
Arya yang panik mencoba untuk tenang dan membuang perasaannya yang gugup itu. "Sebentar-sebentar. Kita bisa berbincang dengan tenang." Sambil mengangkat kedua tangannya.
"Heh, kami ke sini bukan buat bernegosiasi sama kamu." Bentak salah satunya.
"Ta-tapi, apa maksud kalian?" selidik Arya dengan masih mengangkat kedua tangannya.
"Saya tahu kamu menyaksikan kejadian itu--"
"Kejadian apa?" sela Arya.
"Jangan kura-kura dalam perahu lah, pura-pura tidak tahu. dan kami harap kau bisa tutup mulut, sedikitpun mulut mu terbuka! kau pasti tau akan akibatnya." Ancam orang itu.
"Ha ha ha ... Ups saya tidak tahu apa-apa, suer. Makanya saya bingung kalian ini siapa dan bermaksud apa?" Arya terus mengelak dan berpura-pura tidak tahu.
"Kau pikir kami akan percaya sama kamu ha?"
"Benar. Saya tidak tahu apapun." Arya kekeh.
Salah satu diantar mereka hendak menonjok wajah Arya. Namun dengan gesitnya Arya menangkap tangan itu dan dipelintir ke belakang. "Aku." desisnya.
Yang satu panik dan hendak menekan pelatuk senjatanya. Dengan cepat kaki Arya menendang tangan orang tersebut hingga kesemutan sontak senjata api nya terjatuh ke lantai.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Arya menendang dan memukul secara membabi buta. Pada keduanya sehingga kedua orang itu kewalahan dan tumbang.
Ketika Arya mau menyerang lagi. Keduanya kabur terbirit-birit ketakutan sehingga menabrak dinding sisi pintu.
Napas Arya ngos-ngosan, matanya tajam melihat kedua orang tersebut berlari. Arya berjalan mendekati pintu dan menguncinya. Setelah itu Arya membalikan tubuhnya kembali berjalan menjauhi pintu namun kakinya tersandung sesuatu.
"Pistol?" Arya mengambil barang tersebut. Dengan dialasi tisu. Sementara waktu ia pandangi dan perlahan ia membuka apa iya ada isinya.
Benar saja. Senjata itu masih ada isinya, Arya keluarkan lalu ia masukan kantong plastik. Ia simpan di meja, Arya menghela napas lega kemudian mengambil ponsel untuk menghubungi polisi.
Arya duduk menunggu kedatangan polisi yang akan mengambil senjata api tersebut.
Setelah sekian lama menunggu. Akhirnya yang ditunggu pun datang, dua orang polisi yang begitu ramah dan berterima kasih atas kerjasama Arya dengan pihak yang berwajib.
__ADS_1
"Sama-sama Pak, dengan senang hati saya membantu," ucap Arya sambil mengangguk.
"Kami harap, anda terus membantu dan memberikan info pada kami dalam menumpas para mafia yang semakin marak di negara kita ini," sambung kedua polisi tersebut.
Kemudian pihak yang berwajib pulang membawa barang bukti dari apartemen Arya.
Arya menutup pintu, lalu membawa langkahnya ke kamar. "Akhirnya aku bisa tidur nyenyak juga. Huuh ..."
Kedua netra mata Arya terpejam di atas tempat tidur king size itu. Ia menenangkan pikiran dan hatinya yang baru saja menerima goncangan akibat kejadian yang membuat jantung berpacu dengan cepat itu.
...****...
Fatmala tengah asik dengan kesibukannya mengurus Rania, setiap pagi Fatmala harus memandikan Rania dan mengurus segala keperluan sekolah putri semata wayangnya.
Fatmala tersenyum ke Rania yang sedang ia mandikan. "Rania, nanti siang Mama mau ke luar kota dulu ya? Rania di sini sama aunty jangan nakal-nakal."
"Hem ... Rania sendiri dong?" menatap sedih ibundanya.
"Nggak sendiri sayang, kan di sini banyak asisten dan ada aunty Mia juga yang akan selalu menjaga Rania, ada Oma juga opa," sahut Fatmala. "Mama paling lama juga tiga hari di sana. oke? jangan nakal-nakal!"
"Iya, Mam. Papa ada gak? temenin Rania di sini!" lagi-lagi pertanyaan dari Rania pada sang bunda.
Fatmala terdiam sesaat dan menatap sang putri sambil melilitkan handuk ke tubuhnya. "Ada, pasti ada kok sayang. Yu kita memakai baju."
"Mama-Mama, Rania punya kawan lho ... baik deh--"
"Oya? kawan baru ya?" tanya Fatmala dengan nada datar.
