
"Tuan. Ayo? katanya mau belanjakan aku," Rajuk wanita tersebut dengan manjanya.
Dewi memandangi wanita itu dengan tatapan geli. Penampilannya yang seksi. Memakai pakaian yang kurang bahan.
Aldian terdiam memandangi Rania yang malah bermanja-manja pada Arya. Hatinya terasa sakit, marah kesal dan akhirnya Aldian membentak wanita yang berada di sampingnya itu.
"Lepas kan, tanganku? pergi? saya harus balik bekerja. Pergi ..." bentak Aldian menunjuk-nunjuk. Agar wanita tersebut pergi sekarang juga.
Seketika Rania nyelusup ketakutan ke punggung Arya, takut dengan bentakan Aldian meskipun bukan tertuju padanya.
Wanita itu berwajah marah pada Aldian, giginya mengerat. kesal kena bentakan dari Aldian. Lalu berdiri, menyambar tas nya. Mengayunkan langkah meninggalkan Aldian yang tadi bersamanya.
Arya menatap tajam pada Aldian. "Bisa gak? bicara dengan pelan? ada anak kecil nih."
Aldian hanya mendelik, lalu melirik ke arah Rania yang tampak ketakutan. "Sayang, ya udah. Lain kali aja ya kita mainnya. Sekarang Papa mau kerja dulu."
Rania mengangguk. "Iya, Pah."
Aldian beranjak dari tempat duduknya semula. Berlalu membawa hati sedikit hancur, kehadirannya seolah tidak dianggap oleh putri semata wayangnya tersebut.
Pandangan Rania tertuju pada punggung Aldian. Dengan tatapan yang sulit diartikan, hatinya sedih, kecewa bercampur aduk. Lalu menunduk mengaduk sisa makanannya.
Tangan Arya mengusap punggung Rania dengan lembut. "Habiskan makannya sayang?"
Ada secuil rasa haru menyelinap ke dalam hatinya Arya, melihat anak ini yang entah bagaimana perasaannya. Namun setidaknya Arya cukup memahami perasaannya itu.
Dewi pun mengusap kepala Rania, anak itu tampak hilang keceriaannya.
"Ehem, Papa mau ke tempat bermain lagi ah. Rania mau ikut gak? aunty juga mau ikut gak?" ucap Arya yang diawali dengan berdehem.
Rania mendongak seketika. "Mau, mau ikut. Enak saja Rania gak ikut? Papa mau main sama siapa bila Rania gak ikut?"
"Papa main sendiri dong ... kalau Rania gak ikut," seru Arya Anil memainkan alisnya.
"Rania ikut lah. Aunty ikut juga kan? gak mungkin duduk sini kan?" sambung Rania sambil menghabiskan makanannya.
"Aunty ikut lah," Dewi tersenyum dan melirik ke arah Arya yang tersenyum melihat Rania kembali ceria.
"Kalau Rania gak ikut, mau sama siapa? Ikutlah." celotehnya lalu meneguk minumnya.
Mereka beranjak dari sana, setelah Arya membayar bill nya itu. Rania di tuntun Dewi, takut lepas den hilang begitu pikirnya Dewi.
Tetapi Rania langsung memegang tangan Arya ketika berjalan menuju pusat permanan.
Arya merasa senang. Melihat Rania kembali terlihat bahagia dan ceria. Tidak seperti tadi yang tampak sedih dan murung.
"Rania mau naik apa?" tanya Arya melirik gadis kecil tersebut yang matanya terus bergerak melihat-lihat ke tempat sekitar.
"Em ... Rania mau naik ... naik apa ya? terserah Papa ajalah." Anak itu tampak bingung.
"Rania bingung ya? jangan bingung sayang, Rania mau apa pun Papa turuti kok. Asal yang wajar-wajar aja." Arya berucap lirih. Yang dia mau adalah kebahagiaan anak itu apapun caranya.
Setibanya di lokasi, Rania mencoba setiap permainan yang khususnya yang belum pernah dia coba. Tentunya ditemani oleh Arya dan Dewi.
__ADS_1
Anak itu kembali terlihat happy, tidak sedikitpun tergurat kesedihan di balik senyuman cerianya itu.
Arya menghela napas panjang. Lalu ia hembuskan melalui hidungnya. Sejenak Arya memperhatikan ke arah Rania yang kembali setia.
"Walaupun Mama sedang tidak berada di sisi kita. Tapi tugas papa membuatmu tersenyum, jauh dari rasa sedih apalagi menangis." Gumam Arya.
"Papa? Papa sini lagi. Rania sendirian. Aunty capek." Anak itu melambaikan tangan ke arah Arya agar kembali menemaninya.
"Masa sama Papa terus? itu yang lain juga banyak. Sendirian aja gak sama mama atau papanya." Arya menunjuk yang lain yang bermain sendiri-sendiri.
Manik mata Rania melihat ke arah yang Arya tunjuk. Lalu mendongak. "Ya sudah, Papa duduk di situ saja. Biar Rania main sama-sama mereka ya?"
"Oke, Papa duduk di situ ya? ini diminum dulu agar tidak kehausan." Arya menunjuk ke tempat dekat Dewi duduk.
Arya membawa langkahnya ke dekat Dewi. "Huuh ..." membuang napasnya.
"Aa. Belum istirahat ya?" Dewi melirik ke arah Arya yang tampak capek.
