Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Perjalanan


__ADS_3

Arya turun dan langsung menghampiri Rania yang berdiri depan pintu pagar yang tinggi dan besar.


"Mama dan yang lainnya sudah siap belum?" mata Arya celingukan lalu menuntun Rania ke dalam gerbang.


"Mereka sudah siap tapi masih di dalam, Papa kita jadi ke Bandung nya?" sahut Rania diakhiri dengan tanya balik.


"Jadi dong ... assalamu'alaikum ..." Arya mengucap salam di depan pintu utama yang sudah terbuka lebar itu.


"Wa'alaikum salam, Tuh sudah datang, Ibu kita gak jadi pagi ini?" sambut Bu Wati dengan ramahnya. Mereka sudah tampak siap berangkat.


"Jadi, Bu," sahut Arya sambil meraih tangan Bu Wati dan pak Wijaya bergantian.


"Mau jalan sekarang? atau nanti, sudah sarapan belum, nak Arya?" tanya pak Wijaya.


"Sekarang aja? Em ...?"


"Pasti mau nanyain Fatma ya? dia masih siap-siap di atas," sela Bu Wati yang sudah bisa membaca pikiran Arya.


Arya menggaruk tengkuknya, merasa malu sama calon mertuanya yang tau dan mengerti dengan yang ia pikirkan.


"Mam ... Mam? Papa sudah datang nih. Ayo cepetan?" pekik Rania sambil memegang tangan Arya.


"Eeh, jangan buru-buru juga sayang, nanti mamanya belum selesai," ucap Arya sembari mengelus kepala Rania.


Kemudian dari tangga turunlah Fatma yang mengenakan outfit setelan celana longgar dan kemeja panjang. Rambut di kuncir standar, mengekspos leher jenjang yang putih bersih. Polesan make up sederhana namun tetap tampak cantik.


Netra mata Arya tertuju pada sosok Fatma yang sedang turun menenteng ponsel kesayangannya. Pandangan mereka bertemu, deg. Ser ... darah di tubuhnya mengalir dengan derasnya.


Hati Fatma berdebar-debar ketika bertemu mata dengan Arya yang sangat lekat menatap ke arah dirinya. Membuat ia gugup dan salah tingkah, Fatma menggigit bibir bawahnya sambil terus berjalan menuruni anak tangga.


"Ayah, koper kita sudah dimasukan mobil belum?" suara Bu Wati mengganggu pendengaran Arya yang anteng memandangi terus ke arah ibu Negara.


"Sudah, Bu. Tinggal kita saja," balasnya pak Wijaya sambil berdiri.


Fatma yang sudah berdiri tidak jauh dari tempat Arya duduk mengulas senyumnya. "Mau pergi sekarang atau kapan?"


"I-iya, sekarang aja. Sultan sudah ada di luar menunggu." Arya berdiri dan bersiap untuk pergi.


"Rania mau sama Papa ya? Mama, boleh ya? Rania naik motor papa." Rania menatap penuh harap mendapat ijin dari sang bunda.


Fatma dan Arya saling lempar tatapan. Seolah saling bertanya?


''Naik motor? angin sayang. Ini perjalanan jauh." Lirihnya Fatma pada Rania yang langsung cemberut.


Netra mata Arya melihat Fatma dan Rania bergantian. "Em, gini aja. Boleh ikut naik motor sebentar aja ya? dan Rania pake jaket dulu."


"Hore, hore ... makasih Papa?" sorak Rania sambil mencium tangan Arya.

__ADS_1


"Tapi, A ..." Fatma menatap sendu.


"Sebentar kok, nanti aku ikutkan lagi ke mobil." Arya meyakinkan.


"Iya tidak apa-apa sebentar. sayang. Aman kok." Timpal Bu Wati yang sudah berdiri dekat pintu.


"Baiklah." Fatma menghela napas pasrah.


"Ayo, Pah ... jalan?" Rania menarik tangan Arya dan Fatma kanan-kiri.


Sepersekian menit kemudian mereka semua termasuk Mia sudah berada di halaman dan satu persatu masuk ke dalam mobil.


"Lama amat di dalam, belah duren dulu apa? saya ditanam di sini, tega-tega." Gerutu Sultan sambil menggeleng.


"Tidur dulu, bermimpi dulu," sahut Arya sambil mesem dan mengenakan helm.


"Lagian ibu Negara suruh masuk kek, rakyat jelata nya ke dalam rumah disuguhi minum gitu! bukannya dibiarkan kepanasan gini. Kering jadi kerupuk nih, Bu ..."


Fatma yang sedang mengenakan helm Rania tertawa renyah. "Beneran aku gak tau. Lagian kenapa gak ikut masuk?"


