
"Baiknya kita lebih waspada lagi dan tentunya kita harus banyak berdoa juga, agar kita semua terjaga dan selamat," ucap Wisnu dengan tegas.
"Dan satu lagi tambahan dari saya, kita harus berusaha membuat penumpang nyaman dan tenang. Agar tidak menimbulkan rasa trauma bagi penumpang." Tambah Arya.
Semua mengangguk mengerti. Dan kembali pada tugasnya masing-masing, Arya dan Wisnu mengecek semua peralatan sebelum bersiap mengepakkan sayapnya. Membawa mereka pulang ke kota Jakarta.
Pada sekitar pukul 20.00 wib, di burung besi mulai naik dan dan naik sehingga akhirnya melayang di udara bagaikan tanpa beban.
Melayang melintasi beberapa puluh ribu kaki dari permukaan daratan dan lautan yang membentang luas. Arya dan pilot lainnya sangat fokus dengan tugasnya. Dan terus berdoa semoga yang maha pemilik dari segala yang ada di dunia ini melindungi.
Cuaca pun kebetulan sangat mendukung dan dalam beberapa waktu kemudian, pesawat semakin mendekati titik tujuan yaitu bandara Halim perdana.
1 2 3 4 5 Akhirnya badan pesawat landing turun menapaki permukaan bandara.
"Alhamdulillah ... Allahuakbar!" Gumamnya Arya dan pilot lainnya. Setelah pesawat berhenti di titik yang seharusnya.
"Subhanallah. Walhamdulillah," ucap Arya sembari menghela napas lega.
"Akhirnya. Alhamdulillah ... kita mendarat dengan selamat," ungkap Wisnu.
"Iya, Alhamdulillah, kapten masih ada tugas ya hari esok?" ucap Arya sembari membuka topinya.
"Sorry, ya paling bisa ke Bandung hari H nya saja?"
"Iya Tidak apa-apa, lagian hanya acara keluarga dan bukan acara khusus aku." Arya tersenyum dan menepuk bahu Wisnu.
"Walaupun bukan acara pribadi kamu, tapi tapi kita pasti datang kok. Oke kita jalan!"
Kemudian mereka berjalan tuk menjalankan tugasnya yang belum selesai ini. Malam semakin beranjak dan semua kru masih berada di kantor, dan baru berangsur pulang sekitar pukul 00.00 wib.
Semua pulang dengan kendaraannya masing-masing. Begitupun Arya dengan rasa lelah dan penat mengendari sepeda motornya membelah jalanan dalam suasana malam untuk menuju pulang.
Brak-brak-brak gubrak ....
Cekit .... motor Arya ngerem mendadak dengan jantung yang hampir melompat dari tempatnya, akibat berhadapan dengan motor tergelincir menabrak badan jalan sehingga menjatuhkan dua penumpangnya terpental jauh.
"Astagfirullah ... ya Allah." Arya langsung menepikan motornya, dan bergegas turun untuk menghampiri kedua korban yang terdengar pilu merintih kesakitan.
Langkah Arya setengah melompat dan mengangkat salah satu pria yang melenguh dan merintih. Sementara yang satu lagi tergeletak tak bergerak.
Lalu ada beberapa orang menghampiri dan membantu. Arya dengan cepat memanggil nomor darurat. Dan tidak lama kemudian mobil polisi dan ambulance datang ke TKP lalu membawa kedua korban. ke Rumah sakit.
__ADS_1
Arya pun dimintai keterangan sebagai saksi mata kejadian itu. Dan Arya menjawab seadanya kalau yang dia lihat cuma pas kejadian saja, ketika motor sudah terjatuh dan dan hampir saja kena tabrak oleh motor miliknya.
Setalah itu, Arya kembali menaiki si kuda besinya. Yang tadi ia tinggalkan, ia melakukannya dengan penuh kehati-hati'an setelahnya mengenakan helm pelindung kepalanya.
Setibanya di apartemen, Arya tidak memperdulikan apapun. Setelah membuka baju tugasnya ia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang ukuran king size itu.
Saking merasa lelah dan capek yang di inginkan saat ini hanyalah beristirahat melepas penat. Tubuhnya terasa pegal dan kaku.
"Aduh ... enak kali ya kalau dipijat relaksasi." Gumamnya. Sebelum memejamkan mata, setelah menguap pun sudah ia lepaskan berkaki kali.
Sekitar dua jam kemudian, Arya sudah terbangun dengan suara adzan subuh yang mengalun indah membangunkannya tidurnya.
Perlahan membuka matanya sedikit demi sedikit dan ternyata ia tidur tak berselimut pun. Sejenak duduk dan mengumpulkan kesadarannya, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
"Alhamdulillah ... Allah masih memberi aku kehidupan." Gumamnya Arya.
