
Renata baru masuk seusai Arya menghilang dari pandangan. Berjalan ke arah Doni dan duduk tidak jauh dari Doni juga Indah.
"Aku kangen kamu sayang!" ungkap Doni sembari mengusap pipi Renata.
Renata terkejut, kok Doni tanpa canggung bicara begitu di depan Indah. Mata Renata sedikit terbelalak pada Doni.
"Kenapa? di sini cuma ada Indah dan biar saja Indah tahu kalau kita ada hubungan khusus," ucap Doni menaikan kedua bahunya.
"Iya, Rena. Aku tahu kok tapi tenang saja ya? rahasia kalian aman kok." Sambar Indah seraya tersenyum.
Renata memandangi Indah dengan tatapan tanpa eskpresi. "Ya ampun ... salah kah aku sudah menduakan Arya? ya Tuhan ... aku tega sama tunangan ku." Helaan napas yang begitu berat terlihat dari hidung Renata.
Doni menggenggam tangan Renata dan meremasnya dengan gemas. Sesekali mencium punggungnya dengan hangat.
Bikin Renata merasa canggung apalagi di depan Indah, Renata menunduk mengarahkan pandangannya ke lantai.
Jari telunjuk Doni mengangkat dagu Renata agar mendongak. "Kenapa? gak senang ya aku ada di sini hem?" tanpa permisi terlebih dahulu bibir Doni mengecup bibir Renata. Renata terkesiap tak menduga sama sekali kalau Doni akan seberani itu melakukan dihadapan Indah yang pura-pura menutup mata.
Ini kali pertamanya Doni mengecup bibirnya Renata di hadapan Indah, yang paling pertama itu ketika berdua saja beberapa waktu lalu.
"Malu dong," gumamnya Renata setelah kecupan singkat itu berakhir.
"Ngapain mesti malu? Indah juga ngerti kok kalau kita pacaran." Protes Doni sambil tangannya merengkuh pinggang Renata ke dalam pangkuannya.
Renata yang mulanya kalau pacarannya dengan Arya itu dengan gaya yang sehat-sehat saja tanpa sentuhan bibir, kecuali kontak tangan dan pelukan biasa aja. Tanpa syahwat atau lainya yang akan membawa pada hubungan yang diluar batas.
Namun setelah menjalin hubungan dengan Doni yang terlalu dekat semua menjadi kebalikannya. Doni memperlakukan Renata pacar pada umumnya sehingga Renata terbuai dengan perlakuan Doni, bahkan mungkin saja tidak menutup kemungkinan kalau suatu saat akan terjadi sebuah hubungan yang tidak seharusnya terjadi diantara mereka berdua.
Wajah Renata memerah, tampak malu-malu yang membuat Indah merasa lucu. "Kamu kenapa? biasa aja kali. Kaya kita baru kenal saja." Lalu matanya tertuju pada televisi.
"Tuh, bener kata Indah ngapain malu. Santai saja napa?" sambung Doni dan dengan berani menghujani pipi Renata dengan kecupan kecil.
Renata sedikit menghindar, tetap saja ia merasa gak enak sama Indah dan menjadi risih juga bila sikap Doni yang semakin liar.
"Eh, bunda mu datang, bunda mu datang." Kalimat yang Indah ucapkan begitu terburu-buru. Ia tampak kaget dan menetralkan perasaannya yang gugup.
Mendengar itu Renata melonjak berpindah duduk di sofa. Jantungnya berdegup begitu kencang, gugup takut bundanya melihat kelakuan dirinya dengan Doni yang terlalu bebas.
__ADS_1
"Argh ... ganggu aja!" umpat Doni wajahnya terlintas kecewa.
Renata berdiri dan berusaha tenang lalu menyambut kedatangan bundanya, sedikit berlari membawa langkahnya ke teras. "Bunda, baru pulang?"
"Iya sayang, kamu di rumah sama siapa?" tanya balik sang bunda sambil merangkul bahu Renata sambil berjalan ke dalam rumah.
"Em, ada Doni dan Indan Bunda. Tadi sih ada Arya tapi sekarang dia sudah pulang." Jawab Renata.
"Oya, gimana kabarnya Arya sayang?" sambung bundanya.
"Baik, Bunda. Dia juga titip salam buat Bunda--"
"Eh ... ada tamu rupanya! makasih ya sudah nemenin Renata. Jadi dia ada temannya," ucap bundanya Renata seraya menunjukan senyuman manisnya.
"I-iya, Tante. Apa kabar?" Indah dan Doni berdiri menyambut dan mengulurkan tangannya masing-masing.
"Ooh. Baik alhamdulilah. Oya kalian lanjutkan ngobrolnya ya. Tante mau ke kamar dulu.
"Oya, Tante silakan-silakan," balas Doni. "Dengan senang hati. Di sini juga akan membuat gua canggung." Batinnya.
Bunda Renata berjalan mengayunkan langkahnya menaiki anak tangga satu demi satu menuju kamarnya.
...****...
Di suatu tempat tunggu, Arya tengah duduk santai memandangi orang-orang yang hilir mudik. Yang mau take up maupun yang baru landing. Arya sengaja berada di bandara ini untuk mengikuti kata hatinya yang ingin ke sana dan siapa tahu dapat bertemu Fatmala yang beberapa hari ini di luar kota.
Di tengah tertegun dan melamun tiba-tiba saja netra matanya menemukan sosok wanita yang ia rindukan. Beberapa kali Arya menggeleng kan kepalanya kali saja ia salah lihat tapi itu benar. Fatmala berjalan bersama asisten pribadi yang sama-sama menarik kopernya masing-masing.
Arya berdiri dan segera menghampiri Fatmala yang berjalan agak cepat serta tampak lebih sibuk dengan ponsel di tangan.
"Iya-iya, ck. Kenapa bisa macet sih? ya sudah mungkin saya akan naik taksi saja." Kalimat Fatmala diujung teleponnya.
Kemudian langkahnya terhenti ketika melihat Arya yang tepat dihadapannya. "Kamu?"
"Iya, saya. Selamat malam Kak, baru pulang ya?" balas Arya dengan senyuman ramahnya.
Manik mata Fatma bergerak celingukan. "Kamu ... sedang tugas atau--"
__ADS_1
"Tidak, saya cuma main-main saja eh ... kebetulan sekali bertemu di sini dengan mu." Arya mengangguk, wajahnya tampak sumringah.
"Ooh. Pantas pakaiannya santai gak terlihat sedang kerja." Fatma mengangguk dan menunjukan senyuman teduhnya pada Arya bikin yang melihat tertegun dan terpesona.
"Nyonya, saya pesankan taksi dulu buat Nyonya. Silakan duduk dan menunggu." Kata Asistennya sambil menunjuk pada sebuah kursi.
Kebetulan jalan mereka berlainan arah jadi tidak bisa satu taksi dan tentunya butuh dua taksi buat mereka berdua, akibat mobil jemputan Fatma terjebak macet di perjalanan menuju bandara.
"Ooh, gak ada jemputan Kak?" selidik Arya sebentar melihat wajah Fatma lalu menunduk.
"Iya, jemputan ku terjebak macet di perjalanan ke sini. Entah jam berapa sampainya." Keluh Fatma.
"Em ... kalau gitu pulang sama saya aja gimana? tapi saya cuma ada motor, bukan mobil. Yang kalau hujan? kehujanan--"
"Dan kalau panas? kepanasan! gitu, kan?" Fatma memotong kalimat yang Arya ucapkan.
"Eh, kakak tahu itu." Arya memperlihatkan senyuman di bibirnya. Sesaat pandangan keduanya bertemu lalu detik kemudian sama-sama menundukkan pandangannya itu ke bawah.
"Gimana Kak? mau saya antar pulang?" tanya Arya mengulang pertanyaannya.
"Em ... mau sih, emang gak keberatan atau gak mengganggu kamu ya?" ungkap Fatma takut mengganggu.
"Ooh, tentu tidak Kak. Tadi aku sudah bilang di sini cuma main-main jadi gak ada yang penting kok." Arya meyakinkan, lalu mengambil koper Fatma dari tangannya.
"Tapi, itupun kalau Kakak sendiri gak risih naik motor?" tanya Arya ragu.
"Sebenarnya. Kamu niat nganterin gak? kok tanya terus?" Fatma menatap lekat membuat Arya salah tingkah.
"Em-em ... niat banget. Cu-cuma gak enak saja takut minder gitu." Arya tampak gugup ditatap lekat oleh Fatma.
"Ya, udah ... kalau memang niat, yu?" ajak Fatma sambil membawa langkahnya lebih dulu.
Fatma pamit sama asistennya. Dan menyuruh membatalkan taksinya. Arya menarik koper Fatma sambil mengulum senyuman. Jantungnya dag Dig dug tak menentu. Hatinya bergetar disaat berdekatan dengan Fatma.
"Aduh, beneran gak pa-pa naik motor ini?" tanya Arya ragu.
"Udah ah, gak jadi saja. Capek nanya mulu" Fatma pura-pura melengos ....
__ADS_1
****
Sudah membaca belum? kalau sudah membaca, pastikan tinggalkan jejaknya ya? terima kasih🙏