
Setelah semalam bertempur. Doni dan Renata terlelap tidur sampai pagi menjelang siang.
Mungkin mereka tak akan bangun kalau saja sang bunda tidak membangunkan mereka.
Doni terbangun duluan, menggeliat nikmat. Matanya terbuka lantas tersenyum, melihat istrinya yang berada dalam pelukan.
Senyum Doni begitu merekah. melihat sang istri begitu pulas, lalu netra nya bergerak melihat ke arah pintu yang terus diketuk dari luar.
"Rena? doni? sudah siang, bangun?" suara bunda Tita yang terus menggedor pintu.
"I-iya, Bunda!" balas Doni.
Renata bergerak. Memicingkan maniknya dan menggosok-gosok. Dan mendongak ke arah Doni yang tersenyum, buru-buru bangun menjauh dari Doni.
Renata buru-buru menjauh dan turun dengan mengenakan bajunya. Bergegas ke kamar mandi, sementara Doni hanya memandangi punggungnya Renata.
Entah apa yang Doni pikirkan saat ini? yang jelas bibirnya terus tersenyum bahagia dan juga diwarnai dengan rasa puas yang teramat.
...---...
Sehabis makan siang. Rania si gadis kecil itu di ajak Arya dan Fatma jalan-jalan, dengan mengenakan outpit celana panjang kotak-kotak hitam berpita di pinggang depan. Dengan atasan kaos hitam bercorak putih, rambut di kuncir dua tampak menggemaskan.
Rania menyambut dengan sangat antusias dan riang gembira, lebih banyak bersama orang tua nya.
"Mam, Rania mau naik delman ya?" pinta Rania memegang tangan sang bunda penuh harap.
"Boleh, ayo sama Papa. Yu?" Arya turun dan menuntun Rania yang langsung riang.
"Mau delman yang itu. Kuda yang itu-tu, Pa!" Rania menunjuk ke arah delman.
"Oke, kita jalan-jalan naik kuda." Arya menutup pintu mobil.
Pun Fatma turun, menyusul Arya dan Rania mendekati jejeran delman. "Mama. Ikut dong ..."
"Ayo, mam? kita naik delman." Rania menarik tangan mamanya.
"Mas, delman nya? untuk satu keluarga," pinta Arya kepada Abang tukang delman.
"Baik, Tuan." Si Abang mengangguk dengan ramah.
Kemudian Rania yang kini tampak bahagia naik bersama mama dan papanya. "Hore, Rania naik delman!"
Ketoplak ....
Ketoplak ....
Ketoplak ....
Suara sepatu kuda yang delmannya Rania tumpangi.
Anak itu bertepuk tangan dan bernyanyi sangat senang. Arya dan Fatma saling melempar pandangan, kemudian tersenyum bahagia ke arah Rania.
Anak itu begitu menikmati perjalanannya. "Mama, Papa? nanti naik lagi kalau sudah punya Ade baby ya?"
"Iya sayang, nanti kita ke sini lagi," sahut Fatma sambil merangkul bahu Rania.
"Adek nya anak laki-laki ya biar gak rebutan mainan boneka sama Rania." Menatap ke arah wajah Fatma yang mengerutkan keningnya.
"Kok, aneh sih? biasa pengen sama-sama jenisnya dengan kakak. Biar ada temen bermain, lah ini malah mau lain jenisnya." Fatma melirik ke arah Arya.
"Tidak apa sayang, mungkin Rania mau adik laki-laki biar ada yang melindungi nanti nya ya?" tanya Arya seraya mencubit gemes pipi Rania.
"Iya, kalau Rania ada yang jahatin kan ada yang belain. Buruan dong Mam cepet bikin?" rengek Rania.
"Bikin apa sayang--"
"Bikin adek," Rania menyela perkataan sang bunda.
"Ha ha ha ... Iya nanti Papa bikin, dari apa ya bikinnya?" kata Arya sembari tertawa.
"Dari ... dari terigu eh bukan! gak tau ah." Jawabnya sembari melihat suasana sekitar.
"He he he ... ada-ada aja ini anak." Fatma tersipu.
__ADS_1
"Namanya juga anak-anak, Nyonya," kata tukang delman dari depan. " baru satu ya putrinya?"
"Iya, Mas. Beru satu." Arya menoleh ke depan ke arah pria yang usianya sekitar 40 tahun.
"Doa kan saja, semoga pulang dari sini, mamanya hamil baby laki-laki. Ya Non ya?" sambungnya pria tersebut.
"Aamiin ya Allah ..." sahut Arya dan
Begitupun Rania yang mengusap wajahnya. "Aamiin ...."
Arya hanya mengusap pucuk kepala Rania penuh kasih. Dia merasa bahagia melihat anak ini bahagia. Walau dirinya bukan ayah kandung namun harus bisa membuktikan kalau dia bisa menyayangi Rania dengan sepenuh hati, apalagi Rania dulunya merasa kurang di sayangi oleh ayahnya. Jadi dia yang kini harus menggantikan.