Lalu turun menapakkan kakinya ke lantai mendekati kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum menunaikan kewajibannya di waktu ini.
Selepas menunaikan kewajibannya, Arya tidak lupa memanjatkan doa agar Allah senantiasa melancarkan setiap urusannya. Kemudian ke dapur untuk membuat sarapan, lalu seperti biasa membereskan semua barang yang semalam belum ia bongkar dari bag nya.
Sesudah sarapan, Arya mulai beraktivitas membersihkan semua ruangan kemudian mencuci semau pakaian kotor. Apalagi beberapa hari ini ia akan berada Bandung, ya itung-itung liburan juga.
Sekitar pukul tujuh pagi ponsel Arya berbunyi dan bibir Arya langsung senyum-senyum sendiri melihat nama kontak yang tertera di layar ponsel.
"Kamu dimana?" suara Fatma di ujung telepon.
"Di hatimu." Singkat Arya.
"Ya sudah, maaf sudah ganggu!" Tut ... Tut ... Tut ....
"Lho, kok dimatikan sih?" Arya kebingungan.
Lalu Arya menelpon balik yang langsung diterima. "Kok, dimatikan?"
"Takut mengganggu." Lirih orang yang di sebrang.
"Nggak kok, aku sudah di apartemen. Baru selesai nyuci!"
"Nyuci, emang gak di laundry?" tanya Fatma terdengar heran.
"Nggak, jarang. Aku sering nyuci sendiri dan nyetrika sendiri. Kenapa?" tanya balik Arya kembali.
__ADS_1
"Em ... nggak! Oya, jadinya kapan berangkat ke Bandung nya? Em, maksud aku pengen jelas sana, kapan-kapannya?
"Ooh, apa calon istriku sudah siap ngantor? atau Rania dah siap sekolah?" tanya Arya sambil berjalan mendekati jendela kaca yang besar berdiri di sana sambil memandang lepas keluar.
"Justru itu, kami belum siap apa-apa, makanya nanya." Jawab Fatma.
Sekilas Arya melihat jam tangannya. "Sudah jam tujuh sayang ... apa gak akan kesiangan kalau rania mau sekolah?"
Hening!
"Papa, kapan datang nya? jadi gak berangkatnya nih? Rania gak sekolah juga, katanya mau pagi berangkatnya? jadi Rania gak sekolah nih?" suara Rania terdengar tampak jenuh.
"Iya, sayang. Sebentar lagi Papa ke sana ya? tunggu! sabar ya? Papa mau siap-siap dulu." Jawaban dara Arya membuat yang di sebrang sana bersorak senang.
"Hore ... Mama. Jadi berangkat sekarang, papanya mau siap-siap dulu," itu yang terdengar oleh telinga Arya lalu sambungan telepon terputus.
Lagi-lagi Arya menyunggingkan bibirnya tersenyum senang. Kemudian merapikan pakaian yang akan dia bawa dimasukan nya ke dalam bag kecil.
Meraih topi kesayangannya, yang dari Fatma waktu itu. Setelah sekiranya tak ada yang tertinggal, Arya melangkah dan menarik bag nya keluar unit apartemen.
Langkah Arya terus berjalan mendekati pintu lift. Lalu menekan tombol open dan tidak lama kemudian pintu terbuka seiring keluarnya orang yang menggunakan lift tersebut.
Setibanya di parkiran, Arya langsung membawa motornya keluar gedung dan di sana bertemu dengan Sultan yang membonceng Sofi.
"Jadi juga nih anak membawa Sofi?" gumamnya Arya dalam hati dengan sorot mata tertuju pada Sultan dan Sofi.
"Hi, bro?" Sultan mengangkat tangannya pada Arya.
"Sudah siap?" tanya Arya menatap lekat keduanya.
Wanita cantik dengan penampilan sellau menarik itu tersenyum dan mengangguk pada Arya yang membalas senyumannya.
"Apa kabar? tambah cantik saja nih!" sapa Arya menatap ke arah Sofi.
"Ah, bisa aja nih?" Sofi tersipu malu.
"Sudah, dong ... Jadi sekarang jemput Ibu Negara dulu?" tanya Sultan sambil mengenakan helm nya.
"Yaps! yu langsung cabut. Keburu siang nih?" Arya kembali menyalakan mesin motornya.
Kemudian kedua motor mereka saling berpacu, menyongsong hangatnya sang matahari yang mulai meninggi.
__ADS_1
Selang beberapa puluh menit. Mereka tiba di depan rumah mewah Fatma dan langsung di sambut oleh Rania yang sudah siap untuk pergi ....