
Arya menoleh ke arah Rania yang duduk bermain di sofa pojok. Kemudian mengalihkan kembali tatapannya pada Mia. "Dan apa? katakanlah?" ulang Arya.
"Ketika kami mau masuk, Tuan Al keluar dari kamar nyonya--"
"Sudah di tangkap," ucap Bu Wati menyambung kalimat yang diucapkan oleh Mia.
Arya mengalihkan pandangannya pada bu Wati sembari mengernyitkan dahinya. "Maksudnya Bu?"
Sebelum menjawab, Bu Wati menghela napas panjang. "Aldian sudah di tangkap dengan tuduhan penganiayaan."
Arya tertegun. Netra nya bergerak melihat Fatma. "Jadi benar, dia yang melakukan itu terhadap fatma?" suara Arya sangat lesu.
Bu Wati hanya diam dan memandangi putrinya.
Hening!
Arya mendekati Rania yang merengek ingin ditemani om ganteng bermain.
Setelah sekian lama pak Harlan datang membawa pesanan Arya.
Arya mengambil pakaian yang berada di tangan pak Harlan. Lanjut ikut mandi di kamar tersebut. Setelah itu pamitan ke mushola tuk melaksanakan salat Maghrib bersama pak Harlan.
"Bu. Rania?" pada akhirnya Fatma terbangun dan matanya langsung mendapati sang ibunda dan putri kecilnya.
"Fatma, kamu sudah ciuman Nak ..." bu Wati sangat antusias melihat Fatma sudah bangun.
"Aku sudah siuman dari lama, Bu. lanjut aku istirahat." Lirihnya.
"I-iya, maksud ibu gitu." Bu Wati meralat omongannya.
Rania mendekat dan naik ke atas kursi dekat sang Oma agar bisa memeluk tubuh Fatma, sang bunda. "Mama, Rania kangen bermain sama Mama. Jangan tidur lagi ya?"
"Iya, sayang ... Mama juga kangen sama sama gadis kecil Mama, Mama juga mau bermain lagi sama kamu. Tapi nanti kalau Mama sudah sehat ya? doa kan Mama ya sayang!" Fatma memeluk dan mencium pucuk kepalanya Rania sambil berbaring. Suaranya begitu lirih.
Netra mata Fatma bergerak seakan mencari seseorang. "Em ... itu--"
"Nak arya?" Bu Wati langsung menduga.
"Iya, apa dia pulang?" tanya Fatma sambil mengusap punggung Rania yang masih memeluk nya.
"Dia ... ke mushola, salat Maghrib dulu. Ibu dan Mia mau salat Maghrib dulu ya? Rania di sini tungguin Mama ya?" Bu Wati mengusap kepala Rania yang menyembunyikan wajahnya di dada sang bunda.
"Biar Rania di sini sama aku." Balas Fatma dengan suara pelan.
Bu Wati keluar bersama Mia, Arya masuk dengan pak Harlan.
Manik mata Arya langsung menemukan Fatma sedang memeluk putrinya. Rania yang tampak manja. "Sudah bangun?"
__ADS_1
"Sudah. Kamu belum pulang? apa tidak mengganggu dengan kerjaan kamu?" tanya Fatma lirih.
''Seharusnya aku kerja tadi pagi,
tapi kerena sesuatu hal. Aku digantikan dengan lain orang,'' ungkap Arya sambil mendudukkan dirinya di kursi yang tidak jauh dari Fatma berbaring.
"Ooh. Sekali lagi makasih ya?" Fatma mengangguk dan memaksakan diri tuk tersenyum.
"Iya, sama-sama." Balas Arya sambil tersenyum tipis.
Rani beranjak dan berpindah ke pangkuan Arya tanpa ragu-ragu. Seakan sudah mengenal lama dan tampak sangat dekat sekali. Fatma menatap Rania, gadis kecil itu duduk di paha Arya.
"Sayang ... kok duduk di pangkuan Om, gak boleh sayang. Duduk sini dekat Mama?" ucap Fatma lirih.
Kepala anak itu menggeleng. "Nggak mau, Rania mau sama Om. Boleh ya Om ganteng?" mendongak pada Arya yang mengulas senyumnya.
"Boleh," sahut Arya. "Pasti belum makan ya? nanti kita makan bersama di sini, mau?"
"Mau, Om mau." Rania bersorak.
"Settt ... jangan berisik sayang. Di sini gak boleh berisik. Nanti ganggu pasien, oke?"
"O-ke!" Rania mengangguk.
Kedua Netra mata Fatma menoleh ke arah pak Harlan. "Pa Harlan, sebaiknya anda pulang saja."
"Baik, Nyonya. Kalau perintah Nyonya." Pak Harlan membungkuk hormat.
Rania menoleh sang mama. "Iya, sama pak Sudin. Tadi ... di sini, sekarang di mana ya Om?" gadis itu mengalihkan pandangan ke Arya.
"Supir satu lagi, ada di luar." Arya menunjuk ke arah luar.
