Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Cucu Umi


__ADS_3

''Kami cuma berencana, kalau seandainya Allah memberi sekarang-sekarang tidak apa-apa juga, itu lebih baik dan Alhamdulillah." Lirih Fatma sembari mengulas senyum tipisnya.


"Iya Aamiin. Kamu, sebagai orang tua akan selalu mendoakan yang terbaik buat Apa dan Neng, di kasih sekarang Alhamdulillah. Nggak juga, sabar. Karena Allah akan memberi di waktu yang tepat," ujar Abah dengan lembut.


Kata-kata Abah sedikit menenangkan. Tidak nyelekit seperti umi yang lembut namun cukup membuat pikiran Fatma terganggu.


"Gimana di kasih saja ya kak?" tambah Dewi mengusap bahu sang kakak ipar.


Fatma menoleh pada Dewi dengan seulas senyuman yang manis. "Iya, De."


"Umi, Abah. Aunty?" panggil Rania seraya berlari menghampiri.


"Eeh. Cucu Umi, dari mana? Umi nungguin dari tadi Neng cantik teh gak ada atuh." Sambut umi Santi.


Keduanya berpelukan dan saling melepas rindu. Beberapa kali umi mencium kepala Rania, tampak sekali kalau umi menyayangi Rania layaknya pada cucu sendiri, pemandangan itu membuat Fatma sedikit terhibur.


Lalu Rania melapaskan pelukan pada umi, berganti ke Abah dan mencium tangan penuh hormat. "Abah. Rania kangen sama Abah."


"Abah juga kangen sama cucu Abah ini. Sudah besar cucu sekarang ya?" Abah mengusap punggung Rania.


Kini Rania berganti memeluk Dewi. "Aunty tambah cantik deh. Pake kerudung semakin cantik," puji Rania menatap Dewi yang benar tampak cantik sekali.


"Em ... anak manis bisa aja. Rania juga sanga ... t cantik, aunty jadi iri lho." Dewi tak kalah memuji anak itu yang tampak sangat happy.


Dari jauh terdengar sayup-sayup suara adzan Maghrib yang berkumandang indah. Mengajak umat muslim untuk menghadap sesaat.


"Em ... Bi? BI Ina? tolong Antarkan Abah sama umi ke kamarnya." Perintah Fatma pada kepala asisten rumah tangga.


"Baik, Nyonya." BI Ina yang tidak jauh berdiri, langsung menghadap dan mengangguk.


"Dewi kamarnya di atas aja ya? antar sama Rania." Fatma mengalihkan pandangan ke arah Dewi dan Rania bergantian.


"Yang di atas ... dulu kamarnya papa Al ya Mam?" tanya Rania memandangi sang bunda.


"Iya sayang. Aunty Dewi suruh tempati saja." Fatma mengangguk.


Mereka semua pun bubar ke kamarnya masing-masing. Begitupun Fatma membawa langkahnya ke lantai atas dengan pikiran sedikit terganggu.

__ADS_1


Tadinya Arya dan Fatma menunda kehamilan barang setahun. Biar Rania lebih puas di sayang Arya sebelum mempunyai baby yang setidaknya akan terbagi. Kasian Ranai yang dari awal kurang kasih sayang sosok ayah dan kini mendapatkannya harus langsung terbagi.


Terlihat jelas helaan napas yang berat Fatma hembuskan dengan kasar. Ceklek mendorong handle pintu dan langsung ke kamar mandi mengambil air wudu.


Sesaat kemudian Fatma kembali dan bersiap untuk melaksanakan salat. Setelah menikah dengan Arya setidaknya Fatma lebih memperhatikan waktu ketimbang dulu yang sering lewat dengan alasan capek atau sibuk.


"Mam, Rania sudah ambil air wudu sama aunty. Tapi salatnya sama Mama ya?" anak itu menutup pintu. Di tangannya menenteng mukena kesayangannya yang bermotif help Kity.


Sesaat manik Fatma memandangi sang putri kecilnya. "Oya, pinter nya anak Mama. Sini? Mama Pakaikan!"


Rania mendekat pada sang bunda. Setelah siap mereka pun segera menunaikan Maghrib berdua.


