
"Terima kasih?" Fatma mengulas senyumnya.
"Sama-sama sayang." Balas Arya sembari memperlihatkan gigi putihnya.
Saat ini Fatma tengah menemani Rania sebelum tidur. Anak itu minta ditemenin dulu sebentar.
Sebentar Arya berdiri di depan pintu kamar Rania. Menunjukan senyuman hangat pada keduanya lalu menghilang entah kemana?
"Mam, papa Rania kemana ya? gak pernah jumpai Rania atau pernah gak nanyain rania?" tanya Rania sambil menatap langit-langit dan memeluk bonekanya.
Mendengar perkataan dari Rania seperti itu mendadak dada Fatma terasa sesak, hati bagai di iris-iris. Sakit, ternyata hati kecil anak ini masih juga mengingat papa kandung nya.
Fatma menelan saliva yang terasa nyeri. Tangannya membelai lembut kepala sang putri kecilnya, walau sudah mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Arya, bagaimanapun sebagai darah daging Aldian, Rania tetap punya sisi yang merindukan papa nya itu.
"Kok, Mama gak jawab? mungkin papa sekarang sudah melupakan Rania ya?" ulang Rania melirik sang bunda.
"Em, nggak lupa. Papa Rania mungkin sedang sibuk, jadinya gak sempat menemui Rania." Pada akhirnya Fatma memberi jawaban pada Rania.
"Kalo papa gak sayang sama Rania, Rania juga gak mau sayang. Buktinya gak pernah nanyain Rania, kan? berarti papa gak ingat Rania dan sayang Rania." Celoteh anak itu.
Semakin sesak dada Fatma saat ini. Sisi lain dibalik keceriaan Rania, ada rasa rindu yang mendalam terhadap ayah kandungnya.
"Sayang ... papa Rania gak lupa, cuma ... yaitu. Dia sibuk, papa Rania juga sering nanyain Rania kok. Tapi Mama sering lupa untuk menyampaikannya." Terpaksa Fatma berbohong agar Rania tidak merasa ditelantarkan, apalagi sampai membenci papanya.
Nanti ujung-ujungnya dia juga yang akan disalahkan, yang gak bisa mendidik anak atau menanam kebencian pada papanya sendiri.
"Ooh, gitu ya?" gumam anak itu nyaris tak terdengar dan Fatma lihat detik kemudian sudah terlelap.
Fatma cium kening anak itu dengan haru. Sedih, rasanya mengingat mengingat perkataan Rania barusan.
Langkah Fatma kini teratur menuju kamarnya. Sesaat kemudian berdiri di depan pintu dan mendapati Arya tengah sibuk dengan layar laptopnya.
Kedua netra mata Arya menoleh ke arah Fatma berdiri. "Rania sudah bobo sayang? sini?" tangan Arya menepuk kasur di dekatnya.
Tangan Fatma mengunci pintu lalu, berjalan mendekati sang suami yang tengah duduk memangku laptop. "Sudah, Rania sudah bobo."
Arya melirik jam rolex di pergelangannya. "Masih pukul 20. Mungkin dia capek bermain tadi."
"Hem." Fatma singkat dan menyandarkan kepalnya di pundak Arya dengan manja.
__ADS_1
Kepala Arya menoleh dan cuph! kecupan hangat di mendarat di kening Fatma. "Kenapa, tampak lesu! apa ada yang sedang kau pikirkan?"
Helaan napas Fatma tampak berat. "Mau tau gak, apa yang barusan Rania bicarakan?"
"Apa?" sedikit melirik.
Fatma menceritakan apa aja yang Rania ungkapkan padanya. Tak terasa kedua mata Fatma berkaca-kaca tak kuasa menahan sedih.
Arya membuka tangannya merangkul bahu Fatma. "Sudah, jangan di pikirkan, wajar kalau Rania mengingatnya. Bagaimanapun dia darah daging nya, yang penting sekarang adalah berusaha membuatnya bahagia.
"Aku sedih mendengarnya. Dan aku gak tau harus berkata apa, menceritakan apa tentang papa nya." Jari Fatma mengusap sudut matanya yang basah.
"Sett ... sudah ah, jangan sedih. Bobo yu?" ajak Arya seraya menutup laptopnya.
"Masih, sore juga." Balas FAA sambil mengusap pipi Arya yang mesem.
"Emang kenapa? Rania aja sudah bobo! Lagian malam besok aku berangkat sore."
