
Arya tampak lesu, yang tadinya semangat mau melanjutkan aktifitas malam yang masih diinginkan. Harus kandas dengan datangnya scurity kecil yang akan mengawasinya.
Namun walau begitu, segera Arya berjalan mendekati pintu. Fatma hanya menatap langkah kakinya Arya yang sambil menggaruk tengkuknya.
Blak!
Pintu pun akhirnya Arya buka. Dan tampak anak itu berdiri mengarahkan pandangan ke dalam kamar, dan kebetulan yang membuka punya adalah Arya sendiri.
"Papa?" Rania menyeruak memeluk Arya yang langsung berjongkok menyambut pelukan Rania.
"Sudah bangun sayang? Hem ... wangi nih, sudah mandi ya?" Arya memeluk erat tubuh mungil itu.
"Sudah. Rania kangen Papa! kenapa semalam gak bangunin rania?" manik polos itu menatap lekat ke arah Arya.
"Anak manis ... Papa pulangnya malam banget, jadi kasihan kalau bangunin yang Rania sudah bobo. Bonekanya suka gak hem?" tangan Arya membelai kepala Rania.
"Suka, makasih ya Papa?" ucapnya sembari kembali memeluk Arya.
"Sama-sama sayang." Balas Arya seraya mengusap punggungnya Rania.
Fatma menatap haru ke arah Rania dan Arya yang tampak sangat dekat, melebihi kedekatannya dengan Aldian, sangat jauh berbeda.
Arya menoleh ke arah Fatma yang langsung menyembunyikan wajahnya lantas mengusap sudut matanya yang basah.
Kemudian Arya berdiri dan menggendong Rania, berjalan mendekati Fatma yang kini duduk di sofa. Menatap ke arah anak dan suami barunya.
"Sayang, nanti sore, Aa kerja lagi. Tepatnya malam." Arya mendudukkan dirinya di samping sang istri.
Fatma hanya menggerakkan kedua matanya untuk merespon omongan Arya. Kemudian mengalihkan pandangan pada Rania, anak itu tampak benar-benar ingin melepas kangen dengan papanya.
"Sayang sudah mandi? sama siapa?" selidik Fatma sambil mencium rambutnya.
"Sendiri dong, Mam ... Rania kan sudah besar kata Mama juga. masa dimandikan lagi sama orang lain?" jawab anak sembari dengan betah dalam pelukan Arya.
"Ooh! iya dong. Rania kan pinter. sudah besar juga." Fatma tersenyum, dan kembali mengusap kepala Rania.
Kemudian Fatma berdiri hendak pergi, mau menyiapkan sarapan buat suami dan putrinya.
Geph!
Namun tangannya Fatma ditangkap Arya. "Mau kemana sayang?"
"Mau, menyiapkan sarapan!" ucap garam berbalik.
"Oh--"
__ADS_1
"Mama, Rania lapar nih." Timpal Rania noleh ke arah sang bunda.
"Ayo dong, turun. Jangan di gendong gitu ah, Rania ini kan sudah besar. Jadi gak boleh di gendong berat." Fatma mengulurkan tangan pada Rania.
Rania menatap papanya yang tersenyum. "Pelit. Di gendong bentar juga, gak boleh. Mama pelit." Sambil turun dari pangkuan Arya.
"Lho, menggerutu nya jangan ke Papa lah. Ke Mama, kan mama yang larangnya juga bukan Papa!" protes Arya ketika melihat mata bening Rania mendelik padanya.
Arya berdiri merapikan kaosnya yang kusut. Lalu menyusul Fatma dan Rania keluar dari kamar menuju ruang makan yang ada di lantai bawah.
"Mama, pelit. Rania kan bentar aja sama papa, Mama yang semalaman sama papa. Aku dikit ..." ucap Rania sembari membetuk sedikit dengan jarinya.
"Lho, sayang ... emang siapa sih larang Rania bersama papa? Mama cuma gak suka kalau Rania di gendong, kan. sudah besar," ungkap Fatma seraya melirik ke arah Arya yang ikut tersenyum pada Rania.
"Ya, udah. Rania mau sama papa jalannya. Yu Papa?" Rania hentikan langkahnya membiarkan sang bunda berjalan duluan.
Rania sendiri meraih tangan Arya. Lalu berjalan barengan.
Fatma menggeleng. Lalu gegas ke ruang makan, setelah langkahnya sampai di lantai dasar.
"Ada sarapan apa, Bi?" tanya Fatma setibanya di dapur. Melihat-lihat di meja ada apa dan di kompor masak apa?