Selepas itu. Membaca doa dengan khusuk yang Rania bacakan, yang di antaranya. "Ya Allah. Rania mohon ya Allah, semoga engkau memberi keselamatan buat papa yang sedang bekerja membawa pesawat. Selamatkan mereka dan bawa pulang secepatnya karena Rania rindu ingin papa kembali--"


Rania sejenak terdiam dengan wajah mendongak dan kedua tangan menengadah. "Rania sayang papa, semoga papa sayang sama Rania selama-lamanya, ya Allah. Semoga mama segera punya dede Bai. Agar Ranai ada teman main ya Allah, seperti Kiki dan Bela yang sudah mempunyai adek. Lucu ... sekali. Aamiin."


Fatma merasa haru mendengarnya. "Kok Rania gak menyertakan papa Aldian dalam doanya?" tanya Fatma dengan lirih sambil memeluk kepala Rania.


Namun Rania tidak menjawab. Lalu Fatma ajukan kembali sebuah pertanyaan pada putri kecilnya itu. "Rania mau punya adik hem?" tangan Fatma membelai pipi Rania serta di tatapnya dengan sangat lekat.


Fatma mengulas senyum samar nya. "Sabar ya?" kembali memeluk Rania dengan sangat erat.


Saat ini Fatma sedang ikut menyiapkan hidangan buat makan malam bersama. "Bi semua sudah matang ya?" tanya Fatma menoleh ke arah kepala asisten lalu mengedarkan pandangan pada asisten lainya yang masih tampak sibuk.


"Sudah, semuanya sudah matang dan siap." Jawab kepala asisten tersebut.


"Em ... baiklah. Kalian juga jangan lupa makan, Oya besok saya transfer buat belanja kebutuhan dapur ya, Bi?" sambung Fatma yang ikut membantu menuangkan minuman seperti bi Ina.


"Baik, Nyonya, Oya Nya. Apa perlu belanja bahan masakan Sunda?" tanya Bu Ina.


"Terserah, Bibi aja atau tanya aja sama umi. Apa aja yang mereka sukai, ya?" Fatma lalu mengayunkan langkahnya ke ruangan lain.


Fatma berjalan menuju kamar Abah dan umi. Sesampainya di depan pintu Fatma berdiri dan mengetuknya.


Tok ....


Tok ....

__ADS_1


Tok ....


"Umi, abah? makan malam nya sudah siap. Makan dulu yu?" suara Fatma seraya menunggu di depan pintu.


Tidak lama menunggu, pintu pun terbuka dan yang membuka umi sendiri.


"Oh, Neng. Iya padahal umi juga mau ke sana, Oya Abah sakit kepala apakah ada obat?" ucap umi sembari merapikan kerudung nya.


"Obat? ada. Abah sakit kepala! ya sudah makan dulu ya. Nanti aku datangkan dokter ke sini." Fatma menatap sang ibu mertua.


"Abah cuma sakit kepala biasa. Nggak perlu dokter atuh Neng. Cukup dengan obat warung juga nanti sembuh." Timpal Abah dari dalam menghampiri. pria tua gendut itu berjalan keluar sembari memakai penutup kepala.


"Iya, nggak pa-pa sekalian aja periksa. Sekarang kita makan aja dulu." Fatma mengikuti langkah kedua mertuanya.


"Kalau gitu sekalian aja atuh ya? Umi juga diperiksa?" kata umi melirik ke arah Fatma.


"Boleh dong, Umi. Boleh! nanti dokternya ke sini." Balas Fatma.


"Umi mah suka pusing. Apalagi kalau sedang gak punya duit, pusing banget. He he he." Sambung umi sambil tertawa kecil.


"Itu mah bukan penyakit Umi ... pusing yang di buat-buat." Kata Abah.


"Umi bisa saja. Buat apa Umi. Uang? semua anak-anak sudah pada besar dan bisa cari duit sendiri," lanjut Fatma.


"He he he ... itu dulu, Neng ... sekarang mah nggak atuh, buat makan saja Alhamdulillah cukup ya, Bah? gak ada yang minta jajan lagi atau minta di biayai lagi," ungkap umi. Dia menarik kursi setelah sampai di ruang makan.


"Rania mana sih? BI panggil Rania dan Dewi, mungkin masih di atas." Titah Fatma pada salah satu asisten yang langsung mengangguk.


Fatma duduk berhadapan dengan sang mertua, lalu mengambilkan piring buat keduanya. Serta isinya. "Oya. Besok bibi mau belanja, umi mau di belanjakan apa? bahan-bahan buat masak ala Sunda gitu?"


Abah dan umi saling melempar pandangan, keduanya masih bingung dengan tawaran sang mantu ....


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2