Mencintai Ibu Angkatku

Mencintai Ibu Angkatku
Jangan khawatir


__ADS_3

Pagi-pagi buta, Arya sudah membersihkan diri dan berpenampilan rapi. Semalaman tidurnya Arya tak lena kepikiran terus Fatma yang Rania bilang sakit, ingin rasanya saat ini juga datang ke sana untuk memastikan keadaannya.


Dengan lihai tangan Arya membuat susu hangat untuk mengisi perutnya sambil melamun. Sesekali menggeleng kasar. "Kenapa yang ada di alam pikiran ku Fatma dan Fatma. Dan suara anak itu terus terngiang di telingaku! lama-lama aku bisa gila memikirkan mereka."


"Astagfirullah ..." tangan Arya mengusap wajahnya kasar. "Aku gak akan bisa bekerja kalau pikiran kaya gini terus." Berbicara sendiri sembari menyesap minuman hangatnya.


Setelah membawa gelas kotor dan mencucinya. Arya berjalan gontai keluar dari unitnya, membawa hati yang gusar. Dia tidak yakin dengan perjalanan kerjanya kali ini.


Langkahnya terhenti sesaat seraya menghela napas panjang. "Bismillah, semangat, ya Allah ... hilangkan kegusaran ku ini yang hanya akan menghambat aktifitas ku ini!" Mendongak ke langit-langit dan diakhiri mengusap wajah.


Kemudian melanjutkan langkahnya menuju tempat motornya berada. Lalu melakukan motornya setelah sebelumnya mengenakan helm sebagai pelindung kepalanya.


Di jalanan raya, roda empat dan dua berlalu lalang, mahluk di muka bumi ini memulai aktifitasnya di pagi yang masih dingin ini.


Arya terus melajukan sepeda motornya dengan fokus dan berhati-hati jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Setibanya di kantor mengikuti instruktur, atau meeting sebentar dengan rekan yang lain seperti pilot dan pramugara juga pramugari. Dipimpin oleh kepala di sana.


"He! ... apa yang kau pikirkan? melamun saja!" Sultan menyenggol bahu Arya yang terlihat tidak fokus.


"Ha? nggak ah. Nggak melamun cuma termenung saja," sahutnya Arya sambil mesem.


"Mikirin apa sih?" tanyanya lagi Sultan sambil berjalan beriringan dengan yang lain.


"Nggak ada. Gak mikirin apa-apa!" jawabnya. Mereka memasuki unit pesawat menyiapkan segala sesuatunya.


"Kapten. Kelihatannya kamu lagi banyak pikiran?" sapa kapten Wisnu, seniornya Arya.


"Nggak tahu kapten, pikiran saya rasanya sedang kacau, perasaan ini gelisah Tek menentu." Jawab Arya seraya menghela napas.


"Terus apa yang engkau pikirkan?" tanya kapten Wisnu kembali menatap lekat ke arah Arya.


"Entahlah. Kapten aku juga gak mengerti," lirih Arya sambil menggeleng bingung.

__ADS_1


"Kalau begitu, sebaiknya kamu istirahat saja dulu. Jangan paksakan diri. Biar tugasmu digantikan dengan yang lain, mumpung masih ada waktu." Kapten Wisnu melihat jam yang melingkar di tangannya.


Tatapan Arya mengarah pada seniornya itu. "Aku pikir juga seperti itu kapten."


Pada akhirnya Arya mengurungkan niatnya tuk ikut penerbangan dan digantikan dengan seseorang, Arya gak mungkin memaksakan diri tuk tugas kalau hati dan pikirannya kacau tak karuan.


Arya kembali ke apartemen. Melemparkan tubuhnya ke atas sofa berbaring dan menatap langit-langit. Entah apa yang sedang dia rasakan saat ini sementara yang terbayang hanya wajah Fatma dan si gadis kecil yang menggemaskan. Lama-lama matanya terpejam dan terlelap begitu saja. Sejenak mengosongkan ruang pikirannya. Kamar hatinya yang di penuhi rasa yang ia sendiri bingung untuk menggambarkan.


...****...


"Masya Allah ... pipi kamu kenapa?" Bu Wati histeris melihat wajah putrinya yang tergambar jelas lima jari bahkan yang kanan 10 jari yang berbekas di sana. Bu Wati menatap intens pipi Fatma kanan dan kiri.


""Aku gak ke napa-napa Bu," lirih Fatma sambil menggeleng.


"Katakan siapa yang buat kamu begini Fatma? katakan pada Ibu Nak!" tutur Bu Wati hatinya sungguh hancur melihat anak semata wayangnya seperti ini.


"Ibu, jangan khawatir. Percayalah aku akan baik-baik saja dan aku kuat kok," ucap Fatma menenangkan sang bunda yang tampak cemas dan sedih. Sesungguhnya Fatma ingin ingin menangis sejadi-jadinya di pelukan sang bunda. Namun ia harus memperlihatkan kalau dirinya kuat, tidak boleh terlihat lemah di mata keluarga nya.


