Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Mau belah duren


__ADS_3

"Apa kabar kalian berdua?" sapa Wisnu menatap Sultan dan Sofi.


"Wah, sangat baik. Alhamdulillah." Balas sultan.


Setalah mereka berjabat tangan satu sama lain, lalu Sultan mengajak semuanya jalan menuju rumah Arya yang beberapa meter dari tepi jalan tersebut.


"Beneran yang menikah itu Arya dan Fatma? selidik kapten wisnu.


"Iya," jawab Sofi singkat.


"Ya bener kah kapten, Seperti yang sudah kau lihat di gambar yang aku kirimkan." Sultan meyakinkan.


"Adiknya? gimana?" tanyanya lagi kapten Wisnu.


"Shock, sangat shock dia. Terpukul siapa sih yang tidak akan terpukul kapten? semua juga pasti seperti itu." Sultan sambil berjalan.


"Iya, benar. Apalagi pada hari H yang seharusnya bahagia," ucap kapten Wisnu sembari mengangguk dan ikut prihatin.


"Eeh, mana mempelainya? Salat dulu kali. Yu duduk di sana kapten," ajak Sultan menunjuk kursi sambil menikmati musik marawis.


"Tunggu dulu, kita harus menemui bapak hajat dulu lah. Sebelum duduk santai begini." kapten kembali berdiri.


Sultan menepuk jidatnya. "Oo! iya. Aku lupa seingat aku bukan baru datang, yu ikut aku?" Sultan berdiri dan mengajak masuk ke dalam rumah untuk menemui Abah selaku tuan rumah di sana.


Sementara waktu kapten Wisnu berbincang dengan keluarga Arya dan Fatma, sembari menunggu Arya dan Fatma keluar.


Tidak lama Arya muncul memangku Rania yang tampak manja sama papa barunya ini. Fatma berjalan dengan santainya, kembali ke pelaminan.


"Aa, belum makan! makan dulu yu?" ucap Fatma sambil memegangi tangan bagian atas Arya. Sekarang semakin berani untuk menyentuhnya.


"Iya, makan dulu aja, Rania sudah makan belum hem?"


"Sudah. Tadi sama oma." balas Rania ditambah dengan anggukan.


Wanita cantik itu tampak sangat anggun dengan tatanan rambut di sanggul berhias rangkaian. melati menjulur panjang.


Wisnu pun sempat pangling dan bertanya pada Sultan. "Dia bukannya fatma?"

__ADS_1


"Iya, kapten. Siapa lagi." Jawab Sultan.


"Masya Allah ... cantik sekali lho. Pah! serasi banget dengan Arya," ucap istri Wisnu mengagumi kecantikan Fatma.


Sofi menatap istri Wisnu yang mengatakan Fatma sangat cantik. Wanita cantik itu tampak kebakaran jenggot.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Sultan menatap ke arah sang kekasih.


"Ha! nggak. gak ada apa-apa kok, aku ia oke." Sofi tersenyum semanis mungkin menyembunyikan perasaannya saat ini.


"Iya, gak kalah sama bunda. Sama cantiknya." Wisnu melirik ke arah sang istri yang memang cantik dan berhijab.


"Yu, kita menghampiri mereka." Ajak kapten Wisnu.


"Anak-anak di sini makan ya? Papa dan Mama mau ketemui om Arya sebentar. Dan jangan kemana-mana duduk manis habiskan makannya." Pesan istri Wisnu pada kedua anaknya yang berusia 10 dan 7 tahun itu. Kedua jagoan itu mengangguk.


"Biar sama Sofi aja di sini, Kak." tawar Sofi menawarkan diri.


"Ooh, makasih ya aunty?" ucapnya. Kemudian menyusul Wisnu dan Sultan.


"Waduh, sungguh tidak menyangka kalau ternyata hari ini hari pernikahan kalian. Kalau saya tau pasti saya bela-belain pagi-pagi datang ke sini." Wisnu mengulurkan tangan dan memeluk Arya dengan ucapan selamat juga.


"Sekali lagi, selamat semoga samawa. Akhirnya jadi suami jga di hari ini sesuai rencana terdahulu. Cuman lain mempelai wanitanya saja." Wisnu mengusap punggung Arya penuh haru.


