Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Kenang Fatma


__ADS_3

Hari-hari yang begitu indah tengah menyelimuti pasangan pengantin baru tersebut. Antara Sultan dan Dewi.


...---...


Kebetulan. Beberapa hari yang lalu, Aldian berpamitan pada Rania kalau dia akan ada urusan ke luar Negeri.


Ketika ada berita Aldian meninggal. Rania tidak di kasih tau sama sekali oleh siapa pun termasuk Arya dan Fatma. Mereka takut kalau berita ini akan membuat psikis Rania, jadi tidak tau, itu lebih baik dan Rania tau nya Aldian berada di luar Negeri.


Saat ini Arya dan Fatma baru pulang dari melayat. Keduanya tidak lantas keluar dari dalam mobil. Melainkan sesaat duduk di dalam sana.


"Aku gak menyangka. Kalau nasibnya akan tragis seperti itu." Lirih Fatma sambil mengusap air yang menggenang di sudut matanya.


"Kendati nya. Maut, rejeki. Jodoh, itu semua Allah yang atur. Kita hanya bisa menjalani dan hendaklah berusaha merubahnya. Jangan sampai terjadi seperti itu." Tangan Arya merangkul bahu sang istri membawanya ka dalam pelukannya.


"Aku gak bisa bayangkan bila Rania tahu tentang ini. Takut psikisnya terganggu, akan banyak Bulian yang akan Rania dapatkan mempunyai papa seperti itu! aku sendiri gak tahu harus menjelaskannya gimana?"


"Usahakan supaya kejadian ini tidak diketahuinya. Aa tahu. lambat-laun, langsung tidak langsung. Akan ketahuan juga, namun setidaknya. Ketika Rania tahu nanti, dia sudah dewasa," ungkap Arya dengan nada yang hati-hati.


Bagaimanapun Arya khawatir akan kejiwaan putri sambungnya bila mengetahui insiden yang menimpa papa kandungnya yang tragis itu.


Apalagi Fatma, sebagai ibu. Tentunya dia ingin putrinya baik-baik saja dari omongan orang yang akan membahayakan mentalnya.


"Mama? Papa? lagi apa sih di situ? Rania tungguin juga sedari tadi. Pergi juga nggak ngajak-ngajak. Ih kesel deh. Rania ditinggalin!" suara anak itu mengganggu Fatma dan Arya yang berada di dalam mobil.


Fatma buru-buru mengusap wajahnya lantas membuka pintu mobil. "Sayang, maaf ya? gak ngajak-ngajak. Tadi Mama sama Papa ada urusan penting, jadi gak ngajak Rania lagian Rania tadi bobo ketika Mama lihat."


Arya menatap pada sang istri lalu pada Rania bergantian. "Bener, tadi Rania bobo ketika Papa mau pamit."


"Aduh, Rania kebelet nih." Anak itu berlari sambil memegangi perutnya.


"Jangan lari-lari." Pekik Fatma tersenyum getir.


Tangan Arya, mengusap lembut punggung sang istri seakan memberi kekuatan pada jiwanya yang saat ini sedang merasakan sedih atas kematian mantan suaminya.


"Sudah jangan bersedih? doa kan saja semoga Allah mengampuni segala dosa nya, hem!" Arya berucap lembut seraya mengangguk.

__ADS_1


Fatma tersenyum dan membalas dengan anggukan. Lalu keduanya turun dari mobil memasuki mension melalui pintu utama. Berjalan saling bergandengan tangan, kemudian duduk di sofa ruang tengah.


"Sekarang kita harus mempersiapkan buat acara bulanan, yang ... aku ingin mengadakan pengajian ibu-ibu komplek, pokonya tetangga semua harus datang," ucap Fatma lirih sambil memegangi tangan Arya.


"Iya, atur saja. Sama sayang, Aa mah kurang ngerti. Ngerti nya bikin aja, ha ha ha ..." Arya terkekeh sendiri.


"Apaan sih?" pun Fatma tersipu malu.


Arya merogoh sakunya mengambil ponsel dan mengetik sesuatu. "Aa, sudah kirim uang bulanan ke rekening mu."


Fatma menoleh. Makasih sayang?" baru saja Fatma mau memeluk Arya sudah terdengar suara derap langkah anak kecil yang terburu-buru.


"Mam. Rania mau bersiap ngaji ya? kan sebentar lagi ibu guru akan datang. Boleh ya? boleh?" dengan ekspresi wajah yang memelas.


"Ya ampun sayang ... iya boleh dong ... kan emang sengaja, mendatangkan guru ngaji itu, buat Rania belajar." Fatma menggelengkan kepalanya.


"Tapi kan?" gumam anak itu.


"Tapi kan, apa sayang?" tanya Arya menatap lembut ke arah Rania.


