Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Kacau balau


__ADS_3

"Umi, tolong bilang sama AA. Bujuk dia supaya tidak putuskan Renata Umi, aku mohon." Renata menggenggam tangan umi Santi.


"Maaf, Umi gak bisa apa-apa atuh, cuma AA yang berhak memutuskannya. Umi cuma bisa mendoakan, agar Neng Renata dapat jodoh yang lebih dari AA, segala-galanya," tutur Umi sangat lirih. Tangannya mengusap kepala Renata tak tega melihatnya.


"Renata mohon ... Umi, Renata sangat sayang sama AA. Jangan sampai AA ninggalin aku. Aku gak mau." Renata terus menangis dan memeluk umi Santi sampai akhirnya melepas dan membiarkan umi memasuki mobil bersama Abah.


Renata merosot kan tubuhnya ke lantai. Duduk simpuh dan berharap Arya kembali mendatanginya, namun mobil Arya malah bergerak meninggalkan tempat itu.


Arya menyapu setitik air mata yang menggenang di sudut matanya. Hatinya pilu melihat Renata yang seperti itu. Tapi Arya yakin kalau itu cuma sementara saja. Nanti juga dia kalau bertemu selingkuhannya akan berubah drastis.


Sultan menatap penuh haru pada sahabatnya itu. "Aku aja yang nyetir."


Arya hanya menoleh dan menghentikan mobilnya. Sultan turun kembali dan mengitari mobil tersebut, sementara Arya bergeser pindah posisi duduknya.


Sultan langsung mengemudikannya setelah duduk di belakang setir. "Bismillah ... mobil, dukung aku ya? maklum aku kan--"


"Kau gak bisa nyetir?" selidik Arya menoleh ke arah Sultan.


"Ha? bisa lah. Apa sih yang akyu tidak bisa? cuma pesawat aja yang aku gak bisa. Ha ha ha ..." akunya Sultan diakhiri dengan tertawa.


"Tidak lucu!" Arya singkat dengan pandangan lepas ke depan.


"Siapa juga yang bilang aku badut? ada-ada saja." Sultan menggeleng dengan terampil memutar kemudi.


Hening!


Selain suara mesin mobil yang halus. Arya melamun bertumpu tangan ke bibir jendela. Tatapannya jauh nan kosong.


Sementara Renata yang masih bersimpuh di lantai dengan terus meraung, menangis penuh penyesalan. Kecewa dengan gagalnya rencana pernikahan Arya pria yang sangat ia sayangi.


"Bangun! masuk?" sang ayah membantunya berdiri dan diajaknya ke dalam rumah.

__ADS_1


Renata di suruh duduk dekat sang bunda yang wajahnya banjir dengan air mata. Melirik pada Renata yang tampak terpuruk itu.


"Sekarang bilang sama bunda, dengan siapa yang kamu selingkuh?" dengan tatapan yang mengintrogasi.


Renata menunduk sangat dalam tak berani melihat wajah sang bunda sembari terus terisak. "Doni, Bunda." Suara Renata nyaris tak terdengar saking pelannya.


"Apa? Doni?" suara ibu dan sang ayah serempak dan tersentak.


"Bukankah Doni itu sahabatan juga dengan Arya?" selidik ayah nya Renata.


"Kok dengan teganya kalian mengkhianati Arya. Astagfirullah ..." bunda Tita menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kelakuan putrinya ini.


"Hik hik hik, Doni yang terus mengajak ku--"


"Dan kamu mau?" sang ayah memotong perkataan Renata.


"Seharusnya kamu pandai menjaga kehormatan mu sebagai calon istrinya Arya. Kenapa kamu malah tergoda pria lain?" sang bunda sedikit membentak.


"Ma-maaf, Bun. Aku sudah salah." Renata mengakui kesalahannya.


"Bawa Doni ke hadapan Ayah. Suruh melamar mu secepatnya, agar tanggal yang sudah ditentukan tidak harus digagalkan," Jelas sang ayah, kemudian menyusul sang istri yang berdiri dekat tangga menyimak pembicaraannya dengan Renata.


