Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Genit


__ADS_3

Sontak kepala Fatma mendongak, ada sekelumit rasa tidak rela mendengar Arya mau tugas. "Ooh."


Pada akhirnya bubur pun habis berdua. Ketika pada suapan yang terakhir, pintu diketuk dari luar seiring nongol kepala Adi mengangguk hormat.


"Permisi. Mau air minum." Sambil menunjuk botol kosong yang dia bawa.


Fatma mengangguk, begitupun Arya lalu membuang bekas buburnya. Lanjut ke kamar mandi.


"Makasih, Nyonya!" ucap Adi lalu mengundur diri.


"Iya, oya Pak Adi. Nanti tolong pergi ke kantor untuk mengambil berkas, dan nanti sekretaris saya berikan pada pak Adi." Jelas Fatma.


"Baik, Nyonya muda." Adi mengangguk. Oya satu lagi, tapi ... gak jadi." Fatma urungkan niatnya.


Sekitar pukul delapan datang dokter dan suster untuk memeriksakan kesehatan Fatma.


Selesai konsultasi keluhan. Fatma diperiksa detak jantung dll nya, serta ganti perban.


"Gimana dok? apa hari ini saya bisa pulang?" tanya Fatma pada dokter pria yang tampak masih muda itu.


"Kesehatan anda sudah mulai stabil, namun untuk pulang ... sebaiknya anda istirahat di sini sehari lagi. Biar terkontrol dengan baik kondisinya, besok baru boleh pulang," sahutnya dokter tersebut.


"Oh, ya sudah. Kalau begitu, terima kasih dok?" Fatma mengangguk.


"Sama-sama, semoga semakin membaik kondisi nya ya?" Dokter tersebut begitu ramah dan menatap Fatma begitu lekat serta mengulas senyuman manisnya.


Arya yang berada di sana merasakan hal aneh, tidak suka melihat dokter menatap Fatma seperti itu.


Dokter dan suster pun keluar dari ruangan tersebut, setelah sebelumnya memberikan obat pada Fatma. Kini tinggallah Fatma dan Arya di sana.


"Gimana? mau istirahat atau mau jalan-jalan ke luar?" tawar Arya sambil mendekatkan kursi roda ke Fatma.


"Em ... kalau mau ngantar sih boleh," sahut Fatma menyambut hangat tawaran Arya.


"Nggak mungkin nawari kalau gak mau ngantar, yu?" Arya berdiri dibelakang kursi. "Hati-hati." Pintanya ketika Fatma turun dan berpindah duduk ke kursi roda.

__ADS_1


"Sepertinya sih, sudah kuat jalan. Namun takut capek aja jadinya agar praktis di kursi roda saja ya!" ungkap Arya sambil mendorong Fatma keluar kamar tuk menghirup udara segar.


"Hem." Fatma mengangguk sambil bernapas lega berada di luar kamar menuju lift untuk ke bawah walau sekedar jalan-jalan.


Kawan Adi pun ikut untuk sekedar menjaga majikannya dari jauh. Arya terus mendorong Fatma sampai berhenti depan taman. Hijau daun, bunganya ada yang warna merah dan kuning.


Pandangan Fatma menyisir bunga-bunga tersebut. Tampak indah dan bau semerbak, tangannya menyapu menyentuh bunga tersebut.


Tangan Arya mengulur dan memetik setangkai bunga mawar yang warna kuning. Namun sebelumnya celingukan dan kebetulan ada suster yang lewat. "Sus. Boleh gak saya minta bunga mawar nya? satu aja! ya? Mbak cantik deh."


Fatma menoleh pada Arya yang berbincang dengan suster. Dengan nada merayu, menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ooh, boleh Abang ganteng. silakan tapi cukup satu aja ya? apalagi kalau bunganya buat saya, tentu akan saya terima dengan senang hati." Balas suster dengan nada genitnya.


Fatma memutar bola matanya mendengar kata-kata itu. Diiringi dengan gelengan kepalanya. "Genit." gumamnya pelan.


"Wah, makasih Mbak cantik?" ucap Arya memberikan senyuman ramahnya. Lalu memetik bunga mawar tersebut lantas diberikan pada Fatma.


Netra mata Fatma memandangi bunga tersebut dan Arya bergantian. Walau tak tau artinya apa? namun dengan degup jantung yang bergemuruh Fatma mengambil bunga tersebut. "Makasih?"


