Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Masa bodoh


__ADS_3

Aldian digandeng wanita seksi dengan jalan sempoyongan. "Ayo sayang, kita senang-senang malam ini."


Rania mendongak melihat sang bunda yang tertegun. Bagi Fatmala masa bodoh kalau mendapatkan pemandangan ini cuma dihadapannya. Lah ini di depan mata gadis kecilnya harus menyaksikan Papanya seperti itu.


Fatmala segera menggendong Rania. "Sayang, bobo ya? mau sama Mama atau sendiri hem!"


"Mau sama Mama." Pinta Rania. Dengan cepat Fatmala membawa Rania masuk ke kamarnya.


"Mama. Yang sama Papa siapa sih?"


"Entah, Mama gak tahu sayang." Jawab Fatmala.


"Kayanya gak punya baju deh. coba lihat kaya gitu ya Ma?" celoteh anak itu.


"Iya kali, tapi biarlah itu kan buat dia. Bukan buat kita sayang ... udah ah bobo ya? udah malam. Takutnya besok kesiangan, kan Rania mau sekolah biar pintar ya?"


"Oke Mama, aku sayang Mama." Rania memeluk sang bunda erat


"Mama juga sayang Rania." Cuph! mengecup kening gadis kecil tersebut.


"Mah ...Papa kenapa?" gumam anak itu kembali.


"Suuttt ..." jangan pikirkan itu, kita Bobo saja." Fatmala meninabobokan Rania agar anak itu segera tidur.


Di bawah. Aldian yang berjalan dan dirangkul sama wanita seksi itu. "Yang barusan anak dan istri mu bukan sayang?" tanya teman wanitanya Aldian dengan manja.


"Ayo sayang kita bersenang-senang di kamarku, jangan pedulikan orang lain. Kita akan habiskan waktu bersama oke?" terus berjalan sempoyongan terkadang mau terjatuh kalau saja pinggang Aldian tak dirangkul wanitanya.


Mereka masuk ke dalam kamar Aldian yang luas dan mewah, mereka menjatuhkan diri di tempat tidur ukuran king size. Mata wanita itu menyapu seluruh ruangan tersebut yang tidak kalah mewahnya dengan kamar hotel.


Aldian terbaring telentang di atas kasur dengan kepalanya yang sedikit pusing, menatap langit-langit dengan pikiran yang kosong, kemudian dia melonjak terbangun dan mendorong tubuh wanitanya. Sehingga tubuh dia berada di atas tubuh wanitanya dengan mata memerah dan Hasratnya yang naik.

__ADS_1


Tak kalah agresifnya wanita itu membuka pakaian Aldian dan membuangnya. Mereka mulai menikmati tubuhnya satu sama lain, melakukan hubungan terlarang. Wanita itu memang wanita malam yang biasa di sewa laki-laki yang hidung belang, begitupun saat ini Aldian memboking dia dan anehnya Aldian bukannya bawa ke kamar hotel, melainkan dibawa ke Mension sang istri, dasar laki-laki pemabuk nggak punya otak.


Dengan santainya mereka bercinta di dalam Mension sang istri. Ini kali pertama Aldian membawa perempuan ke Mension. Biasanya dia bersenang-senang di luar, di hotel atau Vila. Namun kali ini dengan gila nya dia membawa perempuan sewaan ke hadapan anak dan istrinya.


Fatmala yang sudah tidak mempunyai rasa lagi terhadap suaminya merasa masa bodoh dengan apa yang dia lakukan. Namun yang ia sesali kenapa harus membawanya ke Mension? sebab otomatis anak semata wayangnya melihat.


Jemari lentiknya membelai rambut Rania yang sudah tidur nyenyak. Perlahan Fatmala bangun dan turun dari tempat tidurnya, dengan pelan membuka pintu. Tak ingin kepergiannya mengganggu tidurnya gadis kecil tersebut.


Fatmala terus berjalan menuruni anak tangga dari sana pun terlihat kalau di ruang tengah yang tadi Aldian berada sama wanitanya itu, kini sudah tidak ada. Fatmala terus membawa langkahnya untuk menemui asisten rumah tangga yang berada di belakang.


"Apa kau melihat kemana Aldian membawa wanitanya?" tanya Fatmala.


"Tidak Nyonya," jawab seorang asisten.


"Oh Nyonya, tadi tuan masuk ke kamar pribadinya bersama wanita itu," jawab asisten lainnya.


