Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Lamaran


__ADS_3

Sejenak. Mereka berkumpul di ruang tengah dan melepas penat dengan di suguhi minuman dan kue khas daerah sana.


Namun tiba-tiba, Fatma mencari kamar mandi. Dia sudah tidak kuat untuk membuang isi perutnya, Ingin muntah. Mual dan pusing pun mulai menyerang.


Membuat semua panik dan banyak yang bertanya kenapa Fatma? namun umi memaklumi itu, mengingat Fatma sedang hamil muda. Arya langsung menyusul dengan membawa minyak angin.


"Sayang!" Arya menyusul sang sang istri yang sedang muntah-muntah.


"Oo, Oo. Oo ...."


Fatma menarik napas dalam-dalam lalu ia hembuskan dengan panjang, menghirup minyak angin yang Arya berikan.


Kemudian Arya gandeng Fatma keluar dari kamar mandi dan langsung di bawa ke kamarnya.


"Ajak istirahat saja, Aa. Sebentar Umi buatkan minuman hangat." Umi Santi langsung ke dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk Fatma.


"Iya, Umi." Arya terus berjalan untuk meanjutkan langkahnya membawa Fatma ke kamar.


"Baringan sayang!" titah Arya pada Fatma agar berbaring di samping Rania yang masih juga nyenyak.


"Hem." wajah Fatma pucat.


Umi Santi datang dengan segelas air hangat untung sang mantu. "Ini diminum dulu biar lebih hangat perutnya."


"Makasih, umi?" Arya mengambil alih gelas tersebut lalu Arya minum kan pada Fatma yang duduk sebentar.


"Makasih, umi sudah repot-repot." Fatma jadi kurang enak hati terhadap uminya.


"Nggak pa-pa, Neng istirahat aja." Kata umi dengan lirih melihat sang mantu yang sedang masa ngidam tersebut.


Manik nya Fatma menoleh pada Dewi yang baru masuk ke kamar itu. "Oya, Wi! kiriman Kak Fatma sudah sampaikan?"


"Oh, sudah Kak. Makasih banyak? Dewi jadi banyak merepotkan kak Fatma," sahut Dewi dengan rasa segan dengan dengan kebaikan kakak iparnya ini.


"Nggak pa-pa, kok." Tambah Fatma sambil menarik selimut.


"Sekarang sayang istirahat aja dulu, pasti capek kan?" Arya membenarkan selimut di tubuh Fatma.


"Iya, Nang istirahat saja dulu." Tutur umi Santi sambil membawa langkahnya dan mengajak Dewi untuk keluar dari kamarnya Arya yang langsung Arya tutup.


Tangan Arya mengusap lembut kepala Fatma yang mencoba memejamkan kedua matanya.


"Bobo sayang. Aku di sini menemanimu." Bisik Arya di sisinya Fatma.


Fatma membuka matanya dengan sipit. "Makasih sayang? aku gak kenapa-napa kok, cuman pusing dan mual biasa. Tahu kan kenapa?"


"Iya, sayang. Aku tahu, ya sudah pejam lagi matanya." Pinta Arya kembali dengan lirihnya.


Setelah beberapa saat, Fatma pun terlelap dan Arya bangun untuk membersihkan dirinya.


Kemudian kembali bergabung mengobrol dengan keluarganya di ruang tengah. Namun di saat sedang berbincang Abah, Umi dan yang lainnya.

__ADS_1


"Papa?" panggil Rania sambil menghampiri dan duduk di pangkuan Arya. "Papa, Rania lapar?"


"Eeh ... cucu Umi sudah bangun? aduh tambah gelis budak teh siga mamanya. Alah meuni gamuleng alias cantik pisan." Umi melambaikan yang supaya Rania mendekat.


"Salam, sama umi dan Abah sayang, sekarang kita sudah ada dibandung." Arya mendorong pelan bahu anak itu.