Renta tertegun dengan masih terisak sisa-sisa tangisnya. Kemudian berlari juga ke atas menuju kamarnya. Menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang ukuran king size itu.


Namun tangisnya sudah berhenti dan air matanya mengering sudah, tinggal rasa yang menyesakan dadanya. Kecewa dengan keadaan yang tak berpihak padanya, orang yang selama ini ia sayangi pada akhirnya menjauh karena kecurangan yang ia sendiri lakukan.


"Arya, maafkan aku?" Renata mengambil ponsel lalu mengirim pesan yang banyak pada Arya sebagai permintaan maaf yang sebesar-besarnya.


Namun tak satu pun pesan yang dibalas. Telepon pun tak diangkat satu kali pun, Renata semakin gusar semakin kecewa dengan keadaan. Tangannya memukul-mukul ke kasur.


...****...

__ADS_1


Bulan yang hanya separo, angin malam yang semilir menyapa lembut kulit. Menjadi saksi gimana perasaan Arya saat ini sedang kacau balau dan ingin rasanya menangis namun air mata tidak keluar. Ingin menjerit tapi itu tidak mungkin ia lakukan. Kekecewaan yang kini memenuhi hatinya begitu menyiksa jiwanya.


Arya menatap bulan yang jauh berada, dengan helaan napas yang begitu dalam, untuk membuang semua beban yang teramat menyesakkan dada.


"Berakhir sudah, cinta yang dibina sekian lama harus hancur begitu saja. Kau tega, Renata." Gumam Arya dalam hati.


Dia berdiri sambil melipat tangan di dada, termenung, melamun sendiri di balkon.


Sultan yang masih di sana mengobrol dengan Abah dan umi. Sultan sengaja masih berada di sana untuk menemani Arya yang tampak kacau. Namun Arya sendiri memilih untuk sendiri merenungi nasib.


"Abah mau berapa hari di sini?" tanya Sultan membuka pembicaraan.


"Nggak tahu, Tan. Gimana diantarnya aja, pulang cepat ya cepat, lambat? ya lambat." Kata Abah sambil nyeruput secangkir kopi buatan sang istri.


"Umi, teh penasaran. Apa bener Renata selingkuh? padahal renta itu cantik, pinter. Baik menurut Umi mah, sayang sekali. Cek cek!" umi menggeleng seakan tidak percaya.


"Bener Umi. Begitu adanya. Tapi sudahlah, katanya Arya juga jangan membuka aib orang." Sultan malas tuk bahas itu.


"Astagfirullah ... semoga ini dijadikan pengajaran hidup, bahwa kesetiaan atau amanah itu dibutuhkan dalam kehidupan kita sehari-hari." Tambah Abah.


"Umi gak pernah menyangka, Abah ... kalau si AA akan mengalami gagal nikah. Amit-amit jangan sampai dialami lagi oleh anak-anak kita." Lirihnya umi menatap sedih ke arah Abah.


"Aamiin-Aamiin, semoga ini cuma sekali. Dan kedepannya si AA menemukan wanita yang benar-benar tepat," lanjut Abah.


"Jangan khawatir, Abah dan Umi. Arya pasti akan secepatnya akan menemuka obat luka. Mendapatkan wanita yang akan menjadi cinta sejatinya. Percaya deh." Sultan menunjukan senyuman penuh keyakinan.


"Itu, yang kami harapkan. Sebagai orang tua kita tentunya mengharapkan yang terbaik buat putra dan putrinya," ungkap Abah dan segera menghabiskan kopinya.


"Nak, Sultan mau nginep di sini?" tanya umi nya Arya, menatap ke arah Sultan yang duduk di depannya.


"Em, tidak. Umi, aku mau pulang. Biar besok ke sini lagi, Oya besok pagi kami mau tugas tapi kebetulan jarak dekat saja sih! sebentar aku mau tanyakan dulu sama Arya." Sultan beranjak dan membawa langkahnya menemui Arya ....

__ADS_1


****


Alangkah senangnya aku dan tambah semangatnya bila reader ku semua mau mendukung penuh karya ku ini๐Ÿ™ jangan lupa like komen dan hadiahnya.


__ADS_2