
Melihat wajah Fatma yang tampak sedih dan murung. Bikin Arya salah tingkah dan tak tega melihatnya.
"Kenapa? takut kangen ya?" memainkan matanya sebelah.
Fatma menunduk seraya tersenyum getir. Ingin rasanya meminta jangan dulu pergi, tapi itu tidak mungkin.
"Nggak, siapa juga? iih ... ge'er!" elak Fatma.
"Iya sih, ge'er. Tapi berharap dikangenin calon istri boleh dong?" ucapnya Arya.
Fatma mencibirkan bibirnya. "Boleh sih,"
Arya naik ke motornya setelah mengenakan helmnya. "Mau pesan apa? kali aja mau pesan sesuatu gitu?"
"Em ... pesan apa? hati-hati saja." Seraya Manarik bibirnya senyum simpul.
"Baiklah, pandai jaga diri juga di manapun!" sambungnya Arya sambil bersiap menyalakan sepeda motornya.
"Maksudnya?" Fatma kebingungan dengan maksud Arya.
Arya urungkan sesaat niat tuk meluncurkan motornya. "Jaga diri yang aku maksudkan, mantapkan hati dengan niat kita tuk hidup bersama."
Bagaimanapun, Arya tentunya merasa trauma kalau orang yang dia sayang mengkhianati. Apalagi kalau ini terjadi lagi pastinya untuk kali kedua dan Arya tidak ingin itu terjadi menimpanya kembali.
Fatma menghela napas dalam-dalam. "Ya sudah, pulang sana? nanti kemalaman. Hati-hati."
"Oke, aku pulang dulu." Gegas Arya melarikan roda duanya setelah mengucap salam.
Fatma melihat kepergian Arya sampa hilang ditelan kegelapan. Mengalihkan pandangannya pada cincin yang tersemat di jari manisnya.
"Ooh, itu dari Nak Arya ya? aduh ... ibu ikut senang, bahagia dan apalah itu namanya. Semoga dia jodoh yang terbaik untuk mu sayang." Suara Bu Wati sangat antusias mengagetkan Fatma.
"Ibu, mengagetkan ku saja!" Fatma berbalik.
"bu sangat bahagia, semoga ini jodohmu yang terakhir dan terbaik kelak kamu mendapatkan bahagia yang seutuhnya. Tidak seperti yang sudah dan sayang juga sama Rania dengan tulus mencintai kamu dan anakmu, itulah harapan Ibu," ucap Bu Wati dengan lirihnya dan memeluk tubuh Fatma.
"Terima kasih, Bu. jangan berhenti mendoa'kan ku." Fatma membalas pelukan sang bunda dengan erat.
Kemudian mereka memasuki rumah tersebut dan tidak lupa mengunci pintu utama. Dan Fatma langsung masuk kamar untuk beristirahat, namun sebelumnya mampir dulu ke kamar Rania yang masih juga terlelap.
"Ini anak nyenyak banget bobonya, dari sore lho." Gumam Fatma sembari mencium kening sang putri.
__ADS_1
Langkah Fatma berlanjut ke kamarnya, badan terasa lelah dan hari esok sudah menanti aktifitas yang menumpuk.
Kebetulan besok akan ada pertemuan dengan rekan-rekan bisnisnya. Sekaligus teman-teman lama Fatma.
Fatma merebahkan tubuhnya setelah menggantikan pakaiannya dengan pakaian tidur. Dan tidak butuh waktu lama rasa kantuk pun menghampiri menyeruak sehingga Fatma berkali-kali menguap dan memejamkan matanya.
Malam yang kian larut. Suasana yang semakin dingin membawanya ke alam mimpi yang indah. Fatma mengulas senyuman di bibir indahnya dari balik lelapnya tidur malam yang berlangsung.
...---...
Begitupun dengan Arya yang begitu nyenyak tidurnya sampai subuh tiba. Setelah menyelesaikan tugas paginya lantas sarapan, Arya bersiap untuk mengantar Rania sekolah itupun kalau belum berangkat. Paling tidak menjemput nanti pulangnya.
Arya membuka pintu utama namun langsung mendapati Sultan yang berdiri di depan pintu dengan senyuman.
"Mau kemana bro?" Tanya Sultan menatap intens ke arah Arya.