"Belah duren? kan belum menikah!" Sofi menepuk bahu Sultan.


"Kali aja belah duluan, nanti kapan-kapan nyicip nya. Ha ha ha ..." Sultan ketawa dan menoleh ke arah Arya yang seketika melotot.


Hening!


Plak!


Tangan Sofi melayang ke bahu Sultan. "Enak aja kau bandingkan ku dengan kingkong. Jahat amat sih."


"Sorry yang." Sultan nyengir.


Kemudian kendaraan mereka berkompoy berangkat menuju Bandung. Sultan bonceng Sofi, Arya bonceng Rania. Sementara Fatma bersama keluarga di dalam mobil yang dikemudikan pak Harlan.


Di perjalanan. "Papa, lihat. Ada delman. Pah ada kuda?" jari Rania segala ditunjuk, lihat apa aja dia ngoceh.


Arya hanya mengangguk dan tersenyum. Merasa tidak kesepian dengan ocehan anak itu, Rania.


Karena sudah waktunya makan siang dan sekalian salat Dzuhur. Aya menghentikan motornya di depan masjid yang sekaligus berhadapan dengan sebuah restoran cepat saji.


"Kok, berhenti sih, Pah?" Rania heran. "Emang sudah nyampe ya?"


"Belum anak manis, kan sudah waktunya makan siang dan salat Dzuhur dulu." Balasnya Arya sembari membuka helmnya.


"Ooh, oke." Rania pun Arya turunkan dari motornya.


Kendaraan yang lain pun merapat mengikuti motor Arya.

__ADS_1


Di belakang. Fatma turun menghampiri Arya dan Rania yang menunggu dekat motor.


"Berhenti di sini?" tanya Fatma dengan manik mata mengamati tempat sekitar.


"Salat Dzuhur dulu, setelah itu makan siang. Biar perjalanan lebih leluasa," sahut Arya.


"Ayo, Mam. Pah ..." Rania menarik tangan keduanya masuk ke halaman masjid.


"Sayang ... tungguin dulu yang lain ..." ucap Fatma seraya berjalan.


"Biar saja Mam, Oma dan opa bukan anak kecil seperti Rania." Celoteh anak itu.


Arya hanya tersenyum mendengar celotehan anak itu. Sesekali menoleh ke arah Fatma yang mesem-mesem tampak bahagia. Lalu mereka mengambil air wudu bersama dan lanjut salat berjamaah.


"Kita nyebrang nih?" tanya Sultan selepas salat dan mengenakan sepatunya.


"Nggak usah nyebrang, sudah ... di sini aja nanti aku transfer atau ku hadiahkan alfatihah kemari." Balas Arya yang sama-sama mengenakan sepatu juga.


"Ha ha ha ... kau bisa aja bro, emangnya aku sudah mati apa dihadiahkan alfatihah segala? tega kau ini bro." Sultan menggelengkan kepalanya.


Lalu mereka menyebrang ke sebuah restoran cepat saji. Masakan Sunda yang terkenal enaknya sehingga restoran ini cabangnya ada di beberapa daerah termasuk Bandung ini.


Mereka memilih meja yang panjang agar bisa duduk dan makan bersama, masing-masing memilih menu kesukaannya di buka daftar menu.


Setelah berunding. Akhirnya Arya yang pesankan semuanya. "Kami ... persen pepes ikan mas dan ayam, pepes tahu jamur, semur jengkol dan ikan kembung. Sambal goreng. Sambal mattah dan lalapan, Oya satu lagi terong goreng. Dan minumnya ... juse buah Tiga es kelapa dan air putih."


"Baik, Aa dan teteh, di tunggu sebentar ya? Silakan menunggu," ucap pelayan dengan sangat ramahnya.


"Rania mau minum es kelapa ya?" Rania mendongak ke sang bunda dan Arya bergantian.


"Iya sayang, boleh," balas Arya dan Fatma serempak.


"Asyik, Pah air kelapa itu asalnya dari mana sih? kok tiba-tiba ada banyak di dalamnya. Siapa yang isi ya?" tanya anak itu lagi-lagi mendongak ke arah Arya dan mamanya.


Fatma melihat ke arah Arya yang juga meliriknya. Kemudian Arya menghela napas, bersiap menjawab.


"Pengen tahu, Rania dari mana isi air kelapa?" tanya Sultan pada Rania.


"Mau, mau tahu." Rania mengangguk.


"Dari--"


"Allah yang menciptakannya. Begitupun isinya sayang," ucap Arya memotong perkataan dari Sultan, sebab Arya yakin Sultan pasti memberi jawaban yang nyeleneh ....


****


Jangan lupa like komen dan dukungan lainnya🙏

__ADS_1


__ADS_2