Rania pun bersalaman pad umi dan Abah. Juga Dewi yang lantas memeluknya dengan erat.


"Uhh ... gumus-gumus, ponakan aunty yang cantik ini." Dewi merasa gemes pada ponakannya ini.


"Umi, kalau adiknya Rania sudah lahir, pasti kan lucu. cantik atau ganteng ya? Rania akan cantik." Dewi menoleh uminya sambil mencubit pipi Rania yang gembul itu.


"He'eh itu pasti, Wi. Umi sudah tidak sabar ingin menimangnya," balas umi dengan nada yang sudah tidak sabar untuk menimang cucu dari Arya si putra sulungnya.


"Umi ... baru beberapa bulan. Masih lama nih," ucap Arya melirik sang benda.


"Iya, Umi sabar. Tunggu beberapa bulan lagi dia pasti hadir juga ke dunia ini." Timpal Abah sambil meneguk kopinya.


Di dapur dan bagian luar ramai dengan orang-orang yang sedang mempersiapkan acara lamaran besok.


"Yu, sayang. Mau makan ya? sama aunty ya?" Dewi menuntun tangan Rania ke dapur.


Arya hanya melihat anak itu dan adeknya dengan senyuman.


"Jadi sekarang Neng Fatma suka muntah-muntah ya, Aa? suka ngidam apa saja?" selidik umi penasaran.


"Ya gitu deh. Tapi ... Aa. Belum merasa ada yang aneh-aneh sih. Masih dalam batas kewajaran." Balas Arya sambil menyesap minumnya.


"Dulu juga Abah gitu, Apalagi umi suka minta yang macam-macam bikin Abah keleyengan, cari ke mana-mana, sesuatu yang sulit di dapatkan." Timpal Abah.


...---...


Ini hari yang membahagiakan buat keluarga Abah dan umi. Dimana hari yang tunggu-tunggu tiba juga, salah satu hari yang istimewa buat Dewi dan Sultan.


Sultan beserta keluarga sudah datang, Beberapa hantaran mewah untuk lamaran pun sudah dikeluarkan dari mobil.


Tampak teman-teman Sultan seperti pramugari dan pramugari dan beberapa pilot lainya yang di antaranya Wisnu pun tampak hadir bersama rombongan.


Mereka dan Keluarga Sultan di sambut bahagia oleh keluarga Abah. Semua berwajah sumringah ikut bahagia dengan Acara lamaran Sultan.


Ini baru lamaran sudah sebanyak ini tamu yang datang, gimana nanti kalau menikah?


"Hi. Bro? siap nih?" Arya menyambut Sultan dengan pelukan hangat seorang sahabat sekaligus calon kakak ipar.


"Siap ... cuma lamaran doang, bukan ijab kabul! kalau ijab kabul aku harus belajar dulu, biar tidak gelagapan." Akunya Sultan.


"Bagus. Aku titip adek ku ya? dan aku percayakan sama kamu." Tambah Arya menatap tajam pada Sultan yang tampak nervous.


"Ya, insya Allah. Terima kasih atas kepercayaannya. Aduh, aku jadi nervous begini," timpal Sultan yang tampak gugup itu.


"Tenang, jangan gugup. Masih berat dalam penerbangan yang bikin senam jantung. Ketimbang sekarang mah." Kata Arya sambil menepuk bahunya Sultan.

__ADS_1


Kemudian Arya menyambut teman sejawatnya yang siap menyaksikan acara lamaran sang sahabat.


Dewi yang sudah berdandan canting berhias kerudung warna senada dengan pakaiannya yang condong dengan warna silver itu.


Kini saatnya acara di mulai. semua duduk manis di kursi nya masing-masing termasuk keluarga dari Abah dan umi lainnya.


Diawali dengan basmalah, keluarga Sultan menyampaikan maksud dan tujuannya mereka datang ke sini.


