Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Antar Rania sekolah


__ADS_3

Beberapa saat Fatma berdiri, tak ada pergerakan sama sekali dari Arya. Fatma duduk di tepi tempat tidur tersebut menatap lekat wajah yang sedang tidur itu. Yang tampak sangat tampan wajar kalau banyak wanita yang tergoda. "Sungguh, hanya wanita bodoh yang berani meninggalkan pria ini." Batin Fatma.


Tangan Fatma terulur ke bagian bahu Arya yang tertutup selimut, ia goyangkan dengan pelan. "Kamu, sudah bangun belum?"


Perlahan tubuh Arya bergerak menggeliat tanpa membuka matanya. "Hem," gumamnya dengan suara serak-serak basah khas suara orang yang baru bangun tidur.


"Sudah bangun belum? dah siang juga," sambung Fatma menatap lekat ke arah Arya.


Arya belum juga membuka kedua matanya, namun bibirnya mengulas senyuman sangat manis, ini kali pertama di bangunkan dengan suara lembut seorang Fatmala. Suaranya bagai mendayu-dayu bagai bulu perindu, membuat terlena yang mendengar. Sebuah alarm yang bikin nyenyak lagi.


"Iih, malah mesem-mesem!" Fatma sedikit menepuk bahu Arya.


Mata Arya memicing. Masih terasa ngantuk berat, mencoba melihat ke sumber suara. "Hem ... pagi-pagi sudah ada bidadari, cantik sekali," ucapan yang keluar dari mulut Arya, dengan suara parau nya.


"Ck! malah ngegombal. Pukul berapa nih?" tanya Fatma seraya melirik jam yang ada di dinding.


"Jam berapa emang?" Arya malah memejamkan mata sekalian mengumpulkan kesadarannya.


"Setengah enam lewat," sahut Fatma, ia berdiri dengan niat mau keluar.


Arya melonjak kaget mendengarnya. "Astagfirullah ... aku kesiangan," mengibaskan selimut dan setengah loncat turun dan menuju kamar mandi.


Manik mata Fatma seakan tak berkedip melihat Arya yang ternyata tidur bertelanjang dada. Berkali-kali menelan saliva nya yang tercekat di tenggorokan. Apalagi walau sekilas, netra matanya menangkap sesuatu yang bangun di balik celana pendeknya Arya. Sebuah pemandangan yang tak dapat terelakkan, Fatma menggeleng kasar ingin membuang bayangan itu dan dengan buru-buru keluar dari kamar tersebut.


Fatma membawa langkahnya bergegas kembali ke lantai atas untuk membangunkan Rania dan memandikannya seperti biasa.


"Sayang ... ba--" Fatma tidak meneruskan kalimatnya sebab Rania sudah bangun dan sudah tampak segar.

__ADS_1


"Mam, Rania sudah mandi tinggal dandan aja, Rania pinter kan Mam?"


Fatma menghampiri dengan bibir menunjukan senyuman dan bangga, bahwa putrinya sudah bisa mandiri. "Beneran nih, bersih gak? coba Mama cium baunya."


Rania menatap sang bunda yang berjongkok menciumnya. "Bersih dong Mam, pake sabun. Sikat gigi, cuci muka seperti yang Mama ajarin." Celoteh anak itu penuh bangga.


"Oya. Pinter nya putri Mama, yu kita dandan?" Fatma berdiri dan mengambil pakaian buat Rania sekolah.


"Mam, om masih ada ya?" tanya anak itu ingat pada Arya.


Fatma menatap lembut. "Sayang tau ada om?" mengernyitkan keningnya, pura-pura gak tahu.


''Kan salam, waktu Rania bobo Om datang mengusap pipi Rania. Jadi bangun deh sebentar, terus bobo lagi. Masih apa ya Mam?"


"Ada dong ..." suara Arya tiba-tiba muncul dari balik pintu.


Arya membalas pelukan Rania dengan penuh kasih dan sayang. "Gimana kalau om yang antar Rania sekolah, mau gak?"


"Hore ... mau-mau. Rania mau sekolah sama om." Anak itu bersorak sangat gembira, namun tiba-tiba wajahnya berubah muram, menjadi sedih.


"Lho. Kenapa sayang? Rania gak senang mau dianterin om?" tanya Fatma terheran-heran.


"Rania sedih." Tampak banget kesedihan di wajah Rania.


Arya dan Fatma saling bertukar pandangan, kedua matanya saling bersitatap merasa penasaran.


"Sedih kenapa sayang? coba cerita sama Om." Tangan Arya mengisap pucuk kepala Rania yang menunduk dalam.

__ADS_1


"Teman-teman semua suka di antar sama papanya. Cuma Rania yang gak pernah di antar, mereka bilang papa Rania di penjara." Kepala Rania menunduk sedih.


Betapa mencelos nya hati Fatma mendengarnya. Dengan spontan manik mata Fatma tampak nanar dan langsung memeluk Rania. "Sayang. Nggak usah dengerin kata mereka ya?"


"Katanya, Mama sama papa sudah pisah?" tanya Rania yang dengan refleks Fatma mengangguk.


Fatma berderai air mata tak kuasa menahan air mata mendengar ungkapan putri kecilnya ini. "Mama sayang ... banget sama Rania. Jangan sedih ya? Rania punya Mama."


Arya tertegun dan menghela napas dengan sangat panjang. Sambil mengusap kepala Rania yang berada dalam pelukannya Fatma Arya berkata. "Rania gak boleh cengeng. Mulai hari ini, Om janji, setiap Om tidak bertugas. Om akan selalu mengantar bidadari kecil nya Om ke sekolah."


Rania melepas pelukan sang bundanya. "Janji? Om janji mau antar Rania terus?" netra matanya yang bening menatap lekat ke arah Arya yang duduk di sofa.


Arya melempar senyuman pada Fatma yang menangis pilu, Sedih mendengar curahan hati Rania. "Iya, Om janji. Bila tidak tugas, kalau tugas atau kerja. Rania sama aunty dan pak Dudin saja ya?"


"Hore ... ye, ye-ye, ye-ye. Rania sekolah sama Om ganteng." Rania kembali berekspresi bahagia dan jingkrak-jingkrak lagi.


"Tapi, Om gak janji nungguin. Om akan antar perginya. Dan jemput lagi pulangnya! ya sayang ya?"


"Iya, makasih. Om ... Rania seneng ... deh. Mama mamam yuk? Rania lapar. Nanti kesiangan sekolahnya." Rania mendahului keluar dari kamarnya.


Arya menoleh pada Fatma. "Kok nangis? jelek ih, gak cantik lagi kalau begitu."


Fatma mengusap pipinya yang basah itu seraya tersenyum getir ....


****


Jangan lupa like komen dan hadiahnya ya🙏

__ADS_1


__ADS_2