Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Ih manja


__ADS_3

"Membeli apa emang?" tanya Fatma menoleh sang suami yang sudah berada di sisinya. Merangkul bahunya itu.


"Chicken wing dan martabak telor, susah dapatnya!" sahut Arya sambil mengecup pipi sang istri mesra.


"Pasti. Ya sudah. Kita makan yu?" Fatma hendak beranjak. Namun Arya tahan.


Fatma heran. "Kenapa?"


"Biarkan si kecil makan duluan. Kita belakangan saja." Bisik nya Arya sambil menarik tangan Fatma untuk duduk.


"Baiklah." Fatma duduk kembali.


"Mam, Papa. Ayo dong makannya?" Rania menoleh ke belakang.


"Rania aja duluan. Papa sama Mama biar nanti saja." Titah Arya sambil senyum.


"Baiklah ...Rania mau duluan aja. Nyami-nyami, nyami ... em enak chicken wing nya. Rania suka." Anak itu makan dengan ekspresi dan gaya anak-anak nya.


"Jangan lupa baca doa dulu sayang." Fatma mengingatkan agar Rania membaca doa sebelum makan.


"Sudah, Mama ... dalam hati." Jawabnya dengan mulut penuh.


"Pinter, jangan lupa berdoa ya? semoga berkah dan sebagai ungkapan rasa syukur." Tambah Arya yang sedang memeluk Fatma dan menempelkan dagu di bahunya.


"Iya, Papa. Tau Rania juga tahu dan akan selalu ingat itu, Rania kan pinter. Nyami-nyami ..." sahutnya gadis kecil tersebut.


"Rania sayang, gak boleh gitu kalau diingatkan sama orang tua, gak baik ah." Timpal Fatma.


"Iya, Mam. Maaf?" gumamnya sambil meneruskan makannya.


"Papa yakin kalau Rania anak pinter dan kan pandai memilih mana yang baik dan mana yang kurang baik." Lanjut Arya pada Rania.


"Oya, Pah Rania mau tanya nih!" ucap Rania namun menjeda dengan menyuapkan makannya terlebih dulu.


Degh!


Fatma sudah merasa ada gelagat yang gak baik nih, pasti Rania menanyakan soal yang tadi, pertanyaan yang belum dia jawab.


"Apaan tuh?" tanya Arya menatap penasaran. Lalu melirik ke arah sang istri sembari menaikan alisnya.


"Papa, mama kan sedang mengandung baby dari papa, terus asalnya dari benih. Nah ... cara masukan benihnya gimana? apa lewat mulut kah?" tanya Rania, rupanya anak itu masih penasaran dengan hal itu.


Arya yang sedang meneguk minumnya. Langsung tersedak, ohok-ohok, ohok.


"Sayang, hati-hati." Fatma mengusap pundak Arya.


Arya mengangkat tangannya ke udara. "Aku gak pa-pa." Kembali melanjutkan minumnya.


Rania melihat lekat sang papa yang terbatuk-batuk tersebut.


"Sedari tadi, dia nanyain gimana caranya, papa masukan benihnya? aku kan bingung harus menjawab apa." Bisik Fatma.


"Em ... menurut Rania adek bayi dari mana asalnya?" Arya coba balik tanya dulu.


Anak itu terdiam seakan berpikir. "Adek bayi adanya karena ada mama dan papa, kalau gak ada papa gak mungkin Mama hamil dan punya Ade bayi. Dan hakikatnya Allah lah yang memberikan adek bayi itu." Gumamnya.

__ADS_1


"Nah ... itu sayang tau jawabannya, pinter ..." Arya mengacungkan jempolnya.


Arya menoleh pada sang istri, menaik turunkan alisnya seraya tersenyum puas.


Fatma pun ikut tersenyum, dan mungkin ia tidak akan kebingungan lagi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Rania.


"Yu, ah kita makan? lapar nih." Fatma kembali beranjak.


"Tumben lapar? kan sayang kalau malam suka diet!" Arya pun mengikuti.


"Aa, ini. Aku sedang hamil, mau aku kekurangan gizi?" tanya Fatma menatap lekat.


"Oo! nggak dong ... masa kekurangan gizi sih? tidak lah. Istri ku harus sehat-sehat, begitupun baby nya." Arya mencubit pipi Fatma dengan gemas nya.


"Hem ... makanya! harus diperhatiin." Tambah Fatma.


"Iya sayang, iya. Mau makan apa? Aa akan belikan hem?" tanya Arya sembari menatap begitu mesra.


"Itu, ada." Fatma menunjuk makanan yang tadi yang dihadapi oleh Rania.


"Oh iya, oke. Tapi ... kalau ingin sesuatu! bilang ya?" ucap Arya masih dengan tatapan yang sangat mesra terhadap sang istri.


"Iya. Tapi pengen di suapin, boleh?" pinta Fatma dengan nada manja.


"Papa, Mama. Ada Rania nih, jangan lupa?" tangan mungil Rania menggoyang tangan Arya dan Fatma.


"Oh, iya sayang ... iya." Arya mengangguk-anggukan kepalanya.


Fatma tersenyum. Lalu menarik tangan Arya untuk makan, keduanya duduk dan Arya menyuapi sang istri.


"Mama ... lagi manja." Kata Arya sambil makan lalu tertawa.


"Papa ... emang mau ya? nanti baby nya ngeces? Mama sih gak mau." Fatma mendelikkan matanya.


