
Pandangan mereka bertemu dan mengunci di suatu tempat. Yaitu bagian wajah yang ditatap dengan sangat intens.
Tangan Arya menyentuh tengkuk Fatma di usapnya lembut lalu sedikit ditarik supaya mendekat. Wajah Arya pun maju mendekat menyambut benda kenyal yang dalam dua hari ini menjadi candu untuknya.
Napas Fatma seakan berpacu dengan waktu. Memburu tak menentu, pertemuan dua bibir pun terjadi dengan lembut dan amat dinikmati setiap geraknya.
Sentuhan tangan pun tak luput menghiasi berlangsungnya itu, tangan Arya bergerak membelai, mengusap dengan sangat lembut di area tengkuk. Leher dan punggung.
Napas yang memburu dan jantung yang berdekup sangat kencang tak menyurutkan gairahnya untuk menikmati hidangan pembuka tersebut.
Arya terus me**ma* menjelajah permukaannya. Sesekali me**e**p lembut. Mata keduanya terpejam di bawah sinar lampu yang temaram dan suasana di luar itu hujan sampai terdengar gemerciknya.
Mereka berdua terus bercumbu mesra di sofa, saling memberikan kehangatan satu sama lain, malam pun beranjak semakin larut dan mereka masih enggan meninggalkan tempat tersebut. Dengan alasan kalau pindah ke ranjang, takutnya mengganggu Rania yang tengah tidur lelap.
Fatma masih bentah di atas paha Arya yang dengan siaga tangan yang satunya memeluk pinggangnya. Dan satunya tak berhenti menjelajah ke setiap yang dia suka tentunya Fatma pun suka diperlakukan seperti itu.
Tak hanya tangah yang traveling ke mana-mana, bibir pun tak ayal melakukan persinggahan di tempat-tempat yang menurutnya indah. Terkadang Fatma lah yang mengarahkan nya juga.
"Akh ..." desis Arya. Dikala merasakan gejolak yang hampir melonjak, dan akhirnya terasa ngilu.
Fatma juga tak luput dari suara-suara yang amat terdengar indah di telinga Arya. Disaat tangan dan bibir Arya begitu sincron memainkan miliknya yang menggantung cantik.
Sebenarnya Arya tidak tahan untuk melakukannya lebih dari sekedar mencicipi makanan pembuka.
Manik mata Fatma tertuju pada dada Arya lalu menyentuhnya. Kemudian bergerak melihat ke sorot mata Arya yang menatap penuh hasrat. Bibir Fatma tersenyum tulus. Kembali Fatma menyapukan pandangannya ke dada Arya yang bidang dan berisi tersebut.
Mengusap dan memainkan ****** nya. Membuat Arya kembali memejamkan mata. Fatma tau betul suaminya ini sangat menginginkan dirinya. Begitupun ia sendiri sudah mendambakannya.
Sebagai wanita dewasa, normal dan pengalaman dalam merasakannya, tentu tidak dapat dipungkiri kalau ia butuhkan itu. Namun sayang kalau saat ini belum bisa menyerahkannya pada suami barunya ini.
Setelah sekian lama melalui waktu dengan berc*mbu, akhirnya mereka menyudahi aktivitasnya yang panas itu.
__ADS_1
Arya menempelkan punggungnya ke belakang bahu sofa. Napas yang masih memburu terdengar mewarnai keheningan.
Fatma memeluk leher Arya, menyembunyikan wajahnya di sana. Tubuh terasa lemas dan bergetar, menegang.
Dengan suara berat, Arya bertanya. "Sayang kenapa?" bisik nya dan nyaris tak terdengar.
Kapala Fatma menggeleng dengan posisi yang sama. Memeluk dan menyembunyikan wajahnya. Rupanya Arya belum tau gimana reaksinya bila wanita sedang te****gsan* dan sangat menginginkan keintiman dengan pasangan.
Hening!
Mereka memilih terdiam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing yang melayang jauh traveling. Mata Arya terpejam sesaat. sembari memeluk punggung sang istri.
Sementara Fatma masih dengan posisi yang sama sehingga hembusan napas Fatma terasa mengahangat menyapu ke seluruh kulit Arya khususnya daerah leher dan dada.
