Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Setuju


__ADS_3

Sekitar dini hari, keduanya terbangun dengan suara alarm yang tiba-tiba berbunyi begitu nyaring tepat di samping mereka.


Keduanya bergerak dan memicingkan matanya masing-masing, arya menggosok kelopak matanya yang terasa sepet dan sebentar mengumpulkan kesadarannya.


Fatma bangun dan mematikan alarm nya. "Jam berapa nih?" gumam Fatma dengan suara parau nya.


Waktu menunjukan baru pukul 03.00. Arya mengibaskan selimutnya lalu turun menginjakan kakinya ke lantai dan membawa langkahnya ke kamar mandi dengan langkah agak linglung.


Tubuh Fatma kembali berbaring sambil menatap kepergian Arya yang hilang di balik pintu.


Sesaat kemudian Arya kembali dengan wajah yang basah dengan air wudu. Tanpa melihat kanan dan kiri ia bersiap untuk melaksanakan salat sunat.


Selepas membaca doa dan berzikir. Arya kembali ke tempat tidur naik dan berbaring kembali, Fatma menatap dengan tatapan sayu. Berharap sesuatu yang sulit ia pinta atau memulainya.


Tangan Arya kembali merengkuh tubuh Fatma dengan seraya berkata. "Bobo lagi sayang!" Cuph! Arya AZ keningnya Fatma dengan sangat lembut.


"Hem," gumamnya Fatma lalu mendongak menempelkan dagunya di atas dada sang suami.


"Kenapa hem? apa inginkan sesuatu?" tanya membalas tatapan Fatma.


"Em ... nggak--"


Arya memotong kalimat dari fatma. ''Kali aja ingin minum atau makan sesuatu gitu?" malah sedikit menggoda.


"Nggak, pengen pipis." Gegas Fatma turun, namun juga kakinya menapaki lantai, tangannya ditarik Arya dan langsung terbaring lagi.


"Beneran pengen pipis?" wajah Arya begitu dekat dengan wajah fatma, mereka saling tatap dengan sangat lekat.


"Pe-pengen pipis, beneran!" suara Fatma sedikit bergetar dan terbata-bata.


"Bohong, bohong kan?" tatapan Arya yang lembut menyelinap ke dalam jantung.


Tatapan Arya yang lembut, namun cukup tajam untuk menusuk ke dalam sukma. Jantung Fatma berdegup semakin kencang ketika sang suami menempelkan bibir dengan bibirnya. Hembusan napas terasa kian kasar menyapu kulit wajah keduanya.


Kedua tangan Fatma memeluk kuat punggung Arya yang kini tengah mengungkung tubuhnya. Mereka pun saling cumbu. Menaikan hasrat, peluk dan cium yang makin lama semakin menuntut lebih.


Setelah pemanasan yang cukup, selanjutnya tak terelakan lagi pergulatan yang panas dan hebat pun terjadi. Dengan teratur dan santai namun pasti.

__ADS_1


Waktu yang semakin berputar menuju pagi, tak menyurutkan semangatnya untuk menuju sebuah pelepasan. Pergulatan itu terjadi sampai beberapa waktu kemudian.


Pelepasan yang penuh kenikmatan pun baru berakhir di saat suara adzan berkumandang, Arya terkulai lemah, capek habis melepas pelepasan yang beberapa kali terjadi. Saat ini Fatma merasa sangat bahagia. Begitupun deangan Arya yang merasa sangat puas.


Sinar matahari mulai bersinar, menghangatkan setiap penghuni di bumi ini. Embun yang menggenang di daun-daun, bercahaya terkena sinar mentari. Bak sinar permata yang berkilauan.


Arya sedang berkumpul dengan keluarganya, mereka berbincang penuh kehangatan, dan Arya mulai mengutarakan niatnya Fatma untuk mengajak Dewi agar bersama dirinya di Jakarta. Mengasuh Rania.


"Kalau Abah sih setuju-setuju saja kalau Dewi nya mau. Abah maupun Umi gak akan melarang, di sini juga sama Aa dan Neng Fatma." Abah mengangguk setuju-setuju saja.


"Iya, umi juga setuju saja. Bila Dewi di sini. Siapa tahu mendapatkan jodoh di sini!" sambung umi Santi.


