Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Akhirnya


__ADS_3

Malam terus beranjak hingga berganti pagi. Tanpa ada melakukan apapun selain tidur nyenyak, bukan tidak ingin melakukan sesuatu. Namun terhalang adanya scurity kecil yang bobo di di dekat mereka.


Sebelum subuh pun Arya dan Fatma sudah bangun dan membersihkan diri. Lanjut membangunkan Rania yang tidak susah untuk bangun.


Rania dengan semangat, lantas mandi dan setelah solat subuh bersama papa dan mamanya.


Selepas itu. mereka pun bersiap untuk meluncur ke Jakarta, Fatma mengajak Dewi untuk ke Jakarta bareng dan di kampung juga mau ngapain? namun Dewi masih ingin beberapa hari lagi di kampung kayanya.


Jadinya balik ke Jakarta, mereka hanya berempat saja, berempat dengan supir.


"Aunty. terus kapan mau ke Jakarta nya?" tanya Rania menatap ke arah Dewi yang masih bermuka bantal.


"Em ... aunty ke sananya beberapa hari lagi lah, sekarang aunty masih capek. Dan masih kangen sama Abah dan umi." Balas Dewi sambil memeluk anak itu.


"Padahal. Rania nanti saja ya sama aunty, biar nanti pulang ke Jakarta nya sama aunty," tutur umi Santi sambil mengusap kepala Rania.


"Rania harus sekolah, umi ..." ucap Fatma yang di tujukan pada umi Santi.


"Hem ... mau pisah lagi sama umi." Umi Santi memeluk Rania sangat erat.


"Nanti kan, kita bisa ketemu lagi. Umi ... Iya kan Mam?" manik mata Rania melihat umi dan mamanya bergantian.


"Iya sayang." Fatma menganggukkan kepalanya.


"Nanti umi dan Abah ikut sama Dewi ke Jakarta." Tambah Arya sembari sambil menarik koper.


"Insya Allah ..." sahut Abah dari


Kemudian mereka pun berpamitan, sebab Arya ingin lebih cepat sampai Jakarta. Kebetulan nanti malam mau tugas.


"Ya, sudah ... hati-hati ya. Sehat-sehat juga kalian semua. Calon baby juga," tangan umi mengelus perut Fatma lalu memeluknya.


Setelah bersalaman dengan kedua orang tua, Arya. Fatma dan Rania memasuki mobil yang sudah pak Harlan siapkan.


Detik kemudian. Mobil tersebut melaju dengan cepat meninggalkan kediaman abah.


Namun setelah beberapa puluh meter mobil merapat ke pinggir tepat di depan sebuah warteg untuk mencari sarapan.


"Rania mau makan di mobil saja, Mam. Ngantuk." Rania malah meringkuk di kursi mobil.


Arya menatap anak itu. Lalu menoleh pada Fatma yang sedang mengitari mobil untuk menghampirinya.


"Ya udah, aku juga di mobil saja. Kalian berdua saja sarapan dulu. Nanti aja pesan kan." Kata Fatma sambil mengitari tempat sekitar.

__ADS_1


"Baiklah, sayang tunggu di dalam. Mau pesan apa? Pak kita sarapan dulu?" Arya mengarahkan pandangan ada pak Harlan.


"Apa saja," Fatma singkat lalu masuk kembali ke dalam mobil.


"Ibu?" pak Hata menunjuk Fatma dengan ibu jarinya.


"Mau tunggu saja di mobil." Arya dan supir berjalan memasuki warteg.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Arya dan supir sudah kembali, dan Arya menjinjing kantong berisi nasi bungkus.


"Sebentar amat sarapannya?" sapa Fatma setelah Arya duduk kembali di sampingnya.


"Buat lama-lama? pengen cepat sampai." Jawab Arya sambil menyeringai.


Fatma tersenyum manis. Lantas membangunkan Rania untuk sarapan terlebih dahulu.


Pak Harlan melajukan mobil dengan sangat cepat. Agar segera sampai di Jakarta seperti yang di inginkan majikannya.


Waktu terus berputar, sehingga akhirnya sudah muai memasuki kawasan Mension Fatma yang beberapa hari ini mereka tinggalkan.


Sesampainya di Mension. Arya dan Fatma langsung beristirahat di kamar. Dan Rania di sambut oleh para asisten di ajaknya bermain, namun Rania merasa capek sehingga memilih istirahat saja.


"Sayang, kepala ku berat nih." Kata Arya sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


"Semuanya nih." Suaranya pelan.


Fatma mengganti pakaiannya dengan pakaian dress rumahan yang tipis, dan Fatma sengaja tidak memakai pakaian dalam. Bibirnya menunjukan sebuah senyuman yang merekah, lalu dengan langkah yang gemulai, berjalan mendekati suaminya.