Fatmala terdiam. "Dasar laki-laki tak punya malu membawa perempuan lain ke Mension ini, dasar laki-laki tidak tahu diri. Daras sudah gila," gumamnya Fatmala dalam hati.


"Baiklah, biarkan saja." Fatmala membalikan tubuhnya kembali berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya, dimana gadis kecilnya tertidur di sana.


Sesampainya dikamar, Fatmala mengunci pintu dan menjatuhkan dirinya ke atas sofa. Sejenak menoleh ke tempat tidur Rania tampak tidur nyenyak, untuk membuang kebosanan Fatmala mengambil laptop dan membukanya.


Fatmala berusaha menyibukkan diri menyibukkan otaknya dengan bekerja, tak ada gunanya memikirkan orang yang seperti itu. "Masa bodoh lah mau berbuat apa? aku nggak peduli." Gumamnya Fatmala.


****


Arya tengah duduk santai di sofa dengan segelas minuman dingin di tangan. Setelah meneguknya Arya meneruskan kegiatannya dengan papan keyboard di laptop matanya pun tak lepas dari layar.


Dreettt ....


Dreettt ....

__ADS_1


Dreettt ....


Ponsel Arya bergetar di meja, sementara waktu Arya biarkan saja. Ia lebih fokus dengan laptopnya.


Karena ponselnya terus bergetar, Arya akhirnya menoleh dan mengambil ponsel tersebut. "Halo! ada apa? aku lagi sibuk nggak bisa keluar malam ini, lain kali saja sorry ya," jawab Arya di hujung telepon itu dan langsung Tut Tut Tut.


Rupanya teman-teman Arya yang mengajaknya keluar sekedar untuk nongkrong dan minum kopi.


"Malas keluar." Gumam Arya sambil menyimpan kembali ponselnya di meja.


Berapa lama kemudian ponsel Arya berbunyi kembali tampak nama Renata tertera di layar. Arya mengambilnya dan menekan ikon hijau.


Arya: "Iya ada apa sayang?" sapa Arya. "Aku enggak bisa kemana-mana malam ini, lagian di luar hujan besok aja kita ketemuannya oke? met malam sayang ... met istirahat," ucap Arya.


Malam semakin beranjak dan Arya beberapa kali menguap, detik kemudian menutup laptop dan menyimpannya dengan baik.


Arya berbaring di atas kasur menarik selimutnya sampai menutupi dada, matanya memandang lepas dan terbayang sebuah wajah seorang wanita dan bukan kekasihnya. Lagi-lagi bayangan wajah Fatmala yang menari-nari di kelopak matanya.


"Gila, kenapa harus dia sih yang ku ingat? yang menari di otak ini. Masa aku merindukan dia? dia istri orang bro ... gak pantas kau rindukan, sadar woi sadar," kepalanya menggeleng kasar ingin membuang wajah seseorang dari ingatannya.


Hujan gerimis menghiasi gelapnya malam ini. Boro-boro ada sinar rembulan, bintang pun enggan mengintip. Tidur Arya begitu lelap dan mengeratkan selimutnya. Berrr, dingin. Gumamnya.


Pagi-pagi Arya terbangun karena merasa ada pergerakan di pipinya. Membuat Arya segera membuka matanya. Tampak wajah seorang wanita cantik di hadapannya dan hampir saja Arya bergumam dan menyebut nama Fatmala. Untungnya ia tersadar kalau wanita yang ada ini Renata.


Renata tunangannya, yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Wajah keduanya begitu dekat saling menatap dengan lekat, jantung pun dah dig dug tak karuan Renata gugup dan salah tingkah, namun dia tak sedikitpun beranjak. Arya bangun dan duduk bersandar di bahu tempat tidur.


"Lho, kok pagi-pagi sudah di sini sayang dari kapan? datang pagi-pagi buta gini?" ucap Arya dengan suara parau nya khas bangun tidur.


"Pagi-pagi matamu, jam berapa nih? lihat itu sudah jam 9 dasar tidur kayak kebo, berapa kali ku telepon nggak diangkat sama sekali, gak dengar ponsel berbunyi," ucap Renata kesal.


"Nggak dengar, Emang kebo tidur kaya aku? apa jangan-jangan kamu sering tidur sama kebo ya? ha ha ha ..." Arya malah tertawa lucu ....

__ADS_1


****


Apa kabar semua reader ku, sudah membaca kan? jangan lupa like dan komennya. Terima kasih sebelumnya🙏


__ADS_2