"Mau nganterin anak gue sekolah, kau pagi-pagi sudah ke sini?" tanya balik Arya pada Sultan.
"Mau ngambil barang yang mau kami berikan. Makanya gue ke sini." Balas Sultan sambil melipir masuk.
"Ha? nganterin anak sekolah?" Sultan kaget setelah sadar jawaban Arya tadi.
"Ya terserah gue, mau kaget kapan? Oya, nanti saja deh jemput nya aja. Ada yang ingin aku bicarakan!" Sultan ngeloyor mendekati sofa.
Arya pun menutup pintu lalu berjalan maju mendekati sofa lainnya. "Ada apa?"
"Gini, aku ... eh belum sarapan ada yang bisa gue makan gak?" kepala Sultan celingukan.
Arya menatap jengah. "Kau ini mau ngomong apa minta makan?"
"He he he dua-duanya. Ada gak? lapar nih ..." bibir Sultan nyengir dan beranjak berjalan ke dapur dan langsung membuka lemari pendingin lantas mengambil makanan siap saji yang ada di sana.
Arya menggelarkan kepala di belakangnya Sultan. "Dasar pelit ... makan aja kelayapan ke tempat orang.
"Gak enak di kosan sendiri," kata Sultan sambil melahap makanan yang di meja.
"Ha! alasan saja." Arya lagi-lagi menggeleng.
"Oya, gini. Aku dapat undangan dari Renata dan Doni, terus kamu mau datang gak?" tanya Sultan.
"Nggak, kan di Bandung ada acara, tepat hari Minggu nya. Jadi gak bisa datang hari H nya aku." Arya duduk di depan Sultan.
__ADS_1
"Iya, ya lupa aku acara keluarga kamu di Bandung. Terus ibu negara ikut dong?" selidik Sultan di sela-sela mengunyah nya.
"Ikut lah, makanya rencananya kami mau pergi hari Jumat pagi atau sore lah. Aku bawa motor mereka pake mobil," ujar Arya seraya menggerakan tangannya.
"Lah gue, pake motor juga? ke sana?" tanya kembali Sultan, tangannya menyimpan sebuah gelas.
"Ngesot, lah iya. Kita sama-sama pake motor, kalau kapten Wisnu hari H nya, sebab hari Sabtu nya dia masih tugas."
"Oke lah kalau begitu kita ke Bandung sama-sama. Terus gimana? ngasih kado gak ke mereka?" selidik Sultan.
"Terserah, aku sih kirim paket saja." Balas Arya sembari meneguk minumnya.
"Paket apa? Bunga bangkai? ha ha ha ha ..." Sultan tergelak sendiri.
"Enak aja, terserah gue lah mau kirim apa juga." Arya bangkit. "Bereskan bekas makannya jangan sampai ada yang berantakan, cuci juga barang yang kotornya."
"Iye, bawel lu kaya perempuan." Gerutu Sultan sambil membereskan bekasnya makan dan mencucinya.
Arya kembali bersiap pergi. Mengenakan jaket dan topi pemberian Fatma yang menjadi topi kesayangan.
"Topi kesayangan, kemanapun nangkring terus di kepala! tak sebentar pun tinggal di rumah. Ngikut terus ..." ucap Sultan sambil tertawa kecil.
"Iri, Bos?" Arya mesem.
"Oya, boleh gak aku ajak Sofi?"
"Kalau kau ajak hari Jumat juga berarti nginep dong?" tanya balik dari Arya.
"Emangnya kenapa kalau nginep? apa di sana sempit atau hotel juga banyak bro." Sultan mengikuti langkah Arya sambil membawa dus yang lumayan besar.
"Ya, terserahlah. Cuma ingat? jangan macam-macam!" ancam Arya.
"Haduh, kau mengancam ku? mana berani aku macam-macam! kecuali suka sama suka ha ha ha." Timpal Sultan.
Arya menaiki motornya dan Sultan juga bersama motornya merayap dari parkiran apartemen dengan tujuan masing-masing.
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan berati langsung ke sekolah saja untuk menunggu pulangnya saja. Kasihan kalau gak di temui, secara besok Arya mau tugas, pasti Rania akan mencari-cari dirinya ....
****
Dukungan kalian akan selalu aku tunggu, jangan lupa like komen dan hadiahnya🙏
__ADS_1