
Fatma menoleh ke arah suami yang begitu serius menyimak acara lamaran adiknya ini.
Sambil senyum-senyum. Dalam hati Arya berkata. "Dulu aku gak kaya gini. Langsung nikah saja!"
"Dulu kita gak lamaran dulu ya?" bisik Fatma sambil memegang tangan sang suami.
"Hem ... gimana mau lamaran sayang ... baru mau rencana sudah nikah saja, tapi bagus sih. Kita langsung pacaran halal saja," balas Arya sambil tersenyum dan menatap lekat pada sang istri.
"Hem ... dasar!" Fatma mengusap rahang Arya yang berbulu halus itu.
"Dasar apa sayang? dasar lautan?" balas Arya sambil mesem.
Dewi mulai menghela napas dalam-dalam dengan sedikit senyuman yang tipis dari bibirnya itu. "Dengan segala kerendahan hati. Aku ... mau menjawab. Namun ada syarat yang harus diingat ketika nanti setelah menikah!"
Semua mata tertuju pada gadis yang berkerudung yang tampak cantik itu, penasaran pengen tahu jawabannya.
"Syarat yang ingin aku ajukan. Yaitu bila setelah menikah nanti. Tidak ada kata yang namanya kdrt dan perselingkuhan," ucap Dewi menatap ke arah Sultan.
"Abang setuju. Insya Allah tidak akan ada seperti itu. Dan bila sampai itu terjadi, Abang siap di gugat!" jelas Sultan penuh semangat.
"Terima kasih sebelumnya? dan aku ... akan bilang ... iya ma--"
"Alhamdulilah ..." Sultan langsung mengucap syukur ketika mendengar jawaban dari Dewi. Merasa lega dan bahagia.
Begitupun dengan yang lainnya saling mengucap Aamiin. Dan bahagia.
Keluarga menatap nanar penuh bahagia pada Sultan dan Dewi. Akhirnya Dewi resmi di lamar sultan dan Dewi tidak berhak menerima lamaran orang lain.
"Alhamdulillah ... akhirnya resmi juga." Gumamnya Arya dan Fatma.
Kini saatnya menyematkan cincin tunangan di jari masing-masing. Yang memaikan cincinnya tunangan, oleh ibunya yang mewakili dari pihak terkait.
Acara dilanjut dengan ucapan selamat, dari semua yang hadir di sana. Setelah itu lanjut makan-makan, seperti yang dibilang Sultan tadi kalau para tamu dah pada lapar.
Kini kebahagiaan tengah menyelimuti dua keluarga Abah dan keluarga Sultan. Mereka pun berbincang penuh ke akraban.
"Selamat ya? adek, Aa. sekarang kamu adalah calon istri Sultan. Dan kamu Sultan, jangan mentang-mentang ya? awas lho." Peringatan dari Arya pada Sultan.
"Astagfirullah. baru aja resmi? sudah kena ancaman. Heran gue! bukannya bahagia malah bikin was-was, nasib-nasib." Gerutu Sultan sembari menggeleng.
"Yey ... aunty sama om Tatan sudah menikah." Suara Rania yang baru bersuara semenjak tadi dia berdiam diri mengikuti acara. Sesekali lari-lari namun tidak riuh.
"Suutt ... belum sayang, baru tunangan lho, belum menikah." kata Fatma, mengusap pucuk kepala Rania.
"Ooh ... baru tunangan ya?" anak itu bengong.
Sultan dan Dewi tersenyum melihat Rania yang bikin gemes.
"Selamat ya Om Tatan? bentar lagi jadi suami," ucap Fatma pada Sultan lalu memeluk Dewi.
"Nih suami mu, belum apa-apa bikin aku down, ha ha ha." Sultan ketawa lebar.
"Tahan, sabar ... tidak lama juga resmi kok. Selamat ya? semoga lancar sampai halal," ucap Wisnu sambil memeluk dan menepuk punggung Sultan.
__ADS_1
"Iya nih," balas Sultan.
"Sekarang tinggal semangat nya aja lah, semangat mencari duit." Timpal Arya dari belakang.
"Tentu dong ... itu sih pasti." Sultan mengangguk. "Ngomong-ngomong perut ku lapar nih. Mau makan dulu! sebab bahagia pun butuh tenaga!"
Kemudian Sultan mengajak Dewi untuk menyantap hidangan yang banyak di meja.
Setelah acara selesai. Semua teman-teman dan keluarga sekaligus Sultan bersiap untuk pulang.
"Neng, kapan mau balik ke Jakarta lagi?" tanya Sultan pada tunangannya.
"Em ... kurang tau! Gimana Aa dan kak Fatma saja, di ajak ya ikut. Nggak di ajak, ya di sini." Balas Dewi.
"Ooh, ya sudah. Gak pa-pa, nanti juga setelah kita menikah. Kita akan tinggal di Jakarta." Kata Sultan.
Dewi tersenyum manis. Lalu menyatukan tangannya pada Sultan yang bersiap untuk pulang.
"Abang pulang dulu ya?" pamit Sultan.
Dewi mengangguk, lalu menghampiri calon mertua yang sedang pamitan pada Abah.
"Yang, kita akan pulang ke Jakarta kapan?" tanya Fatma sambil mengalungkan tangan ke leher Arya.
