
Dewi masih terdiam, tidak cepat-cepat menjawab pertanyaan dari kakak juga iparnya.
"Atau, Dewi sudah move one belum dari masa lalu?" sambung Fatma.
Dewi menghela napas panjang, lalu mengangguk. "Aku sudah siap. Insya Allah Dewi siap, Kak." Dewi melihat ke arah Arya dan Fatma bergantian.
"Baiklah, kapan Sultan akan melamar mu?" tanya Arya sambil menghabiskan makanan di piring nya.
"Katanya akan secepatnya, Aa." Dewi menjawab singkat.
"Oke," Arya singkat. Sebagai teman, tentunya Arya percaya pada Sultan sepenuhnya, walaupun kadang nyeleneh sok tidak percaya. Dia percaya kalau Sultan akan berusaha menjadi suami yang baik buat adiknya, Dewi.
Usai makannya selesai, mereka kembali jalan-jalan sebentar. Lalu kembali ke hotel. Rania merengek-rengek minta bobo cepat, akhirnya mereka pun segera beristirahat.
"Mam, Rania bobo dulu sama aunty ya? Papa Rania bobo dulu ya." Anak itu mencium pipi mamanya bergantian dengan sang papa.
"Met bobo sayang mimpi indah ya?" Arya mengacak rambut Rania yang di kepang dua.
"Iih ... Papa. Rambut Rania acak-acakan nih." Protes anak itu seraya merapikan kembali.
Bibir Fatma ikut tersenyum pada Rania yang berusaha merapikan rambutnya. Lantas dibantu oleh Dewi supaya rapi rambutnya.
"Sampai ketemu besok pagi ya? besok kita berenang di laut.
"Asyik ... mau berenang. Rania mau ikut berenang sama Mama. Aunty juga mau ikutkan?" tanya Rania mendongak ke arah Dewi.
"Aunty, ikut dong ....masa nggak?" balas Dewi ikut antusias.
"Ye ... ye-ye-ye ... besok berenang di laut." Rania sambil berlari ke dalam kamarnya dan Dewi.
Arya dan Fatma saling melempar senyuman. Melihat anak itu yang begitu riang.
"Yu, masuk?" Arya meraih pergelangan tangan Fatma.
"Yu!" Fatma melangkahkan kaki mengikuti langkah Arya, menuju kamar hotelnya itu.
Kini mereka berdua sudah bersiap untuk tidur. Kepala Fatma bersandar di dada Arya sambil berbincang tentang banyak hal. Termasuk tentang Dewi dan Sultan yang katanya mau secepatnya melamar Dewi.
__ADS_1
"Aa?" panggil Fatma lirih.
"Hem ... apa?" balas Arya tak kalah lirihnya sambil membelai rambut Fatma.
"Kalau menurut, Aa. Sultan serius atau--"
"Serius. Aa tau betul sifat Sultan, walau kadang nteleneh kadang suka bikin Aa jengkel. Tapi dia baik dan tidak pernah permainkan hati perempuan dan tidak sembarangan wanita yang dia dekati." Kata Arya. Tangannya bergerak mengelus kulit tangan sang istri.
"Em ... gitu ya? aku juga setuju!" Fatma mengeratkan pelukannya ke tubuh Arya.
"He'em ... semoga mereka itu berjodoh seperti kita." Gumam Arya sambil menempelkan bibirnya di kening sang istri, di kecup nya dengan sangat mesra.
Kedua netra nya Fatma terpejam ketika benda lembab Arya mendarat di keningnya tersebut.
Heningh!
Sementara waktu mereka memilih terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Yang, kenapa ya kok aku sering merasakan pusing? sebentar. Hilang lagi. Aku pengen periksa tapi ingin sama kamu," Fatma berkata pelan.
Namun tak ada respon dari sang suami, dia tak bergeming. Sampai-sampai Fatma mengulang lagi kalimat nya yang barusan.
Fatma penasaran dan menoleh ke arah sang suami yang rupanya sudah tertidur. Membuat Fatma bengong dan kesal, ia bicara sendiri rupanya.
Kepala Fatma menggeleng. "Sayang ... aku bicara sendiri." mengeratkan giginya merasa geram.
