Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Jangan tinggalkan


__ADS_3

Ternyata yang menghubungi Arya adalah Renata yang menanyakan keberadaan Arya saat di mana? dan Arya cuma bilang kalau dia sedang berada di luar. Tidak lama sambungan telepon berakhir, ia simpan kembali ponsel itu ke saku.


Hidungnya mendengus. Mencium bajunya yang bau anyir. padahal jaketnya sudah ia buka. "Iih ... baju ku kotor, pengen mandi di sini gak ada yang nungguin, lagi pula gak ada baju bersih." Gumamnya dalam hati.


Tak tega juga bila harus membiarkan Fatma sendiri dalam keadaan seperti ini. Mana belum sadar juga.


Arya membawa langkahnya lalu duduk di kursi dekat Fatma dan ditatapnya lekat. "Bangunlah, kita akan membuka lembaran baru bersama. Menggapai bahagia yang sebelumnya belum kita temui." Gumamnya Arya.


"Ups, aku ngomong apa sih barusan?" Arya menepuk bibirnya sendiri.


Pandangan nya begitu lekat tertuju pada Fatma yang belum siuman juga. Perlahan jari Arya mengarah pada helai rambut yang menghalangi kening Fatma, dengan niat mau menyingkirkannya. Namun ia urung ketika melihat kelopak matanya Fatma bergerak.


Bibir Fatma berdetak dan berucap. "Rania? Rania di mana kamu sayang?" suara Fatma menyebut nama Rania. Perlahan membuka matanya menggerakkan ke kanan dan ke kiri mengamati tempat tersebut.


Arya yang menarik tangannya dan tersenyum bahagia melihat Fatma siuman. "Alhamdulillah, anda dah siuman."


"Rania mana? dan ... ke-kenapa aku di-di sini. Kamu?" suara Fatma terbata-bata sambil meraba kepalanya yang diperban.


"Justru itu yang ingin aku tanyakan Kak, kenapa kau sampai tergeletak di lantai dan bersimbah darah? tapi tidak perlu di jawab sekarang. Baiknya kau istirahat saja dulu." Arya mengulas senyumnya.


Fatma bengong. Dia mencoba memutar memorinya mengingat yang telah terjadi, namun kepala ya bertambah sakit dipake mengingat itu. Fatma menggeleng kasar. "Terus Rania dimana? ibu juga, apa mereka tak ikut ke sini?"


Arya menghela napas panjang. "Mereka belum ke sini. Tadi aku dan pak Harlan yang membawamu ke sini. Sebab lebih darurat, sudah istirahat saja."


Di tengah perbincangannya. Datang suster untuk mengecek keadaan Fatma kemudian di kasih obat nyeri.


"Sebaiknya Nyonya istirahat saja dulu, jangan banyak bergerak dulu ya. Semoga kesehatan anda secepatnya pulih," ungkap suster tersebut.


Fatma hanya menggerakkan matanya sebagai tanda mengiyakan perkataannya.


"Tuan, di jaga istrinya ya?" kata Suster dengan ramahnya lalu mengayunkan kedua kakinya mendekati pintu.


"Em, i-iya Suster, makasih." Arya mengangguk serasa tertegun dan menarik bibirnya tersenyum mendengar kalimat, istrinya.


Fatma melemparkan pandangannya pada Arya yang bengong. "Makasih ya?"

__ADS_1


"Ha? makasih, makasih buat apa ya?" Arya mengerutkan keningnya.


"Terima kasih sudah membawaku ke sini!" ucap Fatma sembari memejamkan kedua matanya.


"Oh, sama-sama." Kepala Arya mengangguk. Kemudian menoleh ke arah pintu yang terdengar ada yang masuk. Benar saja pak Harlan masuk membawa kantong makanan.


Kaki Arya berjalan ke arah sofa menyambut kedatangan pak Harlan yang menyimpan bawaan nya di meja. Arya duduk dan langsung membuka yang pak Harlan bawa lantas langsung menyantap nasi padang itu.


"Gimana nyonya apa sudah siuman Den?" tanya pak Harlan sambil mengarahkan pandangannya ke arah Fatma yang tak bergerak.


Arya menoleh kemudian melihat ke arah Fatma. "Sudah. Alhamdulillah Pak, sekarang tidur!" suara Arya pelan di sela makannya.


"Ooh, Alhamdulillah kalau begitu." Gumamnya pak Harlan. Kemudian mereka meneruskan makannya. Arya menghabiskan makannya diakhiri dengan segelas air mineral dari galon yang tersedia di sana.