"Maunya kapan?" justru Arya balik tanya, sambil mengelus pipi sang istri.
"Woi, mesra-an mulu! jangan bikin orang panas dong?" suara Sultan mengagetkan Arya dan Fatma.
"Akh, ganggu saja kau ini. Biar saja, orang kami dah halal kok." Akunya Arya mendelikkan matanya.
"Ha ha ha ... iri, bilang bos?" ucap Arya malah mengolok-olok sahabatnya.
"Dah ah, aku mau pulang." Sultan berpamitan.
"Oke, hati-hati." Tangan Arya menepuk bahu Sultan.
"Rania mana nih?" kepala Sultan celingukan mencari anak itu yang nampak.
"Em ... dia ... tadi sama anak-anak main," kata
"Baiklah, bilang saja aku pulang." Timpal Sultan.
Akhirnya rombongan Sultan kembali ke Jakarta, beberapa mobil merayap beriring-iringan.
Keluarga Abah melambaikan tangan mengiringi kepergian mereka. Setelah mengadakan acara lamaran tersebut yang Alhamdulillah lancar.
"Hah ... lega. Tinggal nikahnya yang dua bulan lagi, pikiran lagi." Gumam Abah pada sang istri.
"Iya, Abah kita harus mikirin biaya pernikahannya nanti." Timpal umi sangat Santi sambil berjalan memasuki rumahnya.
"Abah tidak perlu mikirin apapun, buat acara nikahan kan nanti juga Sultan bawa. Lagian Aa ada." Arya merangkul bahu Abah nya.
"Iya sih," sahut Abah dengan wajah bahagianya.
__ADS_1
Saat ini Arya sudah berada di kamar baru selesai membersihkan diri. Sementara Fatma sedang berbaring dengan Rania yang minta di bacakan dongeng.
"Besok pagi kita pulang sayang, sorenya Aa ada tugas menggantikan kawan yang ada halangan." Arya berkata sambil mengenakan celananya.
Fatma menatap lekat pada Arya dengan tatapan intens, dalam hatinya berkata. "Kenapa gak dari tadi aja sih? biar besok bisa ngantor!"
"Pagi-pagi?" tanya Fatma singkat.
"Iya, kalau mau sih jam lima sudah siap." Jawab Arya kembali.
"Ya sudah. Kita pulang pukul lima saja, aku mau siapkan barang-barang dulu." Fatma beranjak dari tempat peraduannya.
Arya mencegah dengan tangannya. "Nggak usah sayang, biar, Aa saja yang yang bereskan semuanya. Sayang cukup duduk saja yang manis di sini.
"Jadi besok kita pulang ya Pah?" selidik Rania bangun duduk di tempat berbaring nya.
Lalu kepala Arya menoleh pada Rania. "Iya, sayang. Seharusnya besok masuk sekolah lho. Tapi ... Karana masih dalam perjalanan. Jadi Lusa deh masuk sekolahnya."
"Oh ... oke. Rania bobo ah, biar gak kesiangan." Anak itu kembali berbaring dan memejamkan matanya.
Arya membereskan barang-barang mereka, seperti pakaian mereka bertiga dan laptop punya Fatma dan Arya.
"Yang gak perlu di bawa apa saja sayang?" tanya Arya tanpa menoleh.
Fatma yang melihat kegiatan Arya cuma bergumam. "Semua aja bawa, lagian gak banyak dan di sini juga buat apa!"
"Baiklah. Bidadari ku ... semuanya sudah siap. Sekarang kita tinggal bobo, capek. Huam ..." Arya menghampiri sang istri sambil menguap.
Naik ke atas tempat tidur sambil mendorong tubuh istrinya ke belakang. Kebetulan Rania sudah tertidur.
Fatma menempelkan telunjuknya di bibir sambil melirik ke arah Rania yang baru saja tidur. Takut bangun lagi.
Bibir Arya menyungging lalu menarik selimut, meringkupkan selimut itu ke tubuh keduanya.
Selimut yang mereka pake cuma untuk berdua, sebab Rania misah lagi selimutnya. Jadi lebih leluasa.
"Olah raga yu? sudah kangen nih, selama di sini tidak menjenguk baby." Ajak Arya seraya berbisik.
Fatma terdiam. Mau melakukannya dimana? tempat tidur cuma pas untuk bertiga kok. Tidak ada tempat yang leluasa untuk bercinta.
Tidak ada respon dari sang istri. Arya kembali berkata. "Di sini tidak ada tempat untuk kita bermain, yah ... terpaksa di tahan aja deh, di paksain juga scurity nya terlalu dekat." Bisik nya lagi.
"Nah ... itu yang aku pikirkan." Balas Fatma yang suaranya nyaris tak terdengar saking pelannya.
"Iya, gak usah. Besok aja." Bisik lagi Arya sambil mengecup singkat bibir sang istri yang terasa sejuk dan lembut.
Keduanya berpelukan Lalau memejamkan kedua pasang mata, sambil komat-kamit membaca doa.
Namun tangan Arya tidak betah di satu tempat. Bergerak menjelajah tempat yang menjadi favoritnya ....
.
.
__ADS_1
Terima kasih reader ku yang baik hati. Yang masih setia di kisah Fatma dan Arya 🙏