Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Segunung rindu


__ADS_3

"Emm ... gimana kalau kita senam pagi?" ajak Fatma sambil mengikat rambutnya.


"Ayo!" Rania sangat antusias, menyambut ajakan sang bunda.


Arya membuka kostum yang tadi. Dan merapikannya terlebih dahulu. "Nanti Papa menyusul."


Fatma mendorong pelan bahu Rania keluar dari kamarnya itu. "Yu sayang?"


Keduanya berjalan menuju taman untuk senam pagi. Dengan hati yang riang menyambut pagi yang sepertinya akan cerah sekali.


Arya pun menyusul. Fatma dan Rania ke taman. Sambil berlari-lari kecil, untuk membakar keringat di tubuhnya.


Sekitar pukul 10 pagi. Arya sudah bersiap untuk berangkat tugas, kebetulan hari ini ada penerbangan internasional. Dia di tugaskan menemani salah satu kapten pilot, dan yang di tunjuk adalah Arya.


"Sayang, aku harus pergi sekarang, maaf ya? aku gak bisa mengantar mu ke bandara nanti?" ucap Arya sambil memeluk sang istri sangat erat.


"Iya, gak pa-pa, hati-hati ya? ingat, kalau ada waktu kunjungi aku!" balas Fatma sambil menyembunyikan wajah di dada Arya, sejenak merasakan kenyamanan di sana.


"Pasti, aku pasti menyusul mu ke sana. Membawa segunung rindu yang tersimpan di dada ini untuk mu." Arya berucap lirih.


Fatma terdiam serta memejamkan kedua manik matanya, mengeratkan rangkulan tangan ke tubuh Arya yang sesekali mengecup pucuk kepalanya.


"Nanti kalau ada kabar apapun, apalagi tentang junior ku. Segera kabari aku ya?" pesan Arya seraya menempelkan dagu di kepala Fatma.


"Tentu, aku pasti memberikan kabar itu padamu, dan kamu adalah orang pertama yang akan mendengar kabar itu." Fatma mendongak menatap sang suami.


"Semoga benar, kalau sayang beneran hamil!" Arya tersenyum, mengarahkan pandangan dan telapak tangan ke perut Fatma. Mengusapnya lembut.


Fatma mengalungkan tangan ke leher Arya sambil menatap lekat. "Kalau iya, gimana?"


"Masya Allah sayang ... aku sangat bahagia kalau itu terjadi dalam waktu dekat ini." Raut wajah Arya begitu sumringah.


Fatma ikut bahagia melihat suaminya yang tampak merindukan kehadiran adiknya Rania.


"Aku juga sama, bila itu terjadi. Aku pasti bahagia sekali," senyum Fatma mengembang.


"Kita berdua akan menyambut bahagia kehadiran benih cinta kita." Arya mengelus pipi Fatma dengan tatapan sangat lekat.


Fatma mengangguk lalu memeluk leher Arya, Arya pun kembali merangkul punggung sang istri sangat erat kembali.


"Aku sayang kamu!" bisik Fatma pelan.


"Aku juga. Sangat mencintai mu," balas Arya.


Sejenak mereka kangen-kangenan sebelum pergi. Saling menumpahkan rasa yang rasanya sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata.


"Sayang, gak usah mengantar ku! aku akan bawa motor sendiri. Sayang akan berangkat jam berapa?" tanya Arya sambil merapikan pakaiannya.


"Aku, perginya nanti pukul 12. wib. Kalau sempat mau ke apotek dulu. Buat beli tes kehamilan." Fatma pun merapikan pakaiannya yang kusut.


"Ooh, ya Sudah. Aa duluan.

__ADS_1


ya?" Arya sekali lagi mengecup kening sang istri mesra.


Di belakang mereka ada Rania berdiri menatap papa dan mamanya yang terus berpelukan dengan erat tampak enggan untuk berpisah.


"Mam, Papa ... Rania gak di ajak nih?" suara anak itu terdengar dingin.


Fatma dan Arya menoleh ke arah suara, rupanya anak itu menatap ke arah sang bunda dan papanya penuh kecemburuan.


"Sayang? sini dong?" Fatma melambaikan tangan.


Rania masuk dan menghampiri keduanya. "Papa mau berangkat lagi?" manik bening Rania melihat bag milik Arya.


"Iya, Papa mau berangkat lagi, Rania sama Oma dan opa ya? juga aunty Dewi." Arya mengusap kepala Rania yang tampak sedih.


"Kalau Papa pergi, Mama juga mau pergi, Rania sama siapa?" anak itu memeluk kaki Arya dan mendongak.


Fatma tampak sedih melihat Rania yang memeluk kaki Arya yang berdiri.


"Sayang, Papa akan secepatnya pulang. Dan Rania di sini banyak orang yang akan menemani Rania." Arya berlutut mengusap sudut mata Rania yang berkaca-kaca.


"Tapi, Papa gak ada. Mama juga gak ada." Manik mata Rania bergantian melihat mama, papanya.


"Rania sayang ... ini sementara lho, bukan untuk selamanya. Rania harus kuat, baik dan Sholeh ya? Mama sayang Rania." Fatma yang kini merangkul gadis kecil tersebut.