"Rania mau naik kuda poni ya? boleh ya?" jarinya Rania menunjuk kuda poni yang kecil.
"Boleh," ucap Fatma mengangguk pelan dan sebuah senyuman yang merekah.
Lalu Rania berpindah dari delman ke kuda poni, tentunya tetap dengan pengawasan Arya. Fatma menunggu di sebuah kursi duduk bersantai, memperhatikan keceriaan putri kecilnya itu.
"Sedang apa sayang?" sapa Arya yang menghampiri Fatma yang sedang melamun di balkon.
Suara Arya memecah keheningan dan membuyarkan lamunannya.
"Nggak, cuman mengingat waktu di luar kota itu sayang." Fatma memutar tubuhnya menghadap sang suami.
"Emang kenapa?" tanya Arya kembali heran.
"Iya. Waktu itu Rania bilang, pengen punya adik laki-laki. Biasanya kalau anak kecil itu suka yang sama lho, biar ada kawan main. Tapi Rania beda." Fatma mengalungkan tangan ke leher Arya.
"Ooh, yang itu? tidak apa sayang, tapi kita harus terima sedikasihnya sama Allah. Mau laki-laki atau perempuan, sama aja," Arya mengusap perut Fatma yang masih rata.
"Iya, aku juga akan terima mau laki-laki atau perempuan yang penting sehat dan menjadi anak yang shaleh." Fatma menganggukkan kepalanya.
Kemudian memeluk sang suami dengan sangat erat. Menenggelamkan wajahnya di dada sang suami, tempat ternyaman bagi istri.
"Gimana persiapan resepsi pernikahan kita sudah sebatas mana?" tanya Arya sambil membelai rambutnya mesra.
"Sudah tinggal sekitar sedikit lagi kok," sahut Fatma sembari mengeratkan pelukannya.
Kemudian jari telunjuk Arya mengangkat dagu sang istri agar mendongak, kedua pasang mata mereka bertemu dan beberapa saat salin tatap begitu dalam.
Seolah saling menyelami perasaan masing-masing. Tatapan matanya Arya yang seakan menghunus jantung membuat Fatma klepek-klepek.
Lama-lama wajah Arya mendekat, walau perlahan tapi pasti mendaratkan bibirnya ke bibir Fatma yang memejamkan mata.
"Pap, Mama? Rani--" Rania yang berlari menghampiri Arya dan Fatma menggantung kalimatnya. Mata Rania yang bening menatap keduanya.
Arya yang sedang menikmati manisnya benda ranum milik Fatma langsung melepaskan dan menjauh dari sang istri.
Sontak Fatma membuka matanya terkesiap dengan kehadiran Rania di sana. Fatma pun memudarkan pelukannya dari pinggang Arya.
"Sa-sayang ada apa?" tanya Fatma sembari menghampiri.
"Em ... em ..." anak itu tampak kebingungan, mungkin lupa mau apa dan bicara apa.
Arya mengedarkan pandangan ke lain arah sambil mengusap bibirnya yang lembab. Menyembunyikan rasa malu.
"Ahem, kok Rania gak ucap salam atau mengetuk pintu dulu sih? kan Papa sudah ajarkan! kalau mau masuk kamar orang tua atau kamar siapa aja harus beri salam atau ketuk dulu," ucap Arya dengan lembut, menatap anak itu.
"Em ... maaf, Papa? Rania lupa lagi," anak itu menunduk merasa bersalah, lalu mencium punggung tangan Arya.
Fatma menatap ke arah Arya dan Rania bergantian. Melihat reaksi Rania yang langsung menunduk serta merasa bersalah.
"Iya, nggak pa-pa, Papa maafkan kok, lain kali janji ya? gak boleh selonong boy gitu, harus apa dulu?"
"Ucapkan salam atau ketuk pintu dulu, Rania janji, tidak akan selonong boy lagi." Rania langsung mengangguk kepada papanya.
"Pinter, Anak Papa pinter." Tambah Arya sambil mencium kening anak itu.
"Iya, dong ... kan anak Papa!" raut wajah anak itu tampak kembali ceria.
"Ooh, jadi Rania cuma anak papa aja? Mama jadi sedih nih. Nggak di akui sama Rania. Rania jahat. Hik hik hik." Fatma pura-pura sedih.
Rania menghampiri. "Nggak Mama ... Rania juga anak Mama. Bukan cuma anak papa!" tangan Rania membuka telapak tangan Fatma yang dipakai menutupi wajahnya.
__ADS_1
Fatma berubah menjadi tersenyum ke arah Rania yang ekspresinya berubah sedih.
Arya ikut tersenyum melihatnya. "Mama cemburu sayang, takut Rania cuma sayang Papa ya!"
"Nggak, gak cemburu." Fatma menggeleng sambil menangkupkan tangan di wajah Rania.
"Oya, tadi Rania mau bicara apa sayang?" ulang Fatma manik matanya menatap lekat ke arah sang putri kecilnya.
Sejenak Rania terdiam, seolah mengingat-ingat apa yang tadi mau ia katakan.