"Iya, baru. Namanya om ... om sapa ya? Rania lupa!" anak itu menggaruk-garuk pelipisnya.
"Om, om siapa?" Fatmala melirik ke arah Mia.
"Itu, Nyonya orang yang hampir menabrak Nona. Waktu itu," sahut Mia.
Fatmala mengerutkan keningnya. Jadi penasaran siapa orang yang dimaksud om sama putrinya itu. Fatmala menuntun Rania ke bawah dan mendudukkan nya depan meja makan.
"Rania mau makan apa? Hem atau mau Mama suapi?" tanya Fatmala dikala menempelkan bokongnya di kursi.
"Mau-mau, mau Mama suapi, Rania ingin Mama suapin." Anak itu sangat antusias dan manjanya.
Selesai sarapan, Seperti biasa Rania berangkat sekolah bersama Mia dan supir. Fatmala bergegas ke lantai atas tuk mengemas barang yang takutnya ada yang ketinggalan.
__ADS_1
Tiba-tiba Aldian masuk kamar Fatmala yang sedang mengemas barang-barang yang di butuhkan. "Kamu mau kemana?"
Fatmala menoleh ke arah Aldian yang duduk di tepi tempat tidur. "Ke luar kota, jaga Rania."
"Oh, tentu! tapi saya minta layani saya dulu sebelum pergi." Lengan Aldian menangkap tangan Fatma yang melintasinya.
Fatma langsung menepis. "Lepaskan? jangan menyentuh ku!"
Geph!
Jemari Aldian mencengkram dagu Fatmala. "Dengar ya kamu itu masih status istri ku, jadi wajar kalau saya minta dilayani saat ini juga sebelum kita sama-sama berangkat kerja."
Aldian menyeret tubuh Fatmala naik ke tempat tidur. Tentunya Fatmala berontak sehingga menimbulkan kegaduhan di kamar tersebut.
"Kamu, jangan macam-macam. Saya harus berangkat kerja dan satu lagi yang harus kau tahu. Aku akan mengajukan gugatan cerai sama kamu," jelas Fatmala sambil menunjuk ke arah Aldian.
Plak!
Telapak tangan Aldian memukul bahu Fatmala dan menangkap kembali tubuh Fatmala. "Saya tidak perduli kamu mau gugat saya atau tidak. Yang jelas kau harus mengikuti yang aku mau."
Blak!
Mendorong tubuh Fatmala dan menindihnya. Dengan cepat Fatmala menggerakkan dengkulnya untuk melukai alat suntik nya. Sehingga Aldian meringis dan posisinya terlentang membuat Fatmala segera bangun dan meninggalkannya.
"Ada apa riuh, Fatma?" selidik sang bunda pada Fatmala. Ia mau sarapan tiba-tiba mendengar kegaduhan dari kamar putrinya sehingga ia bergegas naik dan berdiri di depan pintu.
"Em, nggak Bu ... aku dan Al bercanda dikit." Wajah Fatmala agak gugup.
"Oh, iya. Suami mu kok baru Ibu lihat, dari mana saja dia?" sang bunda menyelidiki Aldian.
"Entah Bu ... sudah ya? Fatma berangkat dulu. Takut kesiangan." Fatmala meraih tangan sang bunda dan menciumnya. Segera turun dan diikuti oleh sang bunda.
Aldian yang mendesis kesakitan dan sekaligus menggerutu. "Awas kau! nanti saya paksa dan ku siksa kau sampai memohon-mohon padaku." Pekiknya dan dengan tatapan kosong.
Kemudian Aldian berdiri sambil memegangi alat suntuknya yang terasa ngilu dan sakit. "Ha! aku harus mandi dulu nih, harus menenangkan alat suntik ku yang tegang gini." Berjalan sempoyongan menuju kamar pribadinya.
Sekitar 20 menit kemudian Aldian sudah rapi dan menjinjing tas kerja nya menuruni anak tangga melintasi mertuanya begitu saja. Jelas orang tua Fatmala menjadi heran. Sikap mantunya itu tidak seperti dulu yang sopan dan baik juga perhatian. Sekarang jauh berbeda.
Ayah dan ibu nya Fatmala menggeleng pelan sambil memandangi punggung mantunya.
Dalam pikiran Aldian saat ini, sebelum kerja ia harus menyalurkan dulu hasratnya yang menggebu-gebu ini. Dengan kurang ajar gladiator nya meronta-ronta minta dimanjakan. Buru-buru memasuki mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi agar segera sampai ke tempat tujuan ....
__ADS_1
****
Terus dukung aku ya, jangan lupa fav, like. Komennya pokonya tinggalkan jejak ya🙏