Perlahan tubuh Arya bergerak, menegakkan duduknya. Dengan gerakan pelan memasangkan kancing piyama Fatma yang terbuka semua dan sebelumnya memasang tali surga yang terlepas akibat permainannya tadi.
Mata Arya bergerak melihat manik mata Fatma yang memperhatikannya. "Pindah ya? bobo."
Begitupun Arya, hasratnya yang menggebu-gebu begitu amat menginginkan istrinya namun harus terhalang palang merah yang tidak bisa ia terjang.
Padahal biasanya, hujan. Badai, angin dan kabut sekalipun ia mampu melumpuhkannya. Namun kali ini benar-benar mentok tak mampu berbuat apa-apa. Sosok Arya, pilot yang gagah perkasa, mampu melawan setiap keadaan.
Kini kalah, tak mampu berbuat apapun. Hanya untuk menyenangkan dirinya saja.
Arya langsung mengangkat tubuhnya Fatma di gendong nya ala bridal style, dibawanya ke atas tempat tidur dengan perlahan dia baringkan dan selimuti. Setelah itu barulah ia sendiri naik merangkak. Berbaring dan memeluk tubuh sang istri sontak menghadap ke arahnya.
Sambil terpejam bibir Mereka kumat-kamit membaca doa. Malam pun kian beranjak dan berlalu dengan rasa kecewa yang menghiasi hati dan perasaan.
Keesokan harinya. Arya dan Fatma sudah mengemas barang-barang untuk pulang ke Jakarta hari ini.
Rania pun sudah riang menyambut kepulangannya dan mau langsung ke apartemen Arya.
__ADS_1
Mia senyum-senyum sendiri mendengar mau langsung ke apartemen Arya.
"Kira-kira seperti apa ya apartemennya arya? luas atau sempit kah? ah, berarti kalau apartemen gak seluas di Mension dan akan lebih leluasa untuk--" batinnya Mia. Matra matanya menangkap kedatangan Fatma di teras tersebut.
"Gimana, masih sakit kepalanya?" tanya Fatma sambil mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di teras tersebut.
"Em, sudah sudah. Sudah agak baikan kok." Jawab Mia sembari mengusap keningnya.
"Sakit apa?" selidik Fatma lagi.
"Sakit ... sakit kepala biasa, Nyonya. Alhamdulillah tidak sesuai ekspetasi." Mia mengangguk.
"Ooh, baguslah." Fatma menatap tanpa ekspresi.
Mia sedikit canggung. Dan tidak enak hati ketika Fatma menatapnya begitu intens dan penuh tanda tanya.
"Em ... kerabat ku sangat membutuhkan baby sitter. Dan karena Rania sekarang sudah besar. Jadi saya rekomendasikan kamu untuk bekerja di sana." Fatma langsung to the points aja.
Membuat Mia tercengang. Tidak menyangka kalau secara kasarnya ia diberhentikan bekerja dengan Fatma. Namun ini secara halus dengan cara ia di pindahkan bekerja ke kerabatnya.
"Apa? sa-saya di berhentikan?" tanya Mia menatap tajam ke arah Fatma. Ia benar-benar tidak menyangka.
"Sa-saya tidak memberhentikan kami, sebab saya tahu kamu butuh pekerjaan. Cuma kamu saya pindahkan ke kerabat saya yang lebih membutuhkan pekerja." Fatma memberi jeda perkataannya.
Mia menggeleng seolah tidak rela bila harus pindah kerjaan. Sudah nyaman dan apalagi sekarang ada pemandangan yang sangat ia sukai.
"Sementara sama saya, Rania sudah beranjak besar, dan saya juga sekarang akan lebih banyak mengurusnya, jadi saya tawarkan kamu, mereka pun welcam setuju, daripada kami mencari yang baru yang belum kami kenal, kan? mendingan kamu saja. Gajinya akan lebih besar dari saya." Lanjut Fatma.
"Ta-tapi, Nyonya. Kenapa mesti saya sih? kan pekerja Nyonya juga bukan saya aja. Ada banyak--"
"Tapi masalahnya yang mengasuh anak cuma kamu, yang lain bagian masak dan bersih-bersih saja. Jadi jelas dong saya tawarkan kamu yang lebih mahir mengurus anak." Fatma memotong perkataan dari Mia ....
__ADS_1
****