"Sore?" tanya Fatma.
"Iya, kenapa?" ucap Arya balik tanya.
"Kebetulan besok aku akan mengadakan pertemuan di apartemen ini, biar tidak jauh pulang." Fatma menegakkan duduknya lalu turun berjalan mendekati lemari mengambil baju tidurnya.
"Sudah." Jawab Fatma sembari membawa baju ke kamar mandi.
Arya berbaring menatap langit-langit sambil menyilang kan tangan di dada. Arya mengingat perjalanan cintanya dengan Renata hingga berujung perpisahan, namun di balik itu semua ada hikmah yang tidak terlalu ia sadari.
Kalau Allah memberikan jodoh yang mungkin lebih baik dari sebelumnya.
Di kamar mandi, Fatma tengah menatap pantulan dirinya di cermin. Menatap intens tubuhnya yang mengenakan lingerie hitam, yang cukup mengekspos setiap lekuknya.
Dadanya tampak naik turun, jadi deg-deg-degan sendiri mau menghadapi suami! "Huuh ... kok aku jadi nervous gini sih?" mengusap wajahnya.
Kemudian mengenakan jubahnya. Keluar dari kamar mandi tanpa melihat ke arah Arya, Fatma berjalan mendekati tempat tidur. Melepas jubahnya dan di simpan di sisi bahu ranjangnya.
Arya langsung bangun dan duduk melihat sang istri yang keluar dari kamar mandi. Manik mata Arya terus menatap intens ke arah sang istri yang berjalan mendekatinya. Rambut terurai bergelombang, berjalan gemulai bak peraga Wati.
Apalagi saat Fatma membuka jubahnya, mengekspos tubuhnya yang mengenakan lingerie hitam yang jelas tipis nya. Sehingga menunjukan setiap lekuk di tubuh itu membuat mata Arya tak berkedip melihatnya. Berkali-kali menelan saliva nya, di tenggorokannya terasa kering.
__ADS_1
"Hi ... lihat apa sih? gitu amat melihatnya?" Fatma mengibaskan tangannya.
Membuyarkan fantasi Arya anteng sampai tak berkedip melihat dirinya.
"Ha? kenapa?" Arya menggercapkan matanya yang terasa perih.
"Lihat apa, sampai segitunya?" ulang Fatma sambil naik berlutut ke tempat tidur.
Arya meraih tangan sang istri di tariknya agar lebih dekat dengannya. "Sini duduk denganku. Aa lihat bidadari yang sangat cantik dan ternyata dia adalah milik ku, rasanya aku cemburu kalau dia dekat dengan pria lain. Apalagi sampai menyentuhnya, aku gak rela."
Fatma tersipu malu, mendengar ucapan dari Arya yang gombal. "Hem, gombal banget sih?" menjepit hidung Arya yang bangir.
"Bukan gombal sayang, benar kok. Bidadari di hatiku," mencium pucuk kepala Fatma.
Tangan Arya meremas jemari Fatma yang lentik dan halus. Kemudian merengkuh bahunya dan membawa kepala sang istri menempel di atas dadanya.
"Bukan gombal sayang, benar kok. Bidadari di hatiku," mencium pucuk kepala Fatma.
Fatma memeluk erat tubuh Arya dengan kedua mata terpejam menyembunyikan wajahnya di bawah leher Arya.
"Bolehkah bila aku memintanya malam ini?" tanya Arya sambil mengelus punggung tangan Fatma.
Hening!
Fatma memilih terdiam sejenak dengan posisi yang sama. Rasanya pertanyaan Arya tak perlu dia jawab juga, sebab itu hak dia dan tidak ada alasan Fatma untuk menolaknya kecuali di saat-saat tertentu.
Arya membawa tangan Fatma, di arahkan ke bibirnya. Di kecup dan ditempelkan ke pipinya, digerakkan mengusap halus.
"Boleh gak?" ulang Arya dengan sangat lirih.
"Tentu, boleh!" gumam Fatma malu-malu.
Bibir Arya menunjukan rasa bahagianya. Dengan seulas senyuman yang merekah, lalu membaca doa sebagai berikut.
"Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathana marazaqna.”
“Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan dari rezeki (bayi) yang akan Engkau anugerah kan pada kami.
"Aamiin ya Allah." Timpal Fatma seraya mendongak menatap wajah Arya yang menengadah ke langit-langit ....
__ADS_1
****
Ayo mohon dukungan dan doanya ya🙏