"Em ... em ... ya sudah, Rania mau siap-siap dulu ya?" Rania langsung pergi kembali meninggalkan mama dan papanya.


"Yang ... makasih ya? uang belanjanya?" ucap Fatma sambil berjalan mengikuti langkahnya Arya.


"Sama-sama sayang, kan itu sudah kewajiban ku sebagai suami." Balas Arya melirik.


Kini mereka berdua sudah berada di dalam kamar. Arya sedang mengajak ngobrol calon baby nya yang tengah bergerak-gerak alias menendang-nendang perut sang mama.


"Sayang, baik-baik ya di sana? yang sehat dan tumbuh dengan baik, nanti ... bila mau lahir ke dunia ini. harus dengan mudah ya? kasian mama!" Arya melirik ke wajah Fatma yang sedang menatapnya dengan senyuman tipis di bibir.


Jemari Fatma yang lentik membelai rambut Arya yang tengah mengajak calon baby mengobrol. Sesekali mencium perutnya itu.


"Papa gak tega kalau melihat mama kesakitan." Gumamnya Arya menempelkan pipinya di perut sang istri. Matanya berkaca-kaca. Masih terbayang jelas ketika Fatma terluka akibat ulah Aldian, mantan suaminya dulu.


Tangan Fatma masih juga betah membelai rambut sang suami yang tampak teramat sayang pada keluarga itu. "Aku ... maunya kalau lahiran. Ketika ada kamu di sisi ku, ketika kamu tidak sedang bertugas. Dulu, aku melahirkan tanpa suami. Tanpa ibu juga, karena ibu mengalami keterlambatan pesawat," Fatma menjeda ucapannya.

__ADS_1


Arya mendongak menatap ke arah sang istri yang manik matanya berembun.


"Kala itu Aldian tidak menemani ku, di hubungi pun tak di angkat di chat juga gak di balas, aku di rumah sakit bersama asisten rumah tangga saja. Aldian baru menjenguk ku sehari setelah melahirkan." Kenang Fatma sembari menghela napas berat.


"Mungkin dia sibuk kerja sayang." Arya berpikir positif thinking.


"Sibuk sama perempuan!" suara Fatma bergetar menahan tangis.


Arya bangun meringsut duduk dekat Fatma, merangkul bahunya dibawa ke dalam pelukan pria tampan itu.


"Jangan sedih sayang, semoga ketika lahiran nanti. Aa sedang ada. Tapi ... Aa gak janji, sebab bisa aja pada waktunya, Aa sedang tugas. Yang penting Anak kita lahir dengan selamat dan juga mamanya." Cuph! mengecup keningnya lembut.


Fatma menenggelamkan wajahnya di dada bidangnya Arya dengan nyaman.


"Yang penting, Aa sayang kalian semua. Sayang keluarga kecil kita, jangan takut ya?" Arya meyakinkan sembari membelai rambut sang istri mesra.


Fatma hanya mengangguk. Dan semakin menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Arya.


Setelah Maghrib tiba. Dan guru ngaji Rania sudah datang Fatma dan Arya ikut menemani Rania belajar mengaji, Rania pun tampak riang dan lebih semangat, jarang-jarang ditemani papa mamanya komplit. Paling sering Mamanya saja yang menemani, bila Arya sedang melaksanakan tugas.


Rania yang cerdas. Belajar mengaji dengan rajin dan semangat. Kendati terkadang sambil main-main, namun segera serius lagi. Begitulah cara belajarnya sosok Rania.


Fatma dan Arya merasa bahagia melihat putri kecilnya selalu semangat dalam belajar apapun.


"Kakak Rania selalu semangat dalam belajar. Pinter banget." Puji Arya sembari melirik kepada Fatma yang memperhatikan Rania.


"Oya, Aa. Semoga kedepannya dia lebih pinter ya? menjadi kakak yang baik pula," ucap Fatma penuh syukur.


...---...


Seminggu lagi akan di adakan ya acara tujuh bulanan kehamilan Fatma. Keluarga Arya dari Bandung pun sudah datang dan di mension menjadi sangat ramai. Adanya dua keluarga menyatu.


Kendati masih satu Minggu lagi. Namun Mension Fatma sudah mulai di hias dengan bunga-bunga dan pernak pernik lainnya. Terlihat ada beberapa orang pekerja yang sedang mengerjakan menata dan menghias Mension tersebut. Termasuk lampu-lampu kecil yang menyala kedap-kedip bersinar dengan indah ....


.

__ADS_1


.


Ayo mana dukungannya nih? Oya aku sangat berterima kasih pada kalian yang masih setia mengikuti perjalanan Arya dan Fatma yang tidak lama lagi akan tamat🙏


__ADS_2