"Pagi, Nyonya? ini ada nasi goreng dan sup dan ayam goreng." Bi Ina menunjuk hidangan yang sudah di meja.
Rania duduk di tempat yang biasa. "Rania mau nasi goreng."
"Boleh, dan Papa mau makan apa?" Fatma melihat juga ke arah Arya yang menatap satu demi satu hidangan di meja.
"Nasi putih saja sama ayam goreng dan sup." Arya menunjuk yang sudah dia sebutkan.
"Oke, nasi putih." Fatma mengambilkan nasi putih yang sebelumnya di sodorkan asisten. Setelah mengambilkan nasi goreng buat Rania.
"Makasih sayang." Gumamnya Arya. Tangannya memegang ayam goreng yang siap disantap.
"Sama-sama, ayo. Makan?" Fatma duduk dan mulai menyantap sarapannya.
"Pap-Papa? kemarin kan aku sekolah di antar oleh mbak. Meraka, teman-teman Rania nanyain. Papa mana? Papa mana?" celoteh Rania di sela-sela mengunyah
Rasya.
"Oya, nanyain Papa. Meu apa ya nanyain Papa ya?" ucap Arya sembari senyum-senyum.
"Katanya, Rania gak punya papa lagi. Huuh ... punya papa cuma bentar, lalu menghilang. Gitu katanya."
"Lho ... kok gitu? papa Rania kan harus kerja sayang, masa mau antar jemput Rania doang. Rus kerja sayang." Fatma mengeluarkan suaranya seraya menatap lembut sang anak.
__ADS_1
"Tidak tahu, bilang nya gitu. Rania cuma bilang kalau papa Rania itu kerjanya bawa pesawat, tapi Papa. Kapan akan bawa Rania jalan-jalan naik pesawat?" manik polos tersebut menatap penuh harap.
Fatma pun ikut menatap sang suami sambil mengunyah. Dalam hatinya ingin tau jawaban dari sang suami atas permintaan putri kecilnya.
"Em ... hari ini, Papa capek! jadi besok atau lusa ya? Papa janji, oke." Arya mengusap pipi Rania dengan lembut.
"Oke, Papa." Rania mengangguk.
"Sekarang, habiskan dulu makannya ya?" sambung Arya lagi.
Rania hanya mengangguk dan meneruskan makannya dengan semangat. Fatma melempar senyumannya pada Arya yang juga menarik sudut bibirnya ke samping, membentuk sebuah senyuman yang menawan.
"Hari ini, Papa gak pergi-pergi lagi?" selidik Rania setelah meneguk minumnya.
"Nggak sayang, hari ini Papa di rumah aja." Jawab Arya meyakinkan.
"Mama, mau ngantor?" Rania mengalihkan pandangan pada sang bunda.
"Em ... nggak ah. Mama juga mau di rumah saja." Balas Fatma.
"Asyik, Papa dan Mama ad di rumah." Rania bersorak senang kalau hari ini Papa, Mamanya berada di rumah.
"Tapi. Mama di rumah sambil kerja lho, bukan bersantai ria." Tambah Fatma menegaskan.
"Kalau Papa, mau kerja juga?" selidik Rania menatap sang ayah.
"Nggak juga, Papa santai aja." Jelas Arya. Kemudian meneguk minumnya sampai tandas.
"Yey-yey. Yey-yey ... bisa main sama Papa! Mama sibuk Mulu ah, tapi tidak apa sih, sebab ada Papa yang akan nemenin Rania bermain. Sama kawan-kawan juga." Rania tampak sangat senang.
Arya menyunggingkan senyumnya. Yang ditujukan pada Rania yang begitu senang. Lalu Arya memberi respon dengan anggukan.
Detik kemudian Rania berlari entah kemana? Membawa hati yang sangat riang gembira.
"Emang hari ini gak ada rencana keluar atau urusan?" tanya Fatma melirik sang suami.
"Nggak ada sayang. Pengen di rumah saja. Menghabiskan waktu bersama keluarga." Arya menggeleng pelan.
Selanjutnya Arya menemani Rania bermain di taman bersama teman-teman Rania dari anak-anak tetangga.
Sementara, Fatma sibuk dengan laptop dan urusan kerjanya. Namun ketika sedang serius dengan layar laptopnya, tiba-tiba ada yang datang ....
****
Ayo jangan lupa dukungannya ya tonton iklan juga sebagai bentuk dukungannya.🙏
__ADS_1