"Sama-sama! sudah belum menikmati udara segarnya? nanti marah lagi seperti kemarin gara-gara kulit terbakar." Arya mengingat waktu itu.


"Tapi kan sudah meminta maaf dan sudah aku belikan body lotion buat mengobatinya," ungkap Arya sambil menyeringai.


"Iya sih. Ya sudah, balik ke kamar saja. Oya! kamu belum tidur dari semalam jadi kamu harus istirahat apalagi nanti sore mau bekerja," ujar Fatma penuh perhatian.


Arya bengong dan terbayang lagi yang Doni lakukan pada sang kekasih. Terhiris lagi di hati, semalam ia tak bisa tidur sebab kepikiran soal itu.


"Hi, bengong lagi. Apa mau biarkan aku kepanasan lagi seperti kemarin?" suara Fatma yang agak tinggi dan membuat Arya tersadar.


"Iya, aku ngantuk," sahutnya sambil menarik kursi roda yang Fatma duduki.


"Aku ngantuk, gak nyambung deh." Gumam Fatma sambil mencium bunga dari Arya tadi.


Sesampainya di kamar. Fatma langsung di suguhi berkas yang memang ia pinta dari kantor yang diambil oleh Adi.

__ADS_1


Sementara Arya membaringkan dirinya di tempat tidur sebelah dengan posisi tidur telungkup dia mencoba tidur tuk persiapan nanti malam tugas.


Fatma berkutat dengan laptop dan berkas di depannya. Walau kepalanya kadang masih terasa pusing. Sesekali melihat ke arah Arya yang tertidur telungkup namun wajahnya mengarah ke arah dirinya, sehingga Fatma bisa leluasa melihat dengan jelas tampan wajahnya meski dalam keadaan tidur.


Bibir Fatma tertarik melukiskan senyuman. Kemudian mengarahkan kembali sorot matanya pada laptop dan jeri-jarinya yang lentik sibuk dengan papan keyboardnya.


Pas Dzuhur tubuh Arya bergerak dan memiringkan tubuhnya. menghadap ke arah Fatma yang masih sibuk dengan laptopnya. Ia menggosok matanya yang terasa sepet banget. Ngantuk dan enggan bangun, Arya bangun dan duduk bersila lalu mengusap wajahnya.


Kemudian turun dari tempat tidur berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang agak oleng disebabkan masih pusing baru bangun.


Kedua manik mata Fatma menatap punggung Arya yang akhirnya hilang di balik pintu. Lalu kembali mengarahkan pandangan nya pada layar laptop.


"Dari tadi main laptop Mulu, gak capek?" suara Arya yang tiba-tiba berada dekat dengannya.


"Lho, baru saja ku lihat kamu masuk kamar mandi?" Fatma terheran-heran sambil menunjuk ke arah kamar mandi.


"Aku bilang, dari tadi main laptop mulu ... gak capek?" ulang Arya menatap lekat pada Fatma.


"A-aku kerja, bukan main-main," elak Fatma dengan yakinnya.


"Iya, kerja tapi kondisi mu belum stabil dan harus banyak istirahat. Belum juga makan siang apalagi minum obat kan?" tangan Arya dengan beraninya menutup laptop Fatma.


"Iih ... aku ada tugas." Keluh Fatma. Namun Arya menjauhkan laptopnya. Kemudian menyuruh ia makan siang.


"Makan siang, minum obat. Istirahat. Baru buka laptop lagi." Tegas Arya.


Dengan terpaksa Fatma menuruti kata-kata Arya. Dari makan sampai tiduran tuk istirahat.


Melihat Fatma terbaring. Arya beranjak dan pamit ke mesjid untuk salat dzuhur. Fatma pun menanggapi dengan anggukan.


Arya yang melintasi pintu dan bodyguard Fatma, langsung berdiri dan menyambut dengan senyuman.


"Kalian sudah salat Dzuhur belum?" tanya Arya menatap keduanya.


"Belum Tuan," sahut Adi sambil menunduk dalam.

__ADS_1


Bibir Arya memperlihatkan gigi putihnya. "Ayo bareng-bareng, nanti kita cari makan bersama."


Ketiganya berjalan beriringan menuju mushola untuk menunaikan kewajibannya ....


__ADS_2