Si gadis kecil itu hanya cemberut. Tidak berkata-kata lagi selain memeluk mama dan papanya.


Setelah beberapa saat. Arya pamitan untuk pergi, di antar Fatma dan Rania sampai ke teras.


Di ruang tengah, Arya bertemu dengan kedua mertuanya. kemudian berpamitan. "Yah. Bu, aku pamit dulu ya?"


"Aamiin."


"Iya, hati-hati ya? Ibu doa kan semoga lancar." Timpal Bu Wati.


"Ya, Bu."


Arya bersalaman sengan kedua mertua nya itu.


Kemudian Arya membawa langkahnya ke dekat motor besar itu. Tangan Arya meraih helm untuk ia kenakan sambil memandangi anak dan istri yang juga memandanginya.


Saat ini Arya sudah berada di atas motor, sebelumnya mengecup kening sang istri dan mencium pipi Rania bergantian.


"Dah ... Assalamu'alaikum." Arya melambaikan tangan.


"Dah ... Papa! cepat pulang ya?" balas Rania sambil melambai pula.


Fatma cuma tersenyum dan mengangkat tangan di udara.


Motor Arya segera melaju dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di tempat yang di tuju.


"Masuk yu sayang?" ajak Fatma menuntun tangan Rania yang terus memandangi kepergian Arya.

__ADS_1


"Mam, papa berangkat sekarang. Sebentar lagi Mama juga berangkat, Rania sendirian." Anak itu berwajah sedih.


"Sayang ... kata siapa sendirian? di sini banyak orang. Oma, opa dan aunty juga ada." Fatma mengatakan itu sebab tidak ingin putri kecilnya sedih.


"Tapi, Mama dan papa gak ada! Rania kan kangen," anak itu duduk di sofa dengan melipat tangan di dada.


Helaan napas Fatma begitu panjang lalu menggenggam tangan Rania di usapnya lembut. "Sayang, Rania maunya apa hem?"


"Rania maunya seperti biasa, Mama ada papa juga ada. Bukan gak boleh bekerja! tapi setiap hari ketemu Mama. Biasanya kan kalau pun Mama gak ada. Papa ada temani Rania, kan?"


"He'em. Iya ... he'em gitu ya? kan gak selamanya sayang paling, Mama beberapa Minggu saja di sana. Nanti bila selesai! cepat pulang kok. Oya, semoga aja biaroun gak Minggu ini, papa gak sibuk jadi bisa kunjungi Mama deh sama Rania."


"Bener, Mam? kalau gak sibuk. Papa ke sana sama Rania?" mata anak itu berbinar.


"Bener, makanya banyak-banyak berdoa supaya papa ada waktu senggang. Oke?" tambah Fatma kembali.


"Oke," lalu wajah Rania mendongak ke langit-langit. Dan menengadahkan kedua tangan sambil bibir komat-kamit.


"Ya Allah ... Rania mohon ya Allah, semoga papa mendapatkan waktu senggang buat pergi mengunjungi mama ya Allah. Aamiin." Rania mengusapkan kedua tangannya ke wajahnya.


"Aamiin ya Allah ..." Fatma pun mengaminkan.


"Aamiin ... semoga Allah mengabulkan doa Rania ya?" ucap Bu Wati dan pak Wijaya yang baru saja datang ke tempat tersebut.


"Mama mau mandi dulu ah. keringatan nih." Fatma beranjak dari duduknya.


"Rania juga mau berenang ya, Mam? janji gak akan ke tengah kok." Rania langsung merajuk.


Fatma menoleh pada Dewi yang baru saja mendatangi ruangan tersebut. "Aunty, Kak Fatma Rania ya? Oya jangan lama-lama, cukup 20 menit saja. Mau ikut bandara, kan?" Fatma mengalihkan tatapannya pada Rania juga.


"Oke, Mam. Rania janji." Anak itu memberi kode oke.


"Iya, Kak. Dewi akan lebih hati-hati lagi. Dalam menjaga Rania," ungkap Dewi.


"Makasih ya Dewi?" Fatma tersenyum manis kepada Dewi.


"Tenang saja, Ayah juga sekarang ada." Kata pak Wijaya yang mendapat anggukan dari sang istri.


"Makasih, Yah. Bu, aku mau mandi dan bersiap-siap sebentar." Fatma mengayunkan langkahnya ke lantai atas. Menaiki anak tangga.


Sementara Rania bersiap berenang, dan kini di bawah pengawasan Oma opa dan Dewi.


"Ingat ya? 20 menit saja!" pekik Fatma sambil terus naik ke atas.


"Iya, Mam 20 menit." Rania mengangguk dan berlari mendekati kolam.


Sekitar pukul 12 siang. Fatma pun sudah bersiap untuk berangkat ke bandara. Dimana Zayn sudah berada di sana untuk mempersiapkan semuanya.


Barang-barang milik Fatma sudah dimasukan ke dalam bagasi. Fatma dan Rania pun sudah berada di dalam bersama Bu Wati, pak Wijaya dan Dewi.


Pak Harlan pun kini sudah siap untuk memutar kemudi. Namun baru saja merayap keluar gerbang, ada sebuah mobil masuk membuat mobil Fatma berhenti ....

__ADS_1


.


.


__ADS_2