"Oh, nggak dong, jangan. Masa anak Papa yang ganteng ini ngeces ah, gak ganteng dong." Arya menggeleng sambil kembali menyuapi sang istri.


"Makanya!" sambung Fatma.


Manik mata Rania hanya menatap papa dan mamanya sedikit berdebat. "Udah ah, Rania mau main boneka.


Fatma Menoleh. "Iya sayang."


"Gimana kalau kita jalan-jalan yu, menyusuri kota ini?" ajak Arya mengedarkan pandangan pada Fatma dan Rania.


"Wah ... mau, mau jalan-jalan. Yu? Mam. Kita jalan-jalan yu?" Rania sangat antusias.


"Em ... Mama malas ah capek, pengen istirahat saja. Kalau mau! kalian berdua saja yang pergi." Fatma menolak dengan alasan capek.


"Ya ... Mama gak asik. Ah Mama gak asik," ucap Rania lesu.


"Rania mau? kalau Rania mau ... kota pergi berdua saja. Biarkan mama istirahat, besok mama kan harus kerja dan kita bisa tidur sampai siang." Arya tawari Rania.


"Em ... mau sama, Mama. Tapi ... boleh deh kita berdua saja. Kasihan Mama capek." Akhirnya Rania menyetujui tawaran papanya.


Arya menyudahi makannya, setelah Fatma pun sudah merasa kenyang. Kemudian ketiganya berjamaah terlebih dahulu, sebelum Arya mengajak Rania jalan.

__ADS_1


"Ayo, Pa? kita berangkat?"Nanti keburu malam lho." Ajak Rania. Dia sudah tidak sabar untuk pergi.


Arya menghampiri sang istri yang duduk di sofa dengan laptop di pangkuan, dia berjongkok di depan Fatma. "Sayang, beneran gak mau ikut?"


Fatma menggerakkan manik nya, lalu tersenyum. "Nggak ah, aku biar di sini saja. Kalian saja yang pergi. Nanti kalau ada makanan khas indo belikan ya?"


"Oke, nanti, Aa. Belikan ya? kalau ada sih." Cuph! mengecup kening sang istri dengan mesra.


"Terima kasih!" Fatma membalas kecupan Arya di pipinya.


Keduanya saling melempar senyuman, lalu kemudian pelukan erat. Tadinya Arya mengajak jalan bertiga, tapi ternyata Fatma gak mau. Sementara Rania mau pergi. Tidak mungkin tidak mengindahkan kemauan Rania begitu saja.


"Ih, capek deh ... Rania selalu di cuekin gini." Gerutu Rania sambil menyilang kan tangan di dada.


"Ha ha ha ... putri kecil ngambek. Emang gak boleh apa? Papa dan mama pelukan? kan suami istri. Kalau seperti om Tatan dan aunty baru tidak boleh, sebab belum menikah sayang," ujar Arya sambil melepas pelukan pada Fatma.


"Boleh, sih ... tetapi nanti kalau Rania sudah bobo. Baru boleh, setiap malam juga papa selalu--"


"Selalu apa sayang?" Fatma memotong perkataan Rania, ia panik. Jangan-jangan Rania?


"Setiap malam, papa dan Mama sering pelukan. Kalau Rania dah bobo boleh, tapi kalau Rania masih melek jangan sering-sering. Habis! Rania nya di cuekin." Rania memajukan bibirnya ke depan.


"Ooh," Fatma merasa lega. Ia kira selalu apa.


"Ha ha ha ... oh, jadi harus nunggu Rania bobo dulu baru kami boleh kangen-kangenan gitu?" lagi-lagi Arya tergelak tawa dan diakhiri dengan pertanyaan.


Rania mengangguk. Membenarkan perkataan dari papanya.


"Kalau gitu, Rania cepetan bobo? biar Papa dan mama bisa kangen-kangenan ya Mam?" Arya menoleh sang istri yang menunjukan barisan gigi putihnya pada Rania.


"Iih ... Papa ... gak mau, ayo pergi? kan sudah janji mau pergi!" Rania mendekat dan menarik tangan Arya.


"I-iya sayang, iya ... sabar dong? papa mau cium mama dulu." Cuph! mengecup pipi dan kening Fatma penuh kemesraan.


"Aa, pergi dulu ya?" baik-baik di sini ya?" pamit Arya.


"Iya. Hati-hati ya!" balas Fatma.


Lalu Rania pun pamit pada sang mama. "Mam, Rania pergi dulu ya? nanti Rania bawakan makan khas indo, bila ada."


"Hati-hati juga ya sayang dan cepat pulang." Fatma mencium pipi Rania singkat.


Akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan kamar tersebut. Arya menuntun tangan Rania.


Fatma menatap nya lembut, namun setelah keduanya keluar. Fatma langsung meraih tas nya dan kaca mata hitam, serta satu lagi. Jaket dari lemari.


Fatma gegas memakai jaket dan kaca mata hitam nya. Lanjut mengayunkan langkahnya yang terburu-buru, untuk menyusul mereka berdua.


Langkah Fatma yang terburu-buru serta mata yang mencari bayang-bayang suami dan putrinya, Fatma terus membawa langkahnya mengikuti mereka berdua namun dari kejauhan. Entah apa maksud dari Fatma saat ini ....


.


.


Mana nih dukungan dari reader ku yang sangat aku sayangi.

__ADS_1


__ADS_2