"Oh, ya sudah. Bapak boleh pulang," ucap Fatma kembali pada pak Harlan.
Pak Harlan mengundur diri untuk pulang. Pak Harlan keluar, Bu Wati dan Mia masuk menghampiri, membawa kantong makanan.
"Makan dulu, Ibu sudah bawakan buat makan malam," lirih Bu Wati.
"Hore ... Rania mau makan, sudah lapar nih." Rania langsung menghampiri Mia yang berlutut membuka makanan barusan di bawa.
"Sayang, Ibu bingung. Di rumah ayah gimana? di sini kamu gimana!"
"Kalian pulang saja, aku di sini juga banyak perawat. Jadi Ibu jangan khawatir ya? ayah pasti membutuhkan Ibu. Lagian ... gak baik buat Rania kalau lama-lama di sini!" ungkap Fatma seraya menghela napas panjang. Menatap Rania yang sedang di suapi Mia.
"Kamu gak ke napa-napa di sini sendirian?" tanya bu Wati.
"Tidak apa-apa! aku ada banyak perawat, Bu." Lirih Fatma.
__ADS_1
"Tapi, Rania mau sama Mama di sini." Rajuk Rania menatap sang bunda yang menggeleng gak setuju.
"Rania dengar Om ya? mau dengar gak?" Arya menatap ke arah Rania. Rania mengangguk.
Arya melanjutkan perkataannya. "Anak kecil itu, kurang baik lama-lama di rumah sakit. Jadi Rania gak boleh?"
"Rania gak boleh di sini lama-lama, bolehnya sebentar saja Om ya," ucap anak itu dengan mulut yang penuh. Semakin membuat pipinya gembul.
"Nah, pinter." Arya tersenyum.
Semua yang ada di sana tersenyum, termasuk Fatma menarik bibirnya sedikit. Lalu melihat ke arah Arya yang juga menoleh ke arahnya dengan bibir melukiskan sebuah senyuman manis.
Bu Wati, Mia makan di sana. setelah Rania kekenyangan, Suster datang membawakan makanan buat pasien dan hendak menyuapi Fatma.
Namun Arya memintanya dari suster dan menawarkan diri untuk menyuapi Fatma.
Suster pun memberikannya dan memberi saran nanti setelah makan diberikan obat yang sudah disediakan. Lantas Arya menyuapi Fatma dengan tulus.
Fatma memandangi Arya sambil mengunyah. Tak pernah menyangka akan dekat di situasi seperti ini, situasi yang membuatnya terpuruk.
Arya menjadi salah tingkah ditatap lekat oleh sorot mata Fatma yang sayu itu. Namun tak membuat gentar perlakuannya yang manis pada Fatma. Sampai di akhiri dengan minum obat.
Bu Wati juga memandangi ke arah Arya dan Fatma. "Ya Allah ... semoga ke depannya putri ku menemukan jodoh yang lebih baik dari uang sudah. Jauh kan putriku dari pria jahat ya Allah." Pada akhirnya mendongak ke langit-langit.
Selesai makan, Bu Wati membereskan semua bekasnya dan Mia membuang ke tong sampah. Lalu kemudian mengajak Rania pulang.
"Yu, sayang. Kita pulang?" meraih tangan Rania untuk di tuntun nya.
"Rania mau di anterin sama Om ganteng Oma pulang nya." Kepala anak itu mendongak.
"Tapi sayang, om nya lagi ngasih Mama minum obat tuh." Timpal Bu Wati seraya menunjuk ke arah Fatma.
Sorot mata Rania menatap yang sang Oma tunjukan. Kemudian Rania berjalan mendekati sang bunda yang baru selesai minum obat dari tangan Arya.
"Mam, Rania pulang dulu ya? besok aku ke sini lagi sama Oma. Om ganteng titip Mama Rania ya? biar cepat sembuh dan segera pulang." Melihat pada Arya bergantian dengan sang bunda.
"Iya, sayang. Pulang ya? jangan nakal dan doa kan Mama ya?" tangan Fatma memberi isyarat agar Rania lebih mendekat.
Fatma usap kepalnya Rania setelah mendekat. "Jangan nakal ya sayang." Langsung mendapat anggukan dari gadis kecil itu.
"Kok Rania gak salam sama Mama?" suara Arya membuat langkah Rania kembali.
"Eh, lupa!" menepuk jidatnya sendiri. Kemudian meraih tangan Fatma di ciumnya dan yang terakhir mencium tangan Arya. "Titip Mama ya om ...."
Mendengar pesan itu Fatma dan Arya saling bersitatap sebentar lalu saling mengalihkan pandangan satu sama lainnya.
Bu Wati dan Mia segera pulang membawa Rania. Arya mengantar sampai depan pintu ....
__ADS_1
****
Hi ... reader ku semua? apa kabar malam ini, jangan segan-segan tegur aku ya bila ada kekurangan dalam tulisan ku. Tapi ... bagaimana kalau kurang semua ya🤔