
Mia hanya menatap kepergian Fatma dari kamar selama ini ia tinggali.
Fatma berjalan dan membawa langkahnya ke ruang tengah, di mana ada pak Dudin di sana menunggu Mia.
"Pak, jangan lupa alamatnya dan nanti juga pasti dia menjemput kok." Fatma menatap pak Dudin.
"Iya, Nyonya. Tapi kenapa di pindahkan? terus yang mau mengantar non Rania siapa?" tanya pak Dudin.
"BI, Ina ada. Yang lain banyak. Mia sedang di butuhkan di sana saat ini." Jawabnya santai.
Pak Dudin mengangguk. Dan tidak lagi bersuara atau mengajukan pertanyaan lagi padahal masih banyak pertanyaan dalam hatinya yang berkaitan dengan Mia.
Tap-tap-tap. Derap langkah yang terdengar mendekati tempat tersebut. Fatma dan pak Dudin menoleh ke sumber suara.
Mia berdiri dengan membawa koper besar, dan matanya menyapu setiap sudut tempat tersebut. Yang selama ini ia tinggali lalu ia berpamitan ada teman-teman atau para asisten di Mension tersebut, tangis haru pun menghiasi kepergian Mia, sebab bagaimanapun mereka lama satu atap bersama.
Pak Dudin mengambil koper milik Mia dan membawakannya keluar lantas dimasukan ke dalam bagasi mobil.
"Mia, semoga betah ya di sana? maaf kan saya bila selama ini bawel atau apa sama kamu." Bu Wati memeluk Mia.
"Oya, Nyonya besar. Aku juga minta maaf jika selama ini lancang atau gimana? pada keluarga ini." Balas Mia.
"Tuan, saya pamit!" kata Mia pada pak Wijaya setelah melepaskan pelukan dari Bu Wati.
"Ya! baik-baik di sana." Mengusap bahu Mia. Pria paru baya itu tersenyum melepas kepergian Mia.
Mia melambaikan tangan sebelum memasuki mobil yang biasa di pakai olehnya mengantar Rania sekolah.
Begitupun Fatma melepas Mia dengan ikhlas. Setelah Mia hilang dari pandangan sudah di bawa pak Dudin ke Bekasi. Fatma meminta asistennya mengambil tas dan koper pakaiannya yang akan dibawa ke apartemen.
Sementara Bu Wati dan suami ke dapur.
"Tolong ambilkan tas saya dan koper nya di kamar?" pinta fatma kepada Bi Ina sebagai kepala asisten di sana.
"Baik, Nyonya. Sebentar!" Bi Ina sembari ngeloyor ke lantai atas.
Fatma duduk dengan membuka ponselnya melangsungkan vc dengan Arya namun yang angkat adalah Rania, yang tampak segar.
__ADS_1
"Mam, Rania sudah mandi. Kapan Mama datang ke sini? Ayo? cepetan.!"
"Iya sayang, iya ... mama masih nunggu bi Ina mengambilkan koper. Papanya mana?" tanya Fatma sambil memandangi Rania.
"Papa, sedang mandi. Rania juga sudah mandi nih, dah segar dan wangi." Anak itu mendengus menciumi bau tubuhnya.
"Wih ... pinter, mandi sendiri kan? anak mama?"
"Iya dong, Mam. Kata Mama juga harus belajar mandi sendiri dan gak boleh di mandiin sama papa! pamali.
"Pinter, begitu dong anak Mama. Sebentar lagi Mama datang kok, tapi Mama gak tau alamat apartemennya gimana dong?" goda Fatma.
"Yah ... kok gak tahu sih? Papa ... Mama gak tahu jalan ke sini jemput gih?" Rania lesu lantas memekik memanggil Arya.
"Nggak pa-pa biar cari sendiri di google, bilangin sama mama cari di internet aja." Suara Arya dari jauh yang terdengar oleh Fatma.
"Ah ... Papa, lama! jemput Papa aja!" suara Rania sedih.
"Suruh aja Mama nya kesini tanya Google sayang." Arya muncul dan hanya mengenakan handuk dengan rambut yang basah dan terlihat masih menetes.
Fatma menelan saliva nya. kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Fatma menggeleng. "Nggak mau, biar aku di sini saja. Kamu di sana dan aku di sini, oke?"