Lalu punggung tangan Fatma bergerak mengelus rahang Arya yang berbulu halus itu. Cuph! di kecup satu kali lalu dielus kembali penuh kasih sayang.
"I love you!" gumamnya Fatma. Kemudian menempelkan kembali pipinya di dada Arya.
Menarik selimut sampai menutupi dada. Tidak butuh waktu yang lama, rasa kantuk pun menyerang Fatma.
"Huam ..." Fatma menguap dan perlahan memejamkan kedua manik mata indahnya itu. Merehat kan semua anggota tubuh yang seharian ini aktif bergerak.
Malam ini semakin larut, waktu terus bergerak memutar dan membawa malam berganti siang kembali. Suara-suara malam yang terdengar seakan menjemput pagi yang cerah.
Burung-burung bernyanyi serta begitu ramah mengucap selamat datang kepada sang mentari yang bersinar begitu menghangatkan.
__ADS_1
Daun-daun bergoyang bersinar bak permata, padahal cuma genangan embun yang terkumpul di dedaunan tersebut.
Tidur Arya dan Fatma begitu nyenyak. Sehingga dari awal sampai akhir sepertinya tidak ada pergerakan yang signifikan. Buktinya posisi keduanya masih di posisi yang sama seperti semula.
Arya dan sang istri sudah berada di balkon, menghirup udara yang masih segar di sana. Dengan pemandangan yang indah, hamparan laut yang lepas sejauh mata memandang. dan hutan yang nampak hijau dengan pohon-pohon yang beragam jenisnya.
Hari ini mereka berencana akan berenang di laut yang dangkal, yang aman buat berenang. Apalagi membawa anak kecil seperti Rania.
...---...
Di kediaman bunda Tita, alias ibundanya Renata, semenjak pergi dari rumah suaminya kala itu. Renata menetap di rumah bundanya Doni pun lebih baik mengalah. Daripada berpisah dari sang istri! mending dia ikut tinggal saja di situ.
Biarpun kadang tidur di sofa namun di kamar yang sama, yang penting tidak berjauhan dan ketika dia menginginkan kehangatan dari sang istri. Bisa langsung mendatanginya, kendati harus debat atau harus ada pemaksaan dulu, tak apalah. Pikirnya Doni yang penting dapatkan yang dia mau.
Indah pun menjadi sering menginap dan lebih berani mendekati Doni. Di balik usahanya menghasut supaya Renata untuk menjauhi suaminya itu.
Namun lama-lama Renata mencium sebuah kebenaran kalau Indah menginginkan suaminya dan masa lalunya pun Renata tahu, dari seringnya mengintip Indah berbicara pada Doni yang tidak Doni tanggapi.
Setelah tahu, Renata semakin bersikap marah pada Doni. Tatapi semakin sering mengintip dan membaca gerak tubuh Indan dan Doni. Renata mendapat kesimpulan kalau Doni berusaha dan sudah banyak berubah hanya demi dirinya.
Membuat Renata kembali membuka hati pada suaminya itu. Sekalipun Indah semakin gencar meracuni pikiran Renata untuk berpisah dari Doni.
Dan Renata semakin tahu kalau Indah bukan cuma cinta atau terobsesi dengan Doni. Tetapi mengincar uang dari suami Renata tersebut.
Kini Doni baru pulang bekerja. Jelas langsung masuk ke dalam kamar Renata. Dan ternyata di dalam kamar istrinya itu ada Indah tengah duduk dengan pose menggoda di atas tempat tidur sang istri.
Kali ini sikap Renata tidak seperti biasanya, sekarang begitu manis dan menyambut hangat kedatangan sang suami.
Doni tertegun di dekat pintu, dan Renata langsung menyambut hangat.
"Sayang, sudah pulang?" cuph! mengecup bibir Doni yang tampak kaget mendapat perubahan istrinya ini.
Renata membukakan dasi Doni dengan mata sesekali melihat Indah serta senyuman sinis. "Sayang mau mandi dulu atau mau makan dulu?" tanya Renata pada Doni.
Doni yang merasa senang dengan semakin melunaknya sikap Renata padanya. Memeluk dan mencium pipi, kening dan bibir Renata tidak perduli di tonton sama Indah yang menatap tidak suka ....
.
__ADS_1
.