"Sekarang gimana dengan kamu Dewi. Apa mau tinggal di sini menjaga Rania?" Abah melirik ke arah Dewi yang hanya diam.


Hadir berkerudung hitam itu terdiam, memikirkan antara mau dan tidak. "Abah dan umi gimana di Bandung kalau Dewi di sini? gak ada yang nemenin?" tanya Dewi mencemaskan orang tua nya.


Abah tersenyum manis. "Abah dan umi, jangan kamu khawatirkan, lagian Abah juga umi gak seperti yang lain sibuk di ladang atau sawah. Ada juga gak banyak, jadi kami berdua cukup santai saja. Apalagi kan ada Ridwan, Dewi jangan khawatir akan Abah dan umi."


"Kata Abah, benar Dewi. Umi juga betah kok bila tanggal di sini?l--"


"Bukan gak mau! mau banget, Neng. Cuma kan Abah menanam padi. Sayang bila harus ditinggalkan, nggak ada yang rawat kan?" Umi lesu.


"Em ... ya sudah. Umi sering-sering saja ke sini, atau nanti sekitar sebulan sekali suruh supir menjemput umi dan Abah." Lanjut Fatma.


Arya melihat dan tersenyum pada Fatma yang sebelumya tidak ada di sana.


"Kalau gitu, Dewi akan mencoba untuk tinggal di sini menemani Rania." Kawat Dewi.


"Baguslah. Kalau Dewi mau di sini, jagain Rania dan kak Fatma." Arya melirik ke arah Dewi dan Fatma bergantian.


"Beneran Dewi mau di sini. bersma kami?" tanya Fatma meyakinkan diri.


"Iya Kak, mau." Dewi mengangguk.


Semua saling bertukar pandangan dengan tatapan bahagia.


"Alhamdulillah. Kalau begitu." Tampak raut bahagia dari wajah Fatma terpancar begitu saja.

__ADS_1


"Oya, Aa. Umi dengar, Neng Fatma mau menunda kehamilannya. Apa nggak seharusnya jangan di jaga dulu? nanti saja kalau sudah punya! baru menjaga seterusnya." Umi menatap sang putra.


Degh!


"Umi, sudahlah jangan bahas itu lagi? biar Fatma atau atau Aa yang memutuskannya." Timpal Abah pada sang istri.


"Umi kan cuma membicarakan dengan Aa Abah, gak ada maksud lain." Umi menatap ke arah sang suami.


"Ehem. Rencananya sih gitu dulu, namun namun itu sudah mulai berubah. Kami tidak lagi memunda kehamilan." Jawab Arya.


"Ooh, baguslah. Umi juga ingin segera menimang cucu dari Aa. Rania kan sudah besar. Apa salahnya bila mamanya Rania program hamil lagi," ujar umi sembari melirik ke arah Arya dan Fatma bergantian.


"Umi ... sudahlah. Jangan bahas itu lagi, masih pagi." protes Abah memandang pada sang istri.


Fatma yang menunduk, lalu mendongak lantas menatap pada Arya yang kebetulan juga melihat ke arah dirinya. Kemudian Fatma beranjak mengajak mereka semua sarapan.


Fatma sendiri mau menjemput Rania terlebih dahulu yang masih belum turun juga padahal bersama salah satu asisten di situ.


Semuanya berpindah tempat duduk, beralih ke meja makan.


"Oy, Bah. semalam diperiksa kesehatan, emang Abah sakit apa?" tanya Arya sambil berjalan.


"Ooh, itu sakit kepala biasa. Mungkin mabuk perjalanan, dan gak ada yang perlu dikhawatirkan. Biasa saja kan Mi?" ujar Abah seraya melirik sang istri yang kini tengah membantu menuangkan air minum dan Dewi membantu menata piring.


"Sayang, sudah siap belum?" suara Fatma ketika sampai di kamar Rania. Anak itu sedang di ikat sambut sama Mbak.


"Bentar Mam, sabar." Kata Rania sambil memandangi wajahnya di cermin.


"Belum sarapan sayang. Mbak. tasnya sini?" Fatma meminta tas sekolah Rania pada mbak.


Kemudian Fatma turun menuntun Rania yang tampak semangat sekali untuk pergi ke sekolah, apalagi di antar jemput sama papanya ....


,


,


,

__ADS_1


__ADS_2