
Lanjut ketiganya menyantap makan siangnya dengan sangat lahap sekali ....
.
__ADS_1
.
Di daerah ku sedang musim hujan nih. Di tempat kalian sedang musim apa nih?