Netra nya Arya melihat nakal pada sesuatu yang menggantung dan bergoyang ketika Fatma bergerak. Semakin tua merasakan ngilu di bagian tertentu miliknya. Menyeruak bangun, bergerak mencari sarannya.


Senyuman Fatma semakin mengembang ketika melihat reaksi suaminya yang terdiam namun menatap intens ke arahnya. Sok-sokan jaim dan dingin padahal mau, mau banget.


Perlahan Arya terbangun dan mendorong tubuh sang istri ke belakang, berbaring di bawah tubuhnya yang sudah tidak kuat lagi menahan hasratnya yang semakin naik. Darah bergolak mengalir deras ke seluruh tubuh, terutama di satu titik yang benar-benar menjadikan sia untuk bereaksi.


Dengan tidak membuang waktu lagi, Arya gegas mencumbu sang istri dengan sentuhan-sentuhan erotis sehingga menimbulkan sejuta gairah.


Sesuatu yang dia inginkan dari semalam, akhirnya terlaksana juga sekarang ini. Arya terus mencumbu wajah Fatma dengan kecupan kecil yang lebat.


Membuat Fatma pun memulai menunjukan agresifannya. Sesekali mengambil alih yang biasa Arya lakukan.


Sedang asyik-asyiknya memacu kuda dengan cepat, untuk sampai ke tempat tujuan. Ketukan pintu terdengar dari luar dan pelikan suara Rania.


"Mam? Rania mau main ya ke taman sama mbak?" pekik Rania dari balik pintu.

__ADS_1


Keduanya kebingungan dan saling bertukar pandangan. Gimana ini? di lepas nanggung.


"I-iya, bo-boleh." Sahut Fatma dengan suara berat dan napas yang memburu.


"Mama lagi apa di dalam? bobo bukan? oke kan?" Arya malah penasaran.


Arya dan Fatma lagi-lagi saling tatap namun Arya tetap melanjutkan gerakan olahraganya. Tanpa memperdulikan suara Rania, dan Fatma pun menutup mulutnya takut mengeluarkan suara yang akan terdengar oleh Rania.


Karena tidak ada juga balasan dari sang mama. "Mam? Mama lagi apa? sakit bukan?" pekik kembali Rania tampak cemas.


"Hah ..." Arya sejenak menghentikan aksinya. "Mama lagi di kamar mandi sayang, Rania boleh main dan hati-hati ya?" pekik Arya sambil berusaha menetralkan suaranya yang berat itu.


"Ooh, ya sudah. Rania main dulu!" suara langkahnya menjauh dari depan pintu kamar Fatma.


Setelah memastikan Rania sudah jauh dari sekitar tempat tersebut. Lantas Arya kembali Menggerakkan tubuhnya dan semakin bersemangat untuk melanjutkannya.


Setelah melewati masa yang lumayan cukup panjang. Dan lelah pun mulai menyerang, barulah Arya menyudahinya dan ambruk setelah lenguhan panjang menghiasi bibirnya.


"Hoh ...." pertanda kepuasan yang teramat sangat.


Fatma menyunggingkan bibirnya sambil memeluk pundak Arya dengan erat. Ia kira Arya akan benar-benar menyudahi kegiatannya. Namun ternyata tidak, dia malah bangkit lagi dan kembali meneruskan pergulatan yang panas dan penuh sensasi itu.


Tangan Fatma mendorong dada Arya agar menyudahi kegiatannya itu.


Arya pun dengan cepat menyudahi nya. Memang sudah lelah namun dirinya terlalu bersemangat untuk menikmati sesuatu yang selalu menjadi candu baginya.


Sore-sore, Arya sudah bersiap untuk berangkat ke bandara. Fatma juga mau bersiap untuk mengantar Arya, namun Arya tidak mengijinkan dengan alasan takut capek dan mual lagi, biar Arya pergi sendiri saja.


"Sayang gak boleh terlalu capek ya? istirahat aja di rumah. Aa pergi dulu." Pamit Arya seraya mengecup kening Fatma.


"Ya sudah, hati-hati. Dan cepat pulang!" balas Fatma sambil memeluk sang suami.


"Papa, cepet pulang ya?" Rania menggoyangkan tangan Arya.


"Iya sayang, Papa pasti akan segera pulang. Jagain Mama dan jangan nakal?" cuph! mengecup pucuk kepala Rania penuh kasih sayang.


Dalam waktu yang singkat, Arya sudah tidak tampak di mension tersebut. Fatma dan Rania masih berdiri di teras menatap bekas jalan yang di lewati oleh Arya.


"Ayo sayang, kita masuk?" ajak Fatma dan Rania langsung berlari kedalam ....


.


.

__ADS_1


__ADS_2