"Belum, tadi Aa setelah menyimpan barang dan berganti baju, langsung menjemput ke sekolah." Kata Arya sambil mengawasi Rania yang bermain dengan yang lainnya.
"Ooh, ya udah. Kita pulang saja yu?" Dewi beranjak mau mengajak Rania pulang.
"Dewi, Wi! biar saja. Sebentar lagi juga dia merasa capek dan mengajak pulang." Cegah Arya.
Membuat Dewi terduduk kembali. "Tetapi, Aa. Capek?"
"Tidak apa, kebahagian Rania lebih penting. Daripada tadi dia bersedih, kasihan. Aa yang dia anggap selalu ada harus bisa membuat dia bahagia." Tambah Arya kembali.
"Tapi, pria itu bapaknya kan? kok Rania dingin banget ya sama dia?" kenang Dewi.
Dewi menatap kosong pada Arya. "Maksudnya gimana, Aa? aku penasaran deh."
"Em ... anak itu tidak mendapat atau kurang perhatian, kasih sayang dari ayahnya. Dan mungkin anak itu sering melihat papanya menyakiti mamanya atau apalah. Ah pokonya panjang kalau harus diceritakan. Yang jelas tugas Aa adalah membuat kak
Fatma dan Rania bahagia," ujar Arya sambil kembali mengawasi Rania dari jauh.
Dewi mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti dengan ujaran dari Arya tentang Fatma dan Rania.
Beberapa saat kemudian. Rania merasa lelah, lalu menghampiri papanya yang menunggui dirinya.
"Papa ... Rania ngantuk, pengen bobo!" Anak menggosok-gosok matanya.
"Hem, ngantuk? mainnya udah? Rania mau pulang?" Arya berdiri sambil mengusap kepala Rania.
"Iya, Rania capek pengen bobo." Rania mengangguk.
"Ya sudah, kita pulang yu! pulang. Wi bawa tas Rania?" pinta Arya pada Dewi yang bersiap berdiri.
"Ya, Aa." Dewi menyoren tas Rania dan membawa tempat minumnya.
Mereka keluar dari Mall tersebut, Arya menuntun tangan Rania menuju tempat parkiran.
"Ngantuk," keluh Rania sambil berjalan.
__ADS_1
"Jangan bobo dulu sayang?" kata Dewi yang berjalan di sampingnya.
"Iya nanti bobo ya di rumah. Gak akan lama kok." Arya menoleh, anak itu yang tampak lelah.
"Pengen bobo, Papa! ngantuk." Gumam Rania lagi.
"Iya, bentar." Terus Rania, Arya naikan ke motor. Eh duduknya di belakang ya? sama aunty."
"Nggak mau, pengen di depan!" Rania menggeleng.
"Tapi jangan bobo dulu ya?" pinta Arya sambil memakai helm.
Kemudian Arya segera melajukan motornya dengan cepat. Membelah jalanan, dibawah teriknya matahari yang sangat menyengat.
Motor terus melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi, agar segera sampai ke tempat tujuan yaitu Mension.
Selang sekitar dua puluh menit kemudian. Sepeda motor arya memasuki halaman mension. Dan Arya langsung menggendong Rania sudah lunglai, yang tatapan matanya pun sudah hampir tiga wat itu.
Langkah Arya uang lebar, siap membawa Rania ke kamarnya.
"Pak tolong, parkir kan motor saya ke garasi?" pinta Arya pada pak scurity di sana.
"Baik, Tuan." Balasnya dengan sigap mengambil alih motor besar tersebut.
Dewi yang buru-buru berjalan untuk membukakan pintu utama. Untuk Arya masuk membawa Rania.
"Rania kenapa?" tanya Bu Wati terkejut melihat Rania di gendong.
"Ngantuk, Bu. Kecapean bermain." Jawab Dewi sambil mencium punggung tangan Bu Wati.
"Ooh, kirain kenapa-napa, jantung Ibu sudah dag-dig-dug nih. Takut kenapa-napa." Bu Wati mengelus dada.
"Tidak, cuma kecapean saja." Timpal Dewi meyakinkan.
"Emang kalian dari mana?" tanya bu Wati kembali.
"Dari Mall, bermain. Oya. Bu, tadi ketemu ayahnya Rania di sana." Lanjut Dewi.
Bu Wati menatap penasaran. "Oya, terus?"
"Rania, mau di ajak bermain. Tetapi Rania gak mau, sampai dia terlihat marah, Bu." Seru Dewi.
"Oya, terus?" Bu Wati tambah penasaran.
''Dia bersama seorang wanita seksi. Dan akhirnya wanita itu kena damprat papanya Rania. Kena bentak gitu, dan akhirnya papa Rania pulang dengan wajah yang ditekuk begitu,'' ujar Dewi menceritakan apa yang dia lihat.
"Sebenarnya, kasihan juga ya Aldian?" kenang Bu Wati.
"Iya sih, Bu. Tapi gimana lagi? orang Rania nya yang gak mau! malah lebih dekat sama, Aa. Ya udah, Dewi masuk dulu ya?" pamit Dewi pada Bu Wati yang mengangguk.
Setelah membaringkan Rania di kamarnya, Arya langsung berjalan menuju kamar pribadinya itu ....
.
__ADS_1
.
Jangan lupa kunjungi juga "Gadis Satu Milyar Ku" ya para reader setia ku semua dan semoga suka.