"Sebelumnya kami memohon maaf yang sebesar-besarnya pada keluarga Abah semuanya. Kedatangan kami ini pasti membuat repot Abah di sini?" ucap lirih ayahanda dari Sultan dengan mikrofon di tangan yang diberikan oleh MC.


"Sesungguhnya, kami ... sekeluarga tidak merasa keberatan samasekali. Malah ini sebuah kehormatan bisa di datangi oleh orang-orang yang aduh, bikin kami malu, dan juga kami memohon maaf bila sambutan dan jamuan kami tidak berkenan di hati anda." Timpal Abah.


"Oh, tidak apa dan tidak usah merasa malu. Sama saja, Oya maksud kedatangan kami ke sini, tiada lain dan tiada bukan,.ya itu untuk melamar putri Abah yang bernama Dewi! untuk putra kami yaitu sultan," ujar ayahanda nya Sultan.


"Saya eh ... kami merasa tersanjung dengan niat keluarga anda yang ingin melamar putri kami nyatanya bukan siapa-siapa itu--" Abah menggantung perkataannya.


Deg!


Dada Sultan dag-dig-dug tak menentu. Jantung pun rasanya pengen melompat, perkataan Abah bikin suasana hati Sultan gugup, was-was. Takut di tolak mentah-mentah.


Abah menghela napas panjang sebelum meneruskan ucapannya itu. "Kami, selaku orang tua hanya berkewajiban untuk mendoakan. Maka dari itu, silakan tanya langsung pada putri saya." Abah melirik ke arah Dewi yang menunduk dalam.


Dewi merasa malu dengan orang-orang yang sesungguhnya mungkin martabat dan pendidikan nya jauh berbeda dari Dewi. Saat ini Dewi sedang merasakan senam jantung yang begitu kencang, keringat dingin pun menghiasi kedua telapak tangannya.


Dan di balik insecure yang dirasakan Dewi, ada rasa bahagia yang tidak terhingga, lalu Dewi perlahan mengangkat wajah cantiknya.


"Bagaimana Neng Dewi? kami melamar Neng Dewi untuk menjadi istri Sultan, apa diterima atau tidak?" tanya ayahanda Sultan.


Dewi masih membisu dengan tatapan yang sulit di artikan pada sekitaran.


Bikin Sultan tidak sabar untuk mendengar jawaban dari Dewi, walaupun sepatah kata saja. Ini berasa detik-detik yang menegangkan bagi Sultan dalam menunggu sebuah jawaban.


Sultan meminta mic dari sang ayah. Lalu menatap lekat ke arah Dewi, namun sebelum bicara Sultan menghela napas panjang-panjang.


"Dewi, maukah kau menjadi istri ku? mendampingi di sisa hidupku? dalam susah dan senang bersama, menjalani biduk rumah tangga yang insya Allah bahagia? Oya Dewi tidak perlu menjawab panjang lebar. Apalagi sepanjang jalan Pantura yang sudah pasti tidak akan selesai satu jam lamanya, apalagi mengingat para tamu sudah kelaparan." Sultan masih sempat-sempatnya nyeleneh di saat-saat tegang begini.


Membuat orang-orang di sana saling pandang dan tersipu malu.


"Kurang ajar si Sultan bikin malu! Ha ha ha ..." gumam Wisnu.


Begitupun Dewi di bikin mesem-mesem oleh ucapan Sultan.


"Ups, bicara apa sih gue?" batinnya Sultan sambil menutup mulut dengan kedua jarinya.


"Ma-maksud Abang, Dewi cukup bilang iya saja. Jangan bilang tidak juga sih? kasian Abang dari Aceh jauh-jauh kesini hanya untuk Dewi seorang." Tambah Sultan kembali, lalu menyimpan mic nya ke meja.


Kemudian MC yang kini bicara dan mencairkan suasana yang tampak tegang tersebut serta bikin senam jantung ....


.


Apa kabar hari ini reader ku semua? semoga kabar baik ya🙏

__ADS_1


__ADS_2