"Ini pasti ulah suami mu, kan?" tebak sang ayah.


"Maksud kamu?" selidik Bu Wati menatap lekat ke arah Fatma.


"Jadi benar dugaan Ayah? kalau suami mu itu sering melakukan sesuatu yang aneh-aneh padamu." Sergah pak Wijaya. Ia marah ternyata perlakuan Aldian pada Fatma tidak baik.


"Aku harap kalian cukup tahu saja. Jangan terlalu di besar-besarkan, kasian Rania. Aku akan mengurus perceraian ku dan kalian jangan khawatir. Doakan saja semoga semua lancar." Fatma menatap penuh harap pada kedua orang tua nya.


"Ayah kecewa sama Aldian. Ternyata dia keparat, sudah menyakiti mu. Kenapa gak cerita sama kami Fatma?" sambung sang ayah.


"Iya Fatma ... kenapa kamu diam saja selama ini? buat apa kamu pertahankan rumah tangga mu jika membuat mu tersiksa!" lirih Bu Wati sambil mengusap air mata, sedih dan tak kuasa ia menangis.


"Aku tak ingin membuta kalian kepikiran! aku bisa mengurusnya sendiri." Fatma menunduk melihat ke arah lantai.


"Kamu itu masih punya orang tua Fatma, kalau suami mu tak bisa bertanggung jawab. Ada kami! kami yang akan menuntut keadilan untuk mu, kamu wanita terhormat dan mandiri. Kamu jangan takut apapun," ujar pak Wijaya sambil mengeratkan giginya.

__ADS_1


"Sebentar-sebentar. Fatma, apa Aldian suka membawa wanita ke rumah ini?" selidik sang bunda.


Fatma terdiam, hanya kembali menunduk dalam. Tak menjawab pertanyaan sang bunda sebab tanpa di jawab pun mereka pasti bisa menduga. Terlintas pula omongan Rania yang bilang papanya suka ganti-ganti teman wanita dan Rania pasti cerita sama Oma dan opa nya.


Tanpa di jawab. Bu Wati bisa memastikan apa yang dia dengar itu benar. Dia menoleh pada sang suami yang juga melihatnya. "Yah, berarti suara rintihan nikmat waktu itu. Benarkan Yah ..."


Pak Wijaya tertegun sementara, dengan mata menatap lekat ke arah sang istri. "Kalau seperti itu. Benar-benar tak ada lagi toleransi, orang itu harus dibuat jengah. Ayah dukung kamu Fatma sayang. Jangan terlalu memikirkan anakmu, sebab kamu gak akan kesusahan biar hidup tanpa suami," jelas Oka Wijaya kembali.


Tangan Bu Wati menggenggam tangan Fatma seraya mengelus. "Kamu harus lepaskan dia sayang. Ibu gak tega melihat kamu seperti ini, kamu kuat. Tapi kami dan anak mu gak akan kuat melihat kamu menderita," tutur Bu Wati. Di wajahnya tergurat kesedihan yang mendalam.


Fatma menghela napas panjang. "Ibu jangan khawatir ya? aku mohon doa nya dari kalian berdua." Fatma memeluk sang bunda sembari menahan air matanya supaya tak keluar di depan ayah dan ibunya.


Terdengar suara derap langkah menuju pintu kamar Fatma, semua mata memandangi pintu yang terbuka tersebut dan muncul sosok Aldian yang tampak rapi.


Pak Wijaya bergegas menyambut Aldian yang berdiri di depan pintu menatap ke arah mereka.


Melihat kemunculan Aldian di sana membuat pak Wijaya semakin tersulut emosinya. Bak kedatangan angin segar tanpa harus ia cari.


Plak!


Plak!


Brugh!


Dua tamparan bersarang di wajah dan kepalan bulat tangan pak Wijaya tepat kena batang hidungnya. Tak ayal tubuh Aldian mundur. "Bangsat kau, sudah membuat anak ku selama ini menderita."


Aldian yang tak terima diperlakukan seperti itu menegakkan tubuhnya dan mengusap wajahnya kasar. Namun dengan cepat mengepalkan tangan dan menyerang pak Wijaya membabi buta. "Rasakan ini pria tua, tak ada angin tak ada hujan kau menyerang ku!"


Sehingga tubuh pak Wijaya condong ke depan lantas berlutut memegang dadanya.


Bu Wati dan Fatma menjerit berlari menghampiri pak Wijaya. Namun sebelum mereka sampai, Aldian kembali menyerang dengan kebencian. Beberapa kali tendangan kakinya mengenai tubuh pak Wijaya ....


****

__ADS_1


Salam hangat dari ku reader ku semua. Terus dukung aku ya dengan cara like, komen beserta vote ayah hadiahnya. Wieh ... ngarep🤭


__ADS_2