"Eeh, kalau gitu aku tidur sendiri dong--"
"Biarin, biasanya juga sendiri." Fatma mencibirkan bibirnya.
"Pokonya, Mama cepetan datang. Sama pak Harlan aja, kan beliau tau alamat sini, Rania lapar." Keluh Rania.
"Iya sayang, iya. Sudah dulu ya? Mama mau siap-siap! oke?"
Sambungan vc pun terputus, Fatma beranjak. "Bu Ina. besok suruh siapa aja, tugaskan untuk mengantar Rania sekolah. Seperti biasa sama pak Dudin dan jemput Rania ke apartemen. Eh tapi ..." sejenak Fatma berpikir.
"Nanti saya kasih info lagi lah, takutnya besok di antar jemput sama tuan. Ya?" sambung Fatma.
"Baik Nyonya," Bu Ina mengangguk hormat. "Tapi biasanya bukankah kalau ada tuan Arya, nona di antar atau di jemput tuan?"
__ADS_1
"Iya, makanya dari itu. Keputusannya nanti saja lah. saya kasih tahu lagi." Fatma membawa langkahnya menuju teras sambil menarik kopernya sendiri lantas koper Bu Ina ambil alih.
"Oh, iya. Lupa!" menepuk keningnya. Fatma membalikan badan mengayunkan langkahnya menuju dapur untuk menemui kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu. Aku pergi dulu?" pamit Fatma sebentar memeluk sang bunda.
"Iya, hati-hati. Jadilah istri yang baik, bagaimanpun kamu sudah pengalaman dalam berumah tangga dan Arya mungkin masih awam dalam hal berumah tangga, jadi kamu harus pengertian. ****** kebahagiaan mu sayang," ujar Bu Wati sambil memeluk erat Fatma dan mengusap punggungnya.
"Songsong bahagia mu itu, Nak. Semoga dengan yang sekarang kau dapatkan kebahagiaan!" sambung pak Wijaya. memegang kedua bahu Fatma.
Fatma mengangguk dan mencium punggung tangan sang ayah.
"Jangan biarkan atau memberi cela sedikitpun untuk pengganggu rumah tangga mu. Jadikan suami mu milik mu seutuhnya." Pesan pak Wijaya.
"Iya, jangan biarkan suami ataupun wanita lain merasa ada kesempatan untuk memiliki hubungan yang lebih. Kamu sebagai istrinya tunjukan kalau kamu yang terbaik untuk pasangan mu." Timpal Bu Wati juga.
Fatma hanya tersenyum simpul dan mengangguk tanda mengerti akan semua pesan dari kedua orang tua nya itu.
Kemudian Fatma pergi, setelah berpamitan. "Assalamu'alaikum ...."
Fatma memasuki mobilnya yang pak Harlan kemudikan. "Ayo. Jalan Pak? Rania sudah merengek."
"Baik, Nyonya." Pak Harlan mengangguk sambil bersiap menyalakan mobilnya.
Sepanjang perjalanan. Fatma menyandarkan punggungnya ke belakang jok dengan pandangan yang lepas keluar jendela.
Dalam pikirannya memutar kenangan di masa lalu di mana Aldian bukan cuma menganiaya raga namun juga menyakiti jiwanya Fatma. Dengan cara suka membawa wanita lain secara diam-diam maupun terang-terangan. Sudah jelas-jelas punya istri, Suci masih juga mencari teman ranjang lain.
Pak Harlan sesekali melihat sang majikan dari kaca spion. Namun ia terus fokus menyetir. Membelah jalanan yang ramai dengan orang-orang yang pulang dari aktivitasnya.
Waktu sudah mendekati senja. Warna langit merah jingga matahari yang mulai tenggelam. Sebentar akan datang sang malam dan akan berganti dengan sang rembulan bila itupun sudi menyinari.
Selang beberapa puluh menit akhirnya tiba juga di area apartemen. Setelah Fatma turun dan mengeluarkan kopernya. Mobil yang dibawa pak Harlan pun kembali lagi ke Mension.
Fatma berjalan sambil menarik kopernya. Dia terus berjalan menuju lantai atas dengan tujuan ke unit Arya ....
****
__ADS_1
Kalau ada tipo. Tolong koreksi dan laporkan segera agar aku secepatnya revisi 🙏