Arya dan Fatma mengarahkan pandangan kepada Rania yang diam dengan bola mata memutar.
"Mam, Papa itu ada om Tatan di bawah. Katanya mau mengajak aunty jalan-jalan sama Rania juga." Pada akhirnya Rania ingat mau bicara apa.
"Ooh," Arya santai. "Ha? apa?" langsung mengayunkan langkah nya lebar keluar kamar.
Fatma hanya menatap sang suami pergi. Lalu manik matanya bergerak melihat Rania. "Sayang mau ikut?"
"Mau dong! oya Mam. Kapan sih bikin Dede nya? Rania sudah tidak sabar ingin menggendongnya. Bermain bersama. Apa barusan Mama sedang membuat adek baby?" tanya Rania dengan polosnya.
Fatma mendengar pertanyaan itu kelabakan, merasa kebingungan untuk menjawab.
Kemudian menarik napas dalam-dalam. "Em ... bu-bukan sayang, sabar ya? eh ... yang barusan itu tanda kasih sayang dengan orang tertentu saja tidak harus sama sembarangan orang."
"Cepat dong, Mam bikin adek baby. Bikinnya kaya gimana sih, Mam? Rania pengen tahu dong?" tanya kembali Rania.
Pertanyaan Rania semakin membuat Fatma kelimpungan, baru saja ia membuka mulutnya bersiap menjawab.
"Kata temen aku pernah melihat papa dan mamanya sedang bikin adek, dan mereka sedang kuda-kudaan gak pakai baju di bawah selimut. Mama sama papa suka begitu gak?" lagi-lagi pertanyaan Rania bikin Fatma jengah.
Fatma memutar bola matanya jengah. "Ya ampun ... ini anak! ada-ada saja pertanyannya, ini lagi kok orang tuanya ceroboh sih gituan dihadapan anak. Tapi masih mending sih pakai selimut." Pada akhirnya Fatma bermonolog sendiri dalam hati.
"Mam, kok nggak jawab sih?" Rania heran melihat mamanya malah memilih terdiam.
"Aduh, sayang ... itu urusan orang dewasa dan bukan kapasitas anak sebesar Rania. Allah itu menitipkan janin kepada perut seorang wanita--" Fatma menjeda perkataannya sembari menghela napas panjang.
"Lalu ... perutnya sang ibu membesar karena di dalamnya ada calon baby. Terus setelah sembilan bulan lebih mengandungnya, barulah melahirkan bisa tunggal dan juga bisa kembar, tergantung Allah yang menentukan sayang," ujar Fatma dengan panjang lebar berharap Rania mengerti.
Rania mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. "Ooh ... gitu ya?"
"Oya, anak-anak seperti usia Rania atau di bawah Rania juga seharusnya bobo terpisah lho. Nggak boleh bobo bareng dengan papa dan mamanya."
"Kenapa Mam?" Rania heran. "Kan masih kecil?"
"Sebab, agar sang anak lebih dewasa dan tidak mengetahui aktifitas mama dan papanya ketika malam. Pamali," sambung Fatma.
Rania pun mengerti dengan penjelasan sang bunda. Kemudian mereka mau menyusul Arya ke bawah.
Setibanya Arya di ruang tamu langsung menegur Sultan. "Ada apa sore-sore ke sini?"
Membuat Sultan yang tengah mengobrol dengan Abah dan pak Wijaya menoleh ke arah Arya. "Eh ... kau bro? galak amat pertanyaannya nih?"
"Itu, tadi ngomong apa sama rania? Sehingga datang tanpa mengetuk pintu ataupun salam. Tau gak? kedatangannya mengganggu aktifitas gue." Arya mencondongkan kepala seraya memelankan suaranya takut di dengar oleh Abah dan mertua nya.
"Ha ha ha ... emang enak? di ganggu, kasihan ... ck-ck-ck, gak jadi berenang dong," Sultan tertawa dibarengi dengan decakan mencibir.
"Huust ... jangan keras-keras?" Arya menempelkan telunjuknya ke bibir sementara netra nya melihat ke arah Abah dan sang mertua yang melihat ke arahnya dengan heran.
Kenapa kalian bisik-bisik? ada apa Aa?" selidik abah menatap putranya.
"Iya, ada apa kalian bisik-bisik, main rahasia-rahasia segala?" tambah pak Wijaya.
"Ini, ada yang mau berenang, menanam benih kali. Namun terganggu sama--"
Hup! mulut Sultan Arya bungkam dengan tangannya. "Ngomong apa sih? bukan gitu juga maksud ku!"
"Eeh ..." Sultan melepaskan tangan Arya dari mulutnya. "Apa-apaan sih? main bungkam aja nih mulut, lu kira mulut ku bau, apa? wangi begini juga, hah." Gerutu sultan sembari mengusap mulutnya kasar.
Suara derap langkah terdengar dari arah pintu utama membuat semua mata mengarah ke sumber suara ....
****
Mohon dukungannya ya dan makasih juga buat kalian semua yang sudah mengikuti ku🙏
__ADS_1