"Benar kapten Di sana mempelai lelakinya yang lain. Di sini juga lain, di satu hari yang sama dan bulan, tanggal yang sama pula cuma lain pasangan," timpal Sultan.


Kapten Wisnu menoleh Sultan dan Arya bergantian. "Ini. Rencana Allah yang benar-benar apik. Rapi, kalian sama-sama menikah dengan pasangannya masing-masing. Semoga bahagia."


Arya terdiam, benar juga omongan Wisnu dan Sultan kalau hari ini seharusnya ia menikah dengan Renata dan benar Renata menikah dengan Doni dan di hari yang sama juga dirinya melangsungkan akad dan resepsi kecil-kecilan dengan Fatma. Tatapan Arya begitu lekat pada Fatma yang berbincang dengan istri kapten Wisnu.


Kini Arya menyadari kalau ini rencana yang maha kuasa, yang ingin umatnya berbahagia dengan orang yang tepat. "Masya Allah ... Allah begitu sayang padaku. Sehingga mengabulkan niatku menikah di hari ini dan menggantikan mempelai ku dengan wanita pasti engkau lebih mengetahui kalau dia wanita yang tepat untuk ku." Menghela napas lega.


Sultan mengangguk-anggukan kepalanya dan mengarahkan pandangannya pada Arya. "Yaps! ada hikmah dibalik musibah, khususnya yang menimpa kamu bro!"


Lagi-lagi Arya menghela napas dalam-dalam kalau ia hembuskan dengan lega. Obrolan berlanjut sambil makan.


Fatma tampak nyambung dengan istri Wisnu dan tampak akrab juga padahal baru ketemu juga.

__ADS_1


Sore hari semua tamu sudah berangsur pulang. Begitupun Wisnu dan keluarga bersiap pulang. Sultan dan Sofi juga berpamitan. Kebetulan mereka berdua ada tugas hari esok.


Sementara Arya masih ada waktu libur dalam beberapa hari lagi. Paling hari Selasa atau Rabu baru akan balik ke Jakarta dan hari jumatnya akan ada penerbangan juga.


Begitupun Fatma pasti akan lebih lama di Bandung bersama suaminya meninggalkan tugasnya di kantor, kebetulan sekarang ada asisten pribadinya yaitu Zayn. Yang menggantikan perannya Fatma.


"Ya sudah, hati-hati dan terima kasih atas kehadiran kalian di sini, makasih banyak." Arya bersalaman dengan para sahabatnya itu.


"Sama-sama." Jawab kapten Wisnu.


"Sebenarnya aku masih betah, namun takut ganggu! Kapten Waktu bulan madu pasti gak mau di ganggu kan?" ucap Sultan, ujung-ujungnya nyeleneh.


"Wah, gak mau di ganggu lah. Pengennya berdua terus ya Bunda?" Wisnu melirik sang istri yang tersipu malu.


"Sudah-sudah gak perlu bahas itu lah ... sekali lagi makasih dan sampai ketemu lagi nanti." Arya mendorong bahu Sultan yang sedang mengenakan helm.


"Aduh, di usir gue. Gara-gara mau segera belah duren, ck." Sultan berdecak kesal namun di akhirnya dengan tertawa renyah.


"Makasih ya? sampai bertemu lagi di suatu saat nanti," ucap Fatma ke istri Wisnu.


"Iya, sama-sama."


"Saya pamit duluan." Sofi mengulurkan tangan pada Fatma.


"Hem, senang dapat mengenal mu." Fatma mengangguk.


Kemudian mereka semua pulang dengan kendaraannya masing-masing. Sultan dengan motornya membonceng Sofi dan kapten Wisnu beserta keluarga dengan mobilnya.


Sepulangnya mereka, atau para tamu. Arya, umi dan Abah juga pak Wijaya yang mau ikut, bersiap buat melayat ke tempat keluarganya Ari. Untuk mengucapakan turut berduka cita.


Sebenarnya Rania merengek pengen ikut namun Fatma terus bujuk, lagian Fatma sendiri tidak ikut. Di rumah saja menemani Dewi yang masih terpukul jiwanya.


Saat ini Arya sedang mengambil jaket di kamarnya. Rania pun mengintil di belakangnya.


"Sayang, Mama juga gak mau ikut, jauh. Jadi Rania sama Mama aja," bujuk Fatma ....


.

__ADS_1


.


__ADS_2