Arya mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah dan diberikan pada pak Harlan yang masih menghabiskan makannya.


Namun pak Harlan tak serta Merta menerimanya. Dia malah bengong. "Duit apa Den? menatap uang tersebut.


"Buat bayar makanan ini Pak," balas Arya sambil menggerakkan manik matanya yang menyuruh untuk mengambilnya.


"Ini, juga tak seberapa Pak. Jangan menolak rejeki, simpan saja." Uang tersebut Arya selipkan ke sakunya pak Harlan yang terus menolak.


"Terima kasih Den, jadi gak enak saya." Pak Harlan tersipu malu.


"Oya, Den. Kata nyonya besar Aden di suruh jagain nyonya muda, sebelum mereka ke sini." Pesan bu Wati lewat pak Harlan.


"Iya, Pak gak pa-pa. Saya akan di sini nungguin." Arya mengangguk yang direspon dengan senyuman oleh pak Harlan.


"Oya Pak, kalau bisa. Saya mau meminta tolong, belikan saya kaos. Ini kotor." Arya menunjuk bajunya yang kotor.


"Ooh. Boleh-boleh," timpal pak Harlan sambil langsung berdiri.


"Aduh terima kasih ya Pak? gak enak sebenernya. Tapi dari pada begini!" tambah Arya.


"Iya, gak pa-pa Den. Santai aja." Pak Harlan mengangguk.

__ADS_1


Arya mengeluarkan beberapa lembar uang. "Sekali lagi makasih ya Pak?"


"Nggak pa-pa Den. Permisi!" pak Harlan pergi lagi dengan niat belikan baju buat Arya.


Arya menghela napas panjang lalu menggerakkan netra matanya ke arah Fatma yang tertidur tampak nyenyak mungkin dari pengaruh obat.


Suara derap langkah beberapa kaki menuju ruangan VIP tempat dimana Fatma dirawat. Arya menyambut kedatangan bu Wati. Mia dan Rania juga supirnya ke ruangan Rumah sakit tersebut.


"Pak Harlan ke mana?" tanya Bu Wati setelah melangkah masuk dan tak mendapati supirnya Fatma di sana.


"Em, pak Harlan sedang keluar. saya mintai tolong buat membelikan baju ganti saya," sahut Arya sembari menunjuk baju yang di pakainya.


Bu Wati langsung duduk di kursi dekat Fatma. Lagi lagi bu Wati merasa lemas melihat putrinya terbaring lemah. "Fatma ... malang nian nasib mu Nak."


"Mama-Mama ... kenapa dari tadi Mama bobo terus? buka matanya Mam ... lihat Rania." Suara Rania parau dan air matanya berjatuhan memeluk sang bunda. Menangis tersedu. "Mama gak akan tinggalin Rania kan Mam? Mama akan selalu bersama Rania kan Mam? bangun Mama ... bangun."


Arya tak tega mendengarnya. Kemudian membawa langkahnya mendekati gadis kecil itu, mengusap punggung Rania dan diangkatnya, ia gendong lantas dipeluk. "Mama sedang istirahat, Mama sudah baik-baik saja. Rania doakan saja supaya Mama segera sembuh ya!"


"Mama jangan tinggalkan Rania Om ganteng. Nanti Rania gak punya Mama lagi." Rania menatap Arya sambil menggeleng. "Rania takut."


"Nggak sayang ... Mama tidak akan meninggalkan Rania. Percaya deh sama Om," tangan Arya kembali mengusap punggung Rania yang kembali memeluknya.


"Wah ... Rania bawa boneka ya? main di sofa ya? nanti mainnya sama Om, mau?" ucap atau setelah tangis Rania yang tersedu mereda.


Perlahan anak itu meminta diturunkan dan meminta bonekanya pada Mia sang pengasuhnya, lalu Arya antar ke sofa yang berada di pojokan.


Kemudian Arya melirik Mia dengan netra nya. Melangkah menuju Mia. "Sebenarnya apa yang terjadi waktu itu. Dan siapa yang melakukannya?" suaranya pelan dan mengawasi ke arah Rania.


"Saya ... ke kamar nyonya muda bersama Rania, sekembalinya dari play grup. Sudah melihat nyonya di lantai dan ...."


"Dan apa?" selidik Arya sangat penasaran dengan kalimat yang Mia gantung ....


****


Mau tahu kelanjutannya? yu pantengin terus. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya🙏

__ADS_1


__ADS_2