Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Yakin


__ADS_3

"Mana kok gak ada juga Arya nya?" tanya bunda melirik ke arah Renata.


"Iya nih. Ah bikin bete." Renata mulai kesal dan wajahnya di tekuk.


"Sabar mungkin kena macet, kalian ini gusar amat. Seperti baru pertama kali kedatangan tamu istimewa saja." Timpal sang suami.


Tit ... tit ... tit ....


"Tuh meraka!" Bu Tita sangat antusias atas kedatangan Arya dan keluarga.


Renata bahagia akhirnya mereka datang juga. Namun di balik itu dadanya dag dig dug tak karuan, bertemu calon mertua yang ke sekian kalinya.


Arya melihat di teras, Renata dan kelurga sudah menunggu dan menyambut hangat kedatangan mereka. Abah dan umi turun duluan menghampiri pihak keluarga Renata.


Arya masih duduk di belakang setir sambil menyimpan ponsel ke dalam saku.


Sultan juga belum turun melainkan melirik ke arah Arya. "Kamu yakin mau putuskan pertunangan ini?"


Helaan napas Arya begitu dalam kemudian menelan saliva nya seraya berkata. "Yakin."


"Apa kau sudah mengetahui semua nya bro?" Selidik Sultan, sebuah pertanyaan yang sedari tadi menyesakkan dadanya.


"Iya, tahu semuanya." Jawab Arya sambil membuang pandangannya ke luar jendela. Sebuah tatapan kosong ia lepas begitu saja.


Hati Sultan mencelos. Menatap sahabatnya ini, dia mengusap wajahnya kasar. "Baguslah. Jadi tidak perlu mendengar dari orang lain."


Arya menoleh kepada Sultan dengan tatapan heran. "Kau tahu. Tapi kau tak katakan secara detailnya."


"Sorry bro. Lebih baik tau sendiri ketimbang tau dari cerita orang," sahut Sultan santai.


Kepala Arya mengangguk. "Iya juga sih."


"Jangan khawatir, cinta yang sejati akan datang pada masanya." Tangan Sultan menyentuh bahu Arya yang bersiap turun.

__ADS_1


"Berisik lu, ah." Arya turun dan menutup pintu mobil tersebut.


"Ye ... orang membujuk juga." Sultan pun turun dan sebelum jalan merapikan pakaiannya. Kalau tau gini, aku memakai pakaian resmi."


"Kenapa? kondangan lu?" gumam Arya seraya mendahului melangkah ke teras dan melintasi sebuah pintu utama memasuki rumah yang sering ia datangi tersebut.


Tidak lupa mengucap salam dan menyalami tangan orang tua Renata dengan penuh rasa hormat. Lalu duduk di sofa yang ada Abah dan Uminya.


Renata duduk di samping bundanya dengan hati yang tak menentu, aslinya gugup berasa mau lamaran lagi.


Disusul Sultan yang tak kalah bersikap sopan santun pada tuan rumah kemudian duduk di sebuah sofa tunggal yang adanya di samping Abah.


"Padahal tadi kami menunggu untuk makan malam bersama. Tapi kata Renata kalian makan di luar." Ayah Renata membuka pembicaraannya.


Semua mengangguk kecil dengan dibarengi senyuman yang sedikit tegang.


"I-iya, Ayah. Kami makan dulu di jalan." Sedikit mengangguk. Melirik ke arah Renata yang tampak sangat cantik namun ada sekelumit rasa sakit di dada Arya yang sakitnya itu sangat sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Detik kemudian Arya menunduk dalam.


Renata memandangi ke arah Arya yang rasanya tampak aneh. Terlihat canggung tak seperti biasanya. "Aduh, jantung aku jadi berdegup gini." Batin Renata.


"Oh, tidak usah repot-repot, kami tidak lama di sini, cuma ingin menyampaikan sesuatu." Uminya Arya dengan ramahnya. Lalu melirik pada suami dan putranya.


"Oh, kalau soal itu sih, tinggal satu bulan lagi dan sebagian sudah disiapkan dengan baik. Tinggal sebagian lagi yang belum, seperti baju pengantin belum pitting," balas bunda Tita raut wajahnya sangat sumringah.


Arya, Abah dan Umi saling bersitatap begitupun Sultan memandangi ketiganya.


"Ehem," dehemnya Abah memulai pembicaraannya. "Em ... maksud kami ke sini tentunya punya maksud yang tertentu. Sebuah maksud yang yang seharusnya dengan cepat disampaikan."


Semua mata memandangi ke arah Abah yang pembicaraannya tampak serius.


Sebelum melanjutkan perkataannya, Abah menarik napas panjang lalu ia hembuskan dengan kasar. Lalu pria paruh baya itu mengarahkan pandangan pada bunda Tita dan suaminya lalu pada Renata yang terlihat sangat tegang.


"Sebelumnya kami memohon maaf yang sebesar-besarnya, atas keputusan kami yang tentunya membuat keluarga ini kecewa--"

__ADS_1


"Aduh, saya pribadi jadi tambah penasaran dan berharap Abah to the point ajalah, ke inti permasalahannya gitu. Jangan basa-basi yang bikin kami penasaran ya, Bun ya?" ucap ayah handa Renata.


Abah kembali menoleh sang putra yang hanya menunduk dalam seolah tak ingin memperlihatkan wajahnya yang gusar dan entahlah.


Abah Yadi kembali menghela napas dalam-dalam. "Begini, AA." Abah menunjuk ke arah Arya. "AA meminta saya untuk berbicara tentang keputusannya yang ingin ... yang ingin ... membatalkan pertunangannya dengan Renata.''


Deg!


Renata, bundanya dan ayahanda Renata begitu terkejut, sengat shock mendengar keputusan yang mereka dengar.


Mulut Renata menganga tidak percaya dengan yang ia dengar saat ini. Matanya berkaca-kaca. menatap ke arah Arya yang terdiam begitu saja.


"Omong kosong apa ini? pernikahan tinggal sebulan lagi dan bahkan sebagian sudah dipersiapkan. Kenapa sekarang kalian malah memutuskan dengan sebelah pihak. Kalian gak lagi bercanda bukan?" nada suara ayah Renata meninggi ia tidak percaya begitu saja.


Kepala Arya perlahan mendongak. "Aku minta maaf, ada sesuatu yang membuat aku dengan terpaksa memutuskan ini."


"Sayang. Kamu tega, memutuskan pertunangan kita. Apa kamu sudah gak sayang lagi sama aku? sehingga kamu Setega ini? se-sebelumnya kita tidak ada masalah apapun." Renata tak kuasa menahan air matanya. Sesak dadanya bagai tak ada ruang untuk bernapas.


"Bunda jadi bingung, apa maksudnya ini? kenapa tiba-tiba kamu membatalkan pertunangan? sementara kita sudah sepakat bahwa kalau pernikahan akan dilaksanakan sebelum Renata wisuda. Kalau saja waktu yang diundur masih bisa kami fahami. Lah ini membatalkan secara sepihak. Jelaskan pada Bunda! jelaskan," ujar bunda Tita mendesak Arya untuk bicara.


"Aku tidak mungkin membeberkan aib yang seharusnya disembunyikan dan aku tidak ingin membuat semuanya kecewa termasuk bunda yang aku hormati." Arya menundukkan kembali wajahnya.


Deg!


Renata mendongak, akhirnya dia merasa kalau Arya sudah mencium perselingkuhannya dengan Doni. Kepalanya menggeleng, kalau tahu kenapa tidak menegurnya? bukan langsung membatalkan pernikahan! pikir Renata. Bibir Renata sudah menganga bersiap bicara.


Namun kalah cepat dengan bunda nya yang mendahului perkataannya yang akan Renata ajukan.


"Apa, Aib apa? jangan setengah-setengah kalau ngomong! langsung saja agar kami mengerti.


''Itu benar. Kamu harus jelaskan inti masalahnya." Timpal suami bunda Tita.


Lagi-lagi Arya menghela napas sangat panjang. "Aku tahu tak ada manusia yang luput dari dosa. Kekurangan dan ... yang intinya tak ada manusia yang sempurna," ungkap Arya sambil mengedarkan pandangan pada semua yang ada di sana ....

__ADS_1


****


Aku sedih nih. Pembaca banyak! tapi yang like yang komen itu-itu saja. Ayo dong